Satu bulan setelah saya meninggalkan Batam Pos, baru kali ini saya berkesempatan menulis kembali untuk blog ini. Padahal sejak hari terakhir saya bekerja pada 2 Mei 2015, saya sudah berencana menulis beberapa tulisan. Namun ternyata kesibukan menunda saya untuk menulis hari-hari terakhir saya di Kota Industri ini. Ketika saya menulis blog ini, posisi saya pun tak lagi di Batam, namun sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, transit sebelum melanjutkan perjalanan saya ke Makassar. Saya bahkan melanjutkan sebagian tulisan ini setelah tiga hari berada di Makassar.

Sejumlah kesibukan memang mengisi satu bulan terakhir sebelum saya pindah ke Makassar. Kesibukan yang utama jelas harus mengurus barang dan segala keperluan pindahan, seperti surat pindah Mira, menjual perabotan, dan akhir minggu lalu mengirim barang-barang ke Makasar melalui cargo dan memindahkan barang-barang ke rumah Gada.

Tak hanya itu, saya juga diminta untuk menulis beberapa bagian buku perayaan Lustrum IV Paroki Santo Damian Bengkong. Untuk itu saya harus melakukan sejumlah wawancara dengan beberapa tokoh Paroki termasuk melakukan liputan ke Pulau Todak untuk pengumpulan data. Di tengah bulan, saya pun turut ikut dalam jalan-jalan ke Singapura bersama Gada dan keluarga. Sementara di hari Selasa yang bersamaan dengan Hari Raya Waisak, sejak pagi saya menyempatkan untuk ngopi bersama Arman, Mas Putut, dan Bang Hasanul, beli wine di Kepri Mall, mengunjungi murid Mira yang ayahnya meninggal, ambil trofi Siti Award di rumah Fenny, belanja oleh-oleh, packing, dan membawa printer yang dibeli Shinta ke rumah Hadi.

sayonara batam-7
Arman dan Putut di Kedai Kopi Seloka, Mitra Raya, Batam / © Yermia Riezky

Jadilah, saya menyempatkan menulis hal ini ketika ada waktu tiga jam menunggu penerbangan Jakarta ke Makassar.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, hari terakhir saya bekerja di Batam Pos adalah pada 2 Mei 2015. Saya sebenarnya bisa resign pada 30 April. Namun, saya menentukan tanggal itu karena saya masih punya satu kewajiban menyelesaikan edisi terakhir Majalah Batam Pos yang saya kerjakan pada malam minggu itu. Sebagai penutup, saya memesan empat pizza ukuran besar dari Pizza Hut Mega Mall. Awalnya saya khawatir jumlah itu berlebih mengingat awak redaksi yang bekerja untuk edisi hari minggu lebih sedikit dari hari-hari lainnya. Namun, nyatanya pizza itu tandas.

Pizza malam terakhir
Pizza malam terakhir

Dua hari kemudian saya kembali ke kantor meski status saya saat itu bukan lagi wartawan Batam Pos. Saya perlu pamit kepada kawan-kawan wartawan harian dan awak redaksi lainnya. Kebetulan, ketika itu mereka sedang berkumpul untuk mendengar pengumuman berapa kenaikan gaji yang akan mereka terima selama setahun ke depan.

Saya sangat bersyukur dengan tiga tahun keberadaan saya di Batam Pos. Sebagai wartawan yang ketika itu sudah punya dasar menulis feature saat di Tabloid Femme, Jakarta, saya tak perlu lama menyesuaikan diri melakukan penulisan untuk berita-berita lugas maupun cerita-cerita feature untuk harian itu. Kenyataannya, selama setahun saya berada di harian, cukup sering saya ditugaskan untuk membuat tulisan-tulisan feature baik untuk halaman satu maupun halaman depan sesi Metropolis (Berita Kota). Penulisan feature pun berlanjut ketika saya ditugaskan sebagai wartawan di divisi majalah online Batam Pos dua setengah tahun terakhir.

