profil

Kek Pisang Villa tak dipisahkan dari pariwisata Kota Batam. Produk oleh-oleh yang dibangun Denni Delyandri ini merupakan perintis industri oleh-oleh kota industri itu. Kerajaan bisnisnya kini tak cuma di Batam, namun berkembang ke sejumlah daerah. 

________

Pandangan itu berubah pada tahun 2007 ketika Denni Delyandri, seorang sarjana elektro membuka satu usaha kue berbahan dasar pisang. Bersama istrinya, Selvi Nurlia, ia membuat kue yang diberi nama Banana Cake. Sebagai buatan tangan asli dari Batam, Denni berani mencantumkan jargon ‘Asli Batam’ di kotak kue buatannya itu.

Pelan tapi pasti, Denni membangun bisnis kulinernya. Mulai dari dari kompor dan oven sederhana hadiah pernikahan, ia mengetok pintu berbagai instansi di Batam menawarkan Banana Cake buatannya. Dua kali bisnis kuenya nyaris tumbang. Tapi ia memilih bangun lagi.

Masih di tahun 2007, nama Banana Cake kemudian bertransformasi menjadi Kek Pisang Villa. Perubahan juga terjadi pada slogan: ‘Oleh-oleh Khas Batam’. Begitu bunyi slogan terbarunya.

Enam tahun berselang sejak ia merintis Kek Pisang Villa, Denni sudah memiliki 22 outlet. Masing-masing 13 outlet di Batam, dua di Tanjungpinang, empat di Pekanbaru, dan masing-masing satu di Padang, Balikpapan, dan Banjarmasin.

‘Kerajaan’ kuliner Denni tak cuma Kek Pisang Villa. Ia memiliki sejumlah merek lain yakni Bolu Gulung Mutiara Rasa,Vizcake di Pekanbaru, Roti Randang Ninur di Padang, Gulung Jenebora di Balikpapan, dan Wadai Banjar di Banjarmasin. Dari usaha kuliner itu ia mampu menghidupi lebih dari 300 pegawai, berkembang dari hanya dua orang pada 2007.

Buat mereka yang teliti, akan bertanya: tidak ada kebun pisang yang luas di Batam. Jadi mengapa kek pisang dikatakan asli Batam? Jawaban yang berulang diberikan Denni,”brownis juga bukan dari Bandung tapi dikatakan asli Bandung. Bika Ambon malah dibuat di Medan.”

Jawaban itu yang juga ia ungkapkan kepada Majalah Batampos, saat menjumpai Denni di pabrik sekaligus kantor pusat Kek Pisang Villa di Kawasan Industri Citra Buana Park III, Lot 28, Batam Centre, Senin (28/1). Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang bermotif kotak-kotak kecil yang dipadukan dengan celana jins. Hidungnya menyangga kacamata bermerek New Balance.

Pabrik yang mulai beroperasi pada Desember 2012 itu memproduksi seluruh produk Kek Pisang Villa. Di pabrik inilah Denni menyatukan dapur produksi yang sebelumnya berada di cabang Nagoya dan Batam Centre. Kek Pisang Villa pun kini berada dalam bendera PT Indonesia Villa Maju (Villa Corp).

Tak cuma kek pisang, pabrik itu turut memproduksi bolu gulung khas Mutiara Rasa. Yang terakhir merupakan salah satu merek milik Kek Pisang Villa yang memiliki dua outlet di Batam.

Bangunan dua lantai itu berdiri di atas tanah seluas 1500 meter persegi di kawasan industri Citra Buana III. Cat oranye melapisi gedung itu. Jika dua lantainya digabung, total luas gedung sekitar 2 ribu meter persegi.

Bangunan besar itu tak hanya sebuah pabrik dan toko penjualan produk. Denni menciptakan museum Kek Pisang Villa. Ia menghadirkan satu demi satu barang-barang bersejarah saat ia merintis Kek Pisang Villa, termasuk kompor pernikahan dan oven pertama. Berada satu lemari dengan kompor itu, tiga kotak pertama Banana Cake berwarna coklat yang sudah mulai pudar.

Dari lemari, Denni lalu mengajak melihat dapur Kek Pisang Villa. Untuk menjaga higienitas, pengunjung harus mengenakan penutup rambut, masker, dan membungkus sepatu.

