Dua hari terakhir, selalu terjadi keributan di Batam. Kemarin, adu kuat antar Brimob Polda Kepri dan Yonif 134 Tuah Sakti Kembali terjadi. Itu merupakan bentrokan kedua dalam dua bulan terakhir. sehari sebelumnya, keributan berlangsung pada unjuk rasa buruh menuntut revisi angka Upah Minimum Kota Batam 2015.

Saya datang ke lokasi siang hari karena melihat sejumlah buruh sudah meninggalkan lokasi. Di antaranya dengan dua unit truk. Setelah belok di pojok menara Masjid Raya ke arah Kantor Walikota Batam, ternyata masih ada ribuan massa buruh yang berkumpul di sana.

Lama tak mendokumentasikan aksi buruh, saya mengeluarkan kamera dan berbaur di tengah-tengah massa buruh. Saya mengambil gambar sebagai koleksi pribadi dan untuk kesenangan saya akan fotografi jalanan. Saya tidak menyerahkannya ke kantor. Batam Pos sudah menugaskan fotografer untuk meliput kejadian ini. Saya pun tak berniat menambah ramai koleksi foto yang akan dipertimbangkan untuk dimuat di koran.

Di bawah ini beberapa gambar yang saya ambil dalam peristiwa itu..

DSC_3212 DSC_3219

Saat saya sampai, pria ini sedang menyampaikan orasinya

Saat saya sampai, pria ini sedang menyampaikan orasinya

Buruh tak hanya berkumpul di jalan depan Kantor Walikota. Mereka juga memenuhi halaman depan Kantor DPRD Batam.

DSC_3240

Para buruh mendengar orasi dari halaman Kantor DPRD Batam

 

 

DSC_3248 DSC_3241 DSC_3257 DSC_3259 DSC_3262

DSC_3246

Sebagai pegawai yang instansinya sedang didemo para buruh, PNS Pemko Batam ini begitu santai berjalan di tengah-tengah demonstran.

DSC_3255

Orasi terus berlangsung dan demonstran pun membentangkan tuntutan mereka.

DSC_3299 DSC_3310 DSC_3353 DSC_3365 DSC_3388 DSC_3282

 

Entah mengapa, suasana mendadak gelisah. Para garda depan serikat pekerja merapatkan barisan.

DSC_3327 DSC_3324 DSC_3357 DSC_3332

 

Di tengah riuhnya massa, saya mencoba mengambil beberapa foto portrait dan candid.

DSC_3417 DSC_3452 DSC_3423 DSC_3400 DSC_3395 DSC_3392 DSC_3414 DSC_3390 DSC_3376 DSC_3371 DSC_3368 DSC_3279 DSC_3266 DSC_3260

 

Saya pun berjumpa dengan Kang Cecep, fotografer Batam Pos yang sedang bertugas.

DSC_3314

 

Di balik pagar Kantor Walikota Batam, petugas keamanan berjaga.

DSC_3418

 

Ketika musik dangdut berdendang, bendera pun dikibarkan.

DSC_3385

 

Lima belas menit dangdut mengalun, garda depan serikat pekerja melangkah mundur. Orator mempersilahkan massa buruh yang ingin mendekat ke gerbang kantor Walikota karena batas waktu yang mereka berikan telah habis.  Suasana kembali tegang.

DSC_3434 DSC_3425 DSC_3428

 

Bak skenario film, Walikota Batam muncul. Ia berdiri di atas kendaraan taktis dengan wajah tegang. Kepalanya menunduk.

DSC_3440 DSC_3450 DSC_3455

 

Penjelasan walikota bahwa ia telah merevisi angka UMK 2015 dari Rp 2,6 juta menjadi Rp 2,8 juta tak diterima buruh. Botol air mineral pun melayang. Disertai batu. Polisi membalas dengan menembakkan gas air mata. Massa berhamburan.

DSC_3456 DSC_3462 DSC_3471 DSC_3474 DSC_3497 DSC_3499

 

Selesai mengambil foto ini, saya menurunkan kamera dan melihat batu melintas sejengkal di depan kepalaku.

DSC_3493

 

Polisi terus menembakkan gas air mata. Yang terkena gas itu akan mrasa perih di mata, hidung, mulut, tenggorokan, dan kerongkongan. Itulah kenapa banyak yang segera membasuh kepala mereka di kolam Masjid Raya Batam.

DSC_3514 DSC_3518 DSC_3520

 

Polisi terus berusaha membubarkan pendemo. Buruh yang tunggang langgang ternyata meninggalkan motor mereka. Sebagian dengan panik dan ketakutan mengambil motor mereka. Orator buruh memohon polisi tidak melakukan pengrusakan pada motor pekerja.

DSC_3540 DSC_3534 DSC_3545 DSC_3547 DSC_3553 DSC_3574 DSC_3585

Ketika situasi dirasa aman, rombongan polisi meninggalkan lokasi.
DSC_3590 DSC_3591 DSC_3581

Terima kasih sudah mampir hari ini.

 

 

 

Iklan