Sebelum pindah ke Makassar, saya menyempatkan ke sebuah warung kebab Turki di Batam Centre. Saya tidak ingin makan kebab, karena harganya cukup mahal, jauh lebih mahal ketimbang kebab Baba Rafi.

Saya ke warung itu untuk makan nasi pecel yang dibuat oleh kenalan saya, Pak Ginting, seorang Batak. Tapi karena saya memesan minuman di kedai kebab itu, maka saya pun duduk di dalam kedai tersebut.

Warung itu milik Faisal. Ia asli Turki yang menikah dengan wanita asal Padang. Faisal merupakan pensiunan kantor kereta api turki. Istrinya sendiri, kata dia, bekerja di kawasan pembuatan kapal di Tanjunguncang.

Pasangan itu belum memiliki anak, dan saya pikir mereka punya cukup banyak uang yang salah satunya digunakan untuk membuka warung kebab Turki.

Saya sendiri belum pernah mencicipi kebabnya. Namun, menurut teman saya yang pernah menulis dan mencobanya, cita rasanya memang berbeda dengan kebab franchise yang banyak dijual di pinggir jalan.

Kedai Faisal sendiri tak hanya menjual kebab. Ia juga menjual beberapa panganan khas Turki seperti roti isi, asinan, dan kopi Turki.

Kopi Turkinya Faisal dihidangkan di gelas esspresso. Rasanya sendiri, menurut saya masih kalah dengan kopi toraja yang saya giling sendiri.

Satu hal yang tidak bisa anda lepaskan jika datang ke kedai kebab ini adalah musik-musik dan tayangan video tradisional Turki yang diputar Faisal di televisi yang ia letakkan di pojok dalam kedai. Sayang, waktu itu saya tidak bertanya, apa pandangannya soal opera sabun Elif yang terkenal di Indonesia.

Iklan