Selat Lampa
Pemandangan di Teluk Selat Lampa

Dermaga Selat Lampa merupakan di Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna merupakan lokasi bersandarnya kapal penumpang milik PT Pelni. Sekali seminggu, kapal KM Bukit Raya merapat di dermaga itu. Ia membawa penumpang dari Selat Lampa menuju Tarempa di Anambas kemudian menuju Tanjungpinang. Seminggu kemudian Kapal itu berbalik arah, dari Selat Lampa menuju Midai, Serasan, Pontianak, kemudian Jakarta.

Mengingat harga tiket pesawat yang tinggi, KM Bukit Raya jadi pilihan warga Ranai yang ingin menuju Jakarta. Meski harga tiketnyanya jauh lebih murah, penumpang kapal laut harus betah berada di kapal selama tiga hingga empat hari sebelum sampai ke ibukota.

KM Bukit Raya tidak merapat di Ranai, ibukota Kabupaten Natuna, karena perairannya yang dangkal dan memang belum memiliki dermaga. Dermaga tradisional Penagi, hanya dapat disandari oleh kapal perintis yang membawa kebutuhan warga kepulauan.

Untuk mencapai Selat Lampa, warga Ranai harus menempuh perjalanan 1-1,5 jam. Walaupun cukup lama, calon penumpang tidak dibuat bosan oleh pemandangan selama perjalanan. Perjalanan menyusuri pesisir pantai timur Pulau Bunguran itu menyajikan panorama yang memikat. Padang rumput yang luas dan ditumbuhi oleh pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi jadi pemandangan utama. Namun, di beberapa titik, kita akan bertemu dengan pepohonan yang lebat di kanan dan kiri dan permukiman penduduk desa.

Pemandangan paling memikat adalah sesaat sebelum mencapai dermaga Selat Lampa. Sebuah teluk yang dikelilingi perbukitan granit memanjakan mata. Permukaan laut memantulkan warna hijau perbukitan yang lebat ditumbuhi vegetasi.

Dermaga tersebut sebenarnya dermaga milik Pertamina. Tampak di pinggir area tunggu penumpang, terpasang jaringan pipa BBM yang dapat disambungkan dengan kapal pengangkut BBM. Rekan saya Cipi Ckandina mengatakan seharusnya dermaga ini bukan untuk umum.

“Banyak penumpang yang merokok di dekat pipa. Ngeri juga kalau api rokoknya membakar pipa,” kata Cipi yang mengantar saya dan fotografer Iman Wachyudi ke Selat Lampa. Hari itu, Minggu (7/9) kami berencana menuju Midai menggunakan KM Bukit Raya.

Hampir tiga jam kami menunggu, baru kapal itu merapat. Kapal tersebut sebelumnya melakukan perjalanan dari Tarempa, Anambas sebelum sampai di Selat Lampa.

Cipi mengatakan, walaupun berbahaya, namun dermaga Selat Lampa masih jadi satu-satunya dermaga bagi warga Natuna yang ingin menumpang kapal KM Bukit Raya. Kapal itu tidak singgah di dermaga lain. Dan sepanjang belum ada dermaga khusus untuk penumpang domestik, dermaga Selat Lampa akan tetap menjadi andalan.

Memancing di Selat Lampa
Warga lokal memancing di dermaga Selat Lampa
Anak-Anak Selat Lampa
Anak-anak lokal Selat Lampa
Ikan Sarden
Ikan sarden yang akan dinaikkan di atas kapal
Memancing di Selat Lampa
Warga lokal memancing di Selat Lampa
Never Give Up
Warga lokal di Selat Lampa
Ikan Sarden
Ikan sarden yang akan dinaikkan ke atas kapal
Loket Tiket
Penumpang mengantri di depan loket tiket dermaga Selat Lampa
Menunggu Kapal
Fotografer Iman Wachyudi menunggu kapal di sebuah warung di dermaga Selat Lampa
Selat Lampa
Pemandangan teluk di Selat Lampa
Menunggu Kapal
Penumpang menanti kapal KM Bukit Raya yang akan bersandar di dermaga Selat Lampa
Perahu Nelayan
Perahu nelayan di dermaga Selat Lampa
Menunggu Kapal
Seorang calon penumpang menggendong anaknya, mengamati KM Bukit Raya yang akan bersandar di dermaga Selat Lampa
Menaikkan Ikan Sarden
Warga lokal menaikkan ikan sarden ke kapal. Ikan akan digunakan sebagai lauk bagi penumpang kapal
Menaikkan Ikan Sarden
Warga lokal menaikkan ikan sarden ke atas kapal
Naik Kapal
Penumpang naik ke kapal KM Bukit Raya di dermaga Selat Lampa
Iklan