Image

Roberto Di Matteo mengangkat piala Liga Champins usai tim asuhannya Chelsea menang adu penalti saat melawan Bayern Munchen di Fussbal Arena, Munich, Mei 2012

 

Malam sebelum menghadapi Bayern Munchen di Fussball Arena, Sabtu (19/5), Roberto Di Matteo memanggil anak asuhnya ke sebuah ruang pribadi hotel Mandari Oriental di Munchen. Di dalam ruangan itu, sebuah layar besar menanti mereka.

 

Layaknya sebuah tim menghadapi partai final, punggawa Chelsea seakan tahu, pelatih sementara mereka bakal menyajikan taktik. Beberapa pemain yakin, mereka bakal turun dalam laga final, seperti instruksi latihan sepanjang minggu itu.

Namun, alih-alih melihat susunan pemain dan analisa strategi, para pemain Chelsea disuguhkan sebuah tayangan yang tak ada hubungannya dengan final keesokan harinya. Tak ada instruksi. Yang ada, tayangan itu berisi pesan-pesan yang jauh lebih personal bagi mereka.

Dua minggu sebelumya, Di Matteo meminta bagian analisa video Chelsea mengambil gambar anggota keluarga pemain. Di setiap rekaman, anggota keluarga menyemangati yang para pemain. Di Matteo juga meminta beberapa potongan pertandingan dan dokumenter para pemain, sejak kecil sampai tenar, dari situs Youtube. Semuanya digabung menjadi satu tayangan yang menguras emosi para pemain.

Tayangan setengah jam itu mengubah suasana dalam ruangan.Dari penuh tawa menjadi larutan kesedihan. Apa yang ditampilkan Di Matteo dan para stafnya sangat mengejutkan pemain.

“Kami sadar kalau keluarga selalu hadir bersama kami, di final Moscow 2008, melawan Barcelona di semifinal 2009, saat kami kalah dalam pertandingan tersebut. Aku ingin mendedikasikan kemenangan pada mereka, keluarga kami yang selalu mendukung dan mempercayai kami. Ini kemenangan mereka,” ujar Didier Drogba, usai final kepada Dominic Fifield dari Guardian.

Sementara bagi pendatang baru Ryan Betrand, mengakui dashyatnya pendekatan Di Matteo. “Dalam video itu, ibu dan saudara laki-lakiku muncul lebih dulu dan berkata,’selamat bertanding dan keberuntungngan menaungi seluruh tim,’ lalu muncullah para perusuh, semua keluarga, mereka terlihat sedikit memalukan. Air mataku mengucur, tapi aku bisa sedikit tertawa. Video itu sangat memacu kami. Itu menyentuh kami, ia brilian,” ujar Betrand.

Betrand merupakan kejutan partai final. Efeknya sama dengan Owen Hargreaves yang turun di lini tengah Munchen melawan Real Madrid di semifinal 2001. Ia tak pernah merumput selama fase grup, bahkan tak masuk daftar cadangan pada fase gugur.

Rencananya, Betrand diplot sebagai cadangan Flourent Mallouda setelah banyak pemain inti Chelsea terkena akumulasi kartu. Namun, saat latihan tengah minggu, Mallouda mendapat cedera kecil. Ini membuat Di Matteo harus memasukkan Betrand ke dalam line-up.

Keputusannya tepat. Video motivasinya membakar semangat Betrand, pemuda 22 tahun, yang bermain di sisi kiri pertahanan Chelsea bertarung dengan dua pemain berpengalaman di sisi kanan Munchen, Philip Lahm dan Arjen Robben.

“Tayangan itu melintas dalam pikiranku. Mengingatkanku dari mana asalku, keluargaku, saudara laki-lakiku,” ujar Bertrand. Berkat penampilannya yang menawan, seluruh pendukung Chelsea memberikan standing ovation saat Bertran digantikan Malouda di menit ‘73. Satu penghormatan besar baginya.

***

Apa yang dilakukan Di Matteo memang sungguh brilian. Cara ini hanya terpikirkan oleh pelatih spesial. Joseph Guardiola melakukan ini saat menunjukkan klip yang dimodifikasi dari film Gladiator, di ruang ganti Barcelona jelang final Liga Champions 2009 versus Manchester United di Roma. Hasilnya, Satu gol Samuel Eto’o di serrangan pertama Barca dan satu sundulan Messi menghadirkan trofi Liga Champions ketiga ke Catalunia.

Di Matteo dengan jitu menyentuh perasaan terdalam anak asuhnya ketimbang berbicara soal taktik malam itu. Lewat video, ia ingin menyampaikan bahwa setiap pemain dan staf di Chelsea berikut keluarga mereka adalah satu keluarga. Di Matteo percaya, sebagai anggota keluarga, mereka siap bertarung demi kehormatan keluarganya.

