Penumpang tak akan menemui pengemudi Bus Trans Jakarta yang ugal-ugalan. Keselamatan penumpang jadi prioritas mereka. Namun, mengapa pengelola bus itu merugi sampai Rp 1,4 miliar?

YERMIA RIEZKY

Bis ukuran sedang menghampiri halte yang berlokasi di depan gedung pelayanan PLN Batam Batam Centre, Kamis (15/11). Ketika bis itu berhenti, saya masuk di pintu bis yang sudah terbuka. Seorang kondektur itu berdiri di depan pintu itu.

Itu bis Trans Batam ketiga yang melalui halte selama Batam Pos menunggu selama sekitar 20 menit. Setiap 10 menit, bis Trans batam jurursan Batam Centre – Batuaji datang mengangkut penumpang. Halte itu memang khusus mengangkut penumpang untuk rute tersebut.

Di dalam bus yang memiliki 20 tempat duduk itu, hanya ada tiga penumpang. Namun penumpang bertambah saat bus berhenti di halte masjid Raya. Tujuh perempuan dewasa dan anak-anak naik ke bus itu. Saat melaju ke arah Simpang Kabil, beberapa penumpang diangkut di halte simpang Franky, simpang Kara, dan Simpang Kabil.

Selepas halte simpang Kabil, kondektur bus itu, Nur Pidayat, mulai membagikan tiket. Setiap lembaran tiket berwarna biru itu dibayar penumpang seharga Rp 3 ribu. Selepas halte kawasan industri Citra Turbindo, sejumlah penumpang mulai turun. Untuk mengingatkan penumpang, kondektur pun mengingatkan halte selanjutnya. “Mukakuning…. Mukakuning,” atau, “SP Plaza, ada yang turun?” Halte terakhir bus jurusan itu adalah di Fanindo, Sagulung.

Apakah penumpang di hari libur itu lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya? “Sama saja mas, malah menurun, karena tidak ada anak sekolah,” kata Nur.

Bus Trans Batam memang mengalami krisis penumpang. Dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPRD Batam dengan Dinas Perhubungan, Kamis (15/11) terungkap bahwa Bus Trans Batam yang dulunya disebut Bus Pilot Project (BPP) itu merugi sebesar Rp 1,4 miliar. Ini disebabkan turnnya jumlah penumpang sampai 10 kali lipat.

Untuk rute Batam Centre – Sekupang saja, pada tahun ini sampai bulan September, jumlah penumpang hanya 32.968 orang, turun dari 485.862 orang pada periode yang sama tahun lalu. Salah satu supir bis Trans Batam, Parna Siallagat, mengungkapkan penyebab utama turunnya jumlah penumpang adalah meningkatnya pembeli kendaraan roda dua. Sebelumnya mereka merupakan penumpang bus Trans Batam.

“Sejak tahun 2006, pengguna motor meningkat,” kata Parna. Ada dua yang menurut dia jadi penyebab orang bisa mudah mendapatkan motor. Pertama, perekonomian masyarakat yang mulai meningkat, dan kedua, syarat membeli motor secara kredit relatif ringan. Cukup membayar uang muka Rp 500 ribu, motor sudah di tangan.

“Sejak itulah, jumlah penumpang menurun,” terang ayah empat anak itu.

Selain itu, khusus rute Batam Centre – Batuaji, bis yang dioperasikan Damri itu, mendapat pesaing dari metro trans dan bimbar. Keberadaan mereka membuat penumpang-penumpang Damri memilih menggunakan kedua moda transportasi itu. Apalagi, baik metro trans dan bimbar bisa menaikkan dan menurunkan penumpang di mana saja. Sementara bus Damri harus mengangkut dan menurunkan penumpang di halte. Itulah yang dilihat Parna sebagai kekurangan.

“Untuk rute Batam Centre – Batuaji, haltenya kurang, ditambah antar satu halte dan halte berikutnya jaraknya jauh,” kata dia.

Parna mencontohkan, dari Simpang Basecamp sampai Fanindo hanya ada dua halte, itu pun letaknya di hampir dua kilometer. Padahal diantara dua halte itu ada perumahan, kawasan pertokoan, dan sekolah. Karena jaraknya yang jauh, penumpang memilih naik angkutan lain ketimbang harus berjalan menuju salah satu dari dua halte itu. “Seharusnya kita bisa mengangkut mereka,” kata Parna sedikit menyesal. Namun ia tak mampu berbuat apa-apa.

Persoalan lain tentang halte adalah tidak adanya halte yang berhadapan di dua sisi jalan. Contohnya antara SP Plaza dan Universitas Putra Batam (UPB). Di jalur SP Plaza ke UPB ada empat halte, sementara di sisi lain, hanya ada satu halte. Karena itu, terkadang di lokasi tersebut, bus-bus Trans Batam menurunkan penumpang tidak di halte. Misalnya di depan gerbang perumahan Puskopkar.

