Hai..hai

Saya memasukkan cucian saya kemarin. Isinya termasuk tujuh baju seken alias awul-awul yang saya beli dengan harga 50 ribu. (hehehe). Laundri langganan saya, Super Wash, cukup ramai saat itu. Lemari tempat meletakkan pakaian yang selesai, penuh. Kantong-kantong berisi pakaian yang selesai dicuci dan diseterika diletakkan di lantai yang cukup banyak memenuhi ruangan.

Saya lalu iseng menanyai pemiliknya. Seorang pelaut yang mengurusi laundry tiap kali ia sedang tidak bertugas.

“Penuh ya mas?” tanya saya.

“Iya nih, penuh. Mungkin tidak bisa selesai besok,” kata dia menjelaskan.

“Berapa banyak yang masuk?”

“Weekend dua hari ini saja sampai 200 kilo.”

Pikiran saya kemudian menghitung, dengan harga laundry per kilogram sebesar Rp 8 ribu, dalam sekali weekend saja omzetnya sekitar Rp 1,6 juta. Dikali empat weekend, dapat 5,6 minggu. Hari lain bagaimana?

Okelah, saya ambil kasarannya. Lima hari lainnya, katakanlah dia hanya mendapat 300 kilogram dikali empat menjadi 1.200 kilogram (bilang kilogram aja, kalau 1,2 ton kesannya wah). Artinya dalam sebulan, hitungan omzet hari kerja mencapai Rp 9,6 juta. Total sebulan omzetnya mencapai Rp 15,2 juta.

Saya tidak sempa menanyakan berapa persen keuntungan bersih dari usaha laundry sistem waralaba itu. Dia pernah bilang hasilnya sedikit. Tapi, kalau bisa sewa ruko (atau nyicil) untuk menjalankan usaha, paling tidak usaha itu bonafit lah. Saya berandai-andai pendapatan bersih usaha itu mencapai 50 persen. Hmm, artinya Rp 8 juta sebulan. Ya, itu jauh lebih tinggi dari gaji saya.

Seketika pikiran saya mengingat sebuah tulisan salah satu wartawan favorit saya, Andina Dwifatma. Ia menanggapi seorang penyair. Andina menulis: “Kalau mau kaya, jangan jadi penyair, buka laundry aja.”

Akhirnya, saya pun menyimpulkan : “Ya kalau mau kaya emang harus buka laundry, jangan jadi wartawan media lokal”. Persoalannya, saya sekarang belum berjalan ke arah pengen kaya itu.

 

Salam.

 

Iklan