Kemarin saya mengunjungi rumah Bang Ucok di perumahan Oma Batam Centre. Ini kunjungan kedua dalam dua minggu setelah terakhir saya ke sana saat lebaran hari pertama lalu. Begitu sampai di depan pagarnya, anak kedua Bang Ucok yang hiperaktif, Dev, langsung muncul di balik pintu. Ban Ucok kemudian datang membuka pintu tak lama setelah saya menghubungi telepon selularnya.

Kedatangan saya sebenarnya membawa contoh majalah. Teman saya yang bekerja di salah satu NGO di Makassar meminta saya untuk membuat tata letak (layout) majalah yang akan diterbitkan organisasinya. Saya bukan orang berpengalaman dalam disain dan layout. Makanya saya memberikannya pada Bang Ucok yang dulu sempat menjadi tukang layout Majalah Batam Pos sebelum terjadi perombakan struktur redaksi.

Bang Ucok ternyata sedang cuti sembilan hari. Ia mengambil sisa cuti tahunan untuk leyeh-leyeh di rumah bersama keluarga. Dia tidak berencana untuk pergi keluar Batam selama cuti. Dia hanya mengambil sisa cuti yang banyak itu karena, “kalau tidak diambil tidak bisa diganti.”

Pembicaraan tentang proyek yag rencananya akan diberikan kawan saya hanya berlangsung singkat. Kami hanya melihat majalah yang sudah terbit untuk memberikan Bang Ucok gambaran seperti apa majalahnya. Setelah itu kami ngobrol ngalor ngidul tentang kondisi kantor dan kerjaan. Bang Ucok sangat senior di Batam Pos, walaupun dia bukan perintis koran itu. Tapi untuk ukuran senior, dia rendah hati dan gampang cair dengan teman-teman kantor yang lebih muda.

Ditemani dengan dua cangkir coffeemix dan setoples kacang bawang sisa lebaran, obrolan kami sampai pada urusan ngeblog. Bang Ucak bertanya, apakah saya sudah membuat blog. Saya jawab sudah. Tapi semacam catatan harian dan beberapa konten kerjaan dan cerita-cerita kecil yang tidak berhubungan dengan kehidupanku. Tapi, saya belum menghasilkan uang dari blog itu.

Kami pernah ngobrol tentang blog setahun yang lalu. Dalam soal blog, pencapaian Bang Ucok cukup legendaris diantara kami. Ia pernah membuka satu blog mengenai tempat-tempat unik dan perjalanan. Umumnya, bukan perjalanan yang ditulis bukan perjalanan yang dia lakukan sendiri. Banyak artikel yang ditulis Bang Ucok adalah hasil penulisan ulang dari berbagai bahan. Lainnya, ia membeli artikel-artikel pendek dari penulis lepas asing yang berseliweran di internet.

Suatu saat, ketika kunjungan ke blognya sudah makin ramai, blog Bang Ucok mulai dilirik oleh Google. Perusahaan babon internet itu kemudian memasang iklan di blog Bang Ucok menggunakan aplikasi Google Adsense. Selang berapa lama, ia mendapat konfirmasi dari Google bahwa ia akan mendapat honor dari iklan-iklan yang dipasang Google di dalam blognya. Tidak lama berselang, Google mengirimkan cek ke Bang Ucok dalam bentuk dolar. Saya sendiri lupa berapa banyak uang yang kirim Google dalam bentuk dollar.

Bang Ucok kemudian mencairkan uang itu ke Western Union di Kantor Pos Batam Centre. Dari hasil tukarnya Bang Ucok mendapatkan Rp 28 juta. Uang itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong kresek hitam untuk dibawa ke rumah menggunakan sepeda motor !

“Dari uang itu saya bisa membayar uang muka pembelian modil,” kata dia mengingat kejadian tahun 2010 itu.

Keberhasilan Bang Ucok menyemangati banyak wartawan Batam Pos untuk menulis blog. Semangat karena berharap semua ingin mendapatkan iklan dari Google Adsense.

Semangat itu memang beralasan. Pasalnya, seluruh pekerja media massa daerah adalah warga negara Indopahit. Ia adalah negara imajinasi wartawan Andreas Harsono guna menyindir perusahaan-perusahaan media di Indonesia yang membayar wartawannya termasuk yang paling kecil di Asia. Hal itu terutama terjadi kepada wartawan-wartawan di daerah. Itulah kenapa Bang Ucok menjadi inspirasi banyak orang di Kantor.

Namun, pada akhirnya, seluruh rekan-rekan di kantor menyerah untuk menyelesaikan proyek blog pribadinya. Bang Ucok sendiri tidak pernah lagi mendapatkan hasil dari Google Adsense. Kesibukan menyita waktunya untuk ngeblog. Masalahnya, ia juga lebih tekun dan sering mendapatkan uang dari proyek-proyek disain selain dari pekerjaannya di kantor.

