Dalam satu episode Arirang In Frame, fotografer Magnum dan National Geographic, David Alan Harvey, sedang berada di Incheon, Korea Selatan. Dalam satu kesempatan saat melakukan fotografi jalanan, ia masuk ke sebuah warung makan tradisional. Di dinding warung itu, terpajang banyak foto-foto kenangan dari masa lampau pemilik warung.

David memandang foto-foto tersebut dengan takjub. Ia sangat tertarik dengan foto-foto yang membangkitkan memori. Menurut dia, seperti itulah fungsi foto. “Ia membangkitkan memori,” kata David. Ia tidak terlalu memusingkan tentang teori foto atau gambar-gambar artistik.

Barangkali, mungkin itu sebabnya banyak foto-foto David tidak terlalu ‘nyeni’ jika dipandang. Ia pernah hanya memotret pohon kelapa di Brazil. Namun bagi David, foto adalah sarana merayakan dan mengenang kehidupan. Ia melakukan itu karena mengingat hidupnya pernah terancam ketika pada usia enam tahun ia divonis menderita polio.

David menerbitkan karyanya dalam berbagai buku. Yang terkenal di antaranya Divided Soul, yang bercerita tentang kehidupan masyarakat Hispanik di Amerika dan Semenanjung Iberia. Foto-foto yang ditampilkan merupakan fotografi jalanan yang menurut dia punya cerita dan sekedar, “saya suka foto ini.”

Ia menyenangi foto-foto kehidupan yang dicetak, baik itu untuk disemat di dinding, diletakkan dalam album foto, atau dicetak dalam sebuah buku fotografi.

Saat ini sangat sedikit penggemar foto awam yang mencatak foto-foto nya. Lebih banyak yang menyimpannya di hardisk atau membanginya di jejaring sosial. Foto kini jarang dicetak untuk dimasukkan ke album foto. Hanya beberapa foto spesial saja yang dicetak untuk di pajang di dinding. Umumnya foto pernikahan atau kumpul keluarga.

Saya sendiri sudah sangat jarang mencetak foto. Terakhir, saya mencetak foto-foto pernikahan yang akan dikirim ke Mangkutana. Salah satu alasan umum orang jarang mencetak foto adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk mencetak foto itu. Apalagi untuk foto ukuran besar lebih dari 10R, harganya tidak murah.

Kondisi ini sangat berbeda ketika saya masih memotret dengan film. Saat itu, proses cuci klise dan mencetak foto adalah hal yang sangat menarik. Saya, dan semua orang saat itu, cenderung tidak sabar. Kita ingin agar proses itu selesai dengan cepat agar dapat dipastikan hasilnya bagus atau tidak. Dari foto-foto yang dicetak itu, saya belajar soal eksposur yang kelebihan atau malah kurang. Dari foto itu saya juga belajar apakah foto itu fokus atau tidak.

Ada perasaan lain saat membuka foto di album ketimbang melihatnya di layar komputer baik itu dari hardisk atau di jejaring sosial. Umumnya, kita tidak terlalu lama menikmati foto di jejaring sosial. Yang ada hanya perasaan-perasaan singkat seperti, ‘wow, wuihh, hmm, ah biasa saja, ini kurang di sini dan di sana’. Namun saat saya melihat foto yang di cetak, ingin rasanya berlama-lama memandang foto itu. Entah foto itu secara teknis dan artistik tidak ‘bagus’, memori yang muncul selalu mendorong saya untuk menikmati gambar-gambar yang ‘technically bad’ itu.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali membongkar file-file foto yang ada di dalam hardisk. Di sana, saya mendapati berbagai foto-foto masa kecil yang dulu dicetak kemudian saya dan Elsa memindai (scan) foto-foto itu menjadi file digital. Foto-foto itu memang membangkitkan kenangan. Namun, rasanya tidak seperti saat foto-foto itu dicetak dan kami amati lewat album foto besar dengan perekat untuk menempelkan foto. Saya menampilkan beberapa foto-foto itu dalam tulisan ini.

Memang, saat ini mencetak foto bukan lagi kebutuhan utama dalam fotografi seperti jaman pra digital. Album foto online kini bertebaran. Biaya mencetak foto pun tidak murah. Kondisi ini yang membuat banyak usaha cetak foto bangkrut. Namun, saya terpikir untuk mencetak beberapa foto hasil jepretan. Mungkin, saya belum akan melakukannya selama di Batam. Barangkali, setelah insya Allah kami pindah ke Makassar, saya akan mulai mencetak foto-foto saya.

 

Foto-foto saat kami berlibur ke Jakarta (Juli, 2003)

ScannedImage

scan0029

scan0028

Elsa kecil yang masih menggemaskan
scan0026

scan0025

Saat liburan keluarga ke Tangkuban Perahu (Juli, 2003)
scan0023

Saya memotret foto ini dengan film slide Fuji Velvia. Butuh Rp 50 ribu dan waktu 2 minggu untum memproses di tahun 2005 karena di Jogja tidak ada lagi tempat memproses slidescan0022

Ini masih cerita saat kami liburan ke Bandungscan0019

scan0017

scan0016

scan0015

Kalau ini foto-foto Bapak jaman muda dan saat pernikahan dengan Ibu scan0012

scan0011

scan0010

scan0010-2

scan0009

Beberapa foto ibu dan saudaranya saat mudascan0008

scan0007

Kami sangat jarang merayakan ulang tahun dengan mengundang teman bermain. Dua kali saya merayakan ulang tahun di masa kecil, perayaan itu akan digabung dengan ulang tahun Andi, karena jarak umur kami hanya tiga bulan. Orang tua menganggap tidak masalah perayaan ulang tahun kami dilakukan bersamaan untuk penghematan.
scan0005

scan0005-2

scan0004

scan0004-2

scan0001_A

Arirang In Frame David Alan Harvey di Incheon, Korea Selatan

Iklan