Sejak saya menyadari minat saya pada fotografi jalanan, saya membutuhkan kamera yang lebih kecil. Saya tidak bisa lagi mengandalkan Nikon D90 kesayangan saya. Kamera DSLR sepertinya mengintimidasi subyek foto saya dan saya sendiri. Orang akan takut ketika lensa DSLR diarahkan kepadanya. Saya sendiri tidak senang dengan pertanyaan “bapak wartawan dari mana?”

Dua bulan terakhir saya mencari jawaban kamera kecil untuk saya. Leica mungkin ada di pikiran pertama. Tapi saya tahu diri dong, tak mampu awak membeli kamera ekslusif itu. Barangkali, saya bisa mendapatkannya kalau saya memeras walikota karena saya mendapatinya selingkuh (itu selalu fantasi saya jika saya berangan-angan seperti Oppie Andaresta).

Saya juga tak bisa berharap memiliki keluarga Fuji X100 yang sedang digilai fotografer jalanan. Harganya senilai D90 yang beberapa bulan lalu saya beli. Saya belum mau menjualnya. Mira pun bakal murka kalau saya menjualnya seluruh perkakas D90 demi sebiji X100.

Saya pun mencari kamera poket. Namun, sejak awal, saya tidak ingin sembarang kamera poket. Saya ingin kamera yang memiliki format RAW. Bukannya apa, ada cita-cita saya suatu saat saya bisa membuat buku atau foto saya ikut dalam sebuah pameran. Saya tidak bisa mengandalkan hasil gambar JPEG yang resolusinya hanya 72 dpi, seperti kamera prosumer Canon SX20is yang saya miliki. Minimal saya butuh resolusi 300 dpi atau sekalian format RAW. Saya tahu, itu menuntut saya memiliki ruang hardisk yang lebih besar untuk menyimpannya.

Dari beberapa situs web dan blog favorit, seperti Eric Kim Photograhy dan Shoot Tokyo, saya tahu satu kamera poket favorit fotografer jalanan. Ia adalah Ricoh GRD.

Saat ini, Ricoh mengeluarkan Ricoh GRD V atau yang biasa disebut hanya Ricoh GR. Namun, saya kecewa setelah tahu harga Ricoh GR di situs Focus Nusantara mencapai Rp 8,5 juta. argghh…

Di Batam khususnya, nama Ricoh tak pernah populer selain produsen mesin fotokopi. Ia memang tak mengeluarkan kamera DSLR. Namun, sejarah Ricoh di bidang kamera poket begitu mendunia.

Seri digital Ricoh GR sendiri baru populer pada seri GRD iii. Ricoh melakukan banyak penyempurnaan untuk produknya yang diluncurkan pada 2009 lalu. Sempat meluncurkan Ricoh GRD IV yang tak memiliki perbedaan signifikan dengan seri iii, Ricoh meluncurkan GR V yang menjadi kamera poket dengan sensor APS-C pertama di dunia. Sensor ini seukuran yang dimiliki D90, dan jauh lebih besar dari sensor GRD iii dan IV yang hanya 1/1,7′. GR jelas memiliki kualitas gambar yang lebih baik.

Saya sempat melihat kualitas gambar GRD iii dan IV di flickr. Saat melihat gambar dengan resolusi asli 10 mp, saya cukup kecewa karena jika diperbesar, hasilnya seperti goresn kuas cat air.

Saya pun mencari alternatif lain, yakni Olympus yang juga merupakan pemain legendaris di bidang point and shoot. Saya mengincar XZ-2 atau XZ-10. Keduanya bisa RAW, dengan LCD sentuh. Jadi fokus bisa dilakukan dengan menyentuh LCD, mirip smartphone. Saya pikir, fasilitas itu akan sangat membantu saat membuat gambar candid di jalanan.

Singkat kata, saya gagal mendapat salah satu dari keduanya.

Dilalah, saya mendapat info ada yang menjual Ricoh GRD iii seken seharga hanya Rp 2 juta di situs bukalapak.com. Setelah mempertimbangkan dan melihat hasil-hasil foto pemiliknya, saya memutuskan untuk membeli. Saya hanya ingin merasakan sensasi dan kemampuannya. Saya tak terlalu memikirkan kualitas gambarnya yang seperti goresan cat air pada resolusi maksimal.

Untungnya, bukalapak.com memiliki fasilitas rekening bersama seperti bursa fotografer.net. Jadi saya tidak khawatis jika barang tak dikirim atau kualitasnya tak sama dengan yang diiklankan.

Empat hari setelah memesan, barang pun datang. Tepat sehari sebelum saya berangkat ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Icup dan undangan Kompetisi Jurnalistik PGN.

Hari Sabtu tiga minggu lalu saya pun meninggalkan Nikon D90 di rumah. Saya membawa Ricoh GR iii dan kamera film Fujica MA-1. Saya tak punya harapan tinggi dengn GRD iii. Saya hanya ingin tampil sebagai turis, atau apa yang saya katakan sebagai ‘fotografer kacang’, fotografer yang menggunakan kamera kecil dan bukan DSLR besar dengan lensa zoom yang besar. Saya pun tak mencari kamera poket dengan zoom yang alay sampai berpuluh-puluh kali. Maksimal lima kali. Namun, saya mendapat lensa berkualitas prima karena ricog memiliki lensa fix ekuivalen dengan 28 mm pada kamera full frame.

Berikut beberapa gambar pertama saya dengan Ricoh GR iii. Untuk kali ini, saya mencampur gambar warna dan hitam putih.

Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri memotret kontrakan dan jalan depan kompleks kami.

R0012944R0012945

 

R0012950

 

Di bandara Hang Nadim, saya tak lupa membuat beberapa gambar.

R0012972 R0012976 R0012978 R0012993 R0012998 R0013010 R0013027 R0013030

Di pesawat saya mendapat teman duduk yang menarik.

R0013049

Saat lepas landas selalu jadi hal yang menarik. Saya bisa melihat bagaimana pembangunan di Batam tak lagi menyisakan hutan mangrove di area pesisirnya.

R0013046 R0013064 R0013059

 

Saya menoleh ke kiri, dan saya tidak ingin mengganggu ketenangan teman duduk saya.

R0013069

 

Kepadatan di Cengkareng berbeda dengan Batam.

R0013077

 

Dan saya pun mendarat di Soetta.

R0013105Sekian untuk kali ini.  Berikutnya saya akan menulis beberapa foto-foto jalanan selama di Jakarta.

 

Terima kasih.

 

 

Iklan