Kejadian gempa Yogyakarta pada 29 Mei 2006 tak bakal hilang dari ingatan warga. Bagaimana tidak? Yogyakarta yang saat itu sedang siap-siap menghadapi letusan gunung Merapi, tiba-tiba dikejutkan oleh gempa tektonik akibat pergeseran lempeng di lepas Pantai Selatan pulau Jawa.

Gempa Yogyakarta memang tidak sebesar Gempa Aceh 2004, Gempa Pangandaran 2006, atau Gempa Padang 2009. Tapi gempa itu menewaskan hingga 5.700-an jiwa. Jumlah itu terbilang fantastis mengingat Yogyakarta sering diidentikkan dengan kondisi wilayahnya yang adem. Bencana yang paing diwaspadai adalah letusan Gunung Merapi.

Awalnya gempa itu dikira tanda Merapi akan meletus hebat. Saya ingat, begitu kami keluar rumah, dari jalan kami melihat kepulan asap tampak menyembur dari kawah Merapi. Saya masuk kembali ke dalam kamar kos.

Kemudian gempa susulan menggoyang tanah, kami kembali keluar. Dalam hati saya berkata, “wah kalau begini bakal ada isu tsunami.”

Benar saja, tak lama orang-orang mulai berlarian ke arah utara. Ke arah gunung Merapi yang lokasi lebih tinggi.

“Tsunamiiii…,” mereka berteriak.

“Ayo lari k atas (utara), air laut sudah sampai stasiun,” yang lain berteriak. Itu artinya kraton sudah tenggelam.

Saya tidak percaya karena jarak pantai begitu jauh dari Pogung Kidul, dan saya langsung bergerak ke sekretariat Gegama di Kampus Geografi UGM. Di jalan Bulaksumur, ribuan manusia yang menerima isu tsunami mulai berlarian. Mereka panik dan histeris. Anak-anak yang ditinggalkan orangtuanya yang panik menangis tak karuan.

Saat itu senior saga Setiawan CP berdiri di tembok pagar dengan HT di dangannya. Ia mendapat laporan bahwa tidak ada kenaikan air laut di Parangtritis. Ia mendapat laporan itu dari Pos SAR Parangtritis. Sementara di pinggir jalan, Casli dengan Nikon D70 milik kantor bapaknya mendokumentasikan kejadian itu.

Mendengar berita di HT, CP kemudian berteriak agar warga berhenti dan tidak memercayai isu tersebut. Beberapa anggota Gegama perempuan menuliskan informasi itu di whiteboard. Namun, karena warga panik, tidak ada yang percaya. Yang ada kami malah diteriaki ‘Goblok’ karena tidak bergerak ke Utara.

Untungnya, beberapa jalur komunikasi khususnya HP saat itu belum diputus. Jadi warga perlahan mendapat info bahwa isu tsunami itu palsu. Mereka berhenti dan kembali ke rumah.

Setelah berkeliling melihat kondisi sepanjang siang, saya bersama beberapa teman Gegama menuju markas SAR DIY. Banyak anggota Mapala yang kumpul di sana sebagai sukarelawan untuk membantu evakuasi. Hari-hari pertama pasca bencana akan menjadi hari yang kacau.

Kami mendapat informasi bahwa daerah yang menderita kerusakan paling parah berada di bantul. Pembagian tim pun dimulai. Saya ditempatkan di tim yang berangkat ke kecamatan Pleret di Bantul. Saya sendiri was-was karena tidak dalam kondisi siap. Masalahnya saya tidak sempat memakai sepatu, hanya sendal gunung. Tapi beberapa orang di sana menyuruh tidak masalah. Mereka butuh tenaga dengan cepat.

Kami sampai di Pleret saat hari sudah gelap. Kami tidak bisa melihat kondisi daerah itu. Malam itu kami berkeliling mencari pos yang menyediakan makanan. Dari pleret, kami akhirnya mendapat makan di daerha Wirobrajan. Itu pun setelah berjam-jam truk yang kami tumpangi mencari warung yang buka.

Saya lupa di mana kami tidur. Antara di balai kecamatan Pleret atau di lokasi evakuasi. Yang saya tahu, pagi harinya senior saya Prilya Isna Putra menjadi tim yang mengelola administrasi ransum di lokasi itu.

Pagi itu, tim evakuasi pun bergerak untuk mencari korban. Saya mengingat satu orang yang dipanggil Donal. Ia merupakan ‘alumnus’ sukarelawan gempa Aceh 2004. Pengalaman itu membuatnya begitu peka dengan bau mayat meski hari itu kami yakin jenazah korban tewas belum sampai mengeluarkan bau menyengat.

Saat berada di reruntuhan, Donal menggerak-gerakkan hidungnya seperti mengendus. “hmm di sini nih ada mayat,” kata dia.

Saya tidak ingat berapa jenazah korban yang berhasil di angkat siang itu. Mungkin lima jenazah. Bisa jadi lebih.

Evakuasi korban yang dilakukan sukarelawan berlangsung selama seminggu. Saya ingat, karena seminggu bekerja di lapangan, CP yang begitu lelah tertidur di lapangan basket depan sekret dengan salah satu tangannya memegang botol Aqua. Prilya atau yang kami panggil Mukri juga mengalami cerita yang tak kalah menarik. Ia dijadwalkan hanya membantu di balai kecamatan Pleret selama satu hari. Tak disangka tugas itu diperpanjang sampai lima hari karena saat itu situasi pembagian logistik di Pleret begitu kacau.

Saya sendiri dalam satu minggu pertama hanya sekali membantu evakuasi. Setelah kembali pada hari kedua, rencana hari ketiga saya akan kembali ke sekretarian SAR DIY. Namun saat itu ketua Gegama, Yanelis, meminta saya untuk membantu berjaga di sekretariat, mendata bantuan yang mulai datang dan dikirimkan melalui Gegama.

 

Yogyakarta Earthquake 2006
Rumah warga di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul yang rusak karena gempa
Yogyakarta Earthquake 2006
Bangunan sekolah yang rubuh karena gempa
Yogyakarta Earthquake 2006
Sukarelawan dari SAR DIY masuk ke permukiman untuk mengevakuasi korban

 

Satu hal yang saya ingat dari korban ini. Dua bersaudara, seorang remaja yang ditemukan memeluk adiknya yang masih balita. Saat gempa terjadi sang kakak berlari menyusuri gang sempit. Nahas, tembok gang runtuh dan mengubur mereka berdua.

Yogyakarta Earthquake 2006
Satu korban ditemukan di reruntuhan bangunan
Yogyakarta Earthquake 2006
Pekerja mengangkat korban yang masih remaja

Yogyakarta Earthquake 2006

Yogyakarta Earthquake 2006
Korban balita yang diangkat dari puing-puing bangunan

 

 

Iklan