15143402389_9985af7b28_b

Pulau Midai di Natuna adalah tempat lahirnya serikat dagang tertua milik pribumi di Indonesia. Di pulau kecil ini beredar uang ratusan miliar rupiah per tahun.

Oleh YERMIA RIEZKY

Di bawah naungan pohon-pohon kelapa yang rindang, seorang perempuan paruh baya sedang bekerja dengan tekun. Ia duduk di atas panggung segi empat berukuran 2 x 2 meter yang disangga potongan batang kelapa, tingginya satu meter di atas permukaan tanah. Angin laut yang berhembus masuk ke pesisir Pulau Midai, Kabupaten Natuna sesekali menghilangkan gerah yang dipicu lembabnya perkebunan kelapa. Kawanan nyamuk berkeliaran di sekitar tumpukan sabut kelapa di sekitar penggung itu, mencari waktu yang tepat menancapkan sungutnya di kulit perempuan itu.

Nurmin, perempuan itu, tak peduli. Di atas panggung yang terbuat dari kayu pohon kelapa itu, ia menata tempurung-tempurung kelapa yang menggunung di sekelilingnya. Tempurung kelapa tua itu sudah dibelah dua. Dagingnya masih tetap melekat di bagian dalam tempurung. Kalau ada buah kelapa yang memiliki kentos besar, Nurmin membuangnya.

“Itu nanti bisa digunakan untuk pakan ternak, tapi kalau orang mau makan juga bisa,” kata Nurmin.

Jika Nurmin selesai menata tempurung-tempurung itu, ia akan menumpuk sabut kelapa di kolong parak, sebutan orang Midai untuk panggung kecil itu. Ia kemudian membakar sabut untuk mengasapi tempurung tersebut. Setelah pengasapan ia akan melepaskan daging kelapa dari tempurungnya, kemudian menjemurnya dan menjualnya ke pedagang-pedagang keturunan Tionghoa yang ada di Midai.

Dia sudah mengerjakan pekerjaan itu selama 13 tahun. “Sejak suami saya meninggal, saya harus bekerja untuk memenuhi memberi makan anak-anak.”

Selama tiga bulan, Nurmin bekerja di tiga kebun. Senin sore dua minggu lalu ia sedang menata tempurung kelapa di kebun wakaf sebuah masjid di Midai. Selain di kebun itu, ia juga memiliki satu kebun keluarga dan bekerja di kebun milik satu keluarga lainnya.

Kopra baru bisa dijual setiap tiga bulan. Jadi, ia bar menerima penghasilan setiap tiga bulan. Akhir-akhir ini harga kopra berkisar Rp 500 ribu per 100 kilogram. Jika permintaan kopra tinggi, harga di tingkat petani mencapai Rp 800 ribu per 100 kilogram. Di panen kopra terakhir, Nurmin mendapat Rp 500 ribu dari setiap kebun.

“Kalau harga (kopra) rendah, saya dapat 500 ribu. Kalau harga tinggi, saya kadang dapat 1 juta,” terang dia.

Baca Juga : Hidup Berdenyut Di Atas Terigas : Kisah Penghuni Kapal Perintis

Di Midai selama lebih dari 100 tahun berlangsung sistem pembagian hasil usaha yang dilakukan oleh serikat dagang Ahmadi & Co. Serikat dagang tersebut merupakan serikat dagang tertua yang didirikan oleh pribumi. Ia kemudian yang menginspirasi Wakil Presiden Republik Indonesia pertama, Mohammad Hatta tentang sistem koperasi yang akan dikembangkannya. Selanjutnya, Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Manajemen serikat Ahmadi & Co. saat ini tak lagi beroperasi. Selama di Midai, samar-samar Batam Pos mendengar serikat itu masih memiliki pemimpin. Namun, aktivitasnya nyaris tak ada lagi.

Perlahan, kisah Ahmadi & Co. tergerus dan hanya tertinggal di Midai. Seperti sistem bagi hasil yang dilakukan di perkebunan kopra. Setiap panen, hail penjualan akan dibagi lima. Dua bagian diberikan kepada pemilik kebun, sedangkan tiga bagian lain diberikan pada pekerja yang memanjat kelapa, pekerja pengupas kelapa, dan pekerja yang mengasapi dan mengeringkan kopra seperti Nurmin.

anda-suka-dengan-artikel-ini-dapatkan-update-kisah-dari-yermia

***

Nurmin merupakan satu bagian dari rantai perdagangan hasi kebun yang ada di Pulau Midai. Pulau kecil di Barat laut Pulau Bunguran, pulau utama di Kabupaten Natuna. Pulau ini terkenal sebagai penghasil cengkeh dan kopra.

