Obrolan santai namun berisi dapat dikatakan satu hal yang paling asyik untuk dinikmati. Berisi karena apa yang dibicarakan itu penting, tidak banyak ngalor ngidul, dan memberikan inspirasi dan pencerahan.

Siang sampai sore ini, aku menghabiskan waktu membahas rencana-rencana yang akan kami lakukan pada kegiatan Sekolan Menulis dan Jurnalistik Grow Paket 3. Aku bergabung bersama William E. Aipipidely , seorang penulis; Nandes, aktivis sebuah komunitas;  dan Lusi, pelatih teater.

Pertemuan ini penting, mengingat paket ketiga dari sekolah menulis dan jurnalistik menentukan apakan kegiatan ini akan terus berlanjut sampai pada paket ketujuh atau hanya berhenti pdi paket ketiga karena adanya beberapa hal yang tidak dapat dikendalikan dan diusakan secara maksimal.

Masalah tentang sekolah jurnalistik, ke belakang dulu lah. Bukan ini yang aku mau bicarakan di tulisan ini. Tapi tentang obrolan yang santai berisi tadi.

Obrol-obrol dengan Bang Willi cukup membuka wawasanku akan banyak hal. Khususnya tentang panggilan hidup.

Bang Willi memulai pekerjaannya sebagai insinyur di Pertamina. Wow, siapa yang tidak kenal perusahaan BUMN yang satu ini. Bagi lulusan teknik geologi seperti bang Willi, pekerjaan sebagai karyawan Pertamina adalah salah satu impian, selain bekerja di perusahaan tambang mulinasional.

Anehnya, buat aku dan banyak orang pastinya yang baru pertama kali mendengar cerita Bang Willi, Bang Willi meninggalkan Pertamina setelah beberapa bulan saja di sana. Padahal jika melihat nominal yang diperolehnya, wow sangat besar untuk lulusan baru di awal tahun 200an.

Perjalanan hidup yang diceritakan Bang Willi setelah keluar dari Pertamina membawanya pada keinginan untuk mencari apa panggilan hidupnya yang sebenarnya. Panggilan hidup itu ternyata adalah mengajar dan membagikan ilmu dan kemampuannya.

Pencarian panggilan hidup ini memakan waktu yang lama. Pencarian ini dipenuhi dengan pertanyaan “untuk apa aku ada di dunia ini?”, “apa yang Tuhan inginkan bagiku di dunia ini?”.

Pencarian yang disertai dengan doa dan perenungan-perenungan yang tentang apa makna setiap kejadian terhadap makna hidupnya. Sampai dia mulai dapat mengenal tanda-tanda yang Tuhan berikan saat di berada dalam pergumulan pekerjaannya. Seperti adanya masa rehat setiap Bang Willi keluar dari pekerjaannya.

Bang Willi sendiri memutuskan mengikuti panggilan hidupnya dalam bentuk menulis dan mengadakan training.  Ia kemudian beberapa tahun bergabung dengan Harian GO, kemudian Majalah Bahana, dan saat ini menjadi penulis lepas, konsultan pemberdayaan masyarakat, dan memberikan pelatihan mengenai berbaai bidang, termasuk diantaranya jurnalistik.

Kami berbicara macam-macam. Mengenai panggilan hidup, yang harus digumuli betul-betul selama pencarian panggilan itu. Satu kalimat menarik buatku adalah doa, “Tuhan, tunjukkanlah panggilanku. Apakah ini panggilanku? Kalau saya tidak tahu, pertemukan aku dengan orang-orang yang akan menunjukkanku pada panggilanmu padaku.”

Tentang LSM / NGO, dimana banyak aktivis LSM di daerah yang masih belum tahu cara-cara bikin proposal. Atau NGO internasional yang modelnya sudah seperti perusahaan profit, termasuk isi pikiran sebagian person yang bekerja di dalamnya. Atau pengusaha-pengusaha yang mendonorkan uangnya tapi tidak mau rugi, dan menginginkan laba dalam bentuk uang. Atau sistem pengelolaan keuangan di LSM.

Tentang preman pasar yang menonjok anggota DPRD di Sleman karena tidak mau memberikan uang 500 ribu. Padahal, anggota DPRD yang sekarang gajinya 20 jutaan lebih itu dibantu oleh preman-preman saat pemilihan sehingga ia terpilih.

Kami berbicara tentang partai politik yang diobok-obok, mentri yang tidak becus. Mentri-mentri yang tidak becus termasuk yang hanya mengurusi situs porno, dengan cara yang polos. “Sepertinya anak-anak IT bodoh-bodoh. Di blokir 6000 situs, besok bisa muncul 7000 situs porno baru,” kata Bang Willi berkelakar.

Ada juga aktivis reformasi yang dulunya miskin, tapi sekarang ngebet mendukung berdirinya gedung jiplakan punya DPR. Ada apa ini?

Tentang anak-anak pemuda gereja yang menjadikan gereja hanya sebagai lading pelarian dari masalah-masalahnya. “Semua orang punya masalah,” Kata Bang Willi, “tapi jangan menjadikan gereja sebagai lokasi pelarian.”

