24373202621_bcb9b2c28d_h
Mangkutana, 2015

Saya berulangtahun ke-30 tiga hari lalu. Terima kasih untuk kerabat dan rekan atas ucapan dan doanya pada hari itu. Saya juga berdoa agar kebahagiaan selalu bersama-sama dengan kalian semua.

Soal umur 30, sebagian orang bilang usia tersebut adalah sebuah titik loncatan untuk meraih pencapaian lebih baik atau titik balik dari kehidupan yang penuh kesialan menjadi penuh kebahagiaan. “Life begins at thirty,” katanya. Tapi tidak semua orang setuju karena ada banyak yang mengatakan ‘life begins at 40’, atau malah ‘life begin at 50’.

Satu kesenangan yang saya dapatkan di usia ke-30 adalah saat menyaksikan AC Milan menghancurkan Inter 3-0 di laga derbi Milan. Setelah dua tahun, akhirnya kota Milan bisa kembali berwarna merah hitam. Sayang, usai menyaksikan derbi, saya tumbang selama dua hari akibat flu berat.

Di luar jargon-jargon yang beredar tentang usia 30, saya bersyukur bisa mencapai usia ini. Saya berterima kasih atas penyertaan Tuhan meski selama 30 tahun perjalanan hidup, saya sering kali bandel, tidak taat, atau mengambil keputusan sendiri yang berujung pada salah melangkah.

Saya juga bersyukur masih bisa merasakan usia ke-30 jika mengingat beberapa kenalan atau kerabat saya harus meninggalkan dunia lebih dulu sebelum usia 30. Tak sedikit juga kita mendengar orang-orang terkenal, terhormat, kaya raya tak bisa mencapai usia 30. Ketenaran dan kekayaan ternyata tak bisa membawa mereka melewati usia 30.

Kini, memasuki memasuki tahun ke-31, saya ingin berbagi sedikit harapan soal apa yang ingin saya lakukan setelah melewati usia 30 baik sebagai seorang pribadi, suami, serta dalam hal menulis dan fotografi.

Sebagai seorang pribadi, saya berharap dapat lebih banyak membantu dan memberikan pertolongan pada orang yang membutuhkan. Namun di samping itu, saya ingin lebih bijaksana dalam memberikan bantuan, apakah pertolongan yang saya lakukan memang pada orang yang tepat atau saya hanya ditipu (atau ‘dibodohi’). Terus terang, di awal saya pindah ke Makassar, saya sukses ditipu oleh seorang tukang kursi yang awalnya bermaksud bekerja memperbaiki kursi kami. Belum lagi sampai saat ini saya masih menemukan banyak pedagang culas yang ingin mengambil keuntungan dengan menjual dagangan dengan harga yang tak layak.

Saya juga berusaha untuk menghilangkan kecanduan mengamati sosial media dan lebih memilih melakukan pertemuan dengan teman-teman di dunia nyata. Jujur, saya merasa terlalu serius dengan sosial media, sehingga apa yang terjadi di sosmed dapat membuat saya bahagia ataupun emosional.

Saya selalu ingat pernyataan Bill Kovach dalam buku ‘Blur’ yang menyebutkan media sosial membuat dunia ini semakin dibanjiri informasi. Banjir informasi seperti ini yang disebut Malcolm Gladwell bukannya membuat kita semakin gampang mengambil keputusan, malahan keputusan menjadi semakin rumit.

Menghilangkan kecanduan sosial media bukan berarti saya akan mengusir segala yang berbau sosial media. Namun saya ingin mengurangi waktu saya menongkrongi sosial media. Saya telah berhasil tak memantengi timeline twitter atau instagram kecuali jika saya sedang mencari link streaming pertandingan AC Milan. Namun, saya belum bisa menghilangkan kecanduan dari Facebook dan Youtube. Kedua media sosial ini adalah gangguan terbesar saat saya berkerja dan yang sanggup mengurangi waktu tidur saya.

Meski berbagai gangguan ini, saya masih harus menggunakan sosial media terutama untuk mempromosikan usaha pakaian wanita yang saya jalani dengan Mira. Selain itu saya masih menggunakannya untuk mengunggah gambar atau menampilkan tulisan blog saya. Namun, saya harap dapat melakukan detoksifikasi digital terhadap dua sosial media ini.

Sebagai seorang suami, saya ingin lebih bijaksana dan berani dalam mengambil keputusan terkait dengan kehidupan dan masa depan keluarga. Memang, saya dan Mira baru menjalani kehiudupan rumah tangga selama dua tahun. Namun kami sudah mengambil keputusan besar saat kami memilih meninggalkan Batam untuk pindah ke Makassar. Saya yakin, keputusan ini akan sangat penting bagi keluarga kami, namun untuk jangka panjang, kami belum bisa meraba apa hasil dari keputusan ini.

Dalam tahun ini kami juga akan mengevaluasi usaha kami, apakah layak untuk dilanjutkan atau harus dialihkan menjadi bentuk usaha lain. Ini merupakan keputusan besar yang harus kami ambil.

Penting bagi saya untuk tetap yakin akan keputusan-keputusan yang selama ini kami ambil. Karena terkadang efek dari keputusan itu cukup berefek pada keluarga kami. Kami harus mengerti bahwa keputusan ini akan menimbulkan perjalanan, petualangan, dan misteri yang akan mengisi babak kehidupan saya dan Mira. Kami harus bersyukur untuk semuanya itu untuk melangkah lebih jauh dan mengambil keputusan berikutnya.

Dalam hal penulisan, saya masih ingin melanjutkan karir saya dalam dunia penulisan. Namun apakah saya masih akan bekerja di media atau tidak, saya belum tahu.

