Air waduk Duriangkang sangat vital bagi Batam. Ia melayani 78 persen kebutuhan air bersih penduduk. Namun, tidak mudah mempertahankannya tetap lestari. Polusi dan limbah mengancam.

YERMIA RIEZKY

BAGI warga Batam, hujan adalah hal biasa. Ungkapan yang umum, ‘tak ada musim kemarau di Batam’ sering terdengar saat wilayah lain di Indonesia memasuki periode kering sekitar bulan Mei hingga Oktober setiap tahunnya. Pada masa-masa itu, Batam malah kerap diguyur hujan.

Namun, keanehan muncul pada pertengahan Januari lalu. Setelah hujan turun nyaris tanpa henti pada awal bulan itu, langit seakan membendung curahan airnya agar tidak jatuh ke bumi Kepulauan Riau. Tak tanggung-tanggung, dua bulan lamanya Kepulauan Riau tak menikmati hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Batam mencatat, sejak 15 Januari sampai 15 Maret 2014, Batam sama sekali tak mengalami hujan. Hal yang sama terjadi di daerah lain di Kepri.

Kepala Stasiun BMKG Batam, Philip Mustamu, menjelaskan peristiwa tersebut disebabkan kencangnya gerakan udara dari utara ke selatan yang mengganggu pembentukan awan hujan di langit Kepulauan Riau. Perbedaan tekanan udara antara daratan Asia dan benua Australia ketika itu lebih besar dari biasanya, yang memicu laju angin lebih cepat.

Berbeda dengan kebanyakan daerah di Indonesia, Kepulauan Riau memiliki pola cuaca yang menarