Ekspedisi Lingga
Seorang ibu dengan sepedanya melintasi bangunan bekas pabrik pengelohan PT Timah (implasmen) di Dabo. ( Yusuf Hidayat / Batam Pos)

Saat PT Timah mencapai puncak kejayaanya di Pulau Singkep, Kota Dabo memiliki infrastruktur terbaik masa itu. Warga berharap sejarah akan berulang.

M IQBAL-Y RIEZKY, Dabo

DARI pelantar beton Pelabuhan Jagoh, Dabo, daratan Pulau Selayar tampak kekuning-kuningan. Berjarak sekitar satu kilometer, Jagoh dan Selayar dipisahkan Selat Penuba. Bagi penumpang feri yang baru turun atau hendak berangkat dari Jagoh bisa leluasa memandang Pulau Selayar. Pemandangan utama adalah hutan gundul kekuningan, bekas sisa tambang bauksit.

Kabupaten Lingga, khususnya Dabo, tak bisa dilepaskan dari pertambangan, terutama bauksit dan timah. Pada periode 1960-1980-an, Dabo adalah salah satu daerah penghasil timah terbesar di Indonesia, selain Bangka Belitung. Era kejayaan timah Dabo berakhir setelah PT Timah angkat kaki tahun 1992. Meski dua dekade telah berlalu, jejak masa-masa keemasan timah Dabo tak mudah dihapus. Ia membekas sangat dalam.

Lubang-lubang besar sisa galian penambangan timah di tengah hutan, sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Jagoh menuju pusat Kota Dabo -yang ditempuh selama 45 menit dengan kendaraan roda empat- adalah buktinya. Gedung-gedung tua dengan ornamen klasik ala Belanda yang terserak di Dabo, seperti Gedung Daerah yang kini jadi rumah dinas Bupati Lingga, makin menguatkan bukti bahwa eksplorasi timah dari perut bumi Dabo pernah mencapai puncak kejayaannya.

Pemerintah Kabupaten Lingga tak punya catatan pasti sudah berapa juta, bahkan miliar ton timah ditambang dari perut bumi Dabo. Pun mereka tak bisa memberikan angka berapa besar potensi timah yang kini masih terkandung di sana. “Angka persisnya berupa data yang valid, kita belum punya. Tapi, potensi timah masih ada,” ujar Kepala Dinas Pertambangan Lingga, Dasrul Azwir, yang ditemui di Pelabuhan Jagoh, Minggu (14/10).

Setelah PT Timah cabut, penambangan timah tak otomatis berhenti. Kehidupan warga Dabo tak bisa dilepaskan dari timah. Timah adalah Dabo, Dabo adalah timah. “Kini kebanyakan tambang timah dikelola sendiri oleh masyarakat. Itu yang disebut pertambangan rakyat,” kata Dasrul. Mereka, kata Dasrul, beroperasi di bekas lokasi yang dulu digarap PT Timah. Hasil yang didapat kemudian dijual ke pengepul. “Kalau masyarakat bisa kumpulkan satu kilo sehari, bisa dapat Rp100 ribu,” katanya.

Para pengepul hasil pertambangan rakyat lantas menjual lagi kepada penampung besar mereka. Di sini, timah lantas diolah dalam bentuk batangan, selanjutnya dijual ke Singapura. Tak redupnya geliat penambangan timah oleh rakyat ini, menurut Dasrul, juga adalah bukti tak langsung bahwa potensi timah di Dabo masih besar.

Persoalan yang tersisa saat ini, kata Dasrul, bagaimana merehabilitasi dengan cepat lingkungan yang rusak, seperti hutan yang gundul di Pulau Selayar, setelah operasi penambangan dihentikan. “Sebenarnya di sana (Selayar) mereka melakukan penanaman kembali. Tapi, pohon-pohon yang ditanam tumbuhnya tak secepat yang kita inginkan. Maunya kita, kan, setelah penambangan berakhir hutan itu langsung hijau lagi,” katanya.

***
KABUPATEN Lingga terletak di bagian selatan Provinsi Kepri, yang berbatasan langsung dengan dua provinsi lain, yaitu Jambi dan Bangka Belitung. Menurut data Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Lingga, kabupaten yang berdiri tahun 2003 ini memiliki 531 pulau. Pulau Singkep dan Pulau Lingga adalah pulau terbesar di gugusan Kabupaten Lingga.

Pulau Singkep yang beribukota Dabo memiliki potensi pertambangan. Tidak hanya timah, Singkep juga mengandung potensi bauksit dan bijih besi. Sedangkan Pulau Lingga yang beribukota Daik, kaya dengan potensi pertanian dan perkebunan.  Hasil utamanya sagu. “Pulau Lingga tidak punya potensi pertambanngan. Dua pulau besar ini potensi yang berbeda,” kata Dasrul.

Secara administratif ibu kota Kabupaten Lingga berada di Daik. Hanya saja, dari sisi perekonomian Dabo jauh lebih maju dibanding Daik. Penduduk Dabo juga lebih padat ketimbang Daik. Pertambangan timah yang pernah jaya, adalah faktor yang membuat Dabo berkembang pesat.

Pada masa keemasan PT Timah di Dabo, kota ini memiliki infrastruktur yang sangat baik. Perusahaan milik negara itu membangun bandar udara khusus di Dabo. Ahmad Nasirudin, warga Dabo, mengisahkan Sempati Air adalah maskapai yang melayani penerbangan langsung Dabo-Jakarta setiap hari. Kini, tak ada lagi maskapai yang menjejakkan roda pesawat mereka di bandara itu, setelah Sky Aviation take off untuk terakhir kali 30 Agustus 2012 lalu. “Saat timah jaya, anak-anak Dabo sekolah dan kuliah ke Bandung dan Yogya,” tutur Ahmad.

Taman hiburan rakyat yang dibangun PT Timah di masa jayanya dulu, oleh warga Dabo disebut Pagoda, kini jadi tempat berkumpul warga Dabo di malam hari, untuk mencari hiburan murah.

Di masa lalu, di tahun 1980-an, barangkali ketika daerah lain di Kepri belum punya bioskop, PT Timah membangun bioskop untuk kebutuhan rekreasi karyawan mereka dan warga Dabo. Gedung bioskop yang diberi nama Wisma Ria itu kini berubah jadi hall bulu tangkis dan tempat latihan beladiri.

Di tengah beratnya bisnis pertambangan sejak keluarnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2012, yang melarang ekspor mentah hasil pertambangan, warga Dabo memendam harapan, kelak suatu saat nanti timah, bauksit, dan bijih besi akan jadi katalisator untuk menaikkan kembali perekonomian mereka. Dan, kejayaan Dabo kembali terulang.***

*Dimuat di Batam Pos, 15 Oktober 2012

Iklan