“Banyak penumpang yang tinggal di sini, kalau dari arah Batam Centre, terpaksa kami turunkan tidak di Halte karena terlalu jauh. Jadi kami turunkan di depan gerbang Puskopkar,” kata Parna.

Halte-halte trayek Batam Centre-Batuaji, menurut Parna, tidak serapi halte jurusan Batam Centre- Sekupang. Parna yang pernah menyopiri bis rute Batam Centre-Sekupang mengungkapkan, halte bis hampir ada di dekat keramaian masyarakat. Misalnya di pasar-pasat atau perumahan-perumahan yang padat. Kondisi halte itu menurutnya membuat halte penumpang di Sekupang masih lebih banyak ketimbang rute Batam Centre- Batuaji.

Karena penumpangnya yang lebih banyak itu, jumlah bus jurusan Sekupang lebih banyak, 12 unit berbanding sembilan unit yang melayani rute Batam Centre – Batuaji. “Di samping haltenya yang ada di dekat lokasi keramaian, tidak ada angkutan lain seperti bimbar dan metro trans ke Sekupang,” tambah Parna. “Ada juga taksi yang ke sana, tapi penumpangnya pun tak sebanyak bimbar atau metro trans.”

Bagi Parna pribadi, keberadaan Bimbar dan metro Trans tidak dianggap sebagai saingan. Menurut dia, yang dilakukan Damri adalah memberikan pelayanan bagi penumpang. Beberapa pelayanan yang diberikan Damri selain tiket adalah waktu kedatangan bis yang bisa diprediksi. Batam Pos menghitung, di tiap halte, bus datang sekitar 10-20 menit. Cukup lama memang dibandingkan dengan angkutan lainnya mengingat jumlah unitnya yang terbatas. Namun, satu hal yang menjadi keunggulan bus Trans Batam adalah sopirnya yang tidak ugal-ugalan.

Sopir Trans Batam membawa kendaraan dengan tenang dan tak terburu-buru. Tidak ada keinginan untuk cepat-cepat melambung kendaraan di depannya jika sopir merasa tidak ada ruang. Jarum spedometer pun konstan di angka 50 kilometer per jam dan menurun saat mendekati keramaian atau lampu merah.

“Untuk apa kami buru-buru, kami tidak ingin reputasi Trans Batam turun karena kami ugal-ugalan dan cerita itu tersebar di masyarakat Batam,” kata Parna. Pria yang sudah lebih 20 tahun bekerja sebagai sopir itu mengungkapkan para sopir juga mengingat keluarga mereka di rumah.

“Saya punya dua anak yang sudah kuliah dan yang bungsu di bangku SMA. Kalau saya dipenjara, siapa yang membiayai sekolah mereka?” ujarnya.

Di samping itu, berbeda dengan angkutan lain, sopir Trans Batam yang dikelola oleh gabungan Damri dan Dinas Perhubungan Kota Batam itu tidak harus mengejar setoran. Setiap bulan mereka mendapat gaji. Itulah sebabnya, meski Trans Batam mengalami kerugian sebesar Rp 1,4 miliar, para sopir tidak merasa terbebani.

“Yang penting kami mengerjakan tugas kami dan melayani penumpang dengan baik dan memberikan mereka kenyamanan,” ujar Parna. Masalah keuangan, biarlah atasan kami yang mengurusi. Meski demikian, ia punya usul bagi Dishub untuk memperbanyak halte.

“Tak perlu Dishub yang bangun, berikan swasta yang membangun seperti di halte Fanindo dan Panbil. Di Halte itu nantinya di pampang nama perusahaan pembagun,” saran dia.

Saat ini, ketika jumlah penumpang umum menurun, pemasukan Trans Batam diselamatkan oleh para pelajar. Setiap berangkat dan pulang sekolah, bus Trans Batam dipenuhi para pelajar. “Mulai dari SD sampai yang kuliah menggunakan naik bis Trans Batam,” kata Nur, kondektur bis. Untuk mahasiswa, kebanyakan mereka berkuliah di Politeknik Batam.

Nur sendiri mensyukuri pilihan pelajar-pelajar itu pada Trans Batam. “Tanpa mereka, kami sudah kesulitan hidup,” katanya berkelakar. Di saat jam padat, jumlah penumpang di Trans Batam bisa mencapai 60 orang.

Selain pelajar penumpang lain yang memanfaatkan bus Trans Batam adalah para pegawai. “Pegawai Pemko, Dinas Perhubungan, Pos Indonesia masih sering naik bus setiap pagi,” kata Parna. Bagaimana dengan anggota dewan?

“Tidak ada, mereka kan sudah dikasi mobil dinas masing-masing, Mana mau naik bis?” tuntas Parna.***

 

Tulisan ini dibantu oleh Wenny C Prihadina

Iklan