Kembalinya Ricardo Kaka ke AC Milan  dengan status bebas transfer, setelah pernah menjadi salah satu pemain termahal dunia, diiringi keraguan. Baik dari dalam, maupun dari luar Milanisti. Melihat banyaknya pemain dan pelatih Milan yang kembali setelah bertualang ke klub lain, memperkuat keraguan itu. Ruud Gullit, Roberto Donadoni, Leonardo,  hingga Shevchenko gagal di kesempatan keduanya bersama Milan. Begitu pula dengan dua pelatih hebat, Arrigo Sacchi dan Fabio Capello.

Namun, Milan dan Kaka bak dua hati yang tak dapat terpisahkan. Kembalinya Kaka menumbuhkan nostalgia, harapan, dan 15 ribu penonton kembali ke San Siro. “Mereka anak yatim piatu Kaka (setelah pindah ke Madrid),” kata CEO Milan, Andriano Galliani.

Di laman forum Milanisti Kaskus, sebenarnya tidak banyak yang berharap Kaka kem,bali ke performa puncak di 2007 saat ‘seorang diri’ membawa Milan juara Liga Champions. Yang mereka harapkan, Kaka memberikan pengaruh dan semangat bagi Stephan El-Shaarawy dkk. Membagi pengalaman dan pelajaran bagaimana berkontribusi membawa tim menjadi juara. Sebuah tim butuh pemain juara (apalagi yang pernah menjadi pemain terbaik dunia). Inter 2010 punya Mourinho dan Eto’o, Juventus 2012 punya Buffon, Del Piero, dan Pirlo. Itu sebagian saja fungsi pemain bermental juara.

Waktu yang akan membuktikan mengembalikan Kaka ke Milan sebagai langkah yang hebat. Saat pertama kali di rekrut Milan dari Sao Paulo tahun 2003, beberapa tahun kemudian Presiden Milan, Silvio Berlusconi mengatakan Kaka sebagai: “Gajah dengan harga kacang goreng,” Saya pribadi, tak berharap banyak, paling tidak masih ada visi dan umpan membunuh yang masih ia lepaskan untuk Balotelli, Matri, Pazzini, atau El-Sha.

Di bawah ini resume konfrensi pers Kaka tadi sore. Sang pemain punya harapan besar di Milan seperti Milanisti sejagat. Entah bagaimana hasilnya, ya waktu yang akan menjawab. Sambil menunggu laga pertama Kaka, saya ucapkan #welcomebackKaka #bentornatoKaka

Iklan