budi tamtomo3(1)Budi Tamtomo, Pemerhati Budaya Tionghoa

Keberadaan masyarakat Tionghoa di Batam telah berlangsung selama berabad-abad. Sejak mereka datang dari daratan China menggunakan perahu, sampai masuknya para keturunan Tionghoa dari daerah sekitar ketika Batam mulai dibangun pemerintah 40 tahun lalu. Keuletan, jaringan, dan kedekatan geografis dengan Singapura membuat warga keturunan Tionghoa sangat dominan dalam perekonomian di Batam. Keberhasilan ini sedikit banyak memengaruhi hubungan antara masyarakat keturunan Tionghoa dengan pribumi di Batam.

Dinamika hubungan itu diamati oleh pemerhati budaya Tionghoa, Budi Tamtomo. Sejak datang ke Batam tahun 2000, Budi aktif dalam membina kerukunan masyarakat keturunan Tionghoa dengan warga pribumi. Pria kelahiran Pontianak 70 tahun lalu ini pernah ikut dalam Forum Kerukunan Umat Beragama Kepulauan Riau. Ia juga membidani kelahiran Majelis Agama Kong Hu Cu. Batam Pos menemui Budi di kediamannya di Kompleks Permata Baloi.

Di rumahnya yang juga difungsikan sebagai tempat kursus bahasa Mandarin itu, ia menjelaskan upaya pembauran masyarakat keturunan Tionghoa Batam masa kini.

 Dari mana asal masyarakat keturunan Tionghoa di Batam?

Dari pulau-pulau di sekitarnya. Ada yang dari Moro, Tanjungbatu, Tanjungpinang, dan Kalimantan Barat. Karena itulah di sini ada Persaudaraan Warga Kalimantan Barat. Ini membuktikan Batam multietnis dan datang dari berbagai daerah. Saat Batam mulai dibangun oleh Pak Habibie (BJ Habibie, Menristek saat itu), mulailah banyak kesempatan untuk berusaha. Yang saat itu aktif sekarang sudah kaya.

 Contohnya?

Misalnya, Bos Penuin yang menguasai tanah. Akau, pemilik Harbour Bay. Itu yang besar. Yang kecil juga banyak. Waktu itu memperoleh tanah dan rumah masih mudah. Hasilnya, sekarang sudah berkali-kali lipat. Jelas dari sisi ekonomi mereka berkembang.

Baca juga : Agar Amat Berpeci Tak Dianggap Khianat

Setelah 40 tahun pembangunan Batam, apakah masyarakat keturunan Tionghoa Batam memiliki karakter tersendiri yang berbeda dengan di luar Batam?

Sebenarnya semua membawa ciri khusus dari daerah asal, seperti bahasa. Mereka masih menggunakan bahasa daerah dia. Misalnya asal Moro masih menggunakan bahasa Tio Ciew. Yang dari Selat Panjang akan menggunakan bahasa Hokkian. Jadi mereka tetap mempertahankan tradisinya.

Dibandingkan dengan daerah lain, apa yang unik pada masyarakat Tionghoa di Batam?

Uniknya di sini penggunaan bahasa daerah mereka lebih kental. Karena dekat dengan Malaysia dan Singapura, mereka banyak mendengar siaran televisi dan radio dari sana sehingga bahasa Mandarin mereka bagus meskipun buta huruf. Ini berbeda dengan daerah lain seperti di Jawa. Di sana mereka sama sekali tidak bisa berbahasa Mandarin.

Ya, memang. Di Surabaya, misalnya, banyak sekali kita lihat warga keturunan Tionghoa yang berbahasa Jawa. Berarti ini persoalan geografis?

Iya. Apalagi acara radio dan televisi di sini kualitasnya jauh dari Singapura. Film Indonesia juga jauh (lebih rendah kualitasnya). Ada orang Tionghoa di sini yang seumur-umur tidak pernah melihat saluran macam TVRI, RCTI, Indosiar. Soalnya mereka tidak suka sinetron cengeng di Indonesia.
Bagaimana karakter siaran televisi Singapura?

Sifat pendidikannya lebih kental walaupun sama-sama sinetron bersambung, bahkan tahunan. Tapi itu merupakan cerita keluarga dan sangat menarik. Kalau di Indonesia yang enggak lucu dilucu-lucukan, kelasnya agak rendah.

 Orang yang tidak mengerti mungkin akan menilai orang Tionghoa tidak mau membaur dengan mempertahankan bahasa mereka. Apakah seperti itu?

Kita selalu melihat dari sisi negatif. Sebenarnya suku-suku lain juga seperti itu. Orang-orang Jawa, kumpulan orang Sunda, semua seperti itu. Jadi semua orang itu lebih akrab dengan kelompoknya. Misalnya kalau di luar negeri tiga orang dari daerah berbeda bertemu, mereka dengan sendirinya akrab meskipun dari suku yang berbeda, karena sama-sama dari Indonesia.

Nyat Kadir mengatakan kerukunan masyarakat keturunan Tionghoa dengan masyarakat pribumi sangat baik di Kepri, khususnya Batam. Hampir tidak ada gererakan-gerakan anti-Tionghoa. Pendapat Anda?

Saat ini memang sangat jauh sekali dari kemungkinan itu (anti-Tionghoa). Ini juga disebabkan oleh kondisi politik pada masa lalu. Dulu masyarakat Tionghoa hanya bisa bergerak di bidang ekonomi. Itu juga didesak. Kami tidak bisa masuk dalam instansi pemerintah dan militer. Bahkan sekolah saja tidak boleh di sekolah negeri, mau tidak mau mereka membangun sekolah swasta.