Sebenarnya, sebelum saya melamar di Batam Pos tahun 2012 lalu, saya sempat mengikuti tes di Tribun Batam. Namun tes itu berlangsung beberapa minggu. Di tengah saya menanti pengumuman tes selanjutnya di Tribun, saya mengirimkan lamaran ke Batam Pos pada suatu pagi di awal Februari 2012. Saya langsung dipanggil untuk ikut tes besok paginya. Ajaib (saat itu saya merasa seperti itu), usai wawancara saya langsung dinyatakan diterima dan diminta bekerja keesokan harinya. Belakangan saya tahu, tingginya kebutuhan wartawan dan besarnya frekuensi keluar masuknya karyawan membuat tes penerimaan wartawan di Batam berlangsung singkat.

Namun, saya percaya proses penerimaan saya yang ajaib itu merupakan sebuah awal dari satu tahapan selama tiga tahun saya di Batam Pos. Di sana saya berkenalan dengan Muhammad Iqbal dan Muhammad Nur, dua wartawan peraih Anugerah Adiwarta tahun 2009, salah satu penghargaan babon jurnalisme nasional selain Adinegoro. Istimewanya, Iqbal juga peraih satu penghargaan bergengsi Mochtar Lubis Award sementara Nur meraih Adinegoro di tahun yang sama ia memenangkan Adiwarta. Sampai saat ini, itu merupakan kebanggaan Batam Pos karena belum pernah ada koran daerah yang sangup meraih tiga penghargaan bergengsi itu.

Lewat dua wartawan senior ini saya belajar mematangkan penulisan feature saya. Saya belajar melakukan peliputan mendalam, meski hingga saat ini saya belum dapat melakukan liputan investigasi. Bersama mereka berdua, saya bergabung dalam tim Majalah Batam Pos selama setahun pada 2013. Pada 2014, Nur ditugaskan kembali ke harian sementara Iqbal mengawasi saya sebagai Pimpinan Redaksi di Majalah Batam Pos. Sementara setengah tahun terakhir, Nur menjadi Pimred saya di Majalah.

Dari keduanya saya belajar untuk memperhatikan detil dan mengonstruksi adegan. Syukur-syukur bisa menghasilkan tulisn narasi yang menarik. Iqbal yang gemar membaca buku-buku jurnalisti kemudian menularkan sejumlah buku seperti Sembilan Elemen Jurnalisme dan Jurnalisme Sastrawi. Ia juga menyarankan saya membaca tulisan-tulisan panjang Majalah Pantau dan Linda Christanty. Sejak itulah saya terobsesi dengan tulisan-tulisan feature panjang dan jurnalisme narasi.

Hingga saat ini saya berusaha untuk mengembangkan dan belajar kedua hal itu. Saya sadar, kemampuan peliputan saya selama tiga tahun di Batam Pos sangat cetek. Kemampuan saya menembus narasumber masih belum sebaik Shinta di Pengadilan, Eusebius dan Galih di Polresta Barelang, Willy di Polda Kepri, Alfian di DPRD Batam, atau Abdul Hamid di Pemko Batam. Saya sering kewalahan saat membuat tulisan terkait instansi-instansi tersebut.

Ketika akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dari Batam Pos, banyak orang yang bertanya-tanya (atau saya terlalu GR). Ada yang bilang, prospek saya di Batam Pos cerah. Informasi lain, saya digadang-gadang sebagai calon pimred karena Dahlan Iskan dan anaknya Azrul Ananda memberikan titah agar pemimpin redaksi media JPNN Grup maksimal berusia 36 tahun.

Tapi saya merasa saat saya sudah cukup. Setahun terakhir saya merasa saya kesulitan berkembang dan bekerja hanya untuk gaji. Di sisi lain, saya tidak cocok dengan ritme cepat harian jika saya dikembalikan ke divisi koran. Hingga menjelang saat terakhir saya di redaksi, kesulitan berkembang itu terus saya rasakan meski saya sudah sempat cuti ke Mangkutana dan Jogja dan mendapatkan empat penghargaan jurnalistik selama Desember hingga Februari.

Hal itu juga yang mendorong saya untuk melanjutkan petualangan di tempat lain. Kurang dari setahun yang lalu, saya dan Mira memutuskan untuk meninggalkan Batam setelah tahun ajaran ini berakhir. Saya menyampaikan alasan, jarak dengan orangtua begitu jauh jika kami berada di Batam dan kami tidak bisa mengunjungi mereka sekali setahun karena kampung halaman kami yang berbeda: Mira di Jogja dan saya di Sulawesi Selatan. Baik dari kemampuan ekonomi maupun waktu cuti atau liburan, kami tidak akan bisa mengunjungi keluarga sekali dalam setahun.

