Setelah saya mengajukan pengungduran diri dari Tabloid Femme di Jakarta pada Desember 2011, saya kembali ke Yogyakarta untuk mengurus beberapa hal seperti membantu Elsa di Solo dan membuat paspor. Saya berada di Yogyakarta selama empat minggu sebelum berangkat ke Batam.

Dalam satu kesempatan, saya menyempatkan diri berjalan di Malioboro. Sebagai orang yang lama di Yogyakarta, Malioboro bukan tempat favorit. Pusat kota Yogyakarta itu selalu penuh dengan wisatawan dan menimbulkan macet. Beberapa teman yang asli Jogja mengatakan mereka hanya ke Malioboro hanya kalau terpaksa.

Di bulan Januari 2012, saya pun terpaksa berjalan ke Malioboro. Tujuannya, saya ingin memotret suasana jalanan di sana. Sekalian, saya ingin melihat arena Sekaten, tradisi tahunan Yogyakarta menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Saya tidak menjelajahi Menjelajahi Malioboro. Saya hanya mengambil gambar di perempatan Bank Indonesia, jalan menuju alun-alun utara, dan di arena sekaten. Saat memotrer, saya tidak terlalu serius mananggapi gambar itu. Saya hanya melihat sepintas, kemudian menyimpannya di hardisk.

Seminggu yang lalu, saya melihat kembali gambar-gambar yang pernah saya buat menggunakan kamera prosumer Canon SX 20 IS. Saya pun mendapati kembali gambar-gambar yang pernah saya buat di perempatan Bank Indonesi Yogyakarta itu.

Sebagai fotografer dan penikmat foto amatir, saya melihat banyak warna yang muncul, walaupun saya hanya membuat gambar di tiga lokasi. Meski tidak seramai sepanjang jalan Malioboro, tiga lokasi itu menghadirkan banyak ekspresi, mungkin karena ruang gerak yang lebih lapang, ketimbang saat berdesakan di lapak-lapak Malioboro.

Iklan