Siang ini saya membaca salah satu postingan senior saya , di mapala saat kuliah, Totok Wijayanto, di Facebook. Dia seorang fotografer harian Kompas. Sejak kuliah, saya mengenal foto Totok sebagai foto yang berbicara. Nuansa itu kental terasa di foto-fotonya ketimbang fotografer Kompas angkatan 2000an sampai sekarang.

Inti postingan Totok adalah ia mengeluhkan persyaratan sebuah lomba foto yang diadakan Dji Sam Soe. Sejumlah persyaratan diajukan panitia, diantaranya pernah dimuat di media dan hak publikasi foto menjadi milik panitia tanpa memberitahukan fotografer yang bersangkutan dan media yang memuat.

Persyaratan inilah yang membuat Mas Tok, Gusar. Karena sebagai orang yang hidup dari dunia jepret foto, setiap karyanya bernilai, walaupun dari sisi seni, para seniman beranggapan karya seni itu tak bisa dihargai berapapun. Namun, sebagai profesional yang bekerja di media, fotolah yang memberinya makan.

Penggunaan hak foto yang dikirimkan ke panitia menjadi milik panitia sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh perusahaan yang melakukan lomba foto. Tujuannya, mendapatkan foto-foto bagus dengan gratis.

Mungkin, suatu perusahaan atau produk mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta untuk hadiah lomba foto itu (kebanyakan sih di bawah 100 juta). Jika seorang pemenang pertama mendapat Rp 20 – 50 juta, jelas itu penghasilan yang terbilang fantastis untuk fotojurnalis Indonesia.

Ternyata, itu sendiri tidak merugikan perusahaan. Alasannya, bandingkan dengan dengan ratusan hingga ribuan foto yang bisa mereka kumpulkan dari fotografer-fotografer yang mengirim foto-foto berkualitas. Tanpa perlu mengeluarkan uang untuk membeli foto dari media atau stok foto, mereka mendapatkan foto gratis untuk publikasi produk suatu perusahaan. Paling sederhana dipampang di situs web atau di kalender mereka.

Jika sudah dipakai, fotografer pun tak bisa menuntut hak cipta atau hak komersil karena merekatelah menyetujui syarat saat mengirimkan lomba (foto menjadi hak panitia, dan panitia bole menggunakan dalam publikasi produk seenaknya).

Belum lagi iklan gratis di media tempat sang fotografer bekerja karena foto yang menampilkan karakter produk langsung atau tidak langsung (menampilkan merek). Jelas keuntungan perusahaan karena bisa membranding produk mereka dengan gratis.

Hal yang sama dilakukan di dunia jurnalistik tulis. Produk menyelenggarakan lomba tulis agar wartawan di media menulis hal ‘yang baik-baik’ soal produk. Contohnya, beberapa waktu lalu, perusahaan jasa pengiriman JNE yang mengadakan lomba menulis dengan hadiah Rp 8 juta plus Samsung Galaxy SIII sebagai hadiah utama. Di media tempat saya bekerja, tulisan panjang hampir seperempat halaman tentang JNE dimuat tiga kali. Perusaahaan dapat apa? Nol. JNE dapat apa? Publikasi gratis jasa mereka tiga kali berturut-turut.

Kenapa hitung-hitungan perlu di sini, khususnya karena media kami adalah harian dan bukan koran atau tabloid yang khusus membahas bisnis. Kemudian, secara jurnalistik bagi saya tidak berimbang karena hanya menunjukkan kelebihan produk padahal di luar itu banyak keluhan yang datang dari konsumen, yang tidak bisa dimasukkan .

Praktek seperti ini sebenarnya pernah diceritakan oleh fotografer senior di tempat saya. Saat itu dia malas mengirim foto untuk lomba Bright PLN Batam. Alasannya, itu menjadi cara perusahaan mengumpulkan foto bagus secara gratis. Saya belum ngeh, sampai membaca keluhan yang diposting Totok.

Totok mengatakan, ini adalah pembajakan legal. Pasalnya, foto yang telah naik di media resmi merupakan hak media itu. Menggunakan foto untuk publikasi komersil jelas merampok milik media pemuat. Jelas, satu tindakan bloon bin bego oleh para petinggi perusahaan. Mereka mencuri dengan iming-iming hadiah besar, yang jika dibandingkan dengan keuntungan perusahaan (mungkin) hanya seuprit.

Itulah sebabnya, salah satu pekerja media yang memberikan komentar postingan Totok mengatakan, kalau panitianya memberikan syarat ngawur, mendoing kita bikin foto yang ngawur.

Sudah saatnya jurnalis (tulis dan foto) dan fotografer lepas menggugat praktek perusahaan seperti ini. Ini bukan saja persoalan etis. Ini seperti pembodohan dengan iming-iming hadiah, yang belum tentu didapat, tapi foto karya sudah terpampang dimana-mana…GRATIS!

Iklan