Pembuat batu bata

Batam pernah berjaya lewat batu bata milik Raja Ali Kelana. Sempat tenggelam, industri itu kini bergerak di tangan para perantau asal Demak.

Yermia Riezky

Gudang batu bata Muslikan kedatangan pembeli. Sebuah lori yang dicat biru dengan bak kosong bergerak perlahan di depan gudang. Sang sopir kemudian mengarahkan lori itu bergerak mundur memasuki gudang yang berlokasi di Kampung Jawa, Piayu Laut, Kecamatan Seibeduk, Batam itu. Lori terus mundur hingga berhenti hanya beberapa sentimeter dari tumpukan batu bata yang disusun setinggi lima meter.

Muslikan segera menghampiri sopir lori itu. “Mau ambil berapa, Mas?” Muslikan bertanya jumlah batu bata yang ingin diangkut.

“Enam ribu biji, ya,” jawab sang sopir.

Muslikan segera memerintahkan empat pekerjanya mengambil batu bata sebanyak yang diminta pembelinya. Segera empat orang pekerja naik ke bak lori. Satu di antara mereka memanjati tumpukan bata, dan mengambil posisi yang aman untuk berpijak saat mengambil bata dari tumpukan tersebut. Muslikan juga turut mengambil batu bata dari bagian dasar tumpukan.

Kelima orang itu melakukan pekerjaannya dengan cepat. Sekali ambil, bisa enam batu bata yang disusun. Mereka kemudian melempar batu bata itu ke rekan yang ada di bak lori. Dengan sigap, pekerja di dalam lori menangkap dan menyusun bata-bata tersebut.

Selama 30 menit bekerja, kelima orang itu tidak pernah berhenti bericara. Ada saja bahan yang memancing suasana agar tetap gayeng. Tak hanya mereka berlima, empat perempuan istri pekerja yang duduk tak jauh dari lori turut menimpali pembicaraan kaum pria.

Saat merembet ke topik pemilihan presiden, seorang pekerja angkat bicara tentang visi salah satu calon presiden. “Ada yang menjanjikan kalau dia terpilih akan menaikkan upah buruh jadi enam juta,” kata seorang pekerja.

“Iya, bisa saja. Tapi siapa yang mau bayar?” pekerja lainnya menyambar.
“Apa bosnya yang mau bayar? Sanggup?”

Muslikan yang ditanyai seperti itu hanya tersenyum kecut. Tapi ia tidak tersinggung dengan pertanyaan itu.

Ketika pekerjaan selesai, Muslikan meminta sopir lori memeriksa dan menghitung jumlah bata yang diangkut. Sang sopir tidak memberikan uang tunai. Ia hanya memberikan nota. Nota itu nanti yang akan dicairkan ke toko bangunan.

Jarang pembeli membayar dengan uang kontan. Lebih sering mereka memberikan nota untuk diklaim ke toko bangunan. Para pemilik usaha pembuatan batu bata seperti Muslikan pun tidak keberatan dengan itu. Mereka sudah sering melakukan transaksi tanpa uang kontan di depan.

Pengusaha pembuat batu bata lain di Kampung Jawa, Mustofa, mengatakan meski sistem kepercayaan seperti itu yang berkembang, pengusaha batu bata sering dirugikan.

“Kadang kalau kami menelepon apakah sudah bisa dicairkan, pemilik toko bangunan mengatakan uangnya belum ada. Kami tidak tahu apakah uangnya benar tidak ada,” kata Mustofa.

Padahal, pengusaha bata membutuhkan dana untuk operasional rutin selama dua bulan. Dua bulan merupakan waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan batu bata sampai jumlahnya cukup untuk dibakar.

“Kami masih harus membayar makan para pekerja. Membetulkan rumah mereka, dan membenahi gudang-gudang yang rusak,” kata Mustofa. Para pengusaha bata di Piayu Laut membangun tempat tinggal untuk pekerja dan keuarganya.

