Saya tidak bekerja untuk Haluan Kepri, salah satu surat kabar yang beredar di Batam dan Kepulauan Riau. Tapi terkadang saya mengagumi kerja-kerja mereka.

Jika dibilang, mereka termasuk militan. Banyak berita yang berani. Apa yang ragu-ragu di kupas media di Batam kadang dikuliti oleh Haluan. Walaupun sering tidak sampai ke jantung atau sumsum persoalan.

Minggu ini media ini kembali menyita perhatian. Bukan oleh dari masyarakat Batam, melainkan dari almamater Universitas Gadjah Mada. Apa pasal?

Akhir minggu lalu, situs Haluan Kepri memuat berita kecelakaan mahasiswa UGM yang sedang KKN di Natuna, Kepulauan RIau. Kecelakaan terjadi tersebut bukan saat melakukan kegiatan operasional, tapi saat berwisata di sela-sela kegiatan pengabdian masyarakat mereka. Lima belas orang yang menumpang sebuah mini bus terbalik di perjalanan dari Ranai menuju Teluk Buton, Bungutan Timur. Lima dari mereka luka berat. Musibah ini membuat kepulangan mereka diundur dari seharusnya Senin (2 September 2013) menjadi Kamis (5 September 2013). Bahkan, para korban harus pulang seminggu lebih lama.

Apa yang unggul dari Haluan Kepri?

Saya baru mengetahui dari salah satu dosen saya di Fakultas Geografi UGM. Dia mengatakan,”Kami baca tentang kecelakaan itu dari situs Haluan Kepri.”

Saya sendiri membenarkan hal itu. Saya mendapat info itu saat membaca salah satu postingan di wall facebook adik angkatan saya di kampus. Sumbernya dari Haluan Kepri. Dari situ saya mencari berita sejenis di laman Batam Pos dan Tribun Batam. Keduanya tidak memposting berita dari Natuna. Saya menemukan berita itu di koran Batam Pos.

Di Batam dan Kepri, ada tiga media arus utama. Batam Pos , tempat saya bekerja, dan Tribun Batam dikatakan oelaku media sebagai penguasa pasar. Tidak ada angka yang jelas tentang jumlah oplah kedua koran ini. Yang jelas, pihak satu pasti menganggap oplah mereka lebih gede dari yang lain, begitu pula sebaliknya. Haluan sendiri bukan pemegang pasar utama, khususnya di Batam. Namun, mereka punya pelanggan dan pembaca setia yang loyal dan fanatik.

Memang Haluan mungkin tak sefavorit dua koran lainnya. Namun, siapa peduli di luar Batam dan Kepri. Paling tidak, almamater UGM saat ini lebih sering memantau perkembangan kecelakaan itu. Sayangnya, setelah kecelakaan itu, tidak ada perkembangan berita. Padahal, tidak sedikit almamater UGM yang ingin mengetahui bagaimana kondisi korban, mengingat berdasarkan laporan wartawan, lima orang menderita patah anggota tubuh.

Meski satu hal yang kecil, saya melihat kadang hal-hal kecil seperti ini menghasilkan sesuatu yang tak terduga. Tidak ada indikator pengunjung laman berita kecelakaan itu. Tapi, paling tidak, sejumlah orang dari luar target pasar media-media Kepri melirik media satu ini. Mungkin tidak lama, tapi buat saya berhasil.

Iklan