KM Terigas adalah salah satu kapal perintis yang jadi andalan transportasi warga di kepulauan Natuna dan Anambas.

————

Pukul 09.45 WIB. Pompong terakhir meninggalkan dermaga Midai menuju kapal perintis KM Terigas yang buang sauh hampir satu kilometer dari garis pantai. Saya dan fotografer Iman Wachyudi menumpang pompong itu bersama dengan beberapa rombongan dari Dinas Kependudukan Kabupaten Natuna.

Sebelumnya beberapa rombongan telah lebih dulu naik ke Terigas. Mereka adalah rombongan pedagang yang saat kapal itu buang jangkar pada pukul enam pagi turun berjualan di dermaga Midai. Rombongan Dinas Pemberdayaan Perempuan yang datang ke Midai dengan kami juga telah lebih dulu naik ke Terigas. Selain mereka, beberapa penumpang berangkat dari Midai ke sejumlah pulau tujuan.

Seperti kapal besar lain, pagi itu Terigas tidak bisa bersandar di dermaga Midai. Kondisi Pulau Midai yang dikelilingi karang membuat kapal besar tidak berani merapat karena perairan yang dangkal. Pada beberapa kesempatan, Terigas dapat berlabuh di sebuah dermaga di dekat kantor Kecamatan Midai. Ayi, warga yang memandu kami selama di Midai, sempat melihat kapal itu coba bersandar di dermaga tersebut namun tak berhasil.

Tak sampai lima menit, pompong yang kami naiki sudah sampai ke Terigas. Dari kejauhan, kapal ini tampak angkuh dengan lapisan cat hijau yang terkelupas di sana-sini. Dari permukaan laut, tinggi kapal itu dengan dek hanya sekitar tiga meter. Jejeran terpal menutup seluruh geladak utama seperti tenda pramuka yang besar. Di bawah terpal tampak tumpukan tas, kardus, dan karung memenuhi bagian tengah dek. Beberapa penumpang kapal mengamati pompong yang kami naiki. Beberapa lagi tidak peduli dan mengerjakan aktivitasnya sendiri.

Pompong kemudian merapat di samping kapal. Sangat dekat tapi tak sampai menyentuh pinggir kapal. Ombak pagi itu tak besar sehingga pompong tidak bergoyang dengan kencang.

Penumpang lanjut usia lebih dulu naik ke atas kapal. Seorang lelaki dan diikuti wanita lanjut usia naik ke Terigas. Untuk naik ke Terigas, Penumpang lebih dulu naik ke atap pompong kemudian menumpukan satu kaki ke sebuah ban yang diikat pada pagar pembatas geladak Terigas. Penumpang lain kemudian menyusul naik ke geladak kapal termasuk termasuk saya dan fotografer Iman Wachyudi.

Kami mengambil tempat di pinggir geladak di depan ‘pintu masuk’, tempat kami memanjat naik ke kapal. Penumpang lain baik yang, berangkat dari Midai maupun mereka yang berangkat dari Tanjungpinang atau Tarempa sebagian sudah membaringkan tubuhnya. Mereka tidur beralaskan kasur yang telah tipis dan lusuh. Sebagian kasur bahkan sudah berbau apak. Tapi, ketimbang menghabiskan energi selama perjalanan, mereka lebih memilih membaringkan badan.

Geladak Terigas disulap menjadi tiga lajur utuk penumpang yakni di kedua pinggir dan di tengah kapal. Di antara lajur itu dibangun sekat dari tumpukan tas, kardus, dan karung. Sedangkan di ujung haluan seluruhnya ditutupi tumpukan kardus.

Tepat jam 10.30, KM Terigas mulai berlayar meninggalkan perairan Midai. Cuaca pagi menjelang siang itu cerah. Dari informasi yang kami dapat, perjalanan ke Pulau Sedanau memakan waktu enam jam. Kami rencananya akan turun di Sedanau dan menginap semalam sebelum melanjutkan dengan speedboat menuju Pulau Bunguran tempat Kota Ranai berada.

Sebenarnya kami bisa sampai ke Ranai menggunakan Terigas. Namun perjalanan akan memakan waktu hampir dua hari karena dari Sedanau, kapal tersebut akan berlayar dulu ke Pulau Laut, salah satu pulau terluar Indonesia sebelum berlayar menuju dermaga Penagi di Ranai. Terigas sendiri akan tinggal satu malam di Sedanau.

Ketika kami mengatur barang bawaan, salah seorang penumpang menawarkan kasur.

“Silahkan dipakai untuk tidur,” kata pria yang tampak belum berusia 20 tahun itu. Di atas kapal, ia bertelanjang dada. Beberapa pria lainnya juga bertelanjang dada, menanggapi gerahnya hari itu.

