Saat pertama kali mencoba Yashica electro 35 GTN, saya berangkat dengan penuh semangat ingin belajar sistem rangefinder. Banyak cerita yang menyebutkan kemampuan lensa electro tak kalah dengan leica. Satu rol fuji superia 200 saya habiskan dalam liputan ke masyarakat yang pertama kali mendiami pulau batam.
Pertama kali bersama Electro 35 (Yusuf Hidayat / Batam Pos)

Saya lalu memberikan 3 rol saya pada teman yang akan berangkat ke jogja agar bisa di cuci scan di central foto yang legendaris. Satu bulan saya menghayal seperti apa hasilnya. Begitu saya terima, perasaan kecewa muncul karena di semua gambar mengalami kebocoran cahaya. Belakangan saya baru tahu kalau sekat film electro sudah rusa dan harus diganti.

Hal lain yang mengecewakan adalah gambarnya yg underexposure. Ini efek menggunakan film kadaluarsa tahun 2008. Dari situ saya belajar untuk menurunkan iso-nya 2 stop.

Akhirnya, saya membiarkan gambar2 mengecewakan itu selama beberapa minggu hingga 2 bulan. Beberapa kali saya lihat dan perasaan saya mulai berubah. Saya memaafkan setiap kesalahan yang ada dalam gambar-gambar itu sampai pada kesimpulan bahwa: film itu pemaaf, dan saya menyukai ketidaksempunaan film. Kecintaan lain, selalu ada kejutan dari 24-36 eksposur dalam film.

Saya tidak bilang pemotret dengan film lebih hebat dari digital. Itu hanya jadi perdebatan medium yang sia-sia. Memotret lebih banyak di digital membuat seorang amatir dan pro jauh lebih jago. Saya sendiri masi mengandalkan Ricoh GRD sebagai senjata utama.

Tapi, menyelami film membawa kenikmatan tersendiri. Ia membuat penggunanya lebih lamban karena lebih sering mengamati. Lainnya, saya senang merasakan jadi bagian militansi para pengguna film meski saya bukan bagian komunitas siapa-siapa.

Berikut foto-foto yang dari perjalanan saat itu:
07690004 07690007 07690009 07690011 07690012 07690013 07690018 07690019 07690020 07690021 07690023 07690024 07690028 07690034
Satu hal yang saya senang adalah kemampuan lensa Electro 35 yang tajam dan pengukuran jaraknya akurat. Saya memperbaiki kebocoran cahaya dengan menggunakan isolasi hitam untuk listrik pada bagian belakang menutupi celah-celah yang memungkinkan cahaya masuk. Saya belum mengganti gabus sekat pelindungnya, jadi saya menggunakan cara tradisional itu.
Hasilnya cukup menggembirakan. Gambar-gambar perjalanan saya ke Jogja akhir Maret lalu menunjukkan kemampuan kamera ini, meski light meternya sudah tak lagi sempurna karena beberapa gambar over eksposur. Namun, dalam dunia fotografi film saat ini, para amatir penikmatnya tak lagi berpikiran bagaimana menghasilkan gambar sempurna. Ketidaksempurnaan sudah jadi bagian dari penikmatnya.
Pantai Nglambor, Gunung Kidul
Adikku, Elsa dalam perjalanan ke Pantai Nglambor
Pantai Nglambor, Gunung Kidul
Terima kasih sudah berkunjung.
Iklan