Selama ini jamaah masjid berinfak dengan memasukkan uang ke dalam kotak. Tapi, pernahkah terpikirkan berinfak dengan menyumbangkan sampah?  

YERMIA RIEZKY

Sebuah mobil pikap berhenti di depan sebuah kedai di Kompleks Pasar Cipta Puri, Tiban. Kedai Bang Jampang namanya. Pikap itu membawa muatan berupa sampah kaleng dan botol plastik serta kaca di bak belakangnya. Tak lama setelah berhenti, sopir mobil itu keluar dan masuk ke dalam kedai betegur sapa dengan seorang pria berkepala plontos berbaju oranye.

Sopir pikap kemudian menuju ke salah satu bagian kedai dan mengambil sebuah timbangan berukuran lima kilogram lalu berjalan menuju pikap, meletakkan timbangan di bak belakang dan mengemudikan pikap meninggalkan kedai.

Beberapa saat setelah pikap pergi, datang sebuah lori putih. Sama dengan pikap sebelumnya, lori itu membawa sampah. Tapi tak seperti yang diangkut pikap, sampah di bak lori itu berupa kardus bekas. Tak sampai lima menit parkir dan menuliskan sesuatu di buku, lori itu pun meninggalkan kedai.

“Mereka mau meletakkan barang ke gudang Bank Sampah di pojok Kompleks Pasar Cipta Puri. Setelah itu dijual ke pengumpul,” ujar pria berbaju oranye itu.

Asep Sulaeman, nama pria itu adalah pemilik kedai Bang Jampang. Tapi tak hanya mengelola kedai, ia juga mengelola sebuah bank sampah. Sebuah kantor kecil dengan plang Bak Sampah diadakan di pojok kanan belakang kedai. Di situ, Asep mengatur administrasi bank sampah yang dipimpinnya.

Seperti halnya istilah bank yang dikenal sebagai tempat menabung, di bank sampah warga juga bisa menabung. Hanya mereka menabung tidak langsung dengan uang tapi dengan sampah.

Sejak dimulai pada awal Mei 2012 lalu, Bank Sampah Koperasi Jembar Amanah sudah memiliki sebanyak 300 nasabah. Mereka adalah pemilik toko maupun usaha kecil menengah.

“Dari jumlah itu dana nasabah yang terkumpul sebanyak Rp 30 juta,” kata pria 36 tahun itu.

Bagaimana Asep tertarik mengelola sampah? Ide itu muncul dari obrolan Asep dengan seorang pengusaha pengelola limbah B3. Dari situ ia melihat peluang memanfaatkan sampah sebagai ladang uang. Namun, alih-alih untuk keuntungan sendiri, ia berbagi keuntungan dengan masyarakat dari sampah rumah tangga.

Dari obrolan pada awal Mei 2012 itu Asep kemudian menyusun rancangan pengelolaan bank sampah. Selama tujuh hari ia menyusun rancangan pengelolaan bank sampah itu dan mendiskusikannya dengan para pelanggan yang datang ke kedainya.

Ternyata, respon pengunjung positif. Setelah yakin dengan rancangannya, ia kemudian mengajukan surat membuat bank sampah dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Batam. Tak menunggu lama, izin keluar pada tanggal 14 mei 2012.

Ketika izin sudah ditangan, Asep pun memulai sosialisasi proyeknya itu di warga komplek Puri Malaka yang lokasinya di belakang pasar Cipta Puri. Ia mengawali sosialisasinya ke jamaah masjid Jabal Nur dan para RW kompleks tersebut. Sosialisasi lancar dan beberapa warga bersedia memberikan sampah sebagai tabungan pada Bank Sampah KJA.

Asep sendiri menargetkan sampah-sampah dari pelaku usaha kecil menengah, misalnya mereka yang memiliki toko atau kedai. Usaha-usaha tersebut biasanya membuang lebih banyak sampah ketimbang rumah tangga. Itulah sebabnya, nasabah-nasabah pribadi berasal dari pelaku UKM sementara warga yang tak memiliki usaha membawa sampah-sampah mereka ke masjid Jabal Nur.

“Yang utama, sampahnya bukan sampah yang bisa membusuk seperti sayur, ikan, atau sisa makanan. Kami mrngumpulkan sampah-sampah yang bisa didaur ulang seperti plastik, kaleng, dan kardus,” ujar Asep.

Sistem yang diberlakukan Bank Sampah KJA sebenarnya sama dengan sistem pengumpulan barang-barang bekas yang membayar sampah sesuai jenis dan beratnya. Di Bank Sampah, kardus bekas misalnya, dihargai Rp 1.100 per kilogram. Sementara kaleng bekas dibanderol Rp 10 ribu per kilogram. Harganya sendiri berfluktuasi mengikuti harga pasar.

Asep mengungkapkan, perusahaan pengumpul barang bekas belum ada yang mengumpulkan sampah warga karena bagi mereka jumlahnya sedikit. Mereka memilih perusahaan-perusahaan besar atau pusat perbelanjaan. Padahal jika dikumpulkan dari banyak warga, omzetnya ratusan bisa banyak.

“Sehari kami bisa mengumpulkan satu ton sampah,” tambah pria asal Jampang, Sukabumi itu.

Namun, karena namanya bank, pelanggan bank sampah tidak langsung menerima uang tunai, tapi dalam bentuk tabungan. Untuk itu, Bank Sampah KJA sudah menyiapkan buku rekening yang dapat mencatat jumlah uang yang mereka dapatkan dari menjual sampah.