Pengunjung kemudian berjalan di sebuah lorong memandang proses produksi produk-produk Kek Pisang Villa. Mulai dari cara mencampur, mengaduk, memanggang, tampak jelas dalam perjalanan singkat yang disebutnya ‘Tour Of Factory’ itu.

“Tak ada yang yang kami tutupi,” kata Denni. “Semua dari bahan dan proses produksi kami tunjukkan pada pengunjung.”

Tur di museum Kek Pisang Villa menurut Denni sebagai salah satu bentuk pendidikan pada pasar. Ia mengenalkan seperti apa itu oleh-oleh dan bagaimana prosesnya. Perjalanan singkat itu diyakininya menarik minat pengunjung untuk peduli pada oleh-oleh. Hal itu akan dibuktikan dari belanja pengunjung di bagian akhir tur, di toko oleh-oleh.

“Kami harap setelah tur singkat dan cerita dari pemandu, yang awalnya tidak ingin membeli akhirnya membeli. Yang awalnya ingin beli dua malah maunya beli tiga,” kata Denni disertai tawa.

Kini Kek Pisang Villa masuk dalam daftar oleh-oleh pelancong maupun warga Batam yang akan mengunjungi handai taulan. Rahman Usman, Ketua Kepri Tourism Board, mengaku bangga saat melihat kotak oranye Kek Pisang Villa ditenteng penumpang turun pesawat. “Di bandara Jakarta atau Makassar, kalau ada yang turun dengan kotak Kek Pisang Villa, secara tidak langsung sudah mempromosikan Batam. Sebagai warga Batam, saya bangga,” kata Rahman.

anda-suka-dengan-artikel-ini-dapatkan-update-kisah-dari-yermia

***

Denni Delyandri tak lahir dari keluarga saudagar. Ayahnya pensiunan Telkom, tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di perusahaan BUMN itu, ayahnya berposisi sebagai teknisi. Sementara, ibunya berprofesi sebagai guru.

Mungkin, pengaruh profesi sang ayah yang mendorongnya masuk ke jurusan elektro Universitas Andalas, tahun 1998. Lima tahun kemudian, Denni akhirnya memperoleh gelar Sarjana Teknik.

Gelar itu mengantarnya bekerja di Batam. Tepatnya di PT Asahi, tahun 2003. Gajinya ketika itu Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta dalam sebulan. “Itu sudah termasuk lembur,” kenang Denni.

Jumlah itu terbilang besar untuk fresh graduate, saat itu.

Untuk mendapat upah sebesar itu, dia harus mengorbankan waktunya habis dimakan lembur. “Seven to seven,” katanya mengistilahkan jam kerjanya dari jam tujuh pagi sampai pukul tujuh malam. “Saya tidak sempat melihat matahari. Bahkan hari Minggu pun saya sering harus masuk.”

Saat masih bujang, pengorbanan itu tak masalah baginya. Saldo di rekening tabungannya terus bertambah karena ia tinggal di mess milik perusahaan.

Baca juga : Uang Besar di Pulau Kecil

Tak lama menghuni mess, Denni memutuskan membeli rumah di Villa Mukakuning. Uang muka rumah ia cicil selama 10 bulan. Buat Denni, sebelum membangun keluarga, properti adalah satu hal yang wajib dimiliki. “Bahkan untuk rumah harus dipaksakan,” terang dia.

Tak lama setelah akad kredit rumah yang dibelinya, Denny meminang Selvi Nurlia di tahun 2004. Dua bulan menikah, Selvi hamil dan memutuskan berhenti bekerja.

Tak lagi bujang membuat pengeluaran Denni membengkak. Gaji Rp 2,5 juta dirasa tak cukup lagi untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Ia dan Selvi sepakat, keluarga butuh uang tambahan. Mereka pun mulai merintis usaha kerupuk.

Setiap hari mereka membeli kerupuk merek Aloha di pasar Aviari, Batuaji. Sampai di rumah, pasangan itu menggoreng kerupuk sebelum diantar ke rumah-rumah makan di daerah Batuaji. Karena bekerja shift, Denni kerap mendapat jatah menggoreng saat ia masuk malam. Kalau masuk pagi, Denni menggoreng usai tiba di rumah.

