Rumah-rumah liar yang berdiri di wilayah Batam Centre, Batam (Wijaya Satria / Batam Pos)
Rumah-rumah liar yang berdiri di wilayah Batam Centre, Batam (Wijaya Satria / Batam Pos)

Sampah berserakan di jalan masuk ke kawasan rumah liar (ruli) Muara Takus. Sumber sampah berasal dari tumpukan sampah di tempat pembuangan sementara yang luber ke jalan. Bau busuk menusuk hidung tak terelakkan.

Jalan menuju kawasan ruli itu becek. Selain ditutupi sampah, jalur sepanjang 50 meter itu digenangi air sisa hujan. Belasan ekor ayam mematuk-matuk, barangkali banyak makanan yang dapat ditemukan unggas-unggas itu dari sampah rumah tangga. Jalur itu sempit, hanya bisa dilewati oleh satu motor saja.

Lewat dari jalur itu, pengunjung akan disambut deretan rumah yang rapat. Kebanyakan dasarnya berdinding tembok batako. Yang sanggup membangun dua lantai, lantai kedua umumnya berdinding papan triplek.

Kebanyakan dinding bangunan tidak dicat. Kalaupun ada, cat hanya melapisi seadanya. Sementara mayoritas tembok batako tak dilapisi plaster. Dinding-dinding triplek lapuk dan terkelupas. Sementara dinding tembok buram dan berlumut.

Seperti jalur masuknya, gang-gang di kawasan ruli Muara Takus sempit, selebar satu sepeda motor. Anak-anak berlarian sepanjang gang. Sebagian kecil jalan gang dilapisi semen. Lebih banyak jalan yang tanahnya terbuka.

Di siang hari, sebagian pintu rumah tertutup. Menjelang sore, mulai banyak pintu terbuka. Para ibu duduk di depan rumah. Beberapa berkumpul di toko-toko klontong kecil yang banyak ditemui di kawasan itu.

Kesan kumuh tak bisa dihilangkan dari kawasan ruli. Selain rumah rapat yang tak beraturan, sampah dibiarkan di kanan kiri jalan. Aliran air tidak lancar karena drainase tidak merata sehingga air menggenang di banyak titik, terutama di dasar wilayah yang berbentuk lembah itu. Baju-baju dijemur tak beraturan di tiap rumah.

Tepat setahun yang lalu, sebagian kawasan ruli yang berada di Kelurahan Kampung Seraya, Batuampar, Batam ini ludes dilalap si jago merah. Sebanyak 44 rumah liar hangus terbakar. Akibatnya, 364 orang kehilangan tempat tinggal, dan seorang anak berusia sembilan tahun tewas terbakar.

Peristiwa tahun lalu menjadi yang kedua. Sebelumnya, pada Februari 2011, sebanyak 76 rumah terbakar. Peristiwa itu menyebabkan 85 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Dua kali mengalami kebakaran hebat menunjukkan kerentanan kawasan ini. Rumah-rumah yang di kawasan itu rentan kebakaran. Bahan bangunan yang mudah terbakar dan rapat memudahkan api menjilat satu demi satu rumah hingga menimbulkan bencana di kawasan itu.

Bukan hanya kebakaran. Kerentanan lain yang dihadapi adalah masalah kesehatan penduduk. Penyakit kulit, diare dan demam berdarah kerap mengintai warga Muara Takus.

Syarifah Syamsiah, warga Muara Takus mengungkapkan hujan deras yang terjadi dalam beberapa hari kerap menimbulkan masalah. “Usai hujan beberapa warga mengalami diare,” ujar Syarifah, Kamis minggu lalu.

Ia mengatakan, salah satu penyebab diare adalah kualitas air yang digunakan masyarakat. Pasalnya, saat hujan, air menggenangi wilayah lembah hingga setinggi lutut. Sering air masuk ke rumah warga dan masjid Al-Ikhlas yang di bangun di lembah kawasan ruli Muara Takus. Arus air membawa sampah yang dibuang sembarangan oleh warga.

“Warga diatas bukit yang tidak pernah mendapat banjir. Mereka membuang sampah ke bawah sehingga kami kena,” kata wanita yang tinggal di Muara Takus selama 22 tahun itu.

Kondisi lingkungan di kawasan ruli Kampung Aceh, Mukakuning, Batam. Cuaca yang tak mengenal musim di Batam membuat mereka waspada datangnya banjir tiap hujan deras melanda (Iman Wahyudi / Batam Pos)
Kondisi lingkungan di kawasan ruli Kampung Aceh, Mukakuning, Batam. Cuaca yang tak mengenal musim di Batam membuat mereka waspada datangnya banjir tiap hujan deras melanda (Iman Wahyudi / Batam Pos)

 

Sampah-sampah itu yang ia duga sebagai sarang nyamuk aides aegipty penyebab demam berdarah. Sampah banyak menyumbat saluran yang tidak dibuat dalam, juga menjadi tempat wadah air hujan menggenang. Menurut dia, setiap tahun ada kejadian demam berdarah.

Bidan Puskesmas Pembantu Kelurahan Seraya, Yurianti menyebutkan, kunjungan diare di kelurahan itu cukup banyak. “Rata-rata delapan kunjungan per bulan dan di bulan-bulan tertinggi mencapai 14 pasien,” kata dia. Ia mengatakan, mayoritas pasiennya adalah warga ruli. Selain Muara Takus, kawasan ruli lainnya adalah Bengkong Bengkel dan Tangki 1000.

Sama dengan Syarifah, Yurianti menyebutkan air, dan makanan, yang kotor menjadi faktor penyebab munculnya penyakit itu.

“Khususnya selama lebaran, warga makannya banyak dan tidak dikontrol. Diare juga sering muncul saat musim buah” terang dia.

Selain itu kudis dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit yang kerap dialami warga yang tinggal di ruli. ISPA, kata dia, dipengaruhi oleh perubahan cuaca dan musim. Di samping itu lokasi mereka berada di sekitar pabrik menjadi pemicu timbulnya penyakit itu.

“Warga di sini banyak terpapar polusi dari pabrik dan truk-truk besar yang lewat di jalan utama,” Yurianti menjelaskan.

 

Sebagian cerita pernah dimuat di Majalah Batam Pos edisi 31

Iklan