Kami awalnya berpikir akan pindah ke mana. Apakah akan ke Jogja atau ke Makassar. Pilihan kami jatuh ke Makassar karena pertimbangan sederhana. Kami tidak perlu memikirkan tempat tinggal karena keluarga saya memiliki rumah di sana sementara orang tua saya menghabiskan masa tuanya di Mangkutana, 650 kilometer di utara Makassar. Alasan lain, saya ingin membicarakan beberapa penawaran pekerjaan dari teman di Makassar.

Secara ekonomi, kehidupan kami sebagai wartawan dan guru di Batam cukup sulit. Semua itu dilihat dari sisi keuangan. Jika digabung, kami bukanah pasangan yang makmur, meski bukan juga pasangan yang miskin-miskin amat. Tingginya biaya hidup termasuk harga properti di Batam jadi pertimbangan kami untuk pindah dari daerah ini.

Sebenarnya, kehidupan itu tidak hanya ditinjau dari perspektif ekonomi. Kebahagiaan kami dapat ketika kami berkumpul dengan teman-teman satu kelompok di gereja, bertemu dengan Gada sekeluarga, atau beraktivitas tanpa harus membicarakan pekerjaan, misalnya diskusi soal fotografi jalanan.

Karena hal itu, sejak kami memutuskan pindah ke Makassar. Kami mulai menabung sedikit demi sedikit. Saya bersyukur bisa mendapat beberapa penghargaan jurnalisme yang mampu mendongkrak tabungan kami berdua. Saya memegang prinsip, jika ingin keluar dari pekerjaan, sebelumnya siapkan tabungan sebanyak pengeluaran selama enam bulan. Itu sebagai penjaga jika saat keluar saya tidak langsung mendapatkan pekerjaan. Dan memang, selama ini saat saya keluar dari pekerjaan, saya benar-benar menganggur. Waktu kosong beberapa waktu saya gunakan untuk introspeksi dan refleksi, apa yang sudah saya dapat dari pekerjaan sebelumnya.

Meski ada sejumlah hal yang masih mengundang pertanyaan dan belum memuaskan dalam perpisahan saya dengan Batam Pos, saya berterima kasih untuk kesempatan yang saya dapatkan dalam membangun dan mengembangkan karir di sana. Selama tiga tahun tiga bulan saya bekerja di sana, saya memang tidak melakukan peliputan pertama. Namun saya mendapat penugasan luar pulau, luar provinsi, dan luar negeri pertama. Dan saya juga mendapat penghargaan jurnalistik pertama di sana. Selama itu, saya mendapat sembilan penghargaan, baik secara individu maupun menulis bersama dengan Muhammad Nur dan Fenny Ambaratih.

Penghargaan jurnalistik bukan berarti membuat saya wartawan yang lebih baik. Kemampuan saya masihlah seumur jagung. Seperti yang saya bilang di atas, saya tidak mampu menembus narasumber di sejumlah bidang. Makanya saya paling kesal saat Shinta atau Wenny menyebut saya ‘hebat’ atau Batam Pos rugi karena kepergian saya.

Bagi saya, tidak ada ruginya bagi kantor dengan kepergian saya. Apalagi selama ini saya merasa pembaca majalah online Batam Pos tidak begitu banyak. Saya merasa kantor mengeluh karena saya tidak memberikan sumbangsih yang besar bagi penjualan harian yang jadi ujung tombak produk koran itu. Selain itu, penghargaan tersebut bisa saya dapatkan karena selama ini saya diberi kesempatan untuk menulis lebih dalam dari teman-teman di harian. Di majalah, saya memiliki waktu lima hari untuk menulis dua artikel mendalam, bandingkan dengan teman-teman harian yang harus menulis minimal tiga berita dalam satu hari. Kemampuan untuk menulis dapat bertumbuh jika diberi kesempatan, pelatihan, dan praktek dengan cukup banyak trail and error di dalamnya.

