Haji Agus Salim dan kartu remi (istimewa)

Kalau ada tokoh Muslim nasional  yang paling membuat saya salah kaprah, dia adalah Haji Agus Salim. Saya selalu mengira Salim sebagai seorang penganut Islam fanatik. Pikiran itu meleset jauh saat saya membaca Majalah Tempo edisi Hari Kemerdekaan, Agustus 2013. Kesan melenceng juga ditambah dengan cerita-cerita dari senior-senior saya yang mengikuti perjalanan Salim.

Saya menghakimi Salim dari kulitnya. Panggilan Haji dengan janggut panjang, plus latar belakang Sumatera Barat yang pernah bekerja lama di Arab Saudi. Kloplah saya mengira dia seorang Islam fanatik. Meski demikian, saya tidak pernah kehilangan kekaguman pada beliau karena julukannya, The Grand Old Man (Orang Tua Agung) dan terlebih kemampuannya menguasai sembilan bahasa, termasuk menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa sehari-hari dengan anak-anaknya.

Agus Salim ternyata tak seperti yang saya duga. Ia adalah orang yang menolak memasukkan unsur “mengamalkan Syariat Islam” pada rancangan awal konstitusi Republik Indonesia. Ia memilih menghargai keberagaman sebagai modal bangsa. Dalam berbagai perundingan, ia bahu membahu dengan berbagai tokoh-tokoh Kristiani seperti Amir Sjarifudin (sebelum terlibat dalam PKI), Johannes Leimena, dan IJ Kasimo.

Si Tua Agung sebenarnya hampir saja meninggalkan imannya ketika sekolah di Belanda. Berbagai pengaruh lingkungan dan akademik membuatnya tertarik dengan paham agnostik. Hanya ia tak sampai kebablasan. Tawaran pekerjaan pemerintah Belanda di Arab Saudi membuatnya kembali teguh pada Islam.

Meski demikian, Salim memilih mengamalkan ajaran Islam secara konstektual, sesuai dengan kondisi masa ia hidup. Ia tak canggung dengan kartu remi, seperti yang tampak dalam sebuah foto di Majalah Tempo. Saat mengajar di Amerika, ia tidak menolak mengenggak alkohol. Alasannya, dalam suasana musim dingin, minuman itu menghangatkan. Hanya, ia menjaga dirinya tak kebablasan. Sebelumnya, karena tidak mengenal Salim, dosen-dosen sempat kalang kabut menyimpan minuman beralkohol agar tak ketahuan Agus Salim. Mereka takut disemprot Salim yang seorang muslim.

Lain lagi saat puasa di musim panas. Magrib di Amerika Serika pada musim panas bisa datang lewat pukul 21.00. Pada saat itu, Salim memilih buka puasa pada pukul 18.00 atau 19.00. Alasannya praktis, “Bayangkan kalau kita puasa di kutub, bisa-bisa tidak buka puasa.”

Dalam sebuah pembicaraan saya dengan salah satu senior di kantor, ada satu hal yang menarik tentang pandangan Agus Salim (sebagai orang yang lahir dan besar di Padang, banyak cerita Agus Salim yang ia dengar). Ia mengatakan salah satu saudara Salim (saya lupa kakak atau adiknya) beragama Kristen. Ceritanya, saudara Salim itu juga belajar di Belanda. Beda dengan Salim, ia kebablasan tertarik pada ajaran agnostik. Ia pun melepas ke-Islam-annya.

Seiring waktu berjalan, saudara Salim pun kembali tertarik pada agama. Namun bukan Islam yang dipilihnya, namun Kristen. Sudah tentu, ini jadi pembicaraan di keluarga dan lingkungan Salim. Hanya saat hal iu ditanya pada Salim, ia menjawab santai, tanpa ada kesan penyesalan. Seperti biasa, ia menjawab dengan praktis,”Biarkan saja dia, daripada dulu dia tidak beragama. Sekarang lebih baik.”

Iklan