Ayam Pop (hak gambar bukan milik saya)

Minggu lalu teman saya sejak remaja, Icup, yang saat ini kerja di Singapura mengabari kalau pacarnya, Windi, akan menyeberang ke Batam. Windi akan datang bersama dua orang temannya, warga Indonesia yang juga bekerja di Singapura. Icup sendiri tak bisa menyeberang karena sedang mengurusi rencana pindah ke kantor barunya.

Windi kemudian mengundangku dalam pertemanan BBM. Setelah berganti beberapa pesan, saya bilang kalau saya kebingungan apa yang harus saya tunjukkan ke mereka di Batam? Bagi saya, Singapura hampir menyediakan semuanya. Bahkan hutan yang tertata seperti Kebun Raya Singapura ada di negara pulau penuh bangunan itu.

Ternyata, reaksi yang saya terima tak disangka.

“Salah!” tulis Windi, saya bayangkan dia sedikit kesal. “Di sini ga ada ayam popp ky, itu penting banget.”

Ayam pop, itu alasan utama Windi datang ke Batam. Saya suka masakan padang, tapi bukan penggemar. Pengetahuan saya akan nasi padang cuma seputar Uda Uni, rendang, cincang, tongkol balado, sama tambo ciek lai. Ayam pop, saya baru dengar dari Windi, saat kami bertemu di Singapura berbulan-bulan yang lalu.

Alhasil, dia pun heran mengapa saya tak tahu ayam pop. Saya ingin membalas, saya lebih ngerti babi panggang karo, tapi saya urungkan. Saya pun hanya bilang, memang gak tahu ayam pop macam apa. “Taunya hanya ayam goreng mentega, dan itu enak,” jawab saya seadanya.

Nah ternyata bukan ayam pop saja yang ada di Batam dan tidak ada di Singapura, Sabtu minggu lalu. Paling tidak dari cerita selama beberapa jam menemani rombongan the girls itu, ada beberapa kelebihan Batam dari tetangganya, sebuah negara maju yang ingin disaingi Batam.

1. Tarif taksi yang gak jelas. Dibanding tarif taksi yang berargo dan pelayanannya ramah di Singapura, cewek-cewek itu harus menerima kenyataan tarif taksi di Harbour Bay tak jelas. Ya, para sopir memang bilang rute ke Nagoya ongkosnya 45 ribu. Cewek-cewek itu gak terima, malah nantang itu tarif siapa yang bikin.

Gak kalah ngotot, tukang taksi pelabuhan bilang dari Dinas Pehubungan. Eh, rombongan malah balik nanya buktinya apa. Sopir-sopir gak bisa membuktikan. NAh rombongan kawan saya tiba-tiba melihat taksi blue bird berargo, segera mereka nai. Sontak, sopir-sopir taksi pelabuhan meneriaki mereka. Akhirnya, demi mendapat tarif yang jelas, gadis-gadis itu berjalan kaki 600 meter keluar kompleks Harbour Bay untuk mendapat taksi berargo.

Saya yakin jarak itu cetek dibandingkan Orchard Road.

2.Ketan hitam. Salah satu teman Windi ternyata ngidam bubur ketan hitam. Entah mengapa ketan hitam gak ada di Singapura, apa karena lengket macam permen karet? Sayangnya, malam-malam di Nagoya Hill, satu-satunya warung yang menjual ketan hitam tutup, tepat saat kami akan masuk ke warung itu. Keesokan harinya, impian makan ketan hitam pun terwujud di warung yang sama.

3. Kasir yang aneh. Salah satu dari kawan Windi mengeluh saat makan di warung Ayam Goreng Fatmawati Nagoya Hill. Bermula saat ia memesan sop buntut. Namun setelah tahu harga sop buntut mahal, 50 ribu, dia pun membatalkan niatnya. Eh bukannya dibatalkan, kasir warung itu bilang, yang sudah tercatat dan masuk sistem  tidak bisa dikembalikan. Akhirnya, dia terpaksa membayar sop buntut dan makanan lainnya yang dipesannya, setengah dongkol, paling tidak.

Saya sendiri tidak mengerti, di saat angka laporan keuangan bisa dihapus dengan memencet tombol delete atau backspace, mengapa sistem di Ayam Goreng Fatmawati masih begitu katrok? Apakah kasir atau mesinnya yang ketinggalan jaman? Entah lah, tanya saja ke Fatmawati.

4. Bunga Citra Lestari. Ya, setelah kami makan, rombongan memutuskan untuk berkaraoke. Satu yang dicari, Bunga Citra Lestari. Katanya, tidak ada BCL di karaoke singapura. Tapi, kalau Syahrini, mungkin ada.

5. Siapa saja bisa diajak ngobrol. Windi bercerita, begitu senangnya mereka saat bisa ngobrol ngalor ngidul dengan pengunjung lain di salon Rudi (bukan wakil walikota batam). Di Singapura, mengajak ngobrol oran lain yang tak dikenal sama aja ngajak ribut. Ya, saat mereka di MRT kelihatan, dunianya begitu kecil, hanya diri mereka dan gadget. Kalau ada yang ribut di dalam kereta itu, kalau bukan orang India, ya orang Indonesia.

Pengalaman singkat itu sebenarnya menampar saya. Banyak yang tidak saya tahu di tempat saya sendiri. Atau, mungkin saya yang kurang info, apa yang tidak ada di Singapura, tapi banjir di Batam. Setahu saya, selama ini pelancong Singapura yang datang ke Batam karena bebas merokok dan pijatnya (ditambah yang plus plus) terhitung murah meriah (sakit).

Selalu ada yang unik di setiap tempat. Saya ingat senior saya di Gegama, Marjianto Bege bercerita, orang bule yang dipandunya di Jogja lebih senang makan sayur godong telo dengan lauk ndeso ketimbang tawaran McD dari kenalan Indonesia lainnya. Kata bule itu, McD banyak, sayur daun ketela hanya ada di desa tempat dia makan bareng Bege.

Salam

Iklan