Hari Sabtu, 13 Desember 2014, lalu jadi hari yang istimewa. Sahabat saya sejak SMP, Yusuf Muda Utama (Icup), akhirnya melepas masa lajang dengan mempersunting Windy Harfiani. Mereka adalah dua dari sekian banyak arsitek muda Indonesia yang berkarya di Singapura. Sudah satu tahun saya tak berjumpa Icup dan Windy. Terakhir saya bertemu mereka, saya dalam rangka mencari pembantu rumah tangga asal Indonesia yang mendapat warisan Rp 10 miliar dari majikannya warga Singapura yang meninggal dunia.

Pesta diadakan di Gedung (atau joglo raksasa) Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah. Resepsi digelar dengan ada Sumatra Barat, asal orang tua Windy. Sehari sebelumnya, ijab qabul dilaksanakan dengan adat Sunda, asal keluarga bapaknya Icup. Acara itu memang bukan resepsi biasa. Ya, itu sebuah pesta syukuran dengan aneka menu ala Eropa, Jepang, hingga Padang. Band pengiringnya juga The Dance Company, minus Aryo Wahab. Malam itu Aryo tidak tampil karena ia pulang sudah membawa uang (halah!).

Saya datang dengan teman saya saat di Tabloid Femme, Yohanes Adi Pamungkas. Ia saat ini bekerja sebagai wartawan Tabloid Bintang. Berdua kami membonceng Scoopy selama sejam lebih dari Ciledug, yang membuat pantat saya kram saat sampai parkiran Sasono Utomo. Yohan bilang kami berdua sebagai a partner of crime. Saya pun bercerita soal pengalaman kami datang ke pernikahan kedua Darwis Triadi hanya untuk mencari seorang sosialita bernama Maya Ludy yang digosipkan punya hubungan spesial dengan Aburizal Bakri.

Saya sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk hadir di nikahan Icup dan Windy, sejam setelah Icup mengirim undangan via grup anak Sorowako angkatan 2004 di Facebook, hampir sebulan yang lalu. Buat saya, adalah satu kehormatan untuk datang dan menyaksikan kegembaraan Icup dan keluarga om Ikin Sukirman hari itu. Setahun lalu, om Ikin dan tante Atik juga hadir ke acara pernikahan saya di Yogyakarta.

Secara pribadi, saya selalu menganggap keluarga Icup sebagai keluarga saya sendiri. Saat kami SMA di Bandung, saya selalu menginap di rumah Icup setiap lebaran, menikmati ketupat yang dimasak bibinya Icup yang gedenya segaban. Setelah lulus SMA, saat saya main ke Bandung, saya paling sering nginap di rumah Icup, meski Icup berada di Jakarta atau di Singapura. Selain menginap, saya selalu menunggu bubur Manado masakan tante Atik. (Sumpah, tidak ada yang bisa menandingi kelezatan bubur Manado tante Atik lengkap dengan sayur seperti kangkung, labu, dan ikan asin.)

Tak sukar diprediksi, malam Minggu itu jadi ajang reuni buat untuk anak-anak Sorowako angkatan 2004. Dan malam itu jadi reuni kecil. Memang kecil karena tidak semua kawan-kawan Sorowako di Jakarta yang hadir. Paling tidak saya masih berjumpa dengan beberapa kawan akrab semasa sekolah di Sorowako.

Paling dekat, saya berjumpa dengan Kiki yang datang di pernikahan saya tahun lalu. Lainnya, Dian Ayu yang tak pernah saya jumpai sejak 2011 saat kami menjenguk Murman di RSPP. Saya juga berjumpa dengan Muliadi dan Bella setelah terakhir saya mudik saat kelas 3 SMA. Asri Kania, terakhir jumpa di saat kami sama-sama SMA di Bandung. Saya juga bertemu dengan Sandy Priyadi, kawan yang memancing saya untuk belajar merokok saat SD (heuheu..untung tidak kebablasan), dia pindah ke Jakarta setelah kelas 1 SMP. Paling lama saya tidak bertemu dengan Maureen. Setelah lulus SD, dia pindah ke Filipina dan selanjutnya menetap di Kanada. Kami tidak pernah jumpa setelah terakhir Maureen mudik saat kami kelas 2 SMP. Dia beberapa kali pulang ke Jakarta dan Makassar, tapi kami tidak pernah bertemu. Lebih tua dari saya, saya bertemu dengan Benji Samosir, yang terakhir saya jumpai saat acara perpisahan di rumahnya, tahun 1995. Adik Benji yang seangkatan dengan saya, Chessy, malam minggu itu sedang tidak berada di Jakarta.

Di samping rekan-rekan dari Sorowako, saya juga bertemu dengan kawan dari SMA 5 Bandung yang sejurusan dengan Icup di Arsitek Unpar. Saya sudah mengantisipasi hal itu. Awalnya saya mengira teman SMA 5 lulusan Ars Unpar yang datang hanya teman-teman yang berada di Indonesia seperti Wahyu dan Grahita Ayu. Ternyata dugaan itu meleset. Malah saya bertemu dengan dua alumni Lima 2004 dari Singapura: Ivan dan Arieni Lestari. Saya tidak tahu kalau Ivan bekerja di Singapura. Sementara Arien, ternyata saat ini dia sudah bekerja di Jakarta, sebelumnya saya mengira dia dan suaminya masih menetap di Singapura. Saya baru bertemu keduanya setelah kami lulus SMA pada 2004 lalu.

