Tak selamanya bisnis yang dikelola Raden Sulaiman mulus. Saat banjir rejeki, bencana menghantam. Rejekinya pun seret karena ketegasannya pada prinsip. Seperti kisah perjalanan bisnisnya?

Nama Raden Sulaiman Sumawisastra yang baru saja wafat pada Minggu (7/10) dikenal sebagai sesepuh di Batam. Kemajuan Batam dari pulau yang dulunya sepi dan ditutupi hutan lebat menjadi kawasan industri yang terkenal ke seluruh penjuru dunia, tak lepas dari andil pria asal Ciwidey Jawa Barat ini.

Ia dikenal banyak kerabat maupun rekan usahanya sebagai pengusaha properti yang pernah memiliki Wisma Bukit Nagoya yang kemudian diubah menjadi Graha Sulaiman di kawasan strategis Nagoya. Di samping itu ia juga dikenal sebagai mantan politisi partai Golkar piawai yang menggunakan posisinya bukan untuk kepentingan diri namun demi masyarakat. Pembangunan beberapa masjid di Batam jadi adalah salah satu hasil lobi-lobi yang lakukannya baik sebagai Komisaris cabang Golkar maupun Kepala DPD Batam Golkar.

Meski namanya tenar di dunia usaha maupun politik Batam, mungkin sedikit yang tahu kalau  Raden sulaiman memulai usahanya dari sebagai loper koran. Kisah itu bermula di Belakangpadang pada tahun 1957.

“Bapak waktu itu hijrah ke Belakangpadang mengikuti kedua kakak perempuannya,” kata Raden Endy Junaedy, anak kelima Raden Sulaiman buah pernikahannya dengan Raden Siti Juyanah. Endy ditemui Batam pos usai salat magrib di kediaman almarhum di Crown Hill Estate Bukit Mahkota, Batam Centre, Senin (8/10).

Kemarin malam merupakan hari pertama usi wafatnya Raden Sulaiman. Jenazah almarhum dimakamkan di makam Sei Panas pada siang hari yang terik siang itu.

Kepada Batam Pos, Endy mengungkapkan, meski kedua kakak iparnya memiliki posisi penting di Belakang Padang, ibukota Kecamatan batam saat itu, tapi Raden Sulaeman tak ingin memanfaatkannya.

“Kakak ipar Bapak, Halid Zulkifly dan Kustansyah memiliki jabatan strategis masing-masing di Badan Penanaman Modal dan Departemen Ekspor-Impor,” kata Endy.

Karena tak ingin merepotkan keluarga kakaknya, Raden Sulaiman kemudian merintis usaha sebagai loper koran pada 1957. Saat itu ia mengedearkan koran-koran yang dikirim dari Jakarta dan Singapura untuk untuk dibaca warga di Belakangpadang dan Sambu.

Tak lama Raden Sulaiman menjajaki usaha loper koran. Ia lalu mencoba bisnis ekspor impor ikan pada tahun 1960. Dari buku biografi Raden Sulaiman Mengabdi Tiada Henti, dikatakan bahwa perkenalannya dengan dunia ekspor impor adalah seorang pria keturunan Tionghoa bernama Bong Alok. Dari pria inilah ia banyak menimbu serta pengalaman berbisnis.

Usaha ekspor impor yang digarap Raden Sulaiman adalah pengiriman ikan hasil tangkapan nelayan di Batuampar. Perusahaan yang didirikannya, CV Bintang Jaya, mengurusi dokumen ekspor ikan-ikan itu ke Singapura.

“Bisnis itu cukup didukung oleh iparnya, Kustansyah, yang saat itu berada di Departemen Ekspor-Impor,” ujar Endy.

Dari Bong Alok, Raden Sulaiman tak hanya belajar menjalankan bisnis ekspor ikan ke Singapura. Ia juga berlajar bagaimana cara menjalankan bisnis secara efektif, yakni menjalankannya secara kekeluaraan. Maksudnya, tak banyak mempekerjakan orang dan memaksimalkan kemampuan anggota keluarga sendiri. Itu yang memampukan usaha Alok bertahan di masa-masa sulit.

Cukup lama menjalankan bisnis ekspor-impor ikan, Raden Sulaiman kemudian beralih menjalankan bisnis baru, yaitu bisnis penginapan. Dibanunglah satu penginapan di Belakangpadang yang dinamakan Sindang Laut Inn di tahun 1975

Pada saat itu, industri di Batam baru saja menggeliat. Selain perusahaan-perusahaan minyak, ada juga Telkom di Sekupang. Geliat industri di pulau Batam belum didukung dengan infrastruktur yang memadai. Hunian di sekitar kantor Telkom dan Pertamina belum ada, lahannya masih hutan. Kawasan Jodoh pun masih sepi.

“Untuk menuju jodoh harus melalui laut di sana pun masih sepi,” Endi menuturkan.

Karena jauh dan sepi, pegawai-pegawai perusahaan itu lebih memilih bermukim di penginapan milik Raden Sulaiman di Belakangpadang. Tamu mereka pun bertambah karena pelaut-pelaut banyak yang harus menunggu untuk mengurus visa ke luar negeri. Tak punya jalan lain mereka mereka akhirnya menginap di Sindang Laut.

Menyusul ramainya Sindang Laut, ekspansi bisnis pun dilakukan Raden Sulaiman di Pulau Batam. Salah satu alasannya adalah tingginya kebutuhan penginapan bagi para pekerja industri yang yang datang ke Batam. Ditambah lagi, saat itu banyak ahli yang didatangkan untuk membidani lahirnya Kota Batam.

