KTP Jakarta tahun 1956

KTP Jakarta tahun 1956

 

Maaf agak SARA..

Kalau punya kenalan orang Kristen yang tinggal di Makassar pada akhir tahun 90-an sampai awal tahun 2000-an, coba tanyakan bagaimana khawatirnya dan repotnya mereka saat harus lewat di jalan antara kampus UMI dan Univ.45, hanya gara-gara di KTP mereka tertulis kata Kristen atau Katolik.

Saat Amerika menyerbu Afganistan dan irak tahun 2002-2003, opa saya naik pete-pete (angkot) melalui jalan utama di antara kedua kampus itu. Tak di sangka ada kerumunan massa yang melakukan sweeping KTP. orang-orang yang di KTPnya tertulis kata Kristen atau Katolik, diseret keluar dari mobil, Bagi massa itu, Amerika Serikat identik dengan Kristen. Itulah sebabnya, mereka melampiaskan kekesalannya pada saudara sebangsanya yang memeluk agama itu.

Banyak orang di Makassar saat itu, termasuk yang Muslim tidak senang dengan aksi itu. Karena terpaksa harus melintasi kerumunan itu, sopit pete-pete menanyai penumpang, apakah ada yang beragama selain Islam? opa saya bilang kalau dia Kristen. Jawaban itu bikin satu pete-pete tegang.

Opa saya duduk di depan bersama seorang penumpang lain. Saat salah seorang dari massa mendatangi pete-pete yang ditumpanginya, opa saya tegang, dan memilih diam. Orang itu mulai menanyakan apa ada penumpang yang beragama Kristen di deretan tempat duduk penumpang? Mereka pun menjawab tidak. Orang itu kemudian bertanya pada opa saya di barisan depan, ia meminta KTP. Opa saya bilang, KTPnya tertinggal di rumah.

Orang itu mulai curiga, “jadi apa agama ta'(kamu)?”

Opa saya yang tegang hanya diam. Dia tahu kalau dia bilang Kristen, pasti diseret keluar. Di lain pihak ia tidak mungkin menyangkali imannya. Opa saya memilih bungkam. Saat orang itu sudah mulai mengancam opa, sorang ibu dari bangku penumpang tiba-tiba berteriak kencang.

“Sudah mi, ndak ada orang Kristen di sini. Semua orang Islam. Ko bikin kita semua terlambat,” kata penumpang itu.

Entak mengapa, teriakan ibu itu mengurungkan niat orang yang sudah mengancam opa. Pete-pete kemudian melaju perlahan keluar dari kerumunan massa yang masih melakukan sweeping KTP.

650 kilometer di utara Makassar, kami di Soroako was-was dengan apa yang terjadi di Makassar pada masa-masa itu. Orang di soroako selalu berupaya menjaga kerukunan agar apa yang terjadi di Makassar tidak sampai ke sana. Itulah sebabny, pertanyaan soal agama jadi hal yang sedikit sensitif dan berupaya dihindari.

Tahun 2000, saat kami akan berlatih sepakbola, seorang teman yang beragama Islam sambil bercanda berteriak sambil menguber teman saya yang Kristen sambil bertanya: “apa agamamu?”

Tingkah itu, walau bercanda membuat kami tidak nyaman. Salah satu teman Muslim kemudian memarahi kawan yang bercanda itu.

“Apa yang ko (kau) bikin itu? ko kira bagus ka? jangan ko ulangi lagi, ndak enak di dengar,” kata kawan itu.

Saat ini, saya tidak mendengar lagi sweeping KTP di Makassar. Demo yang terjadi lebih banyak menentang kebijakan pemerintah. Tapi trauma akan kejadian-kejadian seperti itu tidak pernah hilang, bahkan bagi kami yang saat itu tinggal jauh dari Makassar.

Seperti orang-orang di dalam pete-pete, saya yakin, orang-orang Makassar kebanyakan saat itu menentang aksi sweeping KTP. Namun tidak ada yang mampu menghentikan aksi tersebut.

Makassar sekarang lebih baik dari 10-15 tahun lalu. Meski media masih sering menampilkan adegan di kota yang rencananya tahun depan akan saya tinggali.

Salam damai.

 

Opa (duduk, kanan) dengan keluarga yang datang dari Jakarta, 8 November 2014. Diambil dari FB Obed Bubun
Opa (duduk, kanan) dengan keluarga yang datang dari Jakarta, 8 November 2014. Diambil dari FB Obed Bubun
Iklan