Saya akhirnya sampai di rumah malam ini, kira-kira pukul 22.30. Senangnya bisa bertemu dengan istriku, Mira setelah terakhir bertemu sebelum ia berangkat mengajar pagi tadi. Mira sedang menonton salah satu film Suzana di AnTv. Setiap kali mendapati televisi milik Bakrie itu memutar film-silm Suzana, Mira selalu mengatakan kalau ada adegan-adegan yang selalu dia ingat dalam film itu.

Setiap kali sampai di rumah usai deadline malam minggu, saya selalu bersyukur kepada Tuhan, lebih dari hari-hari lainnya. Mengapa?

Pasalnya keluar kantor dari Graha Pena Batam Centre selalu bising. Anak-anak remaja hingga pemuda balap motor seenaknya. Tanpa helm dan pengaman lainnya. Di kiri kanan jalan, pengendara motor berjubel. Banyak dari mereka adalah pasangan cowok cewek dengan dandanan yang berpakaian seksi, ketat, dan tak jarang beberapa merokok. Untuk ABG cewek, mereka saat ini dikenal dengan cabe-cabean.

Pusat balapan itu berada di depan Graha Pena sampai ke perempatan Masjid Agung Batam. Ke arah kantor walikota Batam, kerumunan remaja dan pemuda lebih banyak lagi. Motor-motor berseliweran dengan kencang. Seringkali mereka mengangkat ban depan sambil melaju kencang. Berani sekali padahal mereka membonceng seorang teman di belakangnya.

Saya heran, dua tahun saya sering pulang malam pada malam minggu, belum pernah ada kecelakaan yang ditimbulkan oleh ulah anak-anak itu. Apakah mereka terlalu hebat menghindari celaka. Tapi saya selalu menganggap mereka sebagai anak-anak yang labil. Jiwa mereka membara dan senang mencari perhatian. Demi itu, mereka melakukan hal-hal baru yang berbahaya dan cenderung nekad. Saya tahu hal seperti itu. Banyak teman saya semasa remaja adalah pembalap jalanan. Bedanya, jalanan di Soroako tergolong sepi sedangkan jalan di pusat kota Batam ini begitu ramai.

Mereka tidak hanya membahayakan diri sendiri tapi membahayakan orang lain. Sekitar jam 20.00-23.00 masih banyak warga yang melintasi jalan itu, selain para remaja dan pemuda tersebut. Sangat rawan saat warga itu melintas di jalan kemudian tertabrak oleh gerombolan remaja pelaku balapan liar.

Yang saya heran, aparat polisi sama sekali kesulitan mennghalangi aksi remaja – pemuda itu. Selain saat pelaksanaan MTQ Nasional bulan Mei – Juni lalu, praktis hari Sabtu malam adalah hari yang gaduh di sekitar Masjid Agung Batam. Bahkan halaman masjid pun kemudian dijadikan lokasi berpacaran para muda-mudi. Saya sendiri tidak tahu sampai sejauh apa tindakan mereka di halaman masjid itu.

Pernah sekali saya melihat polisi melakukan razia geng motor pada malam minggu sekitar bulan Juni. Razia itu dilakukan di depan Graha Pena. Itu sebabnya foto dan berita pendek pengamanan anggota geng motor yang berusia remaja menjadi foto halaman depan Batam Pos hari Minggu. Setelah itu, setahu saya hampir tak ada tindakan dari polisi.

Padahal ulah remaja itu jelas melanggar ketentuan lalu lintas. Berapa banyak anak bertubuh mini yang pasti belum 17 tahun yang mengendarai motor tanpa menggunakan helm dan dengan kecepatan tinggi yang tampak setiap malam minggu di Engku Putri. Sayang, polisi tidak pernah mengamankan anak-anak seperti itu setiap minggu.

Polisi jangan berpikir karena malam minggu sudah menjadi kebiasaan anak remaja dan pemuda keluar bareng dengan teman-temannya, sehingga begitu saja membiarkan kegaduhan di Engku Puteri terus berkembang. Ujung-ujungnya, polisi membiarkan anak-anak itu dengan dalih agar anak-anak itu bisa berekreasi.

Masalah ini seharusnya bukan masalah Polisi saja. Pemko Batam seharusnya lebih awas melihat kenyataan yang terjadi di setiap malam minggu di depan kantor mereka. Seharusnya ada pemikiran untuk mengurangi aksi balap liar. Boleh jadi Dinas Pendidikan memiliki kebijakan tertentu terhadap pelajar yang tertangkap melakukan balap liar. Pemko juga bisa mengerahkan Satpol PP meski pendekatannya harus dengan persuasif.

Saya sendiri bukan ahli masalah sosial atau psikologi anak. Para pelajar itu seharusnya diperlakukan secara persuasif untuk mengurangi kenekatann mereka. Namun ada saatnya, sanksi tegas harus diberikan pada pelajar yang nyata-nyata melakukan tindakan kriminal, seperti melanggar aturan lalu lintas. Kenekatan mereka selalu membuat saya waswas saat keluar Graha Pena dan melintasi jalan depan Kantor Walikota. Sambil saya berhati-hati melalui kerumunan itu, saya berpikir mungkin mereka baru menunggu sampai ada teman mereka yang badannya terpisah di pinggang karena kecelakaan, seperti video kecelakaan yang menimpa anak SMP yang tak bisa lepas dari pikiranku.

Iklan