“Terima kasih,” jawab kami kompak. Satu kasur itu kami rapikan. Kemudian kami menyelonjorkan kaki ke arah laut.

Tak lama seorang pria hitam bertubuh gempal menghampiri saya yang sedang duduk sendiri. Sementara Iman sedang mengambil beberapa foto kondisi geladak kapal.

“Mau ke mana, bang?” tanya pria itu.

“Sedanau, bang. Abang dari mana?”

“Kami dari Sintete, Pemangkat, di Kalimantan. Semua pedagang dari sana, tidak jauh dari pelabuhan,” terang dia.

Kami kemudian berkenalan. Pria itu menyebutkan namanya Beri. Ia merupakan salah satu pedagang yang berdagang di KM Terigas. Bersama dengan dia ada belasan pemuda lain lain dari Sintete memilih menyambung hidup dengan berdagang di daerah-daerah yang disinggahi kapal itu.

“Saya sudah berdagang seperti ini selama 10 tahun sejak lulus SMA. Setahu saya, sayalah yang paling lama berdagang di Terigas ini,” kata Beri yang pada lengan kanannya tergambar tato pisau yang menancap di hati.

Selama sepuluh tahun itu, waktu Beri kebanyakan berada di atas KM Terigas. Ia hampir tak pernah absen dalam setiap pelayaran kapal perintis itu.

Sekali pelayaran memakan waktu sepuluh hari. Beri dan pedagang lain memulai pelayarannya dari Sintete dengan rute Tembelan–Tanjungpinang–Letung–Tarempa–Midai–Sedanau–Pulau Laut– Penagi (Ranai)–Pulau Subi–Pulau Serasan–dan kembali ke Sintete. Di Sintete, KM Terigas istirahat selama dua hari, namun itu tidak membuat Beri dan pedagang lainnya ikut beristirahat. Ia harus mencari jeruk untuk dijual di Terigas dan berbagai daerah yang disinggahi.

Dalam satu pelayaran, modal Beri mencapai Rp 18 juta. Namun pada saat kembali ke Sintete, ia bisa mendapat untung hingga Rp 2 juta. Jika tiga kali berlayar dalam sebulan, berarti ia bisa mengumpulkan sekitar Rp 6 juta untuk keluarganya. Tanggung jawabnya semakin besar apalagi ia sudah menikah selama dua tahun dan memiliki anak berusia enam bulan.

“Istri saya mau tak mau mengerti cara saya menghidupi keluarga seperti ini,” kata dia. Ia mengaku, punya waktu paling lama bersama keluarga saat Lebaran.

Di tengah percakapan kami, seorang awak kapal datang membawa tiket. Dari wajahnya, tampak ia keturunan Tionghoa. Ia mengeluarkan tiket bertulis Terigas 5 kemudian bertanya, “Ke mana Bang?”

“Sedanau.”

Ia membiarkan tiket itu kosong dan meminta uang Rp 50 ribu, harga tiket untuk perjalanan dari Midai ke Sedanau. Pria itu tak banyak bicara. Setelah menerima uang, ia lalu bergerak ke penumpang lain yang bersama saya naik dari Midai.

***

KAPAL Motor Terigas merupakan satu dari dua kapal perintis yang berlayar mengarungi laut Kepulauan Riau. Selain Terigas, KM Sabuk Nusantara 39 juga melayari rute yang nyaris sama. Bedanya, Terigas berangkat dari Sintete, Kecamatan Pemangkat, Kalimantan Barat sedangkan Sabuk Nusantara berangkat dari Tanjungpinang. Keduanya dioperasikan oleh perusahaan swasta. Khusus Terigas, ia dioperasikan oleh PT Mitra Nusantara Raya.

Meski terlihat lusuh dan kotor, Terigas merupakan ‘juruselamat’ bagi warga pulau-pulau di Kepulauan Riau, khususnya di wilayah Kabupaten Natuna dan Anambas. Kapal inilah, bersama Sabuk Nusantara, yang mendistribusikan kebutuhan masyarakat pulau-pulau kecil di provinsi dengan jumlah pulau sebanyak 2.408 ini.

Dari Kalimantan, Terigas membawa jeruk dan, terutama, gula. Komoditas pemanis itu kemudian didagangkan di tempat-tempat yang disinggahi. Tak hanya berdagang, di tempat Terigas berlabuh, para pedagang juga belanja kebutuhan-kebutuhan yang akan mereka jual di pulau lainnya.

