Kekah Natuna yang ditangkap oleh warga Pulau Bunguran (istimewa)

Populasi kekah tak sampai 10 ribu ekor. Mereka mejadi korban alih fungsi lahan demi pembangunan Natuna. Pelestarian oleh Pemerintah Daerah pun baru sebatas rencana, belum ada langkah konkrit saat ikon Natuna ini mulai resah menatap kepunahan.
_______
Seekor primata duduk di  sebilah papan di Restoran Basisir, Ranai.  Ketika berdiri, tinggi hewan itu sekitar 50 sentimeter. Tubuh langsingnya diselimuti bulu tebal berwarna hitam, kecuali di bagian depan dari pipi sampai paha yang bulunya perak. Ekornya  yang menjuntai tampak lebih panjang dari tinggi hewan tersebut. Matanya yang hitam sebesar kelereng melotot, menipiskan garus putih yang mengelilingi indra penglihatannya.

Kekah, begitu orang Ranai memanggil hewan itu. Jenis primata pemilik nama latin Presbytis natunae  itu merupakan hewan endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Bunguran, pulau utama di Kabupaten Natuna. Peneliti pada Pusat Studi Biodiversitas dan Konservasi Universitas Indonesia, Ferdi Rangkuti yang meneliti hewan ini pada 2002 dan 2003 lalu menyebutkan kekah merupakan salah satu hewan endemik di Natuna selain dua primata lainnya yakni kukang (Nycticebus coucang natunae), dan kera ekor-panjang (Macaca fascicularis pumila). “Namun diantara mereka kekah yang paling terancam keberadaannya,” tulis Ferdi dalam laporannya yang berjudul Kekah Natuna Terancam Punah.

Oleh International Union for Conservation of Nature, kekah digolongkan dalam kategori jenis hewan yang rentan akan kepunahan. Populasinya yang hanya ada di Pulau Bunguran dan jumlahnya yang makin menurun membuat kekah masuk dalam golongan itu. Ketika tiga peneliti Universitas Amsterdam Martjan Lammertink, Vintcent Nijman, dan Utami Seriorini menyusuri hutan Gunung Ranai pada 2001, mereka memperkirakan jumlah kekah saat itu dibawah 10 ribu ekor. “Jumlahnya terus menurun dari waktu ke waktu,” tulis ketiganya dalam makalah Population size, Red List status and conservation of the Natuna leaf monkey Presbytis natunae endemic to the island of Bunguran, Indonesia.

Kekah Natuna (istimewa)

Dalam tulisannya, ketiga peneliti itu juga memasukkan kekah sebagai 25 jenis primata yang hampir punah. Dan, dari 11 jenis lutung, kekah termasuk sedikit jenis yang merupakan endemik di pulau-pulau tunggal.

Menurunnya populasi kekah saat ini membuatnya sulit ditemukan di alam liar. Rahman, warga Ranai mengungkapkan, pada tahun 90-an, ia masih bisa melihat lutung natuna itu di lingkungan penduduk. “Banyak dari mereka yang berkeliaran di jalan,” kata Rahman, Jumat (23/11).
Pengalaman yang sama diceritakan Warga Kampung Penagih, M Satar. Pria yang datang ke Ranai pada 1985 untuk berdagang kain dari Pekanbaru mengaku masih melihat kekah bergelantungan di pohon-pohon bakau di sekitar Kampung Penagih. “Jumlah mereka banyak dan sering meramaikan hutan bakau dengan suaranya,” kenang Satar. Meski banyak, warga Penagih tak punya hasrat menangkap kekah-kekah itu. Pasalnya, hewan itu tidak pernah mengganggu mereka. “Kami biarkan mereka damai di hutan bakau itu,” tambah Satar.


Peta dan Citra Pulau Bunguran, Natuna, Kepulauan Riau

Kondisi itu berubah ketika Natuna ditetapkan menjadi kabupaten pada 1999. Geliat pembangungan di kabupaten baru mengusik kedamaian kekah di rumah mereka. Beberapa hutan bakau berubah menjadi dermaga atau penggunaan lainnya membuat kekah mencari tempat yang baru. “Sejak Natuna jadi kabupaten itulah makin lama kekah makin  jarang terlihat di hutan bakau,” tutur pria 57 tahun itu.

