Tanggal 21 Agustus 2012, kebakaran besar menghanguskan rumah warga Muara Takus Seraya. Sempat diberi bantuan oleh pemerintah, kini mereka harus berjuang sendiri membangun kehidupan.

Puing-puing sisa kebakaran di perumahan liar Muara Takus Seraya masih berserakan di lokasi yang dulunya bekas bangunan. Jelaga bekas jilatan api meninggalkan bekas hitam di sejumlah dinding yang masih berdiri. Sebagian kecil bangunan tinggal menyisakan rangka.

Namun, sebagian besar keluarga mulai membangun kembali rumah mereka yang hangus terbakar, beserta segenap isinya. Perlahan, bata-bata kelabu ditumpuk dan direkatkan dengan semen. Dinding-dinding tanpa atap telah berdiri.

Jumat (26/10) sejumlah kepala keluarga melanjutkan pekerjaan pembangunan rumah mereka. Di bawah teriknya mentari, mereka mengaduk semen, mengangkat bata dan menumpuknya satu demi satu menjadi dinding-dinding rumah. Salah satunya Rimba, yang rumahnya berlokasi di dasar lembah.

Pria berkulit coklat itu dengan tekun menyusun batu-bata di kapling miliknya, tanpa peduli sengatan matahari yang terasa perih di kulit. “Sebelum terbakar, keluarga saya memiliki toko kelontong dan usaha PS (Playstation,red),” ujar Rimba. Untuk usaha PS, inventaris miliknya berupa delapan unit TV dan delapan unit PS. Selain itu, ia juga memiliki tiga unit laptop.

Semua hartanya ludes saat si jago merah melalap habis 60 bangunan tempat tinggal 92 kepala keluarga. Kebakaran yang terjadi dua hari setelah lebaran itu, diberasal dari rumah Kerri Bin Kasan, warga Singapura. Pemicunya sepele. Dibakar api cemburu pada istrinya, ia pun membakar rumahnya. Dengan cepat api menjalar ke permukiman penduduk yang kebanyakan terbuat dari kayu dan triplek.

“Ketika api sudah membakar rumah, saya lalu bangungkan anak-anak untuk segera mengungsi. Harta yang bisa saya selamatkan hanya sepeda motor,” kenangnya. Bukan tanpa alasan Rimba menyelamatkan sepeda motornya karena motor itulah yang setia mengantarnya bekerja di kawasan industri Kabil. Lokasi yang relatif jauh dari Seraya.

Dari perusahaan tempatnya bekerjalah, ia banyak mendapat bantuan. Ia mendapat sagu hati sebesar Rp 3 juta. Dari teman-teman kerjanya ia mendapat bantuan keuangan, pakaian, dan makanan. Itulah yang membuatnya tetap semangat menjalani kehidupan pasca kebakaran. “Saya bersyukur ada teman-teman yang membantu saya selama masa-masa sulit,” tambah Rimba.

Meski begitu, penderitaan pasca kejadian tetap harus ditelannya. Uang Rp 3 juta dari perusahaan habis untuk biaya hidup keluarganya. Selain seorang istri, Rimba memiliki lima orang anak. Tiga anak pertama masing-masing duduk di bangku kuliah, SMK, dan SMP. Sementara dua anak termudanya masih duduk di bangku sekolah dasar. “Uang itu, selain untuk makan, juga untuk membeli seragam sekolah anak-anak dan buku-buku mereka yang habis terbakar,” lanjutnya.

Pemerintah Kota Batam sebenarnya memberikan bantuan satu stel pakaian seragam setiap anak keluarga yang rumahnya terbakar. Namun itu jelas belum cukup karena siswa sekolah juga harus mengenakan batik dan pakaian olahraga pada hari tertentu. “Dari sekolah, anak-anak mendapat bantuan berupa tas,” ujar Rimba.

Rimba kini membangun kembali puing-puing rumahnya yang dulu berubah jadi arang. Untuk bangunan sederhana berupa dinding bata dan atap, rumah satu lantai berukuran 4 x 5 meter itu menghabiskan biaya Rp 7 juta. Jika ingin dindingnya diplester, ia harus menambah Rp 3 juta. Pengeluaran bertambah Rp 2 juta jika Rimba ingin melapisi lantai rumahnya dengan semen. “Itu dengan catatan semuanya dikerjakan sendiri, tanpa tukang. Kayu-kayu kusennya pun harus cari yang bekas,” katanya.

Karena harus bekerja sendiri itulah Rimba harus melewatkan momen spesial idul adha dengan merenovasi rumahnya. “Biasanya setiap Idul Adha selesai salat ied atau pembagian daging kurban, kami keliling ke rumah teman-teman. Tahun ini tidak bisa,” ujar Rimba. Tanpa bantuan tukang, Rimba harus mengerjakan pembangunan rumahnya setiap hari libur.

Keluarga Rimba saat ini tinggal di rumah yang kerabat di kawasan Batam Centre. Malam hari setelah kejadian, kerabatnya itu memintanya untuk tinggal sementara di rumahnya yang kebetulan tidak ditempati.

