Saya orang yang percaya dalam fotografi, jenis kamera bukan jaminan. Saya percaya yang utama adalah cara pandang sang fotografer terhadap objek dari balik viewfinder. Daya khayal dan kemampuan memprediksi hasil merupakan kombinasi untuk menghasilkan foto yang bagus. Otak kanan dan kiri berpadu serasi.

Sepuluh tahun saya memotret, kebanyakan dengan film dalam 6 tahun pertama, saya kesulitan mengembangkan hal itu. Saya merasa tak ada yang spesial dengan foto-foto yang saya hasilkan. Hambar.

Namun saya menyadari, banyak foto yang saya hasilkan menjadi hambar saat saya asal mengambil, atau saya tidak punya dasar atau cerita mengapa saya harus mengambil gambar itu. Pekerjaan sebagai wartawan mengajarkan saya cara bercerita. Terutama setelah dua tahun terakhir saya lebih banyak bergelut dengan tulisan panjang dengan alur narasi (walau tidak semua tulisan saya menjadi narasi).

Beberapa bulan terakhir saya senang mengamati foto-foto yang dihasilkan Rena Effendi. Fotografer perempuan asal Azerbaijan itu memiliki foto yang unik. Foto-fotonya lebih banyak merupakan portait tanpa ekspresi. Ia jarang mengambil momen-momen yang dinamis dari objek-objek yang difotonya.

Satu yang mengejutkan saya dari foto-foto Rena adalah mereka diambil menggunakan kamera medium Rolleiflex yang masih menggunakan film. Di tengah majunya teknologi digital yang sering membuat jari fotografer manjadi maniak memencet shutter, Rena memilih diam, mengamati, mengomposisi, dan mencari cerita dari kameranya. Karena menggunakan kamera, ia harus lebih teliti dalam menentukan pencahayaan. Namun ia mengatakan: “saya menyenangi kejutan yang muncul saat film selesai diproses.”

Beberapa fotonya tampak over eksposur. Dari segi estetika dan teori foto, ia menghasilkan foto keseharian dengn kondisi lingkungan yang berantakan. Namun, satu yang menguatkan foto itu adalah cerita yang disampaikannya. Dalam hai ini, foto-foto Rena tak mengandung jargon ‘a photo is worth a thousand word’. Foto-foto Rena merupakan gabungan rekaman gambar dan kata-kata. Kata-kata membuat gambar yang sebelumnya abstrak menjadi lebih dalam dari sekedar seribu kata. (proses kreatif Rena Effendi di Korea Selatan)

Saya mencoba belajar mancari cerita lewat gambar. Ya, saya sedang menggeluti lagi dunia fotografi secara serius semenjak istri saya menyetujui proposal pembelian kamera DSLR seken dua bulan lalu.

Tak ada darah seni dalam diri saya. Selama ini saya hanya penggemar foto-foto jurnalistik yang menurut saya menarik.

Ya, menurut saya menarik.

Dan, mungkin falsafah itu yang akan saya gunakan saat saya berusaha menemukan bidang fotografi dan menguasai alat-alat fotografi yang baru saya miliki. Fotografer Magnum, David Alan Harvey bilang, “Fotografi adalah alat untuk merekam dan membangkitkan memori. Fotolah apa yang menurut anda menarik, memori yang ingin anda kenang.”

Itulah sebabnya dua minggu lalu saya menyempatkan waktu berjalan-jalan di lingkungan kontrakan kami di Perumahan Gabana, Batam Centre. Saya ingin belajar menemukan apa saja yang bagi saya menarik dan menyenangkan hati ketika saya memandangnya dari viewfinder. Saya menemukan beberapa dan merekamnya. Saya pun menambahkan cerita, sambil belajar bercerita bukan saja lewat tulisan panjang yang selama ini saya lakukan, tapi lewat gambar.

 

Alat : Nikon D90, lensa Nikkor 50 mm / 1,8

DSC_0964
Jalan kompleks Perumahan Simpang Raya, Batam Centre
DSC_0968
Anak perempuan keluarga kelas menengah di Batam
DSC_0969
Seorang anak bermain di taman bermain Kompleks Gabana bersama beberapa kawannya.
DSC_0980
Cucian milik penghuni rumah liar di bukit samping Perumahan Simpang Raya. Beberapa warga Ruli memanfaatkan air kolam untuk mencuci pakaian dan kendaraan.
DSC_0981
Lahan kosong di dekat perumahan kami tinggal menjadi lokasi pembuangan sampah dan puing-puing.
DSC_0993
Warga rumah liar yang bekerja mengumpulkan tanah berpasir yang akan diangkut pembeli yang datang menggunakan pick up.
DSC_0994
Warga rumah liar mencari material yang dapat disaring untuk diambil pasirnya.
DSC_1007
Anak-anak perumahan Gabana dan Simpang Raya bermain. Mereka berasal dari keluarga kelas menengah di Batam.
DSC_1009
Anak-anak Perumahan Gabana dan Simpang Raya.
Iklan