“Saya tinggal di sini sejak 2007. Di rumah yang kecil itu,” kata Sutriman, salah satu karyawan Muslikan menunjukkan rumahnya yang dindingnya hanya ditutupi terpal. Luas rumahnya hanya 3×4 meter. Kakusnya dibuat secara sederhana di belakang rumah dengan menggali tanah.

Pengusaha bata merah di Piayu Laut kesulitan untuk mendapatkan keuntungan lebih dari usaha mereka. Meski memiliki usaha, tidak lantas membuat mereka menjadi kaya raya. Muslikan tetap tinggal di rumah sederhana berdinding bata merah yang tidak dilapisi plaster. Tidak banyak yang berubah meski ia memiliki tiga gudang yang salah satunya difungsikan sebagai tempat memasak bata atau tobong.

“Saya sudah sepuluh tahun tinggal di sini sejak melakukan usaha ini. Sebelumnya, saya bekerja membuat batu bata di Mangsang sejak 1999,” kata Muslikan. Seperti Muslikan, nyaris semua pengusaha bata di Piayu Laut bekerja membuat bata di Mangsang, Seibeduk.

Batu bata produksi Piayu Laut menjadi salah satu yang dicari dalam pembuatan gedung atau rumah mewah. Pengembang tidak akan mengambil risiko menggunakan batako yang rapuh untuk proyek-proyek mewah. Sayangnya posisi produsen bata merah berada di dasar piramida proyek-proyek konstruksi di Batam.

Posisi itu membuat pemborong atau toko-toko bangunan sanggup menentukan harga. Mereka juga sanggup memaksa agar produsen mau menurunkan harga. Caranya, toko bangunan sepakat tidak mengambil batu bata dalam waktu tertentu.

“Kalau pelanggan sudah lama tidak datang, biasanya kami telepon untuk menanyakan. Tapi jawab mereka hampir sama, ‘stok bata masih ada’. Kami tahu mereka bersekongkol untuk mendapatkan harga yang murah,” keluh Mustofa. “Tapi kami tidak bisa apa-apa, soalnya kami yang membutuhkan mereka.”
***

LEBIH satu abad lalu, Batam pernah dikenal dengan produksi batu batanya. Adalah Raja Ali Kelana yang mengembangkan pabrik Batam Brickworks di wilayah yang saat ini dikenal dengan nama Batuaji. Kantor perusahaan itu sendiri berlokasi di Singapura.

Batam memiliki tanah yang sesuai untuk membuat batu bata yang berkualitas. Bata dengan stempel ‘BATAM’ pada salah satu sisinya mengangkat nama Batam di kawasan Selat Malaka hingga negara-negara Asia Timur. Di Singapura, batu bata Batam bersaing ketat dengan batu bata Skotlandia yang juga menjadi favorit di negeri itu. Keberhasilan Raja Ali juga mengangkat martabat Kerajaan Melayu Riau-Lingga di bidang ekonomi kawasan.

Namun setelah lebih dari seabad sejak berakhirnya masa jaya Raja Ali Kelana di perusahaan Batam Brickworks pada 1910, tak ada lagi pembuat batu bata yang mengenal putra Yang Dipertuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf. Para pembuat batu bata di Tanjungpiayu bahkan tidak pernah mendengar soal batu bata Batam ketika Batam Pos menceritakan kisah itu pada mereka.

Pembuat batu bata bukan lagi orang Melayu seperti Raja Ali Kelana dan jajaran manajemennya. Hampir seluruh pemilik dan pekerja usaha batu bata merah yang ada di Batam berasal dari Kecamatan Gajah, Demak, Jawa Tengah.

Menurut Mustofa, kedatangan warga Gajah pertama kali ke Batam terjadi pada tahun 1994. Mereka menetap di perkebunan di Mangsang. Saat itu, di daerah itu juga sudah dihuni oleh perantau asal Pacitan. “Sebelum itu, saya mendengar orang-orang Gajah sempat bermukim di Tanjungpinang sebelum ke Batam,” kata Mustofa. Seperti perantau asal Gajah lainnya, ia melafalkan Gajah dengan sebutan Nggajah.

