Saya dan Mira berencana pindah dari Batam ke Makassar tahun depan. Memang belum ada ketok palu soal rencana kami ini, namun kami berupaya menyiapkan tabungan untuk rencana itu. Satu hal yang pasti, jika kami jadi pindah, kami berdua akan menganggur. Karena itu perlu persiapan agar dapur tetap ngebul di tempat baru paling tidak selama enam bulan.

Caranya dengan mengetatkan pengeluaran dari gaji yang jumlahnya segitu-gitu saja. Memang kami berdua mendapat bonus tahunan dari tempat kerja masing-masing sehingga kami tak perlu mengurangi jatah makan demi mengetatkan pengeluaran.

Namun, perhitungan pengetatan kami terancam mawut karena rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak sebelum Januari 2015. Apalagi dalam benak saya, kompensasi dalam bentuk Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar baru bisa dinikmati saat ke klinik atau anak sekolah.

Jadilah saya meracau soal bantuan langsung tunai (BLT), progran jaman Pemerintahan SBY – JK dulu.

Saya : Wah kacau, BBM naik tabungan kita makin kecil.

Mira: Wah, apa kompensasinya ya?

Saya: Katanya Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia. Tapi itu kan tidak seperti BBM, yang bisa kita beli kalau butuh.

Mira: Jadi tidak semua bisa rasakan pengganti subsidi?

Saya: Entah. Mungkin kalau ada BLT, kita ikut ngantri aja.

Mira: Memangnya kita dapat? masuk kategori?

Saya: Dapat lah. Dari segi penghasilan kan kita termasuk masyarakat berpenghasilan rendah. Ya nanti aku ikut aja ngantri. Siapa tahu ada yang bisa ku potret, kalau ada yang beli kan jadinya bonus. Lebih gede dari BLT.

Mira: hmm (mencibir sambil manyun)

Saya: (mrenges)

Iklan