Warga Tionghoa sudah menetap di Batam sejak pertengahan abad ke-18. Duriangkang adalah persinggahan pertama mereka. Menanam gambir dan menyebar pengaruh hingga ke bidang kuliner dan busana.

Tujuh orang keturunan Tionghoa duduk melingkari sebuah meja bundar. Usia mereka di atas 50-an. Dua di antaranya bahkan telah sepuh, berjalan membungkuk dan dibantu tongkat. Seorang dari kelompok itu sepanjang pembicaraan terus menggunakan bahasa Indonesia saat lainnya menyerocos dalam lafal Mandarin. Namun pembicaraan di kedai kopi Tien-Tien, Seipancur, Tanjungpiayu, Batam, itu tetap berlangsung gayeng.

Beberapa kali mereka menyebut kata Imlek. Meluncur pula nama Wakil Gubernur Kepulauan Riau Soerya Respationo. Pembicaraan diselingi tawa dan kopi hitam panas atau kopi-o.

Hampir satu jam mereka berbincang siang itu. Setelahnya, mereka kemudian meninggalkan kedai sama seperti saat datang, sendiri-sendiri. Satu yang tetap tinggal adalah pemilik kedai, Sahdan. Selesai pertemuan, pria yang juga bernama Lie Sin Siang itu membersihkan meja. Seorang pelanggan datang memesan nasi goreng yang dengan terampil Sahdan menyiapkannya. Sesekali ia melihat salah seorang pekerja membersihkan dinding dan langit-langit lantai satu ruko tempat kedai kopi miliknya.

“Ini untuk mempersiapkan Imlek, karena itu kami bersih-bersih,” kata Sahdan. Di usianya yang mendekati 60, kondisinya masih segar. Badannya sedang, tak gemuk dan tak juga kurus dengan tinggi sekitar 165 centimeter. Rambutnya cepak.

Pembicaraan bersama enam rekan yang berlangsung sebelumnya adalah persiapan perayaan Imlek yang akan jatuh pada 31 Januari 2014. Sementara nama Soerya mereka sebut sebagai salah satu tokoh yang akan diundang. Beberapa waktu lalu, Soerya sempat menghadiri acara ulang tahun Klenteng Catur Dharma Tanjungpiayu yang ke-19.

“Klenteng itu pindahan dari Duriangkang tahun 1995,” kata Sahdan sambil memperlihatkan foto-foto kehadiran Wakil Gubernur dalam acara lalu.

Sahdan mengatakan, ada dua klenteng yang dipindahkan dari Duriangkang sebelum kawasan itu ditenggelamkan menjadi waduk pada 1996. Satu lagi adalah Klenteng Cetya Santi-Sakti yang dipindahkan tahun 1994. Saat ini klenteng Santi-Sakti diurus oleh keluarga Sahdan.

Sahdan dan rekan-rekan semejanya merupakan keturunan, paling tidak, generasi ketiga dari orang Tionghoa yang datang dan menetap di Duriangkang. “Kecuali yang tadi berbahasa Indonesia, dia dari Kalimantan Barat,” Sahdan menjelaskan.

Kakek Sahdan, Li Yong Hok berlayar meninggalkan kampungnya di Hailam, China ke arah Selatan. Ia singgah di Singapura sebelum lanjut ke Batam. Tahun 1929, Yong Hok sampai di Duriangkang bersama kakaknya Li Yong Hiang, bergabung dengan komunitas Tionghoa asal Hailam yang telah lama menetap di Duriangkang.

Dalam buku Tionghoa Batam: Dulu dan Kini, Edi Sutrisno dan kawan-kawan menulis orang-orang Tionghoa sudah menetap di Pulau Batam sejak pertengahan abad ke-18 tepatnya di sekitar Duriangkang. Mereka berlayar langsung dari daratan China menggunakan perahu layar kayu berisi tujuh sampai sepuluh orang.

Mereka memasuki Batam dari Seibuluh. Setelah menyusuri sungai ke dalam pulau, mereka kemudian menetap di satu wilayah yang memiliki banyak pohon durian. Untuk memudahkan ingatan, mereka menamakan daerah itu duriangkang. ‘Durian’ yang berarti pohon durian. sementara ‘kang’ dalam bahasa Tionghoa berarti sungai. Duriangkang berarti Sungai Durian.

Di sana, masyarakat Tionghoa kemudian membuka lahan dan menanam gambir. Saat itu gambir menjadi komoditas yang dicari dunia. Di Singapura harganya terbilang tinggi.

Sejarawan Kepulauan Riau Aswandi Syahri mengatakan penanaman gambir di Batam sangat marak pada pertengahan hingga menjelang akhir abad ke 19. Sebelumnya, pusat tanaman gambir berada di Pulau Bintan.

“Perpindahan itu karena bahan bakar untuk memasak gambir telah habis di Bintan,” kata Aswandi.

Tingginya harga gambir di pasar dunia tak hanya mengundang pedagang besar seperti dua firma Lau Yu Ha dan Sin Yun Hi ke Duriangkang. Para gangster pun ikut merecoki perdagangan hasil bumi yang berfungsi dalam industri kulit itu. Aswandi mengungkapkan, persaingan muncul di antara kelompok asal Riau yang disebut ‘Muka Hitam’ dan kelompok ‘Muka Merah’ asal Singapura.

Namun, kejayaan gambir tak berlangsung lama. Sekitar 1930-an, harganya anjlok di pasar Singapura. Belanda yang saat itu berkuasa di Nusantara kemudian mengubah tanaman gambir menjadi karet. Tanaman penghasil getah itu kemudian terus ditanam pada masa pendudukan Jepang, pasca kemerdekaan, hingga sebelum kawasan Duriangkang tenggelam oleh proyek waduk garapan Otorita Batam pada 1996. Tanaman ini juga masih terekam dalam memori Sahdan dan warga Seipancur pindahan dari Duriangkang.