Jualan kerupuk sebenarnya menguntungkan, lebih besar dari gaji bulanannya. “Tapi sangat melelahkan karena saya masih bekerja di perusahaan,” terang Denni. Di samping itu, kondisi istrinya yang hamil besar membuatnya berpikir untuk menghentikan usahanya.

Setelah kelahiran anak pertama, Denni kembali bersemangat melanjutkan usaha sampingan. Selain mencari tambahan, ia termotivasi sukses orang lain. “Saya termotivasi dari kisah sukses yang saya baca di buku,” tuturnya.

Berbeda dengan usaha yang pertama, kali ini Denni berdagang klepon dan onde-onde. Diproduksi malam hingga subuh, kue ini lalu dibawa Denni ke kantin perusahaan di Mukakuning setiap berangkat kerja pada pagi hari. Sorenya ia mengambil hasilnya. Usaha ini berhenti karena alasan yang sama dengan usaha kerupuknya. “Capek sekali karena hanya dikerjakan sendiri,” keluh Denni.

Layu satu, usaha lain muncul. Denni kemudian merintis usaha rumah makan Padang. Kali ini ia menggunakan karyawan. “Satu orang koki dan tiga pelayan,” sebut dia. Sebagai modal ia meminjam uang koperasi perusahaan sebesar Rp 10 juta.

Hari-hari pertama rumah makan, pemasukan lancar. Tengah bulan, seret. Di akhir bulan, rumah makan itu tutup. “Sudah tidak ada modal untuk melanjutkan usaha itu,” ujar dia.

Denni mengaku, ia tak berhasil membaca pasar saat membuka rumah makan di wilayah Genta III itu. “Kami pikir karena kompleks, rumah makan kami akan laku. Nyatanya, karena penghuni kompleks golongan ekonomi menengah ke bawah, di atas tanggal 15 mereka memilih makan indomi ketimbang beli nasi,” kata Denni. Ia akhirnya menjual aset miliknya untuk mengembalikan utang koperasi. Pengembalian sisanya dari potong gaji.

Beres membayar utang koperasi, Denni memutuskan berhenti total bekerja di tahun 2006. Ia ingin fokus usaha. Ia pun mendirikan usaha Event Organizer (EO) bersama Selvi dengan nama Media Kreasi Bangsa (MKB). Mereka mengadakan sejumlah acara di Mega Mall Batam Centre, dimulai sejak perayaan Hari Anak Nasional.

Selain perayaan, MKB juga mengelola stan pada acara-acara khusus seperti saat Ramadhan, yang menjadi kerja terakhir mereka. Dari pekerjaan itu, Denni mendapat keuntungan sebesar Rp 12 juta. Uang itu jadi modal Denni untuk mudik sekeluarga ke Padang.

Jumlah itu nyatanya tak terlalu besar saat mudik. “Uangnya habis dibagi-bagi,” kata Denni. Kembali ke Batam, uang mereka habis. Terlintas dalam pikiran pasangan muda itu untuk menjalankan usaha yang pemasukannya harian.

Lagipula, usaha EO cukup menyiksa pasangan itu. Mereka harus berada di lokasi sejak mal buka sampai tutup, sekitar jam sembilan malam. Belum lagi, mereka melewatkan pertumbuhan anak sulung mereka Faza Mutiara Denni. Denni ketika itu harus rela menitipkan anaknya di sebuah Tempat Penitipan Anak (TPA) di Marcelia, Batam Centre selama bekerja.

Namun, satu hal yang mengganjal mereka melanjutkan cita-cita itu, modal. “Modal kami nol waktu itu,” kata Denni seraya menyatukan ujung telunjuk dan jempol tangan kanannya. Meminjam dari bank jelas tak mungkin karena tidak ada usaha yang bisa ditunjukkannya. Ia ke bank untuk membuat kartu kredit dengan batas Rp 3 juta, ditolak. “Saya pernah meminta temannya membuatkan slip gaji bodong untuk kredit, itu juga ditolak,” ujar dia.

Di tengah kesulitan itu, Selvi melepaskan kalung pemberian orang tuanya. Ia pun meminta Denni menggadaikan kalung itu.

Awalnya, Denni menolak. Ia beralasan, kalung itu pemberian mertuanya. Namun, semangat Selvi untuk melanjutkan usaha membuat Denni menerima permintaan Selvi. Ia kemudian menggadaikan kalung itu dengan harga Rp 2,4 juta. Tindakan itu membuat Denni enggan berkunjung ke rumah mertuanya di Tanjunguban.