Bagi nasabah, jumlah tabungan dari hasil sekali menyetor sampah ke Bank Sampah mungkin kecil. Tapi bayangkan kalau sudah berminggu-minggu mereka menyetor sampah-sampah itu, jumlahnya bahkan bisa digunakan untuk membayar tiket mudik.

“Jelang lebaran kemarin banyak nasabah yang menanyakan berapa banyak tabungan mereka, ternyata ada beberapa yang bisa dibelikan tiket mudik. Selain itu sebelum tanggal 20 setiap bulan banyak yang menarik tabungannya untuk membayar air atau listrik,” terang Asep.

Nasabah Bank Sampah ternyata tak hanya berasal dari daerah Tiban. Mereka tersebar hingga ke Bengkong dan Batuaji. Untuk itu, Bank Sampah pun sudah mengatur jadwal pengambilannya. Pada hari Senin dan Selasa mereka mengambil sampah daerah Tiban dan Sekupang. Hari Rabu dan Kamis giliran Batam Centre dan Bengkong yang disambangi. Sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu, mereka mengumpulkan sampah pelanggan yang tinggal di Batuaji.

Untuk pengumpulan sampah, Asep memiliki empat pekerja lapangan yang membawa dua armada yakni masing-masing sebuah pikap dan lori. Terkadang Asep sendiri turun ke lapangan. Selain mereka, Bank Sampah juga memiliki seorang sekretaris dan bendahara.

Mereka dibayar dari keuntungan keuntungan pembelian sampah dari nasabah. Bank sampah mengambil keuntungan sekitar Rp 100-Rp 200 setiap kilogramnya. Dari situlah Bank Sampah mampu membiayai operasional pengumpulan sampah setiap bulannya. Keuntungan itu juga digunakan sebagai simpanan di Koperasi Jembar Amanah yang beranggotakan 35 orang.

Sampai saat ini, Bank Sampah mampu beroperasi dengan keuntungan tersebut meski mereka bermitra dengan Bapedal Batam dan bank Riau Kepri. Kedua lembaga itu perlu melihat usaha Bank Sampah selama setahun sebelum mengambil tindakan apakah akan membantu Bank Sampah. Namun, meski belum memberikan bantuan uang, Bank Riau Kepri membantu nasabah yang ingin menarik uangnya.

“Mereka memberikan ATM Bank Riau Kepri bagi nasabah yang tinggal jauh dari Tiban. Kalau mau mengambil uang di Tiban kan jauh, jadi kami tawarkan uang tabungan mereka dimasukkan ke rekening bank,” jelas Asep.

Selain dalam bentuk bisnis, sejak awal bulan Ramadhan Kemarin, Bank Sampah menjalankan satu misi sosial dengan bermitra dengan masjid dan musala. Saat ini ada tujuh masjid dan musala yang bersedia bekerja sama menjadi nasabah Bank Sampah.

Berbeda dengan nasabah kedai atau toko, di rumah ibadah itu mereka tidak mengambil untuk dari sampah-sampah yang dikumpulkan. Harga yang diambil tiap kilogramnya sama dengan harga jual. Sampah-sampah berasal dari warga di sekitar masjid atau musala yang diambil satu kali setiap minggu.

Ada visi mulia dari kerjasama sama dengan masjid dan musala ini. Selain soal kebersihan, para jamaah ternyata dapat berinfak melalui sampah. Dengan cara ini, warga bisa mengumpulkan uang untuk memenuhi fasilitas dan kebutuhan masjid atau musala. Salah satu contohnya di Musala Annur Tiban yang bisa mengumpulkan tabungan Rp 500 ribu dari sampah-sampah warga.

“Saya melihat ini sebagai salah satu kemasan cara mengatasi masalah sampah yang membuat jenuh masyarakat. Tidak saja dengan membuang sampah pada tempatnya, tapi melalui sampah warga bisa berinfak yang hasilnya bisa digunakan untuk membeli cat atau memperbaiki rumah ibadah,” ujar Asep.

Berangkat dari situ, Asep mulai menjajaki kerjasama dengan Masjid Agung batam Centre dan sebuah Taman Kanak-Kanak di Tiban. Dalam kerja sama itu, Bank Sampah mengajak jamaah rumah ibadah dan pengelola sekolah membangun gudang penampungan berukuran 3×3 meter. Nantinya sampah-sampah jamaah maupun warga  lainnya dibuang ke gudang itu.

Khusus TK, Asep melihat ini merupakan salah satu ccara untuk mendidik anak-anak tentang kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.Dengan sampah mereka dapat membantu membangun sekolah mereka. Fokus Asep memang pada anak-anak TK dan SD, karena pada usia itu manusia paling cepat menangkap pengaruh dan pengajaran.

Asep berharap, bank sampah pertama di Batam ini dapat membantu tugas pemerintah mengatasi sampah yang tak pernah tuntas. Menurutnya dengan kemasan ibadah atau keuntungan ekonomis warga bisa menjaga lingkungan tetap bersih.

“Pemerintah harusnya sadar, saat ini sulit untuk menggerakkan masyarakat begitu saja tanpa embel-embel. Dengan memberikan kemasan ibadah atau tabungan, dengan sendirinya masyarakat akan mengumpulkan sampah. Hasilnya, lingkungan mereka bebas sampah,”  ujar Asep menyimpulkan. ***

Iklan