Elsa di Toraja

Pagi-pagi sekali, kemarin, adikku Elsa sudah mengirimkan SMS. Dalam SMSnya, dia meminta saya untuk membuka situs Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dia ingin tahu, apakah dia lulus dalam seleksi itu. Elsa memasukkan jurusan Manajemen dan Pariwisata di UGM sebagai jurusan yang menjadi minatnya, saat kuliah nanti.

Sebagai siswi Sekolah Menengah Kejuruan, langkah Elsa memang di luar kebiasaan. Umumnya lulusan SMK memilih untuk langsung bekerja. Beberapa mencoba menjajaki usaha sendiri. Sementara Elsa memilih untuk lanjut kuliah, UGM pula. Sebelumnya, dia rencana akan melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, dulu dikenal NHI (enhaiii). Belakangan, Elsa ingin di Jawa bagian tengah saja, tak terlalu jauh dari Andi, kakaknya.

Dalam hati, saya merasa Elsa lulus. Saya pun tidak segera mengoneksikan modem ke laptop. Baru pada pukul 10.00 saya mencolokkan modem tua ke laptop milik istri. Lama menunggu, koneksi tak kunjung terjadi. Di pojok kanan bawah saya melihat status koneksi. Ada tanda pentung (!) dalam segitiga yang menandakan tidak ada koneksi internet sesuai harapan saya.

“Hmm, pasti masa aktifnya habis,” kata saya dalam hati. menggunakan kartu XL memang makan hati.

Ketika makan siang, saya memilih sebuah warung yang memiliki fasilitas wifi. Setelah mendapat password, saya langsung menuju ke situs snmptn.com. Dalam hati saya bertanya, kok dot com ya? Memangnya seleksi ini komersil?

Entah lah. Saya kemudian sampai pada laman yang meminta saya memasukkan nomor peserta. Saya pun memasukkan nomor yang sudah dikirimkan Elsa melalui SMS. Kemudian saya memasukkan tanggal lahirnya. Dag dig dug pun melanda.

Dan serrrr…. begitu lah perasaan setelah melihat balok merah pada bagian bawah pengumuman. Balok itu bertuliskan : “Anda dinyatakan tidak lulus seleksi SNMPTN 2014”.

Terus terang saya kecewa juga. Harapannya, Elsa bisa melanjutkan tradisi kuliah saudaranya di UGM, setelah saya dan Andi diterima pada 2004 dan 2007 lalu. Namun apa daya, masih banyak yang lebih unggul dari Elsa.

Saya kemudian menelepon Elsa. Tapi saat itu dia tidak mengangkatnya. Saya memutuskan pulang setelah browsing beberapa artikel mengenai science journalism.

Saat sampai di rumah, sebelum saya membuka pintu Elsa menelepon.

“Halo, ada apa kah?” Tanya Elsa.

“Sudah mi sa lihat hasilnya,” kata saya.

“Bagaimana mi?”

“Beh, kecewa ka. Ndak lulus ko.’

“Ah, iyo kah?”

“Betul. Kecewa ko juga to,” kata saya sedikit terkekeh.

“Ya, tapi mau di apa. Padahal sudah di dongkrak mi nilaiku sama guruku. hehehe.”

“Mungkin yang lain juga didongkrak sama gurunya, jadi lebih tinggi,hehehe.”

Seleksi masuk perguruan tinggi negeri kali ini memang memiliki dua jalur. Pertama lewat jalur SNMPTN yang menggunakan nilai raport. Jaman dulu, seperti PMDK atau PBUD. Yang kedua SBMPTN, yang mirip dengan UMPTN atau SPMB yang mengunakan tes tertulis bersama.

Elsa kemudian bercerita, dia sudah melihat kampus Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga beberapa hari lalu. Elsa memang sudah diterima di Jurusan Manajemen di Satya Wacana. Dalam beberapa kesempatan kami berbicara di telepon, Elsa mengatakan hatinya sudah tertambat di UKSW.

Saya sendiri tidak terlalu banyak tahu soal UKSW. Saya hanya tahu sekolah itu memiliki jurusan Teologi yang menghasilkan pendeta-pendeta Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Saya juga tahu beberapa kenalan dari Soroako kuliah di sana. Hanya memang saya tidak begitu familiar dengan kampus itu.

Tapi saya tetap bersyukur kalau Elsa bisa berkuliah di sana. Bagi saya, kuliah tetap hal yang wajib untuk mengembangkan dan mengasah pola pikir. Memang, banyak orang yang tidak kuliah memilki harta melimpah. Tapi saya sendiri tidak terlalu tertarik soal itu. Buat saya, pola pikir yang dibentuk melalui sekolah lanjut merupakan bekal yang lebih berharga.

Sebenarnya saya masuk UGM pun karena dorongan mendadak (saya tidak bilang kebetulan). Awalnya saya ingin tetap melanjutkan kuliah di Bandung selepas lulus SMA 5 Bandung. Belakangan, saya merasa tidak kerasan di Bandung dan akhirnya saya meneruskan kuliah di Yogyakarta setelah lulus dalam Ujian Masuk UGM. Andi juga sama. Dia sebenarnya lulus dalam tahap awal tes Akademi Polisi. Hanya dia tidak mau melanjutkan dan memilih jurusan Hubungan Internasional UGM.

Saya yakin, Elsa melalui hal yang sama. Dia akan melalui banyak proses pembentukan karakter selama kuliah. Saya berdoa Elsa bisa berjuang dan bisa lulus dalam ujian-ujian kehidupannya, dan mencapai mimpi-mimpinya.

 

Salam, kakakmu

 

(Belakangan saya mengenal UKSW dari salah satu alumninya, Andreas Harsono. Dia adalah wartawan Indonesia yang punya reputasi internasional. Blognya andreasharsono.net jadi tempatku belajarmacam-macam soal  jurnalisme)

Elsa dan makanannya

 

 

Iklan