Baca juga: Cemas Menatap Pasar Bebas

“Saya tidak mau saat sampai di sana mertua tanya ke istri, ‘lho, kalungnya ke mana?'” ungkap Denni, tersenyum.

Dari hasil gadai kalung, Rp 400 ribu ia gunakan untuk makan sekeluarga. Sementara yang Rp 2 juta dipakai untuk melanjutkan usaha. Berbekal keterampilan istrinya membuat kek, mereka memutuskan membuat kek pisang dengan merek Banana Cake pada Februari 2007. Pada awal usaha, Denni memproduksi 40 loyang setiap harinya. Untuk memenuhi jumlah itu ia membutuhkan 20 kilogram pisang. Produksi berlangsung di rumah tipe 36 miliknya.

Berangkat dari pengalaman mereka menjalani sembilan usaha sebelumnya, keduanya memulai penjualan dengan sistem kemitraan di kawasan industri Mukakuning. Mereka mencari orang yang mau menjual Banana Cake dengan komisi Rp 3 ribu setiap produk terjual. Ketika itu harga Banana Cake masih Rp 15 ribu.

Sistem kemitraan tak berjalan lama karena penjualannya menurun. Ia kemudian mengubah strategi penjualan menjadi door to door. Bukan ke rumah-rumah, melainkan ke instansi-instansi. Ia masuk ke kantor-kantor pemerintahan dari wilayah Batuaji, Batam Centre, sampai Sekupang.

Pemasaran dari kantor ke kantor ia lakukan bersama dua karyawan. Untuk usaha kecil menengah (UKM) omset hariannya terbilang besar, rata-rata Rp 2 juta . Dia mengaku tak punya rasa malu saat harus keluar masuk kantor menawarkan kue buatan istrinya.

“Tidak ada sama sekali perasaan gengsi,” katanya. “Kalau gengsi nggak bakal bisa makan.”

Tujuh bulan bisnisnya berjalan, Denni akhirnya mendapat pinjaman tanpa agunan sebesar Rp 40 juta di bank. Modal tersebut digunakannya untuk menyewa ruko dua lantai di Ruko Mukakuning. Beberapa peralatan ia beli untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi sekitar 100 loyang sehari.

Saat memindahkan lokasi produksi itu, Denni melihat peluang baru. Ia tahu, wisatawan mancanegara yang masuk melalui Batam merupakan ketiga terbesar di Indonesia. Belum lagi pelancong domestik yang datang ke Batam untuk urusan bisnis, meeting atau sekedar jalan-jalan.

Fakta itu mendorong dia untuk mengubah nama Banana Cake menjadi Kek Pisang Villa. Ia pun memasang slogan baru Oleh-Oleh Khas Batam.

“Ada sebuah ruang,” tutur Denni soal celah bisnis oleh-oleh di Batam di akhir 2007 itu. “Tidak ada oleh-oleh khas Batam sementara jumlah wisatawan yang datang banyak. Jadi, kenapa tidak kita jadikan saja kek pisang ini sebagai oleh-oleh khas Batam?”

Benar saja, keputusan itu membuat produknya makin diburu. Melalui stan dan brosur yang dibagikan, Kek Pisang Villa mulai dicari orang-orang yang ingin meninggalkan Batam. Pesanan pun mulai berdatangan.

Pernah, Denni membawa pesanan seorang wanita peserta pelatihan di Hotel Nagoya Plaza, Nagoya. Ia datang membawa satu kotak besar Kek Pisang Villa di lobi hotel. Saat pemesan itu ingin membayar, teman-temannya melihat. “Apa itu?” tanya peserta lain, penasaran.

Denni lalu menjelaskan, yang dibawanya adalah oleh-oleh khas Batam. Mendengar penjelasan Denni, ibu-ibu peserta berebut memesan Kek Pisang Villa. “Jumlah mereka sekitar 40 orang,” sebut Denni, coba menginat jumlahnya.

Keriuhan di lobi itu menarik perhatian petugas keamanan. “Ada apa ini?” kata petugas itu. Ia pun segera tahu kalau ibu-ibu itu ingin membeli dagangan Denni.

“Di dalam hotel tidak boleh berdagang,” sahut petugas.