Di masa lampau, perantau asal Tionghoa tak hanya menetap di Duriangkang. Mereka juga menempati daerah Teluk Tering, Mukakuning, Batuaji, Sambau dan Seipanas. Seipanas punya catatan khusus dalam sejarah masyarakat Tionghoa Batam. Daerah itu menjadi semacam pelabuhan dimana banyak kapal-kapal pukat besar yang masuk melalui sungai. Barang dagangan seperti gambir dan karet banyak diangkut melalui lokasi itu.

Meski tersebar di banyak titik di Pulau Batam, Duriangkang tetap dianggap sebagai pusat. Pasalnya kegiatan pertanian dan perkebunan banyak dilakukan di daerah itu. Makin lama, makin banyak orang yang datang ke Duriangkang, termasuk warga pribumi dari Flores, Padang, dan Sumatera Utara. Kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh di perkebunan karet. Lainnya berdagang.

Selain perkebunan, warga Tionghoa menyumbangkan banyak hal bagi Batam dan Kepulauan Riau. Industri batu bata milik Raja Ali Kelana di Batuaji tak dapat berjalan sukses tanpa bantuan pengusaha China. Pedagang Tionghoa-lah yang menyadarkan tingginya nilai ekonomi gambir yang dibawa oleh orang-orang Bugis ke Kepulauan Riau.

Selain kepada Belanda, Kerajaan Riau-Lingga ketika itu banyak memberikan hak guna lahan kepada pengusaha Tionghoa karena kemampuan mereka mengelola sumber daya alam yang berguna bagi pemasukan kerajaan. Selain berkebun, pengusaha itu juga memiliki tambang batu, usaha perikanan, hingga rumput laut yang diolah menjadi agar-agar.

Pengaruh budaya Tionghoa juga masuk ke dapur melalui makanan dan kebiasaan minum kopi. Mereka membuka kedai kopi yang menjadi ajang kumpul warga baik Tionghoa maupun pribumi. Kata tiam dalam ‘kopi tiam’ berasal dari dialek Tio Ciu yang berarti kedai. Kedai kopi Sahdan atau Tiang-Tiang merupakan yang tertua di Pulau Batam. Ia merupakan pengelola kelima dari kedai yang aslinya bernama Kwa Hwa itu.

Tak hanya itu, pengaruh Tionghoa juga merasuk ke dunia mode. Potongan teluk belanga yang menjadi salah satu gaya busana Melayu merupakan pengaruh dari busana China.

Dalam catatan sejarah, pedagang dan pengusaha Tionghoa juga punya pengaruh buruk di Batam. Mereka adalah pembeli setia candu dari pedagang-pedagang candu asal Eropa. Candu itu kemudian diperdagangkan di dalam kawasan perkebunan untuk kemudian dibeli para buruh.

“Mengedarkan candu kepada para buruh jadi siasat pengusaha Tionghoa agar uang mereka tidak beredar di luar,” Aswandi menerangkan. “Di situlah pintarnya mereka.”

Seperti masyarakat Tionghoa lain di Indonesia, masa Orde Baru merupakan masa sulit bagi mereka. Ekspresi kebudayaan asal China dilarang oleh rezim pemerintahan Presiden Suharto.

Pengamat Budaya Tionghoa di Batam, Budi Tamtomo, mengatakan pemerintah saat itu begitu alergi dengan aksara Tionghoa, meski mereka bergandeng erat dengan banyak pengusaha keturunan Tionghoa.

“Orang-orang yang masuk ke Indonesia harus mengisi formulir tidak membawa narkoba dan bacaan beraksara China. Sebegitu antinya sampai aksara Tionghoa disamakan dengan narkoba,” terang Budi.

Sahdan mengingat, pada masa itu mereka kerap kesulitan mengekspresikan jati diri mereka. Untuk berdoa saja mereka sulit. Klenteng-klenteng yang ada di Duriangkang diubah menjadi vihara, karena pemerintah mengakui agama Budha namun tidak untuk Kong Hu Cu. Namun secara sembunyi-sembunyi mereka masih bisa menikmati perayaan Imlek.

“Saat Imlek, kami makan bersama sekeluarga dan mengunjungi kerabat. Kami juga memberikan bingkisan bagi pekerja pada hari itu,” ujar Sahdan.

Pascareformasi dan keputusan Presiden Abdurrahman Wahid menghapus larangan bagi ekspresi kebudayaan Tionghoa, perasaan lega dinikmati keturunan Tionghoa di Indonesia, termasuk Batam.  Aksara China bertebaran di setiap sudut kota. Klenteng kembali muncul dan warga Tionghoa penganut Kong Hu Cu ramai-ramai menyerbu untuk berdoa. Kursus bahasa Mandarin pun menjamur. Nama-nama bernuansa Tionghoa pun sudah jamak di telinga masyarakat.

Di Batam, peran warga keturunan Tionghoa tak mungkin bisa dihilangkan. Sejak kedatangan mereka di pulau ini, mereka begitu fasih menjalankan roda ekonomi dari skala mikro hingga kelas yang hanya bisa dijalankan para taipan. Kondisi geografis Batam yang berhadapan dengan Singapura dan bertetangga dengan Malaysia makin memperkuat pengaruh mereka, karena didukung kesamaan bahasa. Seiring berjalannya waktu dan munculnya generasi baru dengan samangat yang terus terpompa, menjamin pengaruh mereka akan terus mencengkeram bak cakar naga dengan jaringan yang terus menggurita.

 

Terbit di Majalah Batam Pos Edisi 45

http://majalah.batampos.co.id/portfolio/jejak-tionghoa-di-batam/

Iklan