Salah satu pekerja pembuat bata, Supardi, mengatakan awalnya orang-orang Gajah yang datang ke Batam ingin membuat genteng. Namun kandungan pasir yang ada di dalam tanah yang digunakan sebagai bahan baku tidak lebih banyak dari jumlah yang disyaratkan untuk membuat genteng.

“Pasirnya lebih banyak. Tidak cocok untuk genteng. Akhirnya mereka membuat batu bata karena tanahnya masih sesuai meski mengandung sedikit pasir,” kata Supardi.

Tidak ada yang tahu bagaimana awal mula perantau asal Gajah mendapat keterampilan membuat batu bata. Di sana, kebanyakan orang bekerja sebagai petani atau buruh tani. Mustofa memperkirakan, keterampilan itu diperoleh saat berada di Tanjungpinang, sebelum mereka hijrah ke Batam. Pekerja lain mengatakan, barangkali ada perantau yang pernah belajar membuat batu bata di Kudus. Namun banyak perantau yang datang ke Batam karena ingin kehidupan yang lebih baik.

“Di kampung saya tidak memiliki sawah, jadi saya bekerja sebagai buruh tani di sawah orang. Lama-kelamaan saya tidak mau bekerja seperti itu karena kerjaannya musiman, tidak setiap bulan kami bisa mendapatkan uang untuk makan,” kata Sutriman. “Karena itu, saat ada yang menawari kerja di Batam, saya dan istri langsung berangkat di tahun 2007.”

Buruh yang bekerja di pembuatan batu bata umumnya sudah berkeluarga. Pemilik usaha juga membutuhkan tenaga sang istri dalam pekerjaan itu. Perempuan biasanya mendapat pekerjaan mencetak tanah liat menjadi batu bata. “Perempuan lebih tekun dan cepat untuk bekerja seperti itu,” kata Muslikan.

Sementara sang suami memiliki pekerjaan lebih banyak. Mereka yang mengumpulkan tanah dengan cangkul. Di Kampung Jawa mereka mencangkuli tanah di bukit. Tanah bisa diambil sampai lapisan padas yang masih berbentuk batu. Usai menumpuk tanah, mereka kemudian membasahi tanah tersebut dan menginjak-injaknya agar menghasilkan tanah liat yang akan dicetak pekerja perempuan.

Tanah liat yang telah dicetak bentuk batu bata kemudian dibawa ke pinggir-pinggir gudang untuk dikeringanginkan. Pembuat batu bata menyebut lokasi pembuatan batu bata dengan gudang. Bangunan itu seluruhnya dibangun dari kayu. Luasnya rata-rata sekitar 15×10 meter dengan tinggi sekitar enam meter. Atapnya berbentuk joglo yang dilapisi dengan asbes atau terpal karet.

Pemilik biasanya memiliki lebih dari satu gudang. Pasalnya, satu gudang digunakan sebagai tobong, gudang yang digunakan untuk membakar batu bata yang telah kering. Muslikan misalnya, memiliki tiga gudang. Masing-masing gudang digunakan satu keluarga untuk mencetak dan mengeringkan batu bata.

Batu bata yang telah dikeringkan kemudian disusun di tengah tobong untuk proses pembakaran. Butuh waktu dua bulan untuk mengumpulkan batu bata sebelum dibakar. Di tobong milik Muslikan, jumlah batu bata yang dibakar mencapai 125 ribu bata. Sementara di tempat Mustofa, tobongnya pernah memuat hingga 200 ribu bata. Saat Batam Pos datang ke gudangnya Rabu minggu lalu, ia hanya membakar 50 ribu bata. Jumlahnya jauh berkurang karena empat pekerjanya pulang ke Gajah untuk merayakan Idul Fitri.