Gereja dapat menjadi tempat pelarian, asal di gereja dapat berfungsi sebagai bengkel diri. Kalau tidak ada niat ke situ, gereja hanya jadi tempat kumpul-kumpul saja, tanpa ada perbaikan dan perkembangan diri.

Pembicaraan tentang jemaat gereja pada umumnya dan pemuda gereja pada khususnya buatku memang selalu menarik. Karena menurutku ada hal-hal yang harusnya disentuh oleh gereja, tapi tidak disentuh oleh gereja.  Selain itu, sebagai pemuda, pembicaraan seperti ini menjadi otokritik juga buatku, tentang bagaimana sikap hati dan cara pandangku terhadap kegiatan yang aku lakukan digereja.

Aku cerita mengenai kegelisahanku saat datang ke Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Aku melihat satu kebaktian di gereja yang diadakan di gedung itu didatangi oleh banyak orang yang berjas, bergaun mewah, dan semua kemasan yang menunjukkan kelas ekonomi. Bang Willi sendiri mengatakan perempuannyake gereja seperti mau ke kamar mandi, hanya pakai pakaian yang mini-mini.

Aku berpikir, apakah orang-orang ini ingin menunjukkan hatinya paa Tuhan, atau menunjukkan kekayaannya yang fana itu kepada manusia yang duduk di samping, depan, dan belakangnya? Hanya saya sendiri tidak berhak melakukan penilaian terhadap hati orang. Tapi, dari tampilan luarnya, tidak ada yang sederhana. Semua glamor.

Bang Willi memunculkan istilah Minggu seperti malaikat, Senin sampai Sabtu lebih kejam dari setan.  Aku sendiri punya celetukan bagaikan diri sudah berada di dalam surga, padahal sebenarnya masih di bumi.

Pikiran dan hati boleh memikirkan dan mencerminkan hal kerajaan Surga. Namun, harus melihat realita, bahwa sekarang kaki masih ada di bumi, bos.

Inilah yang mendasari Bang Willi mempunyai ide memunculkan sekolah menulis dan juralistik. Selain melatih orang Kristiani untuk menuangkan isi pikirannya dalam bentuk tulisan, juga membantu rekan-rekan muda saat kesulitan untuk memperoleh pekerjaan. Di saat seperti itu, keterampilan menulis dapat membantu lulusan-lulusan baru mandiri dengan penghasilan yang diperoleh dari menulis.

Satu keprihatinan yang sama dalam pembicaraan kami adalah jumlah pemuda-pemuda Kristiani yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan umum public ataupun sosial. Sedikit  yang terjun dalam bidang pemberdayaan masyarakat. Sedikit yang mau turun ke jalan untuk mengawal keadilan dan peduli pada negara ini. Kalau jumlahnya mungkin cukup banyak. Tapi dari presentasinya, memprihatinkan. Sebagai konsultan LSM dan pengamat masalah sosial, Bang Willi cukup banyak melihat pengalaman ini.

“Lebih banyak pemuda Kristiani yang terjun di dunia bisnis,” Kata bang Willi. “Orang muda Kristiani banyak yang ingin menjadi kepala bukan ekor. Tapi pengertian kepala itu bukan dalam arti mendapat berkat, tapi tanggung jawab untuk memimpin. Tanggung jawab kepala besar. Harus mampu memakai perlengkapan yang disediakan untuk memimpin. Kepala sumber dari segala koordinasi tubuh. Saat aggota tubuh sakit, kepala lah yang pertama kali merasakan rasa sakit dari saraf. Orang yang merintis jalan di hutan harus siap bertemu kalajengking, ular, binatang buas, puhon besar dan lebat. Kebanyakan pemuda sekarang ingin jadi kepala, tapi mentalnya ekor.”

Masih banyak yang kami bicarakan saat kami berdua, menunggu dua orang kawan, Nandes dan Lusi, datang. Saat kami berkumpul berempat, lebih banyak kami berkoordinasi mengenai pelaksanaan Paket 3 Sekolah Menulis dan Jurnalistik GROW. Namun, dari obrolan yang menarik dengan empat orang rekan, saya mendapatkan cukup banyak hal-hal yang baru.

Sungguh, saya bersyukur mendapatkan beberapa teman baru dalam dua bulan terakhir. Merekadapat memperluas wawasan saya dengan hal-hal dan pemahaman yang baru. Saya tidak tahu apakah teman-teman baru ini adalah orang-orang yang Tuhan tunjukkan bagi saya agar saya bisa berjalan menuju panggilan hidupku? Saya tidak tahu.

Karena panggilan hidup itu akan dicari dan dijalani seumur hidup. Saat kita menjalankan panggilan hidup kita, Tuhan akan memberikan kegelisahan yang lain yang mungkin adalah panggilan baru yang ditambahkan bagi kita. Seturut dengan bertambahnya perlengkapan yang telah kita dapatkan dalam perjalanan kehidupan kita.

Iklan