Dibangun pada tahun 1979, wisma Bukit Nagoya kemudian rampung pada tahun 1980. Namun, di tengah kegembiraan peresmian penginapan baru, musibah menimpa keluarga Raden Sulaiman. Penginapan kebanggaan mereka di Belakangpadang, Sindang Laut Inn, ludes terbakar pada bulan Oktober 1981.

“Kebakaran itu terjadi hanya empat bulan setelah peresmian Bukit Nagoya. Waktu itu bapak tidak ada di Belakangpadang karena menemani ibu yang dirawat di Singapura,” kenang Endy.

Kejadian itu akhirnya memaksa keluarga Raden Sulaiman hijrah dari tempat yang menjadi awal perjalanan bisnis mereka ke Batam. Kejadian itu mungkin berat bagi keluarga, hanya saja saat itu Raden Sulaiman tetap tegar. Kepada keluarganya, ia meminta agar musibah itu tidak diratapi terlalu dalam.

“Bapak saat itu bilang,’pasti kejadian ini ada hikmahnya’,” tutur Endy.

Benar saja, wisma Bukit Nagoya ternyata jadi pilihan utama para pendatang. Rejeki keluarga mengalir karena para tamu tak hanya mengina semalam dua malam, tapi mereka adalah tamu yang menyewa untuk jangka panjang atau long stay. Langganannya adalah para pekerja dari perusahaan-perusahaan minyak, kontraktor, Pertamina, dan otorita Batam.

Dalam biografinya, almarhum menuturkan bagaimana penginapan Bukit Nagoya berkembang dari semula hanya 15 kamar menjadi 80 kamar. Pelanggannya pun bertambah. Selain itu, pengeluaran bisa diefisienkan karena yang bekerja banyak anak-anak Raden Sulaiman yang saat itu sudah beranjak dewasa.

Ia sebenarnya sudah mengamalkan ilmu yang didapatnya dari Bong alok ini saat memlibatkan anak pertamanya Siti Yuliani mengelola Sindang Laut Inn. Baru saat Bukit Nagoya berkembang, ia melibatkan seluruh anak-anaknya yang lain seperti Eka, Petty, Rita, Kusuma, dan Endy.

Anak-anaknya diajarkan bagaimana cara melayani tamu dengan ramah. Mereka selalu membuatkan tamu roti bakar di pagi hari dan tak lupa tersenyum pada tamu yang mereka temui.

“Saat itu menjadi merupakan pendidikan wirausaha bagi kami,” kata Endy.

Makin berkibarnya Wisma Bukit Nagoya yang beroperasi di bawah bendera Sulaiman Grup, Raden Sulaiman melebarkan bisnisnya dengan membangun Juyanah Plaza. Untuk mewujudkan itu, ia menggandeng Ruki, Direktur PT Harapan Dwi Putra. Dalam biaografinya tertulis, dari kerjasama itu berhasil dibangun 40 unit ruko. Dari kesepakatan yang dibuat, 28 ruko diberikan pada Ruki sementara Raden Sulaiman mendapatkan 12 unit ruko yang dijadikan Juyanah Plaza.

Ketika itu, rencananya Juyana Plaza akan dijadikan mini shopping centre. Lokasi itu sempat dilirik Matahari Departemen Store dan Hero Supermarket tapi mereka kemudian menyewa Lucky Plaza.

Kegagalan menarik jaringan retail raksasa itu membuat Raden Sulaiman mengubah total rencananya. Ia mengganti konsep mini shopping centre menjadi gedung perkantoran. penggantian konsep ini didukung oleh konsep yang ditawarkan Endy yang saat itu baru saja lulus kuliah di Universitas Trisakti.

“Dari yang pelajari di Jakarta, kami mengubah konsep toko perbelanjaan menjadi gedung perkantoran. Saat itu di Batam belum ada,” jelas Endy.

Walaupun pada awalnya tamu yang datang banyak, makin lama jumlah tamu wisma Bukit Nagoya menurun. Banyaknya hotel yang tumbuh di lokasi strategis itu prinsip tegas bagi tamu yang belainan jenis kelamin, tidak bisa sekamar membuat hunian hotelnya menurun. Praktis, ongkos pengelolaan jauh lebih besar ketimbang pemasukannya.

Ini mendorong Raden Sulaiman akhirnya memutuskan membangun Graha Sulaiman di lokasi wisma beberapa usai rencana pengembangan Wisma Bukit Nagoya menjadi hotel berbintang terhenti. Akhirnya pada tahun 2001 bangunan yang saat itu sudah bernama Bukit Nagoya Hotel berhenti beroperasi. Bangunannya sendiri disewakan ke beberapa tenant dan dijadikan perkantoran.

Bagi para penyewa perkantoran di kompleks Sulaiman, lokasi yang saat ini merupakan perempatan lampu merah Nagoya menjadi kawasam yang sangat strategis. Bank Bukopin misalnya. Tenant yang menyewa ruko sejak 1997 itu sangat menikmati lokasi mereka.

“Lokasi ini strategis karena kami dapat mengundang calon nasabah-nasabah baru. Banyaknya pengusaha yang potensial menjadi nasabah kamijuga melirik lokasi ini,” kataStaf Restrukturisasi dan Penyelesaian Kredit Bank Bukopin Nagoya, Syah Jamal, Senin (8/10).

Bagi keluarganya, warisan Raden Sulaiman tidak hanya kompleks perkantoran Sulaiman di lokasi strategis. Lebih dari itu ia mewariskan prinsip hidup.

“Dalam kehidupan termasuk dalam usaha kami disuruh untuk memperhatikan sisi emotional spiritual yaitu kebersamaan, kerukunan, kekeluargaam dan yang terpenting adalah ketaatan pada ajaran agama dalam menjalankan usaha,” tuntas Endy. ***

 

(Yermia Riezky)

 

Dimuat di Batam Pos, 9 oktober 2012

Iklan