Di Tanjungpinang, misalnya, para pedagang membeli sayur-sayuran, duku, saos, beras, sampai pakaian dan alat-alat rumah tangga. Kebutuhan itu lalu dijual di pulau-pulau seperti di Letung dan Tarempa. Di Tarempa, para pedagang dari Kalimantan itu menjual dagangannya paling banyak ketimbang di pulau lain sepanjang pelayaran.

“Di sana kami bisa mendapat tiga sampai delapan juta (rupiah) sekali singgah,” kata Beri. Barang dagangan mereka biasanya dicari oleh pedagang lokal untuk dibeli dan dijual kembali di ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas itu. Pedagang setia menanti di dermaga saat Terigas dijadwalkan berlabuh. Bahkan jika kapal telat dari jadwal dan baru datang tengah malam atau bahkan subuh, mereka setia menunggu.

Di Midai, Terigas selalu dijadwalkan buang sauh sekitar pukul enam pagi. Pedagang kemudian pindah ke pompong menuju dermaga untuk menjual barang dagangan yang mereka bawa dari Tanjungpinang. Buah-buahan dan sayur tahan lama cukup laku di Midai. Di pulau itu, pedagang juga membeli cabe dan barang yang baru dikirim dari Kalimantan untuk mereka jual di daerah tujuan selanjutnya seperti Sedanau, Pulau Laut, dan Ranai. Nantinya di Ranai mereka belanja lagi untuk dijual pada masyarakat Pulau Subi dan Serasan.

Camat Midai, Suherman, mewanti-wanti kami saat mendengar kami akan pergi ke Sedanau menggunakan Terigas.

“Biasanya Terigas membawa karet dari Midai. Kalau di kapal, karet itu bau sekali. Jadi siap-siap tahan baunya kalau kapal itu mengangkut karet,” kata Suherman.

Siang itu, Terigas ternyata tidak mengangkut karet. Jadi tidak ada bau busuk seperti yang dikatakan Suherman.

Kebanyakan penumpang berbaring dan tidur selama perjalanan. Sementara anak-anak berkumpul di tengah geladak bermain tepuk kartu yang bergambar tokoh-tokoh superhero Jepang. Mereka ceria tanpa beban memikirkan perjalanan panjang yang akan mereka tempuh.

Sementara itu, dua buah pengeras suara (load speaker) mengeluarkan jenis rekaman yang kontras. Satu mendengangkan dangdut, sementara lainnya memutar tauziah. Namun tidak ada yang sewot dengan perbedaan itu.

Para pedagang satu per satu berbaring dan terlelap.

Tapi itu tak lama karena salah satu wanita rombongan Dinas Pemberdayaan Perempuan Natuna memanggil Beri.

“Bang… Bang.. Beli jeruknya,” kata perempuan yang memotong pendek rambutnya hingga leher. Ia memanggil dengan sedikit berteriak dan tersenyum.

“Bang..,” ia kembali memanggil.

“Ah, mengganggu aja, orang baru mau tidur,” kata Beri, cuek. Ia menelungkupkan tubuhnya. Kali ini anggota lain rombongan dinas itu yang meminta. Beri kemudian bangun.

Ia berjalan menuju tumpukan kardus berisi jeruk yang dibawa dari Sintete.

“Berapa?” tanya Beri

“Satu kilo aja,” kata perempuan yang pertama memanggilnya.
“Ah, sedikit betul.”

“Biarlah, itu juga enggak habis sampai Sedanau.”

Melihat Beri membuka kardus buah dagangannya, penumpang lain yang berangkat dari Midai ikut membeli duku dan salak. Pedagang buah umumnya menjual jeruk dan duku di Terigas dan daerah persinggahan seharga Rp 15 ribu per kilo. Mereka mendapat untung hampir dua kali lipat karena membeli buah-buahan itu seharga Rp 8 ribu di Kalimantan dan Tanjungpinang.

Karena dibangunkan oleh pembeli, Beri tidak dapat kembali tidur. Begitu juga rekan-rekannya yang lebih muda. Melihat rekan-rekannya bangun, Beri mengambil beberapa buah jeruk. Ia lalu mengambil botol air mineral 1,5 liter yang sudah dibuang mulutnya. Ia membelah jeruk-jeruk itu dan bersama tiga rekannya ia memeras air jeruk ke dalam bekas botol air mineral. Setelah semua jeruk tuntas diperas, salah satu dari mereka membawa botol itu ke kantin yang letaknya di bagian belakang geladak. Ia kembali ke kumpulan dengan isi cangkir darurat itu lebih banyak dan berwarna oranye. Di kantin ia membeli susu dan es batu yang dicampur ke dalam perasasan air jeruk.

Setelah sejak subuh mereka berjualan di Midai, siang itu di bawah terpal Terigas para pedagang merasa gerah. Setelah bertelanjang dada, campuran air jeruk dan susu ditambah es batu tampaknya menyegarkan dahaga mereka. Empat orang itu minum bergiliran. Salah satunya kemudian mengangkat wadah plastik itu dan berpaling pada saya.

