Tidak mudah berjiwa sosial saat sebagian masyarakat Batam dituntut memburu nafkah. Di tengah kondisi itu, Cak Man dan kawan-kawan mendedikasikan diri mengurus Taman Bacaan Masyarakat

YERMIA RIEZKY
Halaman rumah tipe 27 di Tiban Masyeba III sudah berubah dari bentuk aslinya. Bukan lagi tanah, tapi berupa lantai keramik yang ditinggikan setengah meter dari permukaan tanah, merubah fungsinya menjadi teras. Tutupan kanopi melindungi siapapun di teras itu dari terik matahari dan terpaan hujan.

Usman Agus, sang pemilik rumuah, sedang menunggu kawannya, Tarmizi penyair dari komunitas rumahitam, Jumat (2/11) pagi. Mengenakan baju koko warna hijau dan sarung kotang-kotak warna biru, ia mengatur dua meja di tengah teras berukuran 2 x 4 meter persegi itu. Di dekat meja, ada rak buku kecil berisi banyak buku.

Tak lama, Tarmizi datang bersama Candra, seniman musik dari komunitas yang sama. Mereka membawa dua kardus bekas printer. Saat kardus dibuka, keduanya lalu mengeluarkan tumpukan buku-buku ke atas meja yang sudah disiapkan Cak Man, panggilan akrab usman.

Buku-buku yang dibawa Tarmizi bervariasi. Kebanyakan buku-buku sastra dan kumpulan puisi. Selain itu ada bacaan anak-anak, panduan beternak, dan kumpulan majalah seni dan remaja.

“Jumlahnya ada 200 eksemplar semua,” kata Tarmizi soal jumlah buku yang dibawanya. Buku-buku buku itu akan melengkapi 300 buku di rumah Usman yang disulap menjadi taman bacaan masyarakat (TBM) yang dinamai Greget.

Usman sudah mengawali TBM ini enam bulan lalu. Sebelumnya, teras teras rumahnya itu sering menjadi sanggar teater. Namanya Greget Teater yang diikuti oleh masyarakat umum. Selain teater, tempat itu juga jadi ajang belajar melukis.

Melihat banyak anak-anak yang sering datang ke tempatnya, muncul keinginan Usman untuk membangun taman bacaan. Menurut Usaman, membaca itu menjadi pintu bagi anak untuk mengenal dunia. “Lebih baik mereka sibuk membaca saat waktu luang daripada mengerjakan hal-hal yang memberikan pengaruh negatif pada mereka,” kata Usman.

Niat Usman ini sebenarnya merupakan perwujudan dari impian komunitas rumahitam. Komunitas pimpinan Tarmizi itu mencanangkan Gerakan Batam Membaca dan Batam Wakaf Buku pada 1 Januari 2012. Gerakan ini menerima wakaf buku baik itu melalui perseorangan maupun perusahaan. Sejak dicanangkan, sudah terkumpul sekitar 9 ribu eksemplar buku yang masuk ke sekretariat komunitas rumahitam di Sekupang.

Ternyata, dengan jumlah buku sebanyak itu, belum bisa dinikmati oleh masyarakat. Masalahnya, banyak masyarakat yang tidak tahu di mana sekretariat rumahitam. “Yang baca jadinya hanya anggota komunitas saja,” kata Tarmizi. Hal itu, kata dia tidak sesuai dengan cita-cita Gerakan Batam Membaca dimana buku-buku bisa diakses oleh masyarakat.

Itulah sebabnya di tahun 2012, komunitas rumahitam berencana membangun taman bacaan masyarakat sehingga buku-buku wakaf bisa dibaca seluruh warga Batam, khususnya mereka yang tidak memiliki dana khusus untuk membeli buku.

“Harga buku-buku sekarang ngeri, tidak bisa dijangkau oleh warga yang setiap harinya berjuang untuk mengisi perut mereka,” ujar Usman.

Rumahitam sendiri memiliki visi akan TMB ini. Tarmizi mengungkapkan, pada 2015, ia berharap mampu membentuk 250 TBM di seuruh kecamatan di Batam. TBM itu diharapkan muncul dari masyarakat. Jika masyarakat belum mampu, anggota komunitas rumahitam yang akan membantu membidani munculnya taman bacaan di lingkungan masyarakat.

Target TBM yang dikembangkan rumahitam adalah di perumahan kelompok menengah kebawah, ruli dan masyarakat pesisir. Seperti yang diungkapkan Usman, kelompok-kelompok ini adalah mereka yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga minat keinginan untuk membaca buku rendah, apalagi dengan mahalnya harga buku. Dengan adanya rumah baca di lingkungan seperti itu, anak-anak yang selama ini tidak dapat mengakses buku dapat mulai membaca buku berbagai pilihan.

Tarmizi berharap, dengan membiasakan diri membaca buku dari kecil, hal itu akan terbawa hingga mereka dewasa. Dengan melihat hal-hal baru dari buku yang mereka baca, anak-anak dari lingkungan itu dapat mulai membangun mimpi mereka, keluar dari himpitan hidup. “Mereka dapat berharap menggapai kehidupan yang lebih baik,” terang Tarmizi. Kegiatan membaca di TBM diharapkan menjauhkan mereka dari kehidupan keras yang bisa membawa efek negatif bagi anak.