“Bukan, pak. Saya hanya melayani pesanan. Nanti malam pesanan mereka saya bawa ke kamar masing-masing,” balas Denni, meminta belas kasihan.

Petugas keamanan tak terpengaruh. Ia menyeret Denni meninggalkan lobi. Bahkan di depan peserta pelatihan Denni terjengkang akibat petugas itu. Kejadian itu tak hanya sekali. Ia juga pernah ‘disidang’ petugas keamanan Hotel Goodway karena alasan yang sama.

Saat itu, hotel memang bukan tempat berjualan, selain toko suvenir yang sudah ada di dalamnya. Saat ada pelatihan atau seminar, belum ada stan yang menawarkan produk-produk kreasi warga Batam. Apalagi, belum banyak yang mengenal Kek Pisang Villa.

Kondisi itu tak akan terjadi saat ini. Sekarang, pada setiap pelatihan atau seminar, Kek Pisang Villa malah diundang mengisi stan. Tak hanya mereka, produk oleh-oleh lain atau UKM banyak muncul memperkenalkan produk di setiap acara seperti itu.

Setahun menjalankan usahanya, Kek Pisang Villa mulai memberikan keuntungan bagi Denni. Dari keuntungan Rp 50 juta yang di dapatnya, ia menyewa sebuah ruko dan membawa produknya ke pusat perkantoran di Batam Centre.

Ia sempat kebingungan karena kehabisan dana untuk mengisi interior outlet baru itu. Syukurlah, sebuah perusahaan kontraktor mau mengerjakannya dengan pembayaran lima kali angsuran. Nama Kek Pisang Villa pun semakin akrab dengan masyarakat Batam.

Seorang pegawai negeri pun kaget saat Denni meresmikan outlet itu. “Bapak yang waktu itu suka ngantar-ngantar kue ke kantor ya?” kata pegawai itu, penasaran.

“Iya, itu saya Pak,” jawab Denni.

Dengan dua outlet beroperasi, penjualan Kek Pisang Villa terus menanjak. Pencapaian itu menarik lembaga perbankan menawarkan pinjaman. Ketertarikan itu disambut Denni yang juga ingin membangun outlet ketiga. Juni 2008, Denni mendapatkan pinjaman sebesar Rp 500 juta dari sebuah bank swasta.

Uang setengah milyar rupiah itu dipakainya untuk membuka cabang di Nagoya dan melunasi utang-utangnya di Ruko Mukakuning dan di Outlet Batam Centre. Produksi dan penjualan Kek Pisang Villa pun melesat. Pada 2011, Denni sudah memiliki enam outlet.

Ternyata, Denni tak puas sampai di situ. Ia punya visi yang lebih besar. Dan ia butuh bantuan orang-orang khusus untuk mewujudkan visi itu.

***

Peristiwa Bom Bali pada Oktober 2002 berpengaruh besar pada karir I Kadek Witarsa. Kontrak kerjanya di Hard Rock Bali diputus saat baru berusia tiga bulan. Padahal, ia dijadwalkan bekerja di sana selama satu tahun.

Witarsa belum menamatkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Triatma Mulya, Denpasar. Ia dikontrak Hard Rock karena termasuk salah satu yang berprestasi di sekolahnya. Kontrak itu datang satu tahun sebelum ia wisuda.

Meski menimbulkan ketakutan bagi para ekspatriat dan turis mancanegara, tidak semua bule-bule itu meninggalkan Bali. Banyak yang memiliki rumah di Pulau Dewata itu. Mereka enggan meninggalkan hartanya, dan pulau indah itu.

Karena banyaknya ekspatriat, banyak pula bermunculan toko-toko yang menjual makanan impor masih tetap bertahan. Salah satunya adalah Gourmet Store. Sebuah perusahaan ritel yang menjual barang-barang impor itu . Di ritel tersebut Witarsa meniti karir usai lulus di Triatma Mulya pada 2003.

Setahun belajar, Witarsa menunjukkan kemampuannya soal pengetahuan produk. Setiap ada orang yang menanyakan tentang produk apapun di swalayan itu, Witarsa mampu menjelaskan.

Suatu hari di tahun 2004 seorang pelanggan bertanya pada pria kelahiran 21 Desember 1980 itu. Sebagai rutinitasnya, Witarsa menjelaskan. Ternyata, bukan hanya info yang diterima sang pelanggan. Ia terpesona dengan keahlian Witarsa menjelaskan produk itu.