“Mari, minum bang.”

***

Penumpang kapal Terigas siang itu relatif sedikit. Salah satu pedagang mengatakan, penumpang masih bisa selonjor dan mendapatkan tempat yang lapang untuk berbaring. Jumlah pedagang pun jauh berkurang.

Biasanya ada sekitar 30-an pedagang dari Sintete yang berlayar dengan kapal Terigas. Namun, pada pelayaran itu, hanya ada 11 pedagang yang ikut.

“Saat kami berangkat, di Pontianak sedang ada acara untuk komunitas Islam Tablig. Belasan pedagang yang biasanya ikut dengan Terigas memilih untuk mengikuti acara itu,” kata Leo, salah seorang pedagang.

Jumlah penumpang Terigas paling banyak tercatat menjelang hari raya Idul Fitri. Saat itu rombongan besar pekerja di pabrik-pabrik kayu di Kalimantan mudik ke Tanjungpinang. Syahrul, pedagang di Terigas mengatakan jumlah penumpang bisa mencapai 600 orang.

Banyaknya jumlah penumpang membuat semua barang-barang yang biasanya ditaruh di geladak harus dimasukkan ke dalam palka atau lambung kapal. “Bahkan kalau saking penuhnya, ada penumpang yang duduk di dalam palka,” ungkap Syahrul.

Wartawan Posmetro Batam, Agus Bagjana, pernah menumpang Terigas dalam kondisi penuh. Agus kerap mengikuti rombongan salah satu pimpinan DPRD Natuna, Hadi Chandra, saat kunjungan kerja ke pulau-pulau.

“Kalau penumpang Terigas penuh, jangan berharap bisa tidur di kapal. Selonjor pun tidak bisa. Penumpang harus duduk sambil menekuk lutut selama perjalanan.” kata Agus. “Bayi-bayi banyak diletakkan di dalam ayunan yang di gantungkan di kayu rangka atap geladak.”

Terigas sejatinya bukan kapal penumpang. Namun ia menjadi alternatif bagi penduduk untuk penyeberangan antar-pulau karena jadwal KM Bukit Raya yang relatif lama dan risiko yang besar yang harus ditempuh jika mengarungi laut menggunakan pompong atau kapal dari kayu.

Agus pernah mengalami risiko tersebut ketika ia meliput rombongan Hadi Chandra ke sebuah pulau. Hadi terkenal tidak pilih-pilih moda transportasi laut yang digunakan untuk berkunjung. Apa yang ada dan bisa mengantarnya dalam waktu cepat pasti itu yang dipilihnya. Satu kali ia terpaksa menggunakan perahu kayu bermesin tempel. Di tengah perjalanan dengan gelombang besar, mesin perahu itu mati. Satu sapuan gelombang mengangkat haluan dan nyaris membuat perahu itu berada dalam posisi vertikal. Untung perahu mereka tidak sampai dibalikkan oleh gelombang. Dan syukur, mesin perahu itu bisa kembali hidup.

***

DI tengah penampilannya yang lusuh, KM Terigas termasuk tepat waktu. Tepat enam jam setelah berlayar dari perairan Midai, kami memasuki perairan sekitar Pulau Sedanau. Saat jam menunjukkan pukul 16.30 Satu demi satu bangunan kelong milik nelayan setempat tampak dengan latar belakang perbukitan Pulau Sedanau.

Makin lama makin banyak. Bukan hanya kelong yang digunakan untuk mengambil ikan bilis namun rumah–rumah petambak dengan karamba yang berisi ikan napoleon, lobster, dan kerapu. Jenis biota laut itu termasuk jenis mahal dan kerap diekspor ke Hongkong.

Matahari sore bersinar lembut saat kapten merapatkan kapal di dermaga Sedanau. Satu per satu penumpang turun. Mereka yang akan melanjutkan ke Pulau Laut atau ke Subi, Ranai, Serasan, hingga Sintete harus menginap di Sedanau bersama Terigas. Kapal baru melanjutkan perjalanan esok hari pukul 09.00.

Para pedagang seperti Beri, Leo, dan Syahrul menurunkan barang mereka. Kali ini mereka tidak berjualan di dermaga melainkan ke Pasar Sedanau. Motor yang menarik bak terbuka satu per satu datang menjemput para pedagang dan barang dagangannya menuju pasar. Selama beberapa jam, mereka berusaha mengumpulkan rupiah sebelum kembali berlayar bersama Terigas. ***

 

(Terbit di Majalah Batam Pos Edisi 60)

Iklan