Sejumlah pelajar SD berjalan di samping gedung yang dijadikan sangar burung walet yang ada di samping sekolahnya di Dabo, Senin (15/10). Entah karena sudah terbiasa atau tak menghiraukan, suara bising walet tak menjadi (Yusuf Hidayat / Batam Pos)
Sejumlah pelajar SD berjalan di samping gedung yang dijadikan sangar burung walet yang ada di samping sekolahnya di Dabo, Senin (15/10). Entah karena sudah terbiasa atau tak menghiraukan, suara bising walet tak menjadi (Yusuf Hidayat / Batam Pos)

Harga satu kilogram sarang walet pernah mencapai Rp14 juta. Kini harga anjlok jadi Rp3 juta. Banyak sarang walet berubah jadi hotel.

YERMIA RIEZKY – MUHAMMAD IQBAL, Dabo

Riuh kicau burung menyambut Tim Ekspedisi Lingga Geografia Batam Pos saat sampai di Dabo, Pulau Singkep, Lingga, Minggu (14/10) sore. Saat mata diarahkan ke langit, tak seekorpun pun burung yang tampak. Namun, makin mendekat ke tengah kota, cericit burung kian nyaring.

“Itu suara walet,” ujar Yusman, sopir yang mengantar Batam Pos dari Pelabuhan Jagoh menuju Kota Dabo. “Kini Dabo ini isinya sarang walet semua, sejak timah tak ada,” ia menambahkan.

Walet-walet itu tinggal di bangunan mirip ruko, namun tak berjendela, yang kini banyak berdiri di Kota Dabo. Nyaris di semua sudut Kota Dabo mudah ditemui bangunan sarang walet. Meski diakui menimbulkan polusi suara, namun sebagian besar warga Dabo mengaku sudah terbiasa mendengar suara bising burung walet siang dan malam. Bahkan, ada bangunan sarang walet dibangun mengelilingi sebuah kompleks sekolah.

Sekitar tahun 2011 silam, SDN 04 Singkep yang berada di Jalan Merdeka Dabo Singkep berkirim surat kepada Dinas Pendidikan Lingga memprotes keberadaan sarang walet di sekitar sekolah itu. Proses belajar mengajar terganggu. Namun, hingga Senin (15/10), sekolah dan sarang walet masih sama-sama berdiri di lokasi yang sama. Cericit walet pun tak pernah berhenti.

Halim Untung, pendiri Asosiasi Pengusaha Walet Lingga, mengatakan saat ini terdapat sekitar 300 unit bangunan sarang walet di Lingga, yang rata-rata berupa bangunan mirip ruko berlantai tiga dan empat. “Jumlah pengusahanya sekitar 200 orang,” ujar Halim, yang juga pemilik dealer resmi Suzuki di Dabo. Halim sendiri memiliki tiga bangunan sarang walet, tak jauh dari show room miliknya.

Usaha sarang burung walet merupakan salah satu sumber penghasilan andalan warga Dabo, sejak tutupnya PT Timah di daerah ini pada tahun 1992.

Potensi besar sarang burung walet di Dabo pertama kali diketahui pada tahun 1992. Saat itu beberapa warga mengumpulkan sarang yang dibuat secara liar di sejumlah bangunan di Dabo. Ketika itu satu kilogram sarang burung walet dihargai 3.500 dolar Singapura.

Sarang burung walet menjadi salah satu panganan favorit masyarakat di negara Cina, Hongkong, Singapura, dan Indonesia. Biasanya panganan ini direbus dan dihidangkan dalam bentuk sup.

Halim menjelaskan, bagi masyarakat Tionghoa, sarang burung walet berkhasiat sebagai obat sakit kulit dan awet muda, menjaga kebugaran dan vitalitas. “Saya sendiri pernah coba, memang fisik rasanya lebih segar dan kuat,” tuturnya.

Tingginya harga membuat masyarakat Dabo mulai memikirkan bangunan tempat singgah burung walet untuk membangun sarangnya. Sejak tahun 1995, ruko-ruko bertingkat tiga mulai dibangun.

Berguru dari daerah lain penghasil sarang walet serta berbagai bacaan, mereka membangun sarang serupa gua. Di alam liar, sarang burung walet memang jamak ditemukan di gua-gua. Ada persyaratan lingkungan yang harus dipenuhi agar walet sudi membangun sarang di satu lokasi, yakni suhu udara 30 derajat celcius, kelembaban tinggi, dan tak ada cahaya.

Meski tampak menjanjikan, tak semua warga Dabo mampu membangun ruko. Dijelaskan Halim, butuh Rp150 juta untuk membangun ruko tiga lantai di tanah seluas 5 x 30 meter persegi. Sementara saat ini untuk membangun model yang sama biayanya per meternya mencapai Rp 1,4 juta.