Witarsa tak tahu, bahwa pelanggan yang dihadapannya adalah kepala cabang salah satu perusahaan ritel yag beroperasi 24 jam, di Bali. Tak lama dari pertemuan itu, sang pelanggan mengajak Witarsa mengelola salah satu outlet di Bali.

Tahun 2005, Witarsa dipercaya perusahaan itu membangun jaringan perusahaan di Batam. Tak lama di Batam, Witarsa kembali ke Bali. Namun sejak 2008, ia ditunjuk sebagai kepala cabang jaringan toko itu di Batam. Tiga tahun ia menjabat kepala cabang, sebelum seorang pengusaha mengajaknya bertemu untuk makan siang.

Pengusaha itu memperkenalkan dirinya. Namanya Denni Delyandra, pemilik Kek Pisang Villa. “Pertemuan itu hanya pertemuan biasa. Pak Denni mengatakan ia ingin belajar tentang manajemen,” kata Witarsa.

Pertemuan kedua berlangsung hampir sama dengan pertemuan pertama. Baru di pertemuan ketiga Denni mengajak Witarsa bergabung di manajemen Kek Pisang Villa. Jabatannya, General Manager (GM). “Saya tidak tertarik saat itu,” ungkap Witarsa.

Denni tak menyerah. Ia memaparkan visinya pada Witarsa. Denni juga mengaku membutuhkan orang untuk membangun fondasi awal mewujudkan visi itu.

Berhasil. Witarsa tertarik ikut tes untuk posisi GM Kek Pisang Villa.

“Saya tertarik dengan visi Pak Denni,” terang Witarsa. “Beliau memaparkan target yang ingin dicapai dalam beberapa tahun ke depan.

Satu yang ia senangi dari pemaparan Denni adalah kerjaan di Kek Pisang Villa yang tidak monoton. “Saya tidak suka kalau monoton. Pak Denni mengungkapkan bahwa ia ingin membuka cabang di daerah lain. Jadi pasti akan banyak perubahan-perubahan,” terang Witarsa.

“Secara pribadi visi beliau nyambung dengan saya,” kata Witarsa.

Tak hanya Witarsa yang diajak oleh Denni. “Ada lima GM atau Kepala Cabang yang saya ajak selain Pak Witarsa,” kata Denni. Mereka berasal dari ritel dan restoran cepat saji.

“Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk mengenal dan meyakinkan mereka, tiga bulan,” terang Denni. Pendekatannya pun sama, mengajak makan dan ngobrol, masing-masing di hari yang berlainan. “Saya tempel terus (mereka).”

Seperti pada Witarsa, lima orang lainnya bersedia ikut tes psikologi. Hasilnya, Witarsa bejodoh dengan Kek Pisang Villa. Jadilah dia GM pertama Kek Pisang Villa di bulan Maret 2011.

Denni mengaku, ia ingin membuat UKM miliknya menjadi perusahaan profesional. Untuk itu, ia harus berani menyerahkan kendali perusahaan itu pada orang lain yang mampu dipercaya dan mampu melaksanakan mengembangkan perusahaan.

Ketika Witarsa pertama kali masuk, Kek Pisang baru memiliki enam outlet dan sekitar 80 pekerja. Dengan kepercayaan Denni, ia membangun fondasi baru di Kek Pisang Villa. Ia membuat aturan baru dan struktur organisasi. “Saat itu belum ada struktur dan job desk yang jelas,” kata Witarsa. Ia juga mengatur adanya penghargaan dan sanksi terhadap prestasi dan kesalahan yang dilakukan para pegawainya.

Dampak aturan baru dirasakan seluruh pegawai. Sejumlah pegawai menganggap aturan itu lebih ketat. “Sebelumnya lebih santai,” kata Witarsa mengulangi keluhan pegawai waktu itu. Akibatnya, perusahaan tak melanjutkan kontrak sejumlah pegawai. Sebagian memilih tak melanjutkan kontrak.

Baca juga : Berawal dari loper koran

Tapi, budaya profesional yang ditanamkan Denni tetap berlandaskan kekeluargaan. Manajemen Kek Pisang Villa memberikan hadiah ulang tahun. Mereka juga beramai-ramai mengunjungi karyawan yang sakit. Di sisi organisasi, jenjang karir pegawai pun lebih jelas.

