Dam Muka Kuning di Batam merupakan salah satu objek yang berada di dalam kawasan Hutan Taman Wisata Alam (TWA) Muka Kuning
Dam Muka Kuning di Batam merupakan salah satu objek yang berada di dalam kawasan Hutan Taman Wisata Alam (TWA) Muka Kuning (Foto: M Noor Kanwa)

Ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan tahun 427/Kpts-II/1992, Taman Wisata Alam (TWA) Mukakuning merupakan satu-satunya Taman Wisata Alam yang ada di bawah kontrol Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Riau. Kala diukur oleh Sub Balai Inventarisasi Dan Perpetaan Hutan Pekanbaru pada tahun 1986, luasnya mencapai 2.065,62 hektar.

Peta Tata Batas Kawasan Hutan Wisata Mukakuning menunjukkan wilayah hutan wisata itu membentang membentang dari jembatan waduk Seiladi ke belakang belakang perumahan Bukit Indah Sukajadi, belakang kawasan Panbil, waduk Mukakuning, simpang arah Jembatan Barelang, hingga simpang Basecamp.

Meski namanya hutan Taman Wisata Alam, tidak ada atraksi wisata di dalamnya. “Tidak seperti hutan wisata lain seperti hutan wisata Kaliurang yang ada atraksi wisatanya, di TWA Mukakuning tidak ada sama sekali,” kata Kepala Seksi Konservasi Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Riau, Nur Patria.

Lampiran Peratuan Menteri Kehutanan Nomor P49/Menhut-II/2011 tentang Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) menyebutkan, TWA yang masuk dalam kategori Hutan Konservasi dimanfaatkan untuk konservasi sumberdaya hutan. Dalam pengelolaannya hutan konservasi, tetap  harus mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial dan aspek pemanfaatan, perlindungan dan pengawetan. Patria menyingkat fungsi pemanfaatan itu dalam tiga hal : fungsi lindung, fungsi keanekaragaman hayati, dan fungsi pemanfaatan.

Sebagai hutan TWA, banyak keanekaragaman hayati yang bisa menjadi andalan TWA Mukakuning. Situs BBKSDA Riau menyebutkan sejumlah flora khas yang ada di kawasan itu adalah bintagur, tempoyam, nibung, kempsa, pasak bumi, balam, meranti, riang-riang, manggis-manggisan, dan pelawan. Sedangkan fauna yang berkeliaran di kawasan itu ada;ah kera ekor panjang, babi hutan, kancil, napu, kijang, lutung, beruk, bajing, biawak, tiung, gagak, tekukut, raja udan, dan elang laut. BBKSDA Riau pun masih melakukan inventarisasi keanekaragaman hayati di dalam TWA Mukakuning.

Sayang, maraknya pembangunan didalam TWA Mukakuning membuat luasannya makin sempit. Saat ini, tinggal 930 hektar yang tersisa. KOndisi ini yang mendorong Patria untuk memanfaatkan potensi wisata ini agar kondisi hutan tetap terjaga.

“Atraksi wisata, jika memberikan manfaat besar bagi masyarakat akan mendorong mereka untuk bertanggungjawab pada hutan,” kata Patria.

Dengan banyaknya potensi keanekaragaman hayati, wisata tracking salah satu rencana yang ada di benak Patria. Pengunjung bisa menikmati beberapa paket wisata mulai dari beberapa jam hingga harus menginap. Ia percaya, program seperti itu akan menarik wisatawan asing, khususnya dari Singapura.

“Wisata di dalam TWA ini bisa digunakan Batam untuk menggaet wisatawan asal Singapura. Mereka tidak punya hutan, dan untuk mencari wisata hutan mereka memilih ke Malaysia.” terang Patria.

Selain TWA Mukakuning, sebenarnya ada lagi hutan taman buru di Rempang. Sesuai namanya, taman ini dikhususkan untuk berburu. Awalnya, seluruh pulau rempang tertutup oleh hutan. Hasil analisa citra satelit yang dilakukan BBKSDA menyebutkan luas kawasan hutan di pulau mencapai 15.640 hektar terdiri dari belukar muda, belukar tua, dan lahan terbuka.

Kenyataan di lapangan memprihatinkan. Luas tutupan hutan yang tersisa tinggal sekitar 3900 hektar. Hutan telah berubah menjadi kebun sayur dan buah-buahan. Alih fungsi hutan menjadi lahan produksi itu semakin menjadi setelah jembatan-jembatan menghubungi pulau Batam, Rempang, dan Galang, dan diikuti jalan raya yang lebar lagi mulus membelah pulau Rempang. “Tak tahu bagaimana lahi kondisi hewan buruannya,” kata Patria.

Berbeda dengan TWA Mukakuning yang sudah ditetapkan pada tahun 1992, taman buru Rempang baru sampai pada tahap penunjukan. Padahal, penunjukan taman buru bersamaan dengan TWA Mukakuning pada 1986 lalu.

Iklan