Kepada Ivan, saya tanya, apa dia masih sering main sepakbola? Dia bilang dia sudah pensiun dari aktivitas menyepak bola. (Sungguh disayangkan, di usia emas 28 tahun playmaker dengan visi dan umpan paling akurat se-SMA 5 Bandung harus gantung sepatu… haissssh). Sayang, saya lupa bertanya ke Arien, apa dia masih mengikuti kiprah bintang sepakbola kesayangannya, Alex Del Piero yang sekarang masih sibuk mengumpulkan rupee di Liga Super India saat temannya seperti Inzaghi dan Zidane sudah jadi pelatih.

Yang tak kalah ramai adalah reuni ex Inco. Setiap ada anak Sorowako yang menikah, terutama di Jakarta, Bandung, Makassar dan Yogyakarta, selalu menjadi ajang reuni dari keluarga pensiunan PT Inco. Saat melihat keceriaan seperti itu, dalam hati saya merasa sedih karena Bapak dan Ibu sering kali (bahkan selalu) tidak bisa berkumpul seperti ini, walau singkat. Tidak seperti kebanyakan temannya, selepas pensiun, Bapak memilih pulang ke sebuah desa (merasa kota kecil) bernama Mangkutana, sekitar 100 km dari Sorowako dan bertani di sana. Akibatnya, bapak dan ibu akan selalu melewatkan setiap undangan pernikahan dan kesempatan untuk bertemu dengan ex Inco lainnya. Saat saya menikah, saya merasakan kebahagiaan ganda karena melihat bapak dan ibu bisa bertemu dengan sejumlah ex-Inco di Yogyakarta.

Saya tahu saya tidak akan dikenal oleh kebanyakan ex Inco sebelum saya bilang: “anaknya Santiago.”

Pembicaraan pun mengalir dengan pertanyaan “aaa Santiago. Bagaimana kabar Bapak?”

Hehehe, bapakku memang misterius karena dia kesulitan (sebenarnya tidak sanggup) menggunakan Yahoo Mail dan Facebook. Setiap hari bapak hanya membuka situs berita favoritnya seperti beritasatu.com atau kompas.com. (Jadi untuk mengontak bapak, om tante ex-Inco mungkin bisa lewat bagian komentar di dua situs itu.. heuheuheu)

Setelah bertanya kabar, muncul pernyataan, “aaahhh pantas mirip sekali dengan Pak Santi”.. Mirip pendeknya..

Dua atau tiga jam malam itu sangat saya syukuri. Saya bersukur untuk Icup dan Windy beserta keluarga, dan saya bersyukur untuk reuni singkat itu. Bahkan, suasana itu membuat saya lupa kebiasaan saya di kondangan untuk icip-icip aneka makanan. Setelah menyantap pasta dan empat potong bolu, saya tak lagi merasa lapar saat bertemu satu per satu kawan lama.

Besoknya, Yohan cerita kalau makanan di resepsi itu banyak banget, dan masih banyak tersisa bahkan setelah tamu yang datang begitu banyak. Saya menelan ludah. Tapi, tak ada yang harus disesali. Seperti yang saya bilang, malam itu adalah malam yang istimewa. Dan saya rela melewatkan sesi icip-icip agar tak melewatkan malam istimewa itu.

 

Saya pertama bertemu Kiki, lalu berjumpa Muli dan istrinya
Saya pertama bertemu Kiki, lalu berjumpa Muli dan istrinya
R0013164
Selanjutnya muncul Bella (membelakangi) bersama Babe atau om Bambang Edi (kacamata). Belakangan saya juga bertemu Sandy.
R0013165
Dan ini dia bintang utama yang kami tunggu: Dian Ayu Lestari. Bekas tetanggaku di jalan Maluku yang datang dengan ibunya, tante Ani Edwin. Apa yang saya ingat kalau ketemu ibunya Ayu? Kue tart dan sus kering
R0013163
Dan selfie pun dimulai
R0013167
Maureen (kiri) jauh-jauh datang dari Kanada.. menghindari musim dingin
R0013172
Saya gak bohong, band pengiringnya The Dance Company
R0013176
No comment kale ini may
R0013179
Tamu Icup begitu banyak sehingga kami tak bisa berlama-lama saat berfoto. Selfie ini cukup membuat secret service yang mengawal acara malam itu gusar.
R0013180
Geser ke kiri, kami selfie dengan om ikin dan tante atik. Secret service yang manis makin gusar.
R0013182
Setelah 20 tahun, saya ketemu lagi dengan Babe..
R0013185
Beberapa ex-Inco malam itu
R0013188
Kalau ini, campur dengan anak-anak eks YPS.. Kecuali saya yang motret
R0013192
Om Omri Samosir beserta ibu mengapit ibunya Ayu.

 

Terima kasih sudah berkunjung.

 

Iklan