Denni mengatakan penting bagi karyawan yang diterima di Kek Pisang Villa untuk tahu jenjang karirnya. Menurut dia, itu yang kurang dari UKM di Indonesia. “Banyak UKM yang tidak memikirkan karir pegawainya. Yang ada hanya menerima pegawai, dan menggaji. Padahal itu tak cukup,” kata Denni.

Salah satu pengembangan karir karyawan adalah dengan menawarkan sejumlah posisi di cabang-cabang yang akan dibuka. Mereka membuka kesempatan bagi pegawai yang merasa sanggup untuk mengisi posisi di cabang yang baru. “Kami mengutamakan pegawai internal. Kalau di dalam Kek Pisang Villa tidak ada yang memenuhi syarat, baru kami cari dari luar,” tambah Witarsa.

Soal gaji, Denni tak mau tanggung-tanggung. Upah paling rendah di Kek Pisang Villa berada di atas Upah Minimum Kota (UMK) Batam. Bahkan, setelah UMK 2013 naik hampir Rp 600 ribu dari tahun sebelumnya. Hal yang sama ia berlakukan pada golongan manajer ke atas. Denni bahkan berani mengadu besaran gaji pegawai manajemen Kek Pisang Villa dengan perusahaan BUMN yang menjabat posisi yang sama.

Perubahan di manajemen Kek Pisang Villa berdampak positif pada perusahaan itu. Sejak 2011, sebanyak 19 outlet baru dibuka. Tiga outlet ,masing-masing satu, di Padang, Balikpapan, dan Banjarmasin dibuka dalam waktu yang berdekatan dalam bulan Desember 2012, bersamaan dengan penggunaan kantor dan pabrik baru di Citra Buana III.

***

Terhitung sejak kedatangan Witarsa, Denni pelan-pelan melepaskan perannya dalam operasional harian Kek Pisang Villa. Bahkan saat ini, ia tak lagi mengurusi hal-hal tersebut. “Kalau anda tanya berapa harga tepung, pisang, atau telor, saya sudah tidak tahu,” ujar Denni.

Denni saat ini berperan mengatur strategi perusahaan. “Jika mendapat ide baru, Pak Denni atau Bu Selvi sering mendorong kami untuk mencoba,” kata Witarsa.

Tour of Factory termasuk salah satu ide Denni untuk mendekatkan Kek Pisang Villa pada konsumen.

Denni memang tidak main-main dengan visinya. Ia ingin agar visinya itu merasuki jiwa setiap pegawainya. “Kami ingin semua tahu perusahaan ini mau dibawa ke mana,” kata Denni soal visinya.

Untuk mengingatkan, manajemen menempel poster berisi visi, misi, nilai budaya, dan nilai perilaku. Latar belakang poster ukuran A3 itu berwarna oranye, warna khas Kek Pisang Villa.

“Menjadi perusahaan retail oleh-oleh nusantara yang terbesar dan menguntungkan.” Begitulah pernyataan visi Kek Pisang Villa.

Visi itu diikuti oleh dua misi. Pertama, membuka cabang di 40 daerah di Indonesia hingga akhir 2015. Kedua, menciptakan sistem kerja yang akurat, sumberdaya yang profesional dan akurat.

Sementara untuk nilai budaya kerja, ada empat yang ditanamkan Denni. Keempat nilai itu adalah profesional, integritas perbaikan tiada henti, dan peduli kepada konsumen. Sepuluh perilaku ia tetapkan sebagai nilai budaya perilaku, yakni jujur, tanggung jawabm disiplin, bersih, kerjasama, kreatif dan inovatif, religius, visioner, konsisten, dan fun.

Untuk mewujudkan visi itu, tahun ini Kek Pisang Villa berencana membuka enam sampai delapan outlet baru di berbagai daerah. Uniknya, di setiap daerah, bukan merek Kek Pisang Villa yang mereka jual. Malahan, mereka menjual produk-produk baru yang diproduksi di daerah itu.

Di Pekanbaru, Vizc Cake dibuat dari bahan durian. Di Padang, ada Roti Randang Ninur– roti yang diisi dengan rendang. Di Balikpapan, mereka menjual kue gulung Jenebora, yang namanya diambil dari sebuah bukit di sana. Sedangkan di Banjarmasin, ada Wadai Banjar, panganan serupa bingka di melayu dan bolu gulung sasirangan kasturi.