Saya sendiri termasuk yang semangat denga cerita Bang Ucok. Berharap mendapat dolar dari blog memang bayangan yang menggiurkan. Persoalannya, kata Bang Ucok, blog yang dibuat haruslah blog tematik atau tema-tema khusus seperti perjalanan atau kesehatan. Hanya saja untuk kesehatan, menurut Bang Ucok cukup sulit karena isu-isu itu sangat dikuasai oleh pakar kesehatan seperti dokter dan ahlli-ahli dalam bidang medis. Tanpa latar belakang itu, sulit untuk membuat orang percaya dengan tulisan dalam blog kita.

Sampai pada pembicaraan kami kemarin saat Bang Ucok menanyakan soal blog. Saya bilang selama ini blogku yang berisi kisah-kisar printil itu kubuat menggunakan platform WordPress. Saya bilang, kadang kalau saya membuka blog saua, ada kotak kecil di bagian bawah. Saya bertanya apakah itu iklan Adsense?

Menurut Bang Ucok, itu bukan Adsense. Itu merupakan iklan WordPress. “Tapi kau ga bakal dapat uang dari iklan WordPress itu, karena itu bukan Adsense.” Adsense tidak akan pernah dipasang di WordPress, ketentuan Adsense mengatakan hal tersebut. Dia bisa dipasang di hosting lain dan untuk blog, sangat gampang dipasang di Blogspot. Bang Ucok menyarankan saya untuk menggunakan Blogspot.

Saya memang memiliki satu akun Blogspot. Tadi siang saya sempat memperhatikan judulnya bernama Bumi Dari Atas. Awalnya saya ingin menggunakan itu untuk menampilkan citra satelit lokasi-lokasi terkenal di bumi. Seingat saya, karena waktu itu hanya Blogspot yang bisa memasukkan citra Google Earth ke Google.

Belakangan saya baru tahu, Blogspot ternyata milik Google sehingga baik WordPress dan Adsense bisa digunakan di situ. Saya lebih senang menggunakan WordPress karena template blognya lebih banyak ketimbang Blogspot. Entah saya merasa layout Blogspot itu kuno. Ternyata dari kekunoan itu, Blogspot menyediakan ruang untuk iklan.

Bagi saya cukup berat memigrasikan isi blog Rasa Kehidupan ke blogspot. Lagi pula, Kalau cerita pribadi yang posting, perhatian orang juga tidak terlalu besar. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat satu blog baru dengan konsep khusus di Blogspot. Saya membentuk konsep sembari mengerjakan satu tulisan pesanan majalah properti dari Jakarta.

Siang tadi saya mengeksekusi konsep itu. Saya ingin membuat satu blog yang bercerita tentang tempat-tempat unik di Indonesia. Mungkin juga di dunia. Kalau mau sedikit populer, disertakan dengan cerita travelling walaupun kebanyakan pastinya saya mengumpulkan bahan dari berbagai sumber. Untungnya untuk foto, Getty Images sudah menyediakan jutaan foto Royalty Free yang bisa digunakan di blog. Jadi, walaupun tidak besar, foto itu bisa melengkapi man menambah menarik blog-blog pribadi. Selain itu, saya memasukkan sedikit porsi cerita-cerita konservasi lingkungan. Dengan banyaknya publikasi organisasi pecinta lingkungan, bahan untuk menuliskan kisah-kisah itu pastinya sangat melimpah.

Saya menamakan blog baru saya dengan Pigijo, lokasinya di pigijo.blogspot.com. Awalnya saya ingin menamakan blog saya Lintang Utara, tapi sub-domain itu tidak tersedia lagi di Blogspot.

Pigijo berasal dari bahasa Manado. Sederhananya berarti ‘pergi saja’. Saya mengartikan Pigijo dengan kemana kaki mau melangkah menikmati cerita-cerita di dunia. Tidak ada alasan-alasan filosofis, hanya karena kemudahan penyebutan saja. Sambil mengumpulkan cerita, saya memasukkan dulu tulisan-tulisan feature saya yang pernah dimuat di Majalah Batam Pos.

Saya pun memutuskan tetap mempertahankan blog Rasa Kehidupan yang sudah berjalan dua tahun. Blog itu lebih berguna untuk menyampaikan cerita-cerita printil kehidupan atau tulisan-tulisan jurnalistik yang tidak terlalu berbicara soal lokasi. Saya bercita-cita menjadikan blog ini seperti andreasharsono.net milik Andreas Harsono yang sudah langgeng 10 tahun. Sekaligus situs itu akan menjadi tempat saya memasang portofolio dan contoh-contoh tulisan, siapa tahu ada yang berminat mengontak saya untuk menuliskan sesuatu.

Perjalanan masih panjang. Saya pun harus mengurusi kehidupan nyata sambil sekali-kali melirik aset di dunia maya.

Malam semakin larut. Saya masih harus melanjutkan tulisan untuk majalah Jakarta dan menyiapkan wawancara dengan narasumber untuk besok. (*)

Iklan