Soal rumah yang akan dibangun, Rimba akan memilih akan membangung rumah sederhana tanpa plester dulu. Ia mendapat dana Rp 7 juta dari bantuan teman, keluarga, dan pendapatannya.

Berbeda dengan Rimba yang mengerjakan rumahnya sendiri, Lina membangun rumahnya dengan bantuan tukang. Bantuan itu diperlukannya karena rumahnya berlantai dua. Sampai hari Idul Adha, rangka-rangka rumah yang pengerjaannya dimulai sejak dua minggu pasca kejadian sudah selesai.

Rencananya Lina akan membangun rumah seperti keadaan sebelum kebakaran. Setiap lantai rumah, yang dibangun di kapling seluas 5×5 meter itu, akan disekat dengan triplek menjadi empat ruangan. Bahan triplek juga akan digunakan untuk dinding tingkat dua rumah Lina. Untuk membangun rumah itu, wanita yang dikenal dengan panggilan Mama Frida itu membutuhka dana Rp 60 juta. Dari pekerjaannya sebagai buruh dan suaminya yang saat ini menganggur, jumlah itu jelas tak tertalangi. “Kami harus pinjam dari keluarga di kampung untuk menutupi biaya pembangunan kembali ini,” kata Lina.

Saat kejadian, ketika api melalap rumah-rumah warga, Lina pertama-tama menyelamatkan anaknya. “Anak yang utama, harta yang lain bisa di cari,” ujarnya. Memang, akhirnya hanya satu TV dan sepeda motor harta bendanya yang bisa ia selamatkan.

Besarnya jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membangun kembali rumahnya membuat Lina seakan tak peduli dengan sagu hati sebesar Rp 1 juta yang diberikan Pemerintah Kota Batam seminggu setelah kejadian. Bukan maksud tak bersyukur,  tapi menurut Lina itu hanya usaha Pemko untuk menghibur korban. “Itu agar terlihat memperhatikan warganya saja, tapi jumlah itu tak banyak membantu,” kata Lina.

Di lubuk hati para korban, kejadian ini belum bisa sepenuhnya diterima. Apalagi bagi mereka penyebabnya karena hal yang menurut mereka konyol, pertengkaran rumah tangga dan mereka yang menjadi korban, termasuk Stella Nicollete Hitipew, gadis berumur sembilan tahun yang tewas terpanggang di dalam rumahnya.

Pertanyaan pun timbul di pikiran mereka. “Karena penyebabnya orang Singapura, apakah bisa kita meminta bantuan pada pemerintah Singapura sebagai pertanggungjawaban?” kata Fina, salah satu korban. Selain itu, mereka gemas pada Kerri Bin Kasan, sang pelaku yang tak mau bertanggungjawab atas perbuatannya. Malahan pria yang dikenal sebagai gangster itu berniat kabur sebelum ditangkap dan digelandang ke ruang tahanan.

Tapi, tak lama berpikir, Fina pun menjawab sendiri pertanyaannya. “Sepertinya sulit. Pemerintah sendiri saja tidak memperhatikan, apalagi mengharap pemerintah negara lain,” Fina menyimpulkan.

***
Kesulitan yang dialami oleh korban kebakaran Muara Takus Seraya tak melulu soal biaya pembangunan rumah dan biaya hidup lainnya. Untuk mengurus surat-surat yang terbakarpun mereka kesulitan. Kebanyakan surat-surat yang hangus itu berupa STNK, BPKB, paspor, dan ijazah.

“Awalnya oleh pemerintah kami dijanjikan kemudahan untuk mengurus surat-surat yang terbakar, tapi sampai saat ini warga masih kesulitan,” kata Rimba.

Mereka dijanjikan kelancaran untuk mengurus jika ada surat keterangan dari pihak RT/RW dan Kelurahan. Surat-surat dari tiga lembaga itu gampang diperoleh warga. Namun mereka kerap mentok saaat berurusan dengan kecamatan atau instansi terkait. “Kami dilempar kesana kemari, padahal harusnya mereka mengerti penderitaan kami dari berita-berita yang mereka baca di surat kabar,” terang Rimba.

Karena kesulitan itu, banyak warga yang acuh. Rimba misalnya tak peduli lagi dengan BPKB-nya yang terbakar. “Kalau BPKB-nya tidak ada, paling motor saya tidak bisa dijual,” ungkapnya. Meski demikian, ia tetap merasa khawatir karena surat-surat tersebut penting di masa yang akan datang. BPKB misalnya, dibutuhkan untuk pembayaran pajak kendaraan atau perpanjangan STNK. Ijazah dibutuhkan anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah.

Warga Muara Takus Seraya tampaknya diharuskan untuk berjuang sendiri. “Kami bagai ayam kehilangan induknya,” kata Lina. Mereka harus menelan pil pahit dari bencana ‘karya’ orang lain yang timbul karena masalah sepele. Namun, bagaimanapun beratnya hidup terus berjalan. Bagai menumpuk bata, mereka menumpuk harapan satu demi satu demi melanjutkan hidup. ***

(Yermia Riezky)

Dimuat di Batam Pos, 28 Oktober 2012

Iklan