Ketika saya pulang kampung ke Magkutana, saya membawa dua bua kamera. Yang pertama DSLR Nikon D90, dan lainnya adalah point and shoot Ricoh GRD iii. Rencana saya membawa kamera analog Fujica ditentang Mira yang tidak mau saya membawa terlalu banyak kamera.

Saya menggunakan lensa kit D90 18-105 mm yang bukan lensa favoritku. Saya selalu lebih senang dengan lensa prima 50 mm yang punya bukaan lebar dan kualitas gambarnya lebih unggul ketimbang zoom. Namun, saya sejenak ingin bersahabat dengan lensa zoom itu. Minimal supaya ia tak berjamur karena teronggok di kontrakanku yang lembab.

Namun selama di Mangkutana, saya lebih banya menggunakan GRD. Kamera itu begitu nikmat. Sederhana dan tak mengganggu. Sementara DSLR dengan lensa zoom cenderung lebih berat, dan bunyi cermin ketika tombol rana ditekan cukup nyaring untuk fotografi jalanan.

Karena bingung bagaimana harus menggunakan kamera itu, saya kemudian mencari-cari subyek untuk difoto. Akhirnya saya menemukan sekelompok ayam dan angsa peliharaan bapak. Bapak memang sejak lama memelihara ayam dan unggas. Empat tahun lalu, bapak bahkan memelihara menthog sebelum dipotong untuk acara sembayangan.

Memelihara unggas dalam jumlah banyak bukan perkara yang mudah. Apalagi unggas itu tidak ditempatkan di kandang seperti ternak unggas umumnya. Alhasil, ayam dan angsa pun bermain-main di halaman rumah. Akibatnya, hampir setiap hari mereka buang kotoran di teras rumah.

 

Iklan