Selain alih fungsi lahan hutan menjadi lahan terbangun, pertanian, atau perkebunan, satu yang mengancam keberadaan kekah adalah perdagangan satwa. Kekah banyak ditangkap warga karena harganya yang tinggi. Menurut Ferdi Rangkuti, harga paling murah seekor kekah adalah Rp 300 ribu. Makin muda kekah, makin tinggi harga jualnya. Harga tinggi juga berlaku buat kekah dewasa yang terlatih dan jinak.  “Mereka lucu dan mudah dijinakkan, itu yang membuat banyak orang yang senang menjadikannya hewan peliharaan,” tutur Ferdi. “Selain itu, kekah juga mau makan apa saja yang sama dengan manusia,” terang dia. Dalam perjumpaan Batam Pos dengan kekah di Restoran Basisir, kekah yang dibelit rantai itu hanya mendapat panganan kacang hijau mentah dari sang pemilik.

Kekah Natuna yang ada di tangan warga. Tekanan popukasi di Pulau Bunguran menjadikan populasi kekah terancam. (istimewa)

Dalam catatan Ferdi, kekah dibawa keluar pulau Bunguran sebagai barang dagangan maupun sebagai oleh-oleh. Kekah dikirim keluar melalui pelabuhan-pelabuhan yang ada di Pulau Bunguran. Hampir 10 tahun setelah penelitian Ferdi, praktik itu masih berlangsung, seperti yang diungkapkan Rahman. “Kekah banyak diselundupkan melalui pelabuhan karena pemeriksaan disana tidak ketat dan barang bawaan dengan mudah masuk ke kapal,” ujar Rahman.

Kini, sulit sekali menemukan kekah di hutan-hutan, apalagi di lingkungan penduduk. Sama halnya dengan hewan, cukup sulit bertemu dengan warga Ranai yang masih memelihara satwa langka itu. Di restoran Basisir, tidak ada pegawai yang mengerti soal lutung natuna itu. “Kera itu punya pemilik restoran,”. Pemilik restoran sendiri tidak ada saat Batam Pos datang.

Sama halnya dengan orang-orang yang selama ini dikenal memelihara kekah, turut bungkam. Kepala Dinas Pertanian Natuna, Darmansyah, misalnya mengaku tak bisa lagi memberikan cerita soal keka. “Punya (kekah) saya sudah mati,” ujarnya.

Selama penelitiannya, Ferdi Rangkuti mendapati sejumlah kekah yang dipelihara tidak berumur panjang. Ia curiga, pakan yang diberikan sang pemilik tak sesuai dengan apa yang dimakan kekah selama di alam liar. “Kemungkinan lain, kekah merupakan binatang yang gampang stress,” ungkapnya.

***

Posisi Pulau Bunguran yang berada di tengah-tengah jalur pelayararan Laut Cina Selatan menjadikan pulau itu sebagai tempat persinggahan kapal pada masa lampau. Arkeolog Universitas Gadjah Mada, Diah Ayu Nugrahaeny mengungkapkan, kapal-kapal dari daratan China sering singah mengisi perbekalan sebelum berangkat menuju Selat Malaka, begitu pula sebaliknya. “Mereka memilih Pulau Bunguran karena air minum dari mata air Gunung Ranai melimpah,” ujar Diah.

Persinggahan itu yang menurut pemilik Museum Sri Serindit, Zaharuddin, memunculkan komunitas-komunitas Tionghoa di pesisir Bunguran. Peninggalan sejarah keramik asal China di museum Sri Serindit yang berasal dari tahun 600-an masehi adalah saksi bisu sejarah.

Meski belasan abad berdiam di Pulau Bunguran, belum ada catatan sejarah dari pendatang Tionghoa soal kera berekor yang ada di Pulau Bunguran. Catatan pertama tentang kekah berasal dari pengamatan dua ahli ilmu hewan Ernst Hartert dan Thomas yang datang menjelajah hutan Bunguran tahun 1884. Saat itu, mereka menggolongkan kekah sebagai spesies Semnopithecus natunae. Satu yang kurang dari observasi keduanya adalah mereka tak melihat hewan itu dari dekat.

Adalah Alfred Hart Everett, pegawai negeri sipil Kerajaan Inggris yang bertugas di wilayah Kalimantan yang pertama kali menangkap contoh kekah pada Oktober 1896. Sejak itu sampai akhir abad 20 golongan kekah terus bergnti. Mulai dari bagian spesies lutung Semenanjung Malaysia, lalu lutung Sumatera Barat, dan lutung Johor. Namun, pada tahun 2001, lewat bukunya Primate Taxonomy, Colin Groves menetapkan kekah sebagai spesies tersendiri dari keluarga lutung, bukan turunan dari tiga spesies lutung, seperti yang disangkakan sebelumnya.