Luas pulau Midai hanya sekitar 50 kilometer persegi. Jalan aspal yang dibangun mengelilingi pulau panjangnya hanya 18 kilometer. Jika menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sedang, mengelilingi pulau ini dapat ditempuh selama 20 menit. Kebanyakan warga tinggal di sekitar pelabuhan utama Midai. Sebagian kecil warga tersebar di sepanjang pesisir pulau.

Namun kondisi geografis yang minor itu berbanding terbalik dengan jumlah uang yang beredar di sana. Perkebunan menyumbangkan pundi-pundi yang besar bagi sekitar 5160 warga yang menetap di pulau itu. Selain dari kopra, hasil bumi lain yang jadi andalan Midai adalah cengkeh. Tumbuhan rempah ini bahkan jadi penyumbang utama pendapatan masyarakat Midai. Tahun ini misalnya, panen cengkeh diperkirakan mencapai 500 ton. Harga satu kilogram cengkeh kering di tingkat pengepul mencapai Rp 138 ribu. Itu berarti dari hasil penjualan cengkeh para pemilik kebun mendapat sekitar Rp 69 miliar. Cengkeh pun dianggap sebagai emas hitam.

“Jika diambil semuanya, pasti lebih dari 500 ton. Hanya panen terakhir pemanjat kurang, sehingga masih banyak cengkeh yang tinggal di pohon,” kata Asun, salah satu pengepul hasil bumi di Midai. Selain Asun, ada dua tauke besar yang ada di Midai Asun mengaku dia bukan pengepul terbesar. Di samping itu, masih banyak pegepul-pengepul kecil yang membeli hasil bumi masyarakat.

Menurut Camat Midai, Suherman, panen terakhir yang berlangsung pada bulan Februari dan Maret tahun lalu bukanlah panen raya. “Kalau panen raya, yang hasil cengkehnya lebih dari seribu ton,” kata Suherman, di Kantor Camat Midai, dua minggu lalu.

Tidak hanya pemilik kebun yang menikmati hasil cengkeh. Pekerja yang datang secara khusus untuk memanjat cengkeh juga menikmati hasilnya. Salah satu pemilik kebun cengkeh, Martius mengungkapkan hasil penjualan cengkeh selalu dibagi dua dengan pekerja.

Musim panen cengkeh membuat Midai laksana menghelat sebuah festival. Sekitar 1.000 pemanjat pohon cengkeh dari Sumatera dan Kalimantan berbondong-bondong mendatangi pulau itu.

Anak-anak pun menikmati berkah panen cengkeh. Setiap panen, mereka memungut cengkeh kering yang tercecer di jalan, kebun, atau halaman rumah. Suherman mengatakan, hampir setiap hari seorang anak bisa mengumpulkan 1-2 kilogram cengkeh kering yang tercecer.

“Jadi tidak heran lagi kalau melihat anak kecil mengantongi uang sampai jutaan rupiah pada musim cengkeh,” ujar Suherman.

Uang hasil penjualan cengkeh digunakan pemilik kebun untuk membangun rumah, menyekolahkan anak, dan membeli sepeda motor. Sepeda motor dibawa dari Pontianak, Kalimantan Barat ke Midai menggunakan kapal kargo yang dibuat dari kayu. Permintaan sepeda motor baru pada sehabis panen cengkeh meningkat. Sampai-sampai ada anekdot warga yang mengatakan motor di Midai selalu.

Salah satu sesepuh di Midai, Hailani mengatakan, keinginan orang membeli kendaraan setelah menerima uang hasil panen cengkeh telah ada sejak dulu. Dia, misalnya, membeli motor Honda 70 di Pontianak pada dekade 1980-an dari hasil panen cengkeh.

“Saat ini, kalau datang motor baru dari Kalimantan, orang akan saling berebut. Satu motor misalnya ada yang menarik stang, ada yang menarik jok, ada yang menarik ban. Banyak yang ingin membeli motor karena mereka mampu,” kata Hailani.

“Tidak ada warga Midai yang miskin,” kata Suherman. “Di sini semua berkecukupan.”