Di usaha pembuatan bata, pekerja diupah berdasarkan jumlah batu yang dikerjakan. Satu batu dihargai Rp 100. Karena satu batu dikerjakan oleh keluarga, maka upah itu adalah upah keluarga. Satu keluarga setiap harinya.

Dalam sehari, satu keluarga bisa membuat 800″1.000 potong bata. Rata-rata setiap usaha yang dikerjakan secara manual menghasilkan sekitar 3.000 potong bata per hari.

Sebenarnya, pembuatan bata sudah bisa menggunakan mesin. Mesin itu menghasilkan 12 ribu potong bata per hari. Mesin itu digerakkan oleh solar. Lima liter solar seharga dengan dua hari pembuatan batu. Meski berlangsung lebih cepat, penggunaan mesin menciptakan persoalan lain. Pertama, persoalan bahan bakar. Dengan ketatnya peraturan pengisian bahan bakar solar di SPBU yang melarang pembelian menggunakan jeriken, pengguna mesin kesulitan membeli bahan bakar.

“Mereka yang menggunakan mesin harus meminjam atau menyewa mobil untuk diisi solar. Dari tangki mobil itu kita mendapatkan solar,” kata Rokim, salah satu pekerja.

Selain itu, batu bata harus menunggu pengeringan oleh angin dan sinar matahari yang memakan waktu sekitar tiga hari sebelum disusun untuk dibakar.

Perbedaan utama hasil batu bata yang dicetak secara manual dengan yang menggunakan mesin terletak pada bentuk batanya. Cetakan manual menciptakan lekukan ke dalam pada salah satu sisinya. Sementara hasil cetakan mesin seluruh bagiannya rata. Pekerja yang mencetak bata secara manual mengklaim, bata yang memiliki lekuk lebih diminati tukang bangunan. “Lekuk itu membuat semen melekat semakin kuat,” kata Mustopiah, istri Muslikan yang juga bekerja di gudang suaminya.

Selain upah mencetak batu, keluarga yang bekerja juga mendapatkan imbalan sebesar Rp18 ribu per 1.000 bata yang disusun sebelum di bakar. Upah tambahan lain diperoleh dari mengangkat 100 ribu potong bata ke lori. Untuk jasa itu, pekerja dibayar Rp 800 ribu.

Meski hitung-hitungan upahnya relatif tinggi, namun berbagai potongan kebutuhan rumah tangga membuat simpanan pekerja menyusut. Kebanyakan pengusaha batu bata menanggung keperluan rumah tangga pekerjanya. Makan dan kebutuhan rumah tangga lainnya disediakan oleh pemilik usaha. Namun pemilik akan memotong upah pekerja. “Sisa bersihnya paling hanya 10 ribu per hari,” kata Sutriman.

Pekerja menerima upahnya setiap dua bulan usai pembakaran bata. Biasanya, pekerja akan meminta pemilik gudang untuk menyimpan upah bersih yang mereka. Pekerja jarang berbelanja keluar. “Kalau mereka mau belanja di luar, kami memberikan uang yang mereka butuhkan. Sisanya tetap kami simpan,” kata Mustofa.

Sehari-hari para pekerja berkerja sejak pagi hinga sore hari. Dalam seminggu, mereka mendapat hari libur sehari. Beberapa kebiasan di Demak juga dipertahankan oleh pekerja, misalnya pembacaan surat Yasin setiap malam Jumat. Mereka baru pulang sekali dalam setahun hingga dua tahun. Namun jamak terjadi, begitu mereka kembali, mereka tidak lagi pindah ke pengusaha batu bata lainnya.
***

SORE itu Mustofa sedang bersantai di tempat tidur gantung yang dikaitkan di dua batang pohon. Ia sedang mengawasi proses pembakaran yang dilakukan di tobong miliknya. Di dekat tumpukan batu bata yang tengah dibakar. Pembakaran baru dimulai subuh hari itu. Mustofa dan pekerjanya harus menunggu dua malam lagi sebelum memadamkan api.