Peta sebaran spesies Presbytis berdasarkan taksonomi Grooves pada 2001 (Primate Report, 2004)
Peta sebaran spesies Presbytis berdasarkan taksonomi Grooves pada 2001 (Primate Report, 2004)

Bagaimana kekah ini sampai ke Bunguran? Ilmuwan Konservasi asal Belanda, Erik Majaard (2004) memperkirakan, nenek moyang lutung berasal dari daratan Asia. Mereka bergerak ke wilayah yang saat ini menjadi Semenanjung Malaysia lima sampai tujuh juta tahun yang lalu. Ketika itu, Semenanjung Malaysia masih bersatu dengan Pulau Sumatera bagian utara dan Kalimantan. Sementara Laut China Selatan pada masa itu sudah merupakan lautan.

Pergerakan itu tak berhenti di Semenanjung Malaysia. Leluhur lutung kemudian berpindah ke Kalimantan dan Sumatera bagian utara yang pada masa itu terpisah dari bagian selatan saat ini.

Perkembangan paling pesat berlangsung pada 2,5 juta hingga 1,8 juta tahun yang lalu yang merupakan masa awal jaman es. Kondisi ini terjadi karena terbentuknya jalur yang menghubungkan Semenanjung Malaysia kala itu dengan wilayah yang saat ini menjadi Kepulauan Lingga, Bangka, dan Belitung serta Kalimantan menjadi satu daratan. Sebagian leluhur lutung yang berasal dari Semenanjung Malaysia perlahan bergerak ke wilayah yang saat ini menjadi Pulau Bunguran.

Ketika bumi memasuki puncak zaman es antara 26 ribu sampai 20 ribu tahun yang lalu, sejumah leluhut kekah sudah mendiami hutan wilayah yang saat ini menjadi pulau Bungutan. Es saat itu kembali menyatukan Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa yang sempat terpisah. Dan, ketika pemanasan global terjadi dan es mencair, ketiga pulau itu terpisah seperti kondisi yang ada saat ini. Akibat mencairna es dan niknya permukaan air laut itu, menyebabkan Pulau Bunguran dan mengisolasi makhluk hidup di dalamnya. Masa isolasi selama belasan ribu tahun akhirnya membentuk karakter unik setiap spesies di Pulau Bunguran berbeda dengan pulau-pulau lainnya, termasuk kekah.

Habitat kekah, menurut Lammertink, berada di wilayah rendah pulau Bunguran. “Mereka banyak ditemukan dibawah ketinggian 260 meter di atas permukaan laun,” ujar dia. Namun, Lammertink tak bisa menyagkal laporan-laporan yang mengamati kekah hingga ketinggian 650 meter seperti yang dilakukan Ferdi Rangkutti dan Indrawan. Karena banyak ditemukan di wilayah yang rendah, kekah sering berkonflik dengan manusia. Kekah terusir ketika habitat mereka harus diubah menjadi kebun karet. Tak sampai di situ, mereka harus menyingkir jika habitat mereka kembali diusik karena alasan pembangunan. “Bahkan, saat mereka harus tinggal di kebun karet tua, tak ada kekah akan lama di situ, kerena satu saat kebun itu akan diremajakan,” tutur Ferdi.

Penurunan jumlah populasi kekah belakangan ini memprihatinkan. “Lebih dari 50 persen populasi kekah menurun dalam 25 tahun terakhir,” tulis Lammertink dalam laporannya 10 tahun lalu. Saat itu, perkiraan populasinya kurang 8 ribu kekah dewasa. Mereka hidup berkelompok dengan tiga hingga enam ekor satu kelompok dengan tiga kelompok kekah dalam satu kilometer persegi.

Saat ini, berapa jumlah populasi kekah? Kepala Dinas Pariwisata Lingga Syamsul Hilal mengaku tak punya data. “Tidak tahu, belum ada yang melakukan penelitian tentang itu,” kata Syamsul. Setali tiga uang, Pemkab Natuna ternyata belum menjalankan perlindungan pada hewan langka ini meski sadar satu decade ini kekah menjadi barang dagangan dan kerap berkonflik dengan manusia terkait pembukan hutan.

Pemkab Natuna baru memiliki rencana pelestarian kekah di pulau Senua. Rencananya mereka akan membawa beberapa kekah untuk dilepas di hutan Senua sekalian dijadikan atraksi wisata. Kapan akan terlaksana? “Kami belum tahu, kalau memungkinkan kita tangkarkan di sana,” tutur Syamsul. ***

Tulisan ini ditulis oleh Yermia Riezky bersama Muhammad Iqbal. Dimuat dalam Batam Pos, November 2012

Iklan