Selain berbisnis, alharhum Raden Sulaiman juga terjun ke kancah politik. Bergabung dengan Golongan Karya membuatnya berkarya dengan filosofi sesuai lambang partai itu, pohon beringin. Seperti apa prakteknya?

Bagi masyarakat Batam, khususnya yang sudah berada di sini pada tahun 1990-an hingga awal 2000-an, nama Gedung Beringin pasti tak asing lagi.Gedung pertemuan yang berdiri kokoh di kompleks kantor Pemko Batam di Sekupang saat itu jadi pusat hajatan masyarakat Batam seperti acara-acara politik, halal bi halal, seni, bahkan pernikahan.

Saat ini, secara fisik, sisa-sisa kejayaan itu tak tampak lagi. Gedung megah yang mampu menampung hingga tiga ribu orang itu sudah compang camping di berbagai bagian. Plafon-plafon tripleknya banyak yang jebol, lantai kotor tak pernah dibersihkan, debu yang melekat di jendela pun sudah tebal. Sementara rumput di halaman gedung itu sudah setinggi betis karena tak pernah dipotong.

“Gedung itu sekarang terbengkalai,” kata anggota DPRD Batam asal Partai Golkar, Asmin Patros, Selasa (9/10).

Asmin mengungkapkan, saat ia pertama kali datang ke Batam tahun 1991 belum ada gedung yang dapat menampung lebih dari 1000 orang untuk sebuah acara. berbagai acara baik itu untuk kalangan terbatas maupun masyarakat terbuka acap kali diselenggarakan di sana.

Meski identik dengan Golongan Karya karena bernama ‘Beringin’ dan dana pembangunannya banyak dibantu oleh orang-orang golkar, Asmin mengungkapkan itu bukan aset Golkar. Aset Golkar hanyalah kantor DPD yang terletak di samping Gedung Beringin.

Usai reformasi 1998, pemerintah mengeluarkan peraturan terkait kejelasan pemilikan aset. Karena banyaknya donatur yang membantu pembangunan, Asmin mengungkapkan saat ini pemilik aset Gedung Beringin belum pasti.

“Pemilik aset yang harus mengelola Gedung Beringin. Karena bersarnya gedung, biayanya perawatannya pasti tinggi. Karena belum pasti pemilik asetnya Gedung Beringin tak terawat,” kata Asmin.

Gedung Beringin sendiri memiliki hubungan erat dengan perjalanan politik Raden Sulaiman Sumawisastra, sesepuh Batam yang meninggal dunia Minggu (7/10). Gedung itu dibangun pada saat Sulaiman memimpin DPD Golkar Batam, pertengahan tahun 1980-an.

Raden Sulaiman terjun ke kancah politik setelah hampir 20 tahun menggeluti usaha. Usahanya dimulai dengan menjadi loper koran pada 1957 di Belakangpadang, kemudian menjajal usaha ekospor ikan ke Singapura, kemudian mendirikan penginapan Sindang Laut Inn. saat tengah menekuni bisnis penginapan itulah Raden Sulaiman terjun ke kancah politik.

Dalam buku biografinya yang berjudul Mengabdi Tiada Henti, perkenalan Raden Sulaiman dengan politik berawal dari pertemuannya dengan Ketua dan Sekretaris DPD Golongan Karya Kepulauan Riau. Saat itu keduanya sering berkunjung ke Belakangpadang, mereka nginap di Sindang Laut. Kerap berbincanf dengan keduanya, Raden Sulaiman lalu ditawari bergabung dengan Golkar.

Pria kelahiran Ciwideuy itu tak langsung mengiyakan. Namun karena terus didorong dan diberitahu bahwa ia punya potensi sebagai lulusan setaraf SMA,Raden Sulaiman kemudian menerima tawaran itu. Ia kemudian diangkat menjadi Ketua Komcat Belakangpadang.

Saat Kotamadya Batam dibentuk pada tahun 1983 dan Raden Sulaiman hijrah ke Pulau Batam, Raden Sulaiman didaulat sebagai wakil ketua DPD Golkar Batam mendampingi Hunji Dahlan sebagai ketua. Hanya tiga bulan Raden Sulaiman menjabat sebagai wakil ketua kemudian ia diangkat menjadi Ketua DPD Golkar Batam menggantikan Hunji yang pindah tugas ke Tanjungpinang.