Proses pembakaran yang tuntas selama dua hari dibutuhkan agar batu bata terbakar merata. “Kalau belum dua hari dikhawatirkan batu bata yang di tengah tidak terbakar. Akibatnya batu bata itu gampang pecah,” terang Mustofa.

Setelah datang ke Mangsang pada tahun 2000, Mustofa termasuk pekerja yang terkena gusuran proyek perumahan. Bersama dengan pekerja dan pengusaha yang terkena gusur, mereka kemudian pindah ke Piayu Laut. Pengusaha batu bata itu kemudian mencari lahan di Piayu Laut. Beberapa mendapatkan lahan dari kapling-kapling milik perusahaan yang belum dibangun. Lainnya, mendapatkan lahan dari Munir, Ketua RW di Kampung Tua Piayu Laut. Mustofa termasuk yang menyewa lahan dari Munir. Lokasi gudang dapat kelihatan di kiri kanan jalan dari Pancur menuju Kampung Tua Piayu Laut.

Lahan yang ditempati usaha batu bata memiliki topografi perbukitan. Usaha batu bata itu memang membawa dampak gundulnya sebagian perbukitan ke arah Piayu Laut. Pekerja mau tak mau mengupas bukit mengambil lapisan tanah, dan meninggalkan lapisan batu yang keras dan sukar ditumbuhi vegetasi.

Mereka beralasan, lahan-lahan itu sudah ada pemiliknya. Dan, kapan saja pemilik lahan akan membangun lahan itu, mereka harus siap digusur.

Mustofa membayar sewa sebesar Rp 1,5 juta sekali pembakaran. Itu dibayar setiap dua bulan. Ada model sewa lain yakni Rp 7 per potong batu bata yang dibakar. Buat Mustofa, metode pembayaran sewanya lebih murah ketimbang mebayar sewa per potong. “Kalau kami membakar banyak, sewa Rp 1,5 juta itu tidak terlalu memberatkan.”

Bagaimana pemilik lahan tahu ada usaha yang sedang melakukan pembayaran? Menurut Mustofa, pemilik lahan memiliki berbagai cara. Misalnya mengirimkan orang untuk sekedar melihat apa yang sedang kami kerjakan.

“Api pembakaran juga keliatan dari jauh, makanya mereka tahu kalau ada yang sedang melakukan pembakaran,” ujar Sri, suami Mustofa.

Mustofa membangun tiga gudangnya pada 2002. Dua tahun setelahnya Muslikan juga membangun tiga gudang untuk usahanya. Rata-rata di Kampung Jawa pemilik usaha membangun gudang sekitar 2002 ” 2004.

Menjadi pemilik gudang bararti mengurangi frekuensi kerja berat. Pekerjaan itu berganti menjadi pengantar batu bata atau mencari langganan. Meski demikian, bukan berarti pemilik gudang meraup untung yang besar.

Seperti pekerja, mereka baru mendapatkan uang dua bulan sekali setelah pembakaran. Harga batu bata saat ini berkisar antara Rp 300 ” Rp 350 per potong. Jika mampu menghasilkan 100 ribu potong batu, hasil penjualan yang diperoleh berkisar Rp 30 juta ” Rp 35 juta.

Jumlah itu hanya perhitungan kasar. Karena dalam sebulan pemilik harus memperhitungkan upah keluarga pekerja sekitar Rp 2,5 juta per keluarga. Mereka juga masih harus membayar sewa lahan kepada pemilik lahan. Pengeluaran lain adalah pembelian kayu yang saat ini mencapai Rp 550 ribu per lori. Dibutuhkan 10 lori untuk menjaga api tetap menyala selama dua hari. Biaya belum termasuk jika ada terpal yang rusak.