Selain itu, para ibu juga bisa mengakses TBM, baik atas keinginan sendiri maupun  saat mengantar mereka. Hal ini lebih produktif ketimbang bergosip atau menonton sinetron. Siapa tahu, ujar Tarmizi, ada perempuan yang muncul menjadi penulis setelah ia rajin membaca di TBM.

Dengan munculnya TBM Greget, komunitas rumahitam sudah memiliki TBM perintis. Buku-buku yang diwakafkan masyarakat, komunitas, maupun perusahaan disalurkan ke  TBM ini. Termasuk sebagian dari 200 buku yang disumbangkan sastrawan asal Bogor, Martha Sinaga, dan komunitas Kaskus Korda Batam yang menyumbangkan 212 buku pada bulan puasa kemarin.

Selain dari program Batam Wakaf Buku, buku-buku di TBM Greget berasal dari sumbangan anak-anak yang sering datang di situ. “Lima buku pertama disumbangkan seorang anak berumur tiga tahun,” kenang Usman. Pria gondong ini juga mendapat buku dari sekolah tempat istrinya mengajar. Di sana banyak buku yang sudah tidak terpakai karena diganti dengan buku baru,”tapi buku-buku lama itu isinya masih berbobot,” tambah dia.

Sumber lain yang memberikannya buku adalah seorang tukang koran yang juga mengoleksi banyak buku bekas. Dari orang itu, Usman mendapat buku-buku cerita bergambar berbahasa Inggris seperti cerita Robin Hood, Transformer, kumpulan kisah karangan Enid Blyton. Tukang koran itu juga menghibahkan beberapa jilid buku komik Doraemon berbahasa Indonesia.

Buku-buku sudah terkumpul. Tantangan selanjutnya yang dihadapi oleh usman adalah mendatangkan anak-anak ke TMB Greget. Setiap hari, rata-arta 10 anak datang membaca di TBMnya. Ia ingin agar TBM Greget tak hanya dikunjungi oleh anak-anak di lingkungan Tiban Masyeba tahap III, tapi juga tahap I dan II. “Anak-anak perlu dirangsang untuk membaca buku di sini,” kata Usman.

Salah satu caranya adalag dengan mengadakan perlombaan di TBM sehingga masyarakat termasuk anak-anak turut serta. Di samping itu ia sering mengadakan pelatihan seni di TBM Greget. Untuk itu, ia akan dibantu Herlmi yang piawai membuat patung dari fiber, Candra yang fasih seni musik, dan Ali pengajar teater.

Kemunculan TBM Greget ini tak luput dari perhatian Batam Pos. Beberapa tahun lalu, Batam Pos memiliki program 1000 Rumah Baca yang ingin diselesaikan. “Karena niatnya sama, kami mengawinkan program rumahitam dan Batam Pos,” kata Tarmizi.

Hal ini dibenarkan oleh General Manager Batam Pos Hasan Aspahani yang ingin hadir dalam peresmian TBM Greget. Menurut Hasan, TBM ini merupakan salah satu cara agar masyarakat bisa mengakses buku.

“Riset mengungkapkan rasio buku di Indonesia adalah satu buku dibaca oleg 80 ribu orang. Ini sangat besar,” ungkap Hasan. Untuk memperkecil rasio itu, menyuruh orang membeli buku saja tidak cukup. Karena itu kehadiran TBM bisa membantu memperkecil rasio itersebut. “Karena itu, TBM harus ada di kantong-kantong masyarakat,” tambahnya.

Batam Pos sendiri, kata Hasan, akan memberikan langganan koran gratis untuk TBM rumahitam. Secara pribadi ia berjanji akan memberikan majalah-majalah anak dan buku-buku yang menumpuk di rumahnya.

Tarmizi berharap banyak perusahaan lain yang mengikuti jejak Batam Pos untuk mewakafkan buku bagi pendirian TBM selanjutnya. Rumahitam akan menerima sebanyak mungkin buku apapun yang disumbangkan pihak donatur. Nantinya, rumahitam yang akan mendata buku apa yang layak disebar ke TBM-TBM. “Kami akan menyortir buku-buku yang disumbangkan, siapa tahu ada buku-buku yang memberi pengaruh buruk yang tidak bisa dimasukkan ke dalam TBM,” kata Tarmizi.

Dengan berdirinya TBM Greget, Usman, Tarmizi dan anggota komunitas rumahitam punya gawean lain di samping kesibukan mereka berkesenian. Tarmizi mengungkapkan, butuh dedikasi tinggi agar program TBM yang non profit ini berlanjut dan tak putus di tengah jalan. Darah seni yang mengalir dalam diri mereka yang mendorong berani mengambil resiko berkarya demi kepuasan orang lain tanpa mengharapkan keuntungan pribadi.

“Ditengah kebanyakan warga Batam yang seharian bekerja demi uang, sulit mengharapkan mereka membangun dan mengurusi TBM seperti ini. Jadi, mungkin hanya orang-orang ‘gila’ yang mau memberikan waktu, tenaga, dan uang untuk mengerjakan hal-hal yang belum tentu menguntungkan seperti ini,” pungkas Tarmizi. ***

Iklan