Alim menunjukkan sarang burung walet miliknya yang digabung dengan dealer sepeda motornya di Dabo, Senin (15/10). (Yusuf Hidayat / Batam Pos)
Alim menunjukkan sarang burung walet miliknya yang digabung dengan dealer sepeda motornya di Dabo, Senin (15/10). (Yusuf Hidayat / Batam Pos)

Setelah ruko jadi, untuk mengundang burung walet membangun sarangnya dilakukan dengan memutar kaset suara burung walet. Walet yang telah berpasangan akan masuk ke bangunan. Jika cocok, mereka akan membangun sarang yang terbuat dari air liurnya. Pasangan walet itu akan menghuni sarang yang mereka bangun selama empat bulan. Selama itu walet betina bertelur, mengeram hingga telur menetas, dan menunggu sampai anaknya terbang.

“Setelah anak walet terbang, barulah kami memanen sarangnya,” kata Halim.

Jumlah yang didapat pengumpul sarang walet bervariasi. Hal ini bergantung pada jumlah walet yang mau mendiami bangunan. Jika lokasinya sesuai dengan lingkungannya, akan banyak walet yang membuat sarang di dalam bangunan itu.

Halim sendiri dengan tiga ruko berlantai empat milikinya, ia mampu mengumpulkan dua kilogram sarang walet setiap bulannya. Biasanya ia menyetor ke pengepul yang datang dari Batam. Selain dari Batam, pengepul yang melirik sarang walet Dabo datang dari Surabaya dan Jakarta.

Kebanyakan mereka mengambil sarang walet yang belum dibersihkan dari bulu-bulu yang menempel. Dari Dabo, sarang walet dibawa ke lokasi asal pengepul untuk dibersihkan kemudian dikirim ke Singapura, Hongkong, atau langsung ke Cina. Halim menyebutkan, lebih dari 50 kilogram sarang burung walet dibeli pengepul setiap bulannya.

Khusus di bulan Oktober, para pengepul makin menggeliat. Mereka menelepon pengusaha sarang burung walet. Merasa punya posisi tawar, pengusaha pun mencari penawar dengan harga tinggi.

Tingginya permintaan pengepul pada bulan Oktober dikarenakan para pengepul harus memenuhi stok walet sebelum perayaan Imlek. Umumnya, dibutuhkan dua bulan untuk mengurus sarang walet dari pembersihan sampai pengiriman. Sampai tahun 2010 sarang walet di Dabo dihargai Rp14 juta per satu kilogram.

Saat harga tinggi, permintaan juga sangat tinggi. Halim bercerita, telepon genggamnya bahkan tak berhenti berdering. Selalu ada pengumpul dari luar Dabo yang menghubunginya, menanyakan apakah ia punya stok sarang walet.

“Tapi itu cerita kejayaan masa lalu,” kata Halim lesu. “Sejak dua tahun lalu Cina melarang pengiriman sarang walet dari Indonesia,” katanya.

Sarang burung walet milik Alim di Dabo, Senin (15/10). (Yusuf Hidayat / Batam Pos)
Sarang burung walet milik Alim di Dabo, Senin (15/10). (Yusuf Hidayat / Batam Pos)

Pelarangan itu membawa efek menukiknya harga pasar sarang walet menjadi kisaran Rp3 juta-Rp5 juta per kilogram saat ini. Kondisi ini membuat pengepul lesu. Mereka kesulitan mendapatkan pasar. Kalaupun ada saat ini pasarnya hanya ke Singapura dan Hongkong. Itupun jumlahnya masih jauh di bawah pasar Cina.

“Bulan Oktober tahun ini saya belum ditelepon oleh pengepul. Bahkan kalau pengusaha yang telepon, mereka malas-malasan tunggu harga pasar,” ujar Halim.

Kalaupun ada warga negara Cina yang membeli sarang burung walet di Batam atau langsung ke Dabo, mereka membelinya untuk oleh-oleh dalam jumlah sedikit. Beberapa pesanan partai kecil juga datang dari Jakarta.

Pemerintah Kabupaten Lingga belum punya terobosan untuk menyelamatkan prospek pasar sarang burung walet ini. Pemerintah berencana menarik pajak dari usaha walet ini. Itu dituangkan dalam Surat Keputusan Bupati Lingga Nomor 91/Kpts/V/2007.

Mulkan Azima, Kepala Bidang Pendapatan, Dinas Pendapatan, Pengelolaan Kekayaan dan Aset Pemkab Lingga, mengatakan pemerintah berniat memungut 20 persen dari harga pasar. “Tahun 2011, PAD dari walet hanya Rp50 juta,” ujarnya. Ia memberi contoh, jika harga sarang walet di pasaran Rp6 juta sekilo, maka pajak yang dipungut sebesar Rp1,2 juta.

Lesunya pasar sarang walet membawa efek bagi usaha pengumpulan sarang walet maupun usaha turunannya. Beberapa restoran yang menyajikan menu sarang burung walet di Batam tutup. Sementara di Dabo, beberapa ruko sudah bertransformasi.

“Banyak ruko yang sudah berganti menjadi hotel. Saya pun mulai pikir-pikir, kalau harga walet tak kunjung naik, mungkin ruko saya akan dijadikan hotel,” kata Halim. ***

*Pernah dimuat di Batam Pos, 16 Oktober 2012

Iklan