Kebutuhan itu membuat keuntungan para pemilik tidak besar-besar amat. Karena itu tidak banyak pekerja yang berani membuka usaha batu bata sendiri. Jika membangun saat ini, biaya yang dikeluarkan relatif besar. Biaya sewa lahan saja mencapai Rp 50 juta. Harga itu termasuk besar meski biaya itu hanya dikeluarkan sekali selama beroperasi dan dapat dicicil dua kali. Di samping itu, pemilik usaha kesulitan mencari pekerja karena banyak orang Gajah yang pulang kampung dan menetap di kampung dalam waktu yang tak bisa ditentukan sebelum kembali ke Batam.

Mustofa menceritakan, pernah ada seorang Cina pemilik toko bangunan yang ingin mendirikan usaha pembuatan batu bata. Orang itu berpikir akan menangguk keuntungan besar jika memiliki sendiri usaha batu bata. Tidak lama usaha itu berjalan, usaha itu bangkrut.

“Pengusaha itu tidak memikirkan banyak pengeluaran yang harus dipenuhi untuk membangun usaha itu,” kata Mustofa.

Usaha batu bata kini menghadapi tantangan dari penjualan batako dan bata silikon yang dibuat menggunakan pengeras. Di toko-toko bangunan, harga batu bata merah masih lebih murah daripada batako. Batu bata dijual seharga Rp 480, sementara batako ijual seharga Rp 1.600. Meski batako lebih mahal, pemborong umumnya menggunakan batako untuk proyek hunian sederhana atau sangat sederhana.

“Ukuran batako lebih besar ketimbang batu bata. Kalau menggunakan batako, pemborong lebih banyak untung,” kata Supardi.

Mustofa dan pengusaha batu bata lainnya akan melewati masa minim pesanan. Karena jumlah proyek pembangunan menurun selama puasa dan lebaran, pesanan batu bata akan menurun selama masa itu. Namun mereka berharap penurunan itu tidak berlangsung lama dan tidak memengaruhi harga jual di tingkat produsen.

Saat ini, harga di tingkat produsen bertahan di kisaran Rp 300. Jika batu bata sedang laku, harganya bisa mencapai Rp 350 ” Rp 400. Namun jika permintaan menurun, harga batu bata bisa mencapai Rp 250. Pelaku usaha ini berharap kejadian tahun 2004 ” 2006 tidak lagi terulang. Saat itu, permintaan merosot sehingga harga batu bata hanya Rp 190.

“Saat itu banyak gudang yang tutup karena tidak mampu membayar pekerja. Saya bisa bertahan karena pembuatannya saya kerjakan sendiri,” kenang Mustofa.

Kejadian itu nyatanya tidak berpengaruh pada industri batu bata. Perantau dari Gajah kembali ke Batam untuk bekerja di gudang-gudang pembuatan batu bata. Bata-bata merah inilah yang mengokohkan dinding-dinding rumah mewah bertingkat. Dinding gedung-gedung tinggi juga mengandalkan bata merah meski kini harus bersaing ketat dengan bata silikon.

Sambil berharap usahanya tetap terus bertahan, Mustofa dan pengusaha bata merah lainnya setia membakar bata merah di tobong-tobong mereka. Doa dan permohonan pun dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Di samping itu, Mustofa kerap memberikan sesajen berisi telur, bawang merah, cabe merah, dan bubur merah tiap kali ia membakar bata merah. Empat sajen ia letakkan di keempat pojok tobong. Kadang, di tengah proses pembakaran terdengan bunyi cangkang telur yang pecah. Dalam pikiran Mustofa, penunggu tobong itu sedang menikmati sesajen yang diberikan Mustofa.

Pernah sekali Mustofa sengaja tidak memberikan sesajen saat akan membakar bata. Ia mencoba menolak tahayul yang cukup lama merasukinya. Hasilnya, ada 7 ribu batu batanya yang rusak karena tidak matang terbakar. Sejak itu ia kembali memberikan sesajen tiap kali membakar.

“Aneh memang. Percaya enggak percaya, tapi kenyataannya seperti itu,” timpal istri Mustofa, Sri. ***

Terbit di Majalah Batam Pos 29 Juni 2014

Iklan