Satu minggu menjelang berakhirnya masa magang saya di Nias, pada akhir November 2010, teman-teman dari ADP Nias Wahana Visi Indonesia mengajak kami, anak magang, main ke Teluk Dalam. Kami berangkat siang menjelang sore menggunakan sepeda motor. Saya awalnya enggan berangkat, pasalnya saya perlu menyiapkan materi presentasi hasil yang saya dapatkan selama pekerja magang dalam program Management Trainee WVI.

Namun, keengganan itu saya singkirkan. Dalam hati, barangkali kala itu akan menjadi saat terakhir saya ke Teluk Dalam.

Koordinator saya selama magang di Nias, Viona, bercerita satu hal yang menarik di Teluk Dalam adalah pantai dengan ombak besar yang sering dipakai untuk selancar.

“Surfer internasional banyak datang ke Teluk Dalam. Lokasi itu jadi favorit mereka setelah Bali,” kata Viona. “Ombaknya sangat tinggi, ada yang bilang setinggi tiang listrik itu,” kata fia sambil menunjuk tiang listrik setinggi sekitar enam meteran.

Sayang, ia menambahkan, peristiwa gempa Nias tahun 2005 membuat pantai Nias berubah. Landas pulau di pantai Teluk Dalam terangkat, membuat karang-karang nampak ke permukaan, bahkan di saat pasang. Sebelum gempa karang-karang itu selalu terendam air dan hanya tampak saat surut. Kondisi ini membuat bibir pantai semakin jauh dan ombak besar sulit terbentuk. Daya tarik pantai Teluk dalam di kalangan peselancar pun menurun.

Saya lupa berapa lama perjalanan ke Teluk Dalam dari Kota Gunung Sitoli. Teluk Dalam terletak di Kabupaten Nias Selatan, dan sebagian besar jalan yang kami lalui berada di pantai timur pulau Nias.

Seingat saya, kami berangkat sekitar pukl tiga. Saatmatahari mulai terbenam, kami berhenti di sebuah warung di atas tebing. Kami melanjutkan perjalanan ke Teluk Dalam dan sampai di villa malam hari. Mungkin sekitar pukul 20.00 atau 21.00 karena kami menyempatkan diri untuk makan malam di sebuah warung di pusat Teluk Dalam dan mencari-cari villa yang cocok.

Malam itu kami isi dengan menghabiskan dua botol besar bir dan beberapa kantong kacang garing.

Keesokan harinya, saya tidak berencana untuk bangun pagi hari. Tapi tiba-tiba saya tumben terbangun. Tak bisa lagi memejamkan mata, saya beranjak ke balkon yang menghadap pantai.

Pagi itu cuaca mendung menutupi cahaya matahari yang terbit di timur. Langit muram dan pagi itu dihantui dengan ancaman hujan. Tapi, pagi itu begitu mempesona. Ombak berderu kencang. Udara begitu segar.

Saya menghadapkan wajah saya ke arah kanan dan menatap jauh ke laut. Saya melihat dua orang turis sedang berselancar menikmati ombak.

Saya segera mengambil kamera. Saya yakin, dengan kemampuan super zoom Canon SX 20 is, momen berselancar itu bisa terekam. Meski saya juga yakin, kondisi cuaca akan menghasilkan gambar dengan detik yang buruk. Say harus menaikkan ISO dan penyakit sensor kamera itu, ia tak dapat menangkap detil gambar yang jika kekurangan cahaya atau kondisi mendung.

Tapi, saya mencoba tidak pasrah. Saya berupaya memainkan komposisi dan momen. Merekam pengalaman hari itu yang (sampai sekarang) tak pernah terulang lagi.

Saya menikmati memotret pagi itu, meski diiringi doa hasil gambar di monitor nyaris sama dengan yang tampil di LCD. Selama saya memotret, cuaca bersahabat. Sungguh disayangkan, pagi itu matahari tak kunjung muncul. Jika muncul, barangkali ia dapat memberi efek dramatis plus kesegaran pagi hari.

 

Alat: Canon Powershot SX 20 is

Saya bukan orang yang gemar bangun pagi saat perjalanan. Tapi pagi itu saya bangun lebih awal, dan ternyata sangat berharga
Saya bukan orang yang gemar bangun pagi saat perjalanan. Tapi pagi itu saya bangun lebih awal, dan ternyata sangat berharga

 

Teluk Dalam-2

Teluk Dalam-3

 

 

Hari itu, pantai Teluk dalam cukup sepi. Sayang sekali saya tidak menyempatkan diri berbicara dengan warga lokal. Saat itu, saya belum tahu bagaimana bercerita dan mengumpulkan informasi untuk membangun cerita itu.

Teluk Dalam-5

Teluk Dalam-19

 

 

Saya menyukai pemandangan perbukitan di pesisir Teluk Dalam. Pagi itu kabut masih enggan menguap ke udara. Ia masih betah menutupi pepohonan. Karena hari itu hari Minggu, samar-samar say mendengar nyanyian rohani, entah dari mana asalnya. Saya merasa dari gereja di bukit itu, tapi saya tidak terlalu yakin karena jaraknya yang jauh dan debur ombak pagi itu berisik.

 

Teluk Dalam-4

 

Pagi itu, saya beruntung karena beberapa peselancar mencoba menunggangi ombak.

 

Teluk Dalam-7

Teluk Dalam-8

Teluk Dalam-6

Teluk Dalam-20

 

 

Tak lama setelah saya bangun dan mengamati peselancar, Viona pun turun ke pantai. Ia tak mau ketinggalan merekam suasana di pagi mendung itu.

Teluk Dalam-25

Teluk Dalam-10

Teluk Dalam-12

Teluk Dalam-17

Teluk Dalam-18

 

 

Meirudin, Medi, dan Chintya pun ikut bermain air. Saat itu selfie belum menjamur, jadi butuh orang lain untuk mengabadikan pose narsis.

 

Teluk Dalam-11

Teluk Dalam-13

Teluk Dalam-15

Teluk Dalam-16

 

Dosen saya di Fakultas Geografi selalu bilang: “belum ke pantai kalau belum bermain air”

Teluk Dalam-21
Bergaya ala Daniel Craig dalam Casino Royale. Saya iri dengan badanku empat tahun lalu

 

Puas bermain air, rombongan pun bermain biliar. Jelang siang hari itu, hujan turun setelah langit cukup lama menahannya. Barangkali ia tak tega mengganggu kesenangan kami.

Teluk Dalam-24

Teluk Dalam-23

Teluk Dalam-22

 

Siang itu sebelum kami check out dan bergerak ke Bawomatauwo, kami menikmati late breakfast berharga mahal : mie goreng, mi rebus, dan havermut tawar. Ya harga makanan itu di dapur villa tempat kami tinggal begitu gila.

 

Salam,

 

Eky Santiago

Iklan