Denni menegaskan, sudah banyak yang meminta dirinya membuka cabang Kek Pisang Villa, bahkan sampai ke Johor. Tapi ia menolak. Ia ingin Kek Pisang Villa tetap di Batam dan Tanjungpinang. “Kalau kita buka di Bogor misalnya, orang sana yang datang ke Batam akan bertanya ‘ngapain beli Kek Pisang di Batam, di Bogor kan ada’,” Denni menjelaskan. Ia ingin Kek Pisang Villa melekat dengan Batam seperti Joger di Bali dan Bakpia di Yogyakarta.

***

Kek Pisang Villa saat ini bukan pemain tunggal dalam bisnis oleh-oleh di Batam. Denni menghitung, paling tidak ada 15 merek yang berkompetisi dalam bisnis ini di Batam. “Pada tahun 2007 sampai 2009, kami pemain tunggal,” kata Denni.

Bertambahnya pesaing tak membuatnya gentar. Malahan ini menguntungkan bagi Batam karena promosi dilakukan bersama sehingga edukasi pasarnya lebih cepat. Promosi yang tidak terpikirkan oleh Kek Pisang Villa bisa dilakukan oleh merek lain.

“Dulu, saya edukasi pasar menggunakan anggaran sendiri. Itu juga melelahkan dan mahal. Ketika ramai, bisa mengajar pasar yang lebih besar karena bersama-sama,” ujar Denni.

Keuntungan bagi Kek Pisang Villa, sebagai yang pertama, orang banyak mencari dia. Belum lagi strategi promosi yang dilakukan Kek Pisang Villa. Ketua Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) Batam, Kadek Sutraini mengatakan strategi promosi Kek Pisang Villa membuat merek itu yang paling dicari wisatawan yang menggunakan jasa agen perjalanan.

“Wisatawan berpatok pada merek yang paling banyak mereka lihat selama perjalanan. Walaupun ada merek lain yang dibilang lebih enak, mereka memilih yang iklannya banyak mereka lihat. Itu yang dilakukan Kek Pisang Villa lewat promosinya,” kata Kadek saat dihubungi pertengahan minggu lalu.

Dengan kemampuan yang dimiliki Kek Pisang Villa menjangkau pasar, pelaku ekonomi dan pariwisata Batam sebenarnya ingin melihat merek itu go internasional. “Minimal di tingkat regional, Singapura dan Malaysia,” kata Ketua Kepri Tourism Board, Rahman Usman.

Rahman yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Kadin Kepri menjelaskan, pentingnya menyasar pasar Singapura. Pasalnya, negeri itu jadi tempat berkumpulnya manusia dari segala bangsa.

Salah satu ide yang ia tawarkan adalah agar Kek Pisang Villa membuat promosi dalam bahasa Inggris. Ia juga mengusulkan usaha Denni itu mencantumkan nilai gizi dan berpromosi tentang kandungan pisang dalam kek buatannya.

“Lihat saja apa yang dimakan petenis dunia saat bertanding. Banyak yang makan pisang di sela-sela istirahat. Bisa saja Kek Pisang Villa mempromosikan keknya sebagai penambah tenaga. Seperti itulah contohnya,” jelas Rahman.

Witarsa menegaskan, Kek Pisang belum punya rencana serius berpomosi di negara tetangga meski setahun yang lalu mereka sempat mengikuti pameran kuliner di negara tersebut. “Pasar Indonesia belum tergarap semua,” kata Witarsa menyebutkan alasannya.

Bisa dibilang, kekuatan visi dan ide yang membuat Kek Pisang Villa bertahan selama enam tahun. Keberadaan kompetitor ternyata tak membuat produk ini tenggelam. Sebaliknya, berbagai gempuran pesaing mendorong Denni dan pegawainya untuk melakukan perubahan untuk menyiasati pasar.

Sebagai pemimpin, Denni menggagas banyak perubahan di perusahaan miliknya. Menurutnya, hanya dengan berubah perusahaan tetap hidup. Witarsa selalu mengingat pesan Denni, “Kalau nggak mau berubah, kita mati.” ***

Download PDF Majalah Batam Pos

dapatkan-update-terbaru1

Iklan