Salah satu yang sumbangan Raden Sulaiman selama menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Batam adalah pembangunan Gedung Beringin di Sekupang. Usul pembangunan itu tercetus ketika Ketua Golkar Pusat Sudharmono datang ke Batam.

“Pak Sudharmono bertanya mengapa Batam tak memiliki gedung pertemuan. Dari situ kemudian muncul keinginan membangun Gedung beringin,” kata Raden Sulaiman seperti yang dituliskan dalam biografinya.

Pembangunan Gedung Beringin dimulai pada awal 1986. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Walikotamadya Batam Usman Draman, Kabalag Otorita Batam Soedarsono, dan Raden Sulaiman selaku Ketua DPD II Golkar Batam. Pembangunan ketika itu dilakukan oleh PT Bangun Tjipta Sarana milik Siswono Yudohusodo. Dana pembangunan gedung merupaka patungan antara DPP Golkar Pusat, Otorita Batam, Kotamadya Batam, Kantor Inspekso bea Cukai Batam, dan sumbangan masyarakat.

Khusus DPP Pusat Golkar, dana baru akan diturunkan jika DPD membangun kantor dan masjid di sekitar kompleks. Pembangunan keduanya pun dilaksanakan bersamaan dengan pembangunan Gedung Beringin masih dengan kontraktor yang sama.

Pembangunan Gedung Beringin, Kantor DPD Golkar dan Masjid Baiturrahman rampung enam bulan setelah peletakan batu pertama. Saat diresmikan, acara peresmian dihadiri oleh Ketua Umum Golkar Sudharmono dan sejumlah pengurus DPP Golkar antara lain Sarwono Kusumatmadja, Agung Laksono, dan Zarlon. BJ Habibie yang saat itu menjadi ketua Otorita batam turut menyaksikan peresmian Gedung Beringin.

BJ Habibie saat itu berandil atas terwujudnya pembangunan Gedung Beringin. Ketika itu Habibie lah yang menyediakan lahan seluas satu hektar untuk pembangunan Gedung Beringin. Untuk meringankan pembiayaan pembangunan, Habibie membebaskan pembayaran Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO).

Asmin Patros saat ditanya soal filosofi Gedung Beringin mengatakan, nama ‘Beringin’ berarti memberikan keteduhan dan melindungi. Ia bertugas untuk mengayomi masyarakat.

“Karena saat itu Golongan Karya merupakan partai pemerintah yang harus mengayomi dan memberikan keteduhan bagi masyarakat,” ujar Asmin.

Filosofi itu tampak dalam sepak terjang politik Raden Sulaiman. Ia memanfaatkan fungsinya sebagai ketua DPD Golkar Batam untuk melayani masyarakat hingga habis masa jabatannya pada tahun 1993. Kedekatannya dengan beberapa kepala daerah maupun pimpinan Otorita Batam memberikan jalan baginya untuk memberikan usulan bagi para pimpinan tersebut untuk terus memperhatikan masyarakat.

Salah satu putra Raden Sulaiman, Endi Junaedi, mengungkapkan, pria kelahiran tahun 1932 itu berupaya menjangkau masyarakat tanpa memandang latar belakangnya. “Bapak tak memandang agama dan partainya apa untuk melayani masyarakat. Di tingkat pimpinan, bapak juga dekat dan diterima oleh pimpinan Partai Demokrasi Indonesia dan Partai Persatuan Pembangunan,” kata Endi yang ditemui Senin (8/10) sore.

Endi melihat ayahnya sebagai seorang pelobi yang handal. Pembangunan Gedung Beringin, Kantor DPD Golkar, dan Masjid Baiturrahman salah satunya menjadi hasil lobi Raden Sulaiman. Selain itu lobi dan kedekatannya dengan petinggi Golkar yang menjabat sebagai birokrat di pemerintah Soeharto di Jakarta mampu mengembangun tiga masjid di Batam, yakni Masjid Darul Mutaalin Seipanas, Masjid Darul Gufron Batuaji, dan Masjid Nurul Mukakuning.***

 

(Yermia Riezky)

 

Dimuat di Batam Pos, 10 Oktober 2012

Iklan