diskusi buku.f,Yermia

Sebuah buku kebudayaan Melayu hadir mengingatkan upacara setiap tahap kehidupan. Menyelamatkan ingatan warga pada budaya asli Batam.

YERMIA RIEZKY

Sebagai kota industri, Batam kini dihuni orang-orang yang datang dari penjuru Indonesia. Tak sedikit pula ekspatriat yang mendiami wilayah ini sejak dikembangkan pada awal dekade 1970-an.

Pembauran budaya itu membawa efek bagi kebudayaan Melayu Batam. Banyaknya budaya luar mulai itu menggerus ingatan masyarakat akan budaya Melayu yang dulu berkembang di wilayah ini. Sejumlah upacara adat sekarang tak jamak lagi dilakukan oleh masyarakat melayu batam.

Kondisi itu yang mendorong sejumlah orang Melayu Batam menuliskan buku Meneroka Upacara Peralihan Kehidupan Orang Melayu Batam yang menjelaskan tentang upacara peralihan yang dilakukan masyarakat melayu Batam. Lima diantaranya, yakni Jefridin, Alfan Suhairi, Makmur Ismail, Raja Zahar Jordan, dan Taufik Muntasir membahas buku tersebut dalam acara peluncuran dan bedah bukur tersebut di gedung Lembaga Adat Melayu, Batam centre, Kamis (27/12).

Sembilan bab buku itu membahas berbagai upacara yang berlangsung setiap beralihnya tahapan kehidupan. Antara lain kelahiran, aqiqah, sebelum berjalan, menginjak remaja, pernikahan, kehamilan, dan kematian.

“Buku ini menceritakan perjalanan kehidupan masyarakat melayu yang tumbuh dengan dalam ajaran Islam. Pengaruh Islam tidak bisa terpisahkan dari perkembangan budaya melayu,”kata Jefridin.

Salah satu pembicara, Makmur Ismail menyoroti salah satu peralihan penting dalam kehidupan seorang Melayu, yakni Jejak Tanah.Jejak Tanah merupakan salah satu upacara peralihan yang berlangsung sebelum anak mulai belajar berjalan.

Dalam berbagai kesempatan, proses ini berbarengan dengan prosesi cukur rambut dan aqiqah. Upacara ini memiliki makna dalam bagi orangtua. Ada doa dan harapan yang tersemat di dalamnya.

“Prosesi Jejak Tanah ini bertujuan agar dalam hidupnya anak melangkah menuju ke tempat yang baik-baik,” ujar Makmur.

Dalam tahapan ini, upacara tidak dilakukan di atas sembarang tanah. “Tanahnya harus tanah yang sakral,” tambah Makmur.

Tanah yang sakral itu antara lain diambil dari makam alim ulama, mereka yang selama hidupnya dikenal tanpa cela. Selain dari makam alim ulama, tanah juga diambil dari makam orang yang memiliki kemampuan di luar kemampuan manusia biasa.

Makmur mengungkapkan pentingnya upacara Jejak Tanah ini karena kehidupan orang melayu tak lepas dari tanah. “Kita berasal dari tanah, sebelum bisa berjalan ada Jejak Tanah, dan saat meninggal ada juga prosesi namanya Turun Tanah,” tambah dia.

Sementara itu, Raja Zahar Jordan mengungkapkan, selama seorang ibu hamil, di buku itu dituliskan sejumlah pantangan yang harus dihindari. “Pantangan itu diantaranya ibu tidak boleh berkata kasar, ayah calon jabang bayi tidak boleh menyembelih ayam,” kata Zahar.

Di samping pantangan-pantangan tersebut, ibu hamil dapat mendidik janin dalam kandungannya. Caranya dengan memperbanyak ibadah dan membaca Al-quran.

Meski Kamis malam itu diskusi buku sudah dilakukan, buku Meneroka Upacara Peralihan Kehidupan Orang Melayu Batam baru akan beredar pada bulan Januari 2013. Ketua LAM Batam, Nyat Kadir mengaku senang dengan munculnya buku ini. Selain mengingatkan kembali upacara peralihan orang Melayu Batam, buku ini menumbuhkan kembali budaya menulis yang dulu berkembang di tanah Melayu.

“Tradisi menulis adalah tradisi melayu. Bahasa Indonesia muncul karena tradisi tulis menulis yang berlangsung sejak masa Raja Ali Haji,” ucap Nyat.***

 

 

(Pernah dimuat di Batam Pos, 29 Desember 2012)

Iklan