Saat saya menyambung sebagian kecil dari tulisan ini, saya sudah berada di Makassar. Dan hal yang paling berat untuk saya tinggalkan adalah keponakanku, Gada. Cukup menyedihkan menghadapi kenyataan saya tidak bisa melihat beberapa balita di keluarga saya tumbuh sebagai bocah. Adik saya Elsa, ketika saya tinggalkan ke Bandung pada 2001 ia masih berumur lima tahun. Saat itu saya berpikir, barangkali dia bakal lupa jika saya mudik dan dan bertemu dia di stopan bis Salonsa. Hal yang sama saya alami dengan Gada. Saat ini dia berkembang sebagai bocah tengil dan usil. Potongan rambut mangkok melengkapi senyum sinisnya setiap kali mengusili saya dan Mira.

Saya menyesal hanya tidak banyak merekam kehidupan Gada. Yang banyak saya lakukan hanya mengambil gambarnya dengan berbagai ekspresi yang menggemaskan. Sebelum saya terbang hari Rabu, 3 Juni saya menunggu Gada dimandikan, mengenakan baju, dibedakin, dan disisir klimis. Rambut klimis ternyata menghilangkan kesan tengil dan usil Gada.

sayonara batam-8
Gada usai mandi / © Yermia Riezky

Dia masih mengganggu saya saat menunggu taksi. Saya meminta Tri untuk mengambil foto kami berdua sebelum berangkat. Saya juga mengambil fotonya yang terakhir sebelum taksi datang. Sebenarnya, saya tak cukup tega melihat Gada kebingungan ketika saya sudah masuk ke taksi. Dia melambaikan tangan dan menempelkan tangannya ke bibir untuk melepaskan kiss bye. Entah, dalam pikirannya apakah dia merasa om-nya ini hanya pergi jalan-jalan atau bekerja dan pulang nanti sore. Nyatanya saat Mira menelepon ketika saya transit di Jakarta, Gada yang mendengar mesin motor Mira yang datang daari sekolah langsung mengucapkan “om, om, om” mencari saya seperti biasa ketika kami tiba di rumah Gada.

sayonara batam-9
Saya dan Gada sebelum berangkat / © Tri

 

Foto terakhir Gada sebelum saya berangkat / © Yermia Riezky
Foto terakhir Gada sebelum saya berangkat / © Yermia Riezky

Hari Sabtu sebelum berangkat saya dan Mira juga menikmati kebersamaan dengan orang-orang dari kelompok Karolus, kelompok basis di gereja kami. Kami berkumpul di rumah Pak Bepo untuk menikmati berbeque bersama sedikit alkohol (untuk para bapak). Kelompok ini merupakan kelompok yang asyik. Persaudaraannya dan kekeluargaannya kuat, hal itu tampak setiap doa kelompok atau misa. Itu pula yang dirasa Mira ketika bergabung di koor Karolus. Karena itu, ketika kami bersalaman sekalian saya dan Mira pamit, ada rasa sedih karena kami menyadari selama 1,5 tahun bersama kelompok ini kami belum bisa sepenuhnya melebur. Saya sndiri masih kerap dipanggil sebagai Suami Bu Mira. Namun, kami mensyukuri sambutan kelompok begitu bersahabat sejak hari pertama kami mengikuti doa.

© Yermia Riezky
© Yermia Riezky
© Yermia Riezky
© Yermia Riezky
© Yermia Riezky
© Yermia Riezky
© Yermia Riezky
© Yermia Riezky
© Yermia Riezky
© Yermia Riezky

Kini saya dan Mira mengambil satu resiko yang tidak pernah kami pikirkan saat sebelum dan beberapa saat setelah menikah. Namun kami yakin, pengalaman yang ada selama ini akan membantu kami bertahan. Tak lupa, yang utama kami menyerahkan kehidupan kami pada Tuhan yang sudah membuktikan kasih dan kebaikan-Nya pada kami sampai saat ini dan kami percaya di masa mendatang. Makassar merupakan kota yang lebih keras dan tua ketimbang Batam. Kami pun buta dengan kota ini. Kami sudah menyusun sedikit rencana untuk mengawali perjalanan kami di sini. Dan kami berdoa semoga Tuhan menyertai dan melindungi langkah dan kehidupan kami di kota baru ini.

Salam.

Iklan