Desakan hanya bergerak di sektor ekonomi itu kini menumbuhkan hasil. Jika tak ada keturunan Tionghoa tidak ada perumahan-perumahan, ruko, Harbour Bay, Kepri Mall, atau Hypermart. Mereka sudah punya jaringan dan latar belakang sejarah yang mendukung mereka bergerak di bidang ekonomi.

Baca juga : Hikayat Dari Sungai Durian

Selain faktor politik, mengapa keturunan Tionghoa begitu dominan dalam bidang ekonomi? Sikap apa yang ditanamkan?

Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Mereka harus mandiri. Secara keseluruhan mereka dididik bahwa hidup ini harus melalui satu perjuangan. Generasi sekarang masih kurang memiliki sikap itu. Generasi saya itu bangun siang tidak boleh. Harus bangun pagi membantu pekerjaan rumah. Ibu saya, contohnya, tidak pernah pakai pembantu. Sekarang orang tua yang masih berpikir panjang, anaknya harus berdikari. Saya pernah melihat ada pengusaha sukses anaknya disuruh kerja di tempat lain. Tidak disuruh meneruskan di perusahaannya. Sekarang, dari kecil diajarkan wiraswasta.
Mengapa jaringan ekonomi keturunan Tionghoa begitu kuat?

Sebenarnya, bukan orang pribumi tidak memiliki jaringan yang kuat. Lihat saja orang Padang. Tapi link orang Tionghoa itu kuat karena ada bantuan dari Singapura. Ini soal kesamaan bahasa.

Di Batam, di mana pembauran Tionghoa dan pribumi itu terjadi?

Banyak. Saya melihat di semua sisi. Dengan meningkatnya intelektualitas masyarakat, mereka juga menyadari. Kalau dulu (pembauran) bukan karena pengetahuan dan pendidikan tapi secara alamiah mereka memang berhubungan baik. Tidak ada pikiran saya harus hidup rukun hanya dengan orang-orang tertentu. Asal orang baik, tidak membedakan suku dan agama.

Kalau sekarang, karena pendidikan, kita diminta agar berpikir untuk rukun. Namun ada pandangan bahwa kalau di atas rukun-rukun saja (pimpinan), tapi di akar rumput kan belum tentu.

Sekat apa yang membatasi pembauran itu?

Rekayasa pengertian agama. Di Indonesia pengertian agama sudah direkayasa sedemikian rupa menjadi pengotakan. Padahal agama kan adalah hak asasi tiap orang. Ini salah kita bersama. Anak kecil, dalam pelajaran agama, misalnya, akan dipisahkan berdasarkan agamanya. Dari kecil dia sudah dikotakkan. Jadi untuk mengatasi hal ini harus diadakan kerukunan. Saya dulu pernah di FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Batam pada masa Ismeth (Ismeth Abdullah, mantan Gubernur Kepulauan Riau). Yang penting FKUB itu tak hanya di provinsi atau kota tapi harus sampai ke kecamatan bahkan RT dan RW. Lebih perlu lagi di pendidikan. Jangan sampai di pendidikan agama kita malah dikotak-kotakkan.

Apa solusinya?

Pembauran itu tak usah direkayasa, dengan hati nurani saja seperti dahulu. Dari sisi agama, misalnya, Kong Hu Cu ada satu kalimat sederhana: “Di empat penjuru lautan semua manusia bersaudara.” Jadi kembali ke fitrah masing-masing. Kalau merasa kasihan dibantu. Tidak perlu disuruh-suruh agar membaur kemudian dibantu. Jangan dipacking.

Jadi, apakah batasan bagi orang Tionghoa untuk berbaur karena adanya pelabelan berdasarkan kelompok?

Kalau pelabelan itu sepertinya bukan Tionghoa saja. Semua kalangan hampir seperti itu.

Dari yang Anda katakan, pembauran di akar rumput masih sulit. Benarkah demikian?

Masih, kita tidak bisa menutup mata karena ini ketulusannya yang susah. Meskipun kalau kita tanyakan mereka akan bilang, “semua orang sama saja.”

Soal pembauran masyarakat keturunan Tionghoa dengan pribumi, apa yang masih perlu dibenahi?

Kita semua harus kembali pada ajaran agama masing-masing. Pendidikan sekarang terlalu rancu karena hanya menekankan pengetahuan, sementara budi pekertinya tidak. Agama itu penting, tapi jangan diselewengkan dengan membangun hardware-nya saja, seperti rumah-rumah ibadah yang megah tapi korupsi tetap banyak. Pendidikan agama ini harus diperkuat supaya setiap orang betul-betul menjalankan ajaran agamanya. Pasalnya orang-orang kita lebih sering menjadikan agama sebagai pelajaran, nilainya bagus, khotbahnya bagus, tapi kelakuan jeblok.

Soal perkawinan, apakah di Batam umum terjadi pernikahan campur?

Banyak juga. Saya lihat itu tidak menjadi masalah. Apalagi yang ada di pinggiran seperti Tanjungpiayu.

Baca juga : Sumber Air Dari Kebun Gambir

Bagaimana dengan di kota?

Hampir sama. Yang penting kedua belah pihak enjoy saja ya udah.
Apakah ada aturan yang melarang kawin campur dalam masyarakat keturunan Tionghoa?

Bukan tradisi, cuma pandangan keliru dari orangtua masih ada. Bukan saja dengan pribumi, berbeda suku saja kadang masih ada yang tidak mau. Cuma makin maju ke sini, pelan-pelan mulai terkikis. Ini dipengaruhi juga karena benturan dengan budaya barat. (yermia riezky)

dapatkan-update-terbaru1

Diterbitkan di Majalah Batam Pos, Januari 2014

Iklan