Saya masih menyenangi dunia jurnalistik yang bergulat pada pencarian informasi. Tetapi saya tidak sanggup untuk mengikuti deadline harian surat kabar atau deadline dalam hitungan jam atau menit atau detik yang diinginkan oleh portal online.

Saya bekerja dengan lambat dalam mengumpulkan informasi. Saya senang mengumpulkan dokumen dan mempelajarinya, melakukan wawancara mendalam, atau meneliti arsip. Saat masih di Majalah batam Pos, saya menyebutnya sebagai ‘slow journalism’ sebagai anti dari arus informasi cepat yang kini jadi bendera sebagian besar media.

Jika harus bergabung dengan media, saya merasa majalah mingguan atau bulanan merupakan wadah yang cocok bagi saya. Atau bisa saja menjadi kontributor media online yang deadlinenya tidak mengikat dan tidak mewajibkan harus mengirimkan sejumlah tulisan dalam sehari.

Saya belum memutuskan apa-apa mengenai penulisan. Hingga saat ini saya masih aktif menjadi penerjemah lepas di situs JPNN.com. Ini menjadi sumber nafkah yang potensinya melebihi gaji terkhir saya di Batam. Saya harap, seperti resolusi saya tahun ini saya dapat menerbitkan satu tulisan panjang.

Soal fotografi, seiring bertambahnya usia, saya mulai meninggalkan keinginan saya untuk beralih karir menjadi pewarta foto lepas. Saya pikir, usia 30 adalah usia yang terlambat untuk menjadi seorang fotojurnalis. Sebagian besar pewarta foto memulai dan mededikasikan diri sejak usia belum 20-an atau pada bangku kuliah.

Boleh saja saya berpikir masih punya peluang seperti Larry Towell yang fotonya belum pernah dipublikasi hingga usianya sekitar 33 tahun, atau Sebastiao Salgado yang baru memegang kamera pada usia 30. Namun, sebagian besar diri saya yakin saya tak bisa mengharap nafkah dari fotografi.

Saya ingin menggunakan fotografi sebagai sarana rekreasi, dan tidak terlalu serius memikirkannya. Saya sepertinya akan lebih banyak mengambil foto-foto personal tanpa perlu mempertimbangkan hasil akhir atau banyaknya like dan komentar yang akan saya dapatkan jika harus membagi gambar saya di media sosial.

Foto-foto yang saya ambil juga tak terikat dengan cerita. Saya terinspirasi dengan Elliott Erwitt dan Harry Gruyaert yang lebih senang keluar dengan kamera tanpa ide cerita dalam kepalanya. Mereka memotret apa yang mereka senangi.

Kalaupun saya memiliki tema, barangkali itu tema yang saya kerjakan untuk waktu yang panjang. Saya saat ini masih menjalani proyek pribadi ‘Postcard From Makassar’ dan ‘Karebosi’. Selain itu saya masih melakukan editing ulang terhadap foto-foto kehidupan masyarakat Kepulauan Riau.

Untuk mengobati cita-cita menjadi fotografer yang telah menguap, saya bakal tetap mengirim foto kehidupan sehari-hari ke Pacific Press Agency, agensi foto kecil di Filipina. Upaya ini hitung-hitung sebagai tabungan, karena sebenarnya meski telah menjadi sejarah, foto-foto terutama feature dan ilustrasi akan terus dicari, dan tak lekang waktu.

Contohnya, tujuh hari menjelang ulang tahunku ke-30 saya mendapati satu fotoku digunakan oleh CNBC dalam artikelnya tentang potensi pasar penjualan barang-barang seni di Asia Tenggara. Di dalam foto itu, saya memotret Mira yang sedang mengamati lukisan dalam pameran Makassar Bienalle bulan Oktober 2010.

Inti dari semua harapan saya adalah saya ingin kebahagiaan dan kebebasan dalam hidup. Bebas dalam arti saya ingin bebas dari pandangan orang lain soal apa yang harus saya lakukan, begaimana saya harus mencari nafkah, apa metode yang tepat untuk melanggengkan pernikahan, atau teknik apa yang paling baik untuk menghasilkan foto yang menggugah.

Saya juga ingin lebih berkonsentrasi untuk bersyukur dengan apa yang saya telah dapatkan dan tidak tenggelam dalam penyesalan atas tindakan yang keliru atau keputusan yang salah. Saya juga tidak ingin terlalu banyak berhitung dan berstrategi dalam kehidupan ini.

Saat saya menulis ini, saya membayangkan bagaimana perasaan saya saat pertama kali bapak dan ibu merayakan ulang tahun dengan mengundang teman-teman bermain. Saat itu saya berusia lima tahun dan belum pernah ulang tahun saya dipestakan. Sebelumnya saya hanya terus-terusan datang ke perayaan ulang tahun teman dan senang membawa bingkisan dari pesta ulang tahun yang umumnya nasi kuning.

Begitu tahu ulang tahun saya akan dirayakan, saya begitu gembira. Saya tidak sabar dan terus-terusan menanti dengan senang dan riang. Dan kegembiraan itu tak surut beberapa hari setelah pesta perayaan.

Sebagai orang dewasa, saya memang harus mengembang tanggung jawab yang umumnya kita emban. Namun, saya ingin mengembalikan kenikmatan di hari-hari saat ulang tahun kelima saya dipestakan. Saya ingin menikmati hari, menikmati hidup, tanpa harus pusing dengan pandangan orang lain atau kewajiban yang harus ditunaikan.

Eky Santiago

Iklan