Hasilnya, tak sekalipun mental pemain Chelsea ambruk saat dibombardir pemain Munchen. Bahkan, dua kali mereka berada di bibir jurang saat tertinggal di menit ‘83 dan adu pinalti, sebelum akhirnya kombinasi kehebatan Drogba dan kecerobohan pemain Munchen membawa Chelsea mengangkat ‘Si Kuping Besar’ julukan trofi Liga Champions.

Total, Muenchen menggedor gawang Peter Cech dengan 26 tembakan, di mana delapan di antaranya mengarah ke gawang. Dua kali Chelsea tertinggal di fase kritis, namun dengan keteguhan hati mereka membalikkan keadaan dan berpesta di kandang lawan.

Tanpa keteguhan hati yang ditularkan Di Matteo, Chelsea mungkin sudah gugur di babak 16 Besar, Maret lalu. Pasca kekalahan atas Napoli 1-3, Roman Abramovic medepak salah satu pelatih berbakat di Eropa, Andres Villas-Boas. Ia lalu mengangkat Di Matteo, ‘tukang bisik’ Villas-Boas dan mantan pemain The Blues.

Tak ada harapan muluk yang disematkan di pundak Italiano kelahiran Schaffhausen, Swiss 42 tahun lalu itu. Abramovic tak terlalu percaya padanya. Taipan Rusia itu pun dipercaya akan menunjuk pelatih baru musim depan. Beberapa nama adalah dua pelatih kesayangannya (dari enam pelatih yang pernah ditendangnya) Jose Mourinho dan Guss Hiddink, serta Guardiola.

Ia pun masih tak percaya saat Di Matteo berhasil mengangkangi Barcelona di semi final dan merebut trofi Piala FA. Di luar, media pun makin gencar mengorek calon penggantinya. Namun, Di Matteo tak peduli.

Ia tahu, perannya sebagai pelatih sementara di klub yang pemiliknya tak pernah puas bakal terus digoyang. Bahkan, di awal tugasnya para pemain senior membangkang. John Terry tegas menolak instruksi Di Matteo dan menobatkan dirinya sebagai bos sebenarnya.

Menanggapi itu, Di Matteo cuek. Baginya yang utama adalah mengembalikan kehormatan klub London Biru yang sudah tercoreng selama kepemimpinan Boas. Ia pun tak dendam dengan para pemain senior dengan sering menurunkan mereka di berbagai pertandingan penting.

Soal ini, ternyata pria yang pertama kali datang ke Chelsea tahun 1996 in lebih jago ketimbang mantan atasannya. Jika Villas-Boas lebih sering berkonfrontasi dengan pemain senior yang sebagian lebih tua darinya, Di Matteo memilik pendekatan personal.

Hasilnya, jelang partai ke 21 nya bersama Chelsea di Fusball Arena, perjalanan Di Matteo nyaris sepi dari ribut-ribut. Keharmonisan itu akhirnya menghasilkan buah yang ranum ketika Drogba sukses mengeksekusi tendangan penalti terakhir dalam adu penalti.

Sang caretaker berhasil mewujudkan penantian sembilan tahun Abramovich. Sebuah penantian yang tidak hanya panjang, dimana Chelsea sekali menjadi finalis dan empat kali semifinalis, namun juga mahal karena investasi Abramovich yang mencapai 1 miliar poundsterling atau setara dengan 14,6 triliun.

Mulai musim depan, Chelsea akan memasang satu bintang di kostum mereka. Namun, mereka belum memastikan Di Matteo bakal duduk di kursi manajer The Blues. Direktur Eksekutif Chelsea, Ron Gourlay, menganggapperubahan yang dilakukan Di Matteo fenomenal, tapi tak ada janji kontrak permanen.

“Kami mengangkat Robbie sebagai manajer sementara sampai akhir musim. Ada beberapa hal yang harus kami lihat dan tinjau lagi, dan kami akan Kami akan meninjau perjalanan musim ini dan mengambil keputusan dari situ,” kata Gourlay.

Di Matteo sendiri tetap cuek. “Saya akan berlibur, itu yang saya butuh setelah tiga bulan yang penuh tekanan ini,” katanya usai laga final. “Saya senang dengan peran yang telah diberikan apapun yang terjadi selanjutya. Saya akan menerimanya. Apapun yang diputuskan klub, saya akan menghormatinya. Sesimpel itu,” terangnya.

Bagaimanapun Di Matteo tetap mencatatkan namanya dalam sejarah. Ia kembali menunjukkan, tak ada yang tidak mungkin, saat seseorang teguh pada pendirian hatinya, dan percaya akan jalan yang diambilnya.”Ketika Bayern mencetak gol, tentunya kami tak punya banyak waktu. Tapi, hati dan gairah yang telah ditunjukkan pemain-pemain ini tak ada bandingannya. Mereka kembali menunjukkan hasrat dan motivasinya malam ini,” tegas Di Matteo.

 

Artike ditulis oleh pengasuh blog, pernah diterbitkan di Batam Pos

Iklan