Sekarang jamak warga Midai mengendarai motor-motor dengan kondisi yang masih ‘kinclong’. Dan karena motor itu dibawa penjual dari Kalimantan ke sebuah pulau kecil di Kabupaten Natuna, kebanyakan motor itu tidak memiliki plat nomor. Karena tanpa nomor kendaraan, pemilik motor-motor itu tidak membayar pajak tahunan kendaraannya.

Menurut Ayi, warga Midai yang memandu Batam Pos selama di Midai, motor-motor yang dibawa pedagang dari Pontianak ke Midai sering menjadi masalah di ibukota Kalimantan Barat itu. Pasalnya segala bentuk pajak yang seharusnya dibayarkan dalam proses jual beli dan oleh pemilik kendaraan tak pernah masuk ke kas negara.

“Menurut pedagang yang membawa motor dari Kalimantan, motor-motor yang dibawa ke Midai dilaporkan telah dicuri,” kata Ayi.

Hubungan antara Midai dan Kalimantan Barat memang terjalin erat khususnya setelah era konfrontasi Indonesia terhadap Singapura dan Malaysia pada awal dekade 1960-an. Sikap agrasif pemerintah Indonesia itu kemudian memutus hubungan dagang antara Midai dengan dua negeri jiran itu. Sebelumnya pedagang asal Singapura dan Malaysia begitu Mesra dengan Midai yang diwakili oleh serikat Ahmadi & Co. Mereka mengangkut kopra dari Midai dan membawa bahan kebutuhan pokok untuk dijual di Midai. Transaksi pun dilakukan dalam bentuk dollar. Sesepuh di Midai mengatakan pada masa itu mereka sama sekali tidak pernah merasakan produk-produk yang diproduksi di Indonesia.

Baca juga : Mengisi Perut, Pupuk Nasionalisme

Berkembangnya hubungan dengan Kalimantan Barat khususnya Singkawang dan Pontianak, menurut Hailani didorong oleh kedekatan geografis. Ketika transportasi waktu itu masih mengandalkan kapal yang dibuat dari kayu, pelayaran ke Kalimantan ditempuh dalam waktu 18 jam. Sementara pelayaran ke Tanjungpinang memakan waktu 36 jam bahkan lebih.

“Kondisi ranai sendiri lebih parah ketimbang Midai,” kata Hilani.

Seperti halnya daerah lain di Natuna, Midai masih menggantungkan pemenuhan kebutuhan mereka ke Kalimantan Barat. Uang milayaran rupiah yang didapat warga Midai dari hasil cengkeh dan kopra pun lebih banyak mengalir di Kalimantan Barat, ketimbang di Kepulauan Riau. Tak hanya belanja, warga Midai juga menabung uangnya di Kalimantan Barat. Ayi mengatakan, setiap masa panen cengkeh, milayaran uang tunai berlayar mengarungi lautan antara Midai dan Kalimantan Barat.

“Sudah biasa uang dimasukkan dalam kardus mie instan dan di bawa oleh kapal kayu ke Kalimantan,” ujar Ayi.

Hingga tiga bulan lalu fasilitas perbankan memang belum ada di Midai. Inilah yang membuat warga memilih membelanjakan uangnya atau menabungnya di Kalimantan. Barulah tahun lalu Bank Riau Kepri membuka cabang di Midai.

***

Meski hasil perkebunan sudah menyumbang ratusan miliar bagi masyarakat Midai, interaksi warga antar pulau masih terbatas. Masyarakat tidak bisa keluar pulau kapan saja mereka mau. Transportasi utama masih mengandalkan kapal KM Bukit Raya milik PT Pelni dan dua kapal perintis KM Terigas 5 dan KM Sabuk Nusantara 39. Kapal Bukit Raya satu minggu sekali menyambangi Midai. Meski demikian, setiap minggu jurusan kapal itu berbeda. Minggu ini berangkat ke pelabuhan Selat Lampah di Pulau Bunguran, minggu depan kapal itu menuju ke Pontianak sebelum meneruskan ke Jakarta. Baru minggu berikutnya Bukit Raya kembali mengarungi rute ke Selat Lampah hingga Tarempa kemudian ke Tanjungpinang.

Kapal-kapal perintis sama saja. Mereka menghampiri Midai sekitar 10 – 12 hari sekali. Dalam satu minggu, ada satu kapal perintis yang merapat di perairan Midai.

Kondisi ini menyulitkan warga ketika mereka berada dalam kondisi darurat. Jika ada warga Midai yang membutuhkan penanganan kesehatan darurat dan harus dibawa ke Ranai, keluarganya harus menyewa pompong.

Perjalanan ke Ranai membutuhkan waktu 8-10 jam. Kondisi darurat membuat mereka harus mengarungi Laut Natuna dalam kondisi apapun. Demi menyelamatkan nyawa seorang warga, para pengantar kerap mempertaruhkan nyawa jika kondisi laut tidak bersahabat.

Kondisi Midai yang dikelilingi karang juga menjadi persoalan lain. Baik KM Bukit Raya dan kapal-kapal perintis tidak ada yang berani merapat di dermaga Midai. Kapal akan berhenti hampir satu kilometer dari garis pantai. Warga yang akan naik kapal atau turun ke dermaga harus digubungkan dengan pompong atau kapal nelayan.

Saat Batam Pos berangkat ke Midai, KM Bukit Raya berhenti di perairan pulau Midai sekitar pukul 1.00 dinihari. Di laut, sebuah kapal nelayan sepanjang 10 meter dengan lebar 2,5 meter sudah menunggu dengan penumpang yang akan berangkat menuju Pontianak atau Jakarta.

Ketika kapal berhenti, kru kemudian menurunkan tangga di dek lima. Angin tidak berhembus kencang, namun gelombang malam itu cukup kuat mengombang ambingkan perahu nelayan. Pengemudi harus tepat mengarahkan haluan perahu dekat dengan ujung tangga.

Penumpang berangkat naik lebih dulu, kemudian penumpang yang akan turun menuju Midai. Proses melompat dari ujung tangga ke haluan perahu bukan hal yang gampang. Dengan gelombang menggerakkan perahu secara vertikal hingga satu meter, penumpang harus tahu kapan waktu tepat untuk melompat. Saat itu adalah ketika haluan perahu bergerak mendekati tangga.

Baca Juga : Berharap Pada Selay Lampa (essay foto)

“Saat melompat harus tepat. Kalau salah, kaki bisa patah,” kata Suherman, Camat Midai.

Malam itu semua penumpang yang pindah dari kapal ke perahu adalah orang dewasa. Tidak ada anak-anak atau bayi. Beberapa orang menceritakan, jika ada bayi yang harus dipindahkan, prosesnya akan dramatis. Cerita lain yang Batam Pos dengar cukup seram: ada beberapa warga yang tewas tenggelam dalam proses perpindahan itu.

Keterbatasan juga dirasa warga saat musim angin utara datang setiap akhir tahun dan memasuki awal tahun. Pada musim ini banyak kapal dari Kalimantan tidak berani berlayar sampai Midai. Menurut warga, pada musim itu perahu yang membawa kebutuhan dari Kalimantan terpaksa harus memutar balik karena laut tidak bersahabat. Hal ini membuat para pedagang biasanya membawa lebih banyak kebutuhan warga Midai sebelum musim angin utara agar warga bisa menyimpan kebutuhan selama musim itu.

Sementara itu soal komunikasi tak jauh beda. Meski dua operator telepon seluler Telkomsel dan Indosat masuk ke pulau itu sejak tahun 2003, perkembangan jaringan terbilang lambat. Sinyal ponsel masih sering hilang di banyak temat di Midai. Bahkan, di ruang kerja Camat, sinyal ponsel tak dapat diterima.

Dan, bukan cuma soal sinyal ponsel yang jadi keluhan. Kapasitas jaringan pun kerap jadi masalah. Semakin hari warga Midai makin mampu membeli ponsel. Ini membuat makin banyak warga yang menggunakan layanan percakapan sehingga jaringan ponsel di Midai kerap sibuk.

Salah satu pegawai kantor Kecamatan Midai Zulkadri mengungkapkan, keterbatasan kapasitas jaringan sangat terasa saat Midai menjadi tuan rumah STQ Kabupaten Natuna tahun 2012. Saat itu banyak peserta yang menelepon kerabatnya di luar Midai. Karena penggunaan padat sementara kapasitas jaringan terbatas, pengguna ponsel pun kesulitan untuk menghubungi kerabat.

“Kendala telekomunikasi dari dulu soal keterbatasan jaringan,” kata Zulkadri mengeluh. “Kalau menelepon saja sulit, bagaimana kami mau mengakses internet dari HP (ponsel) kami?” ****

dapatkan-update-terbaru1

 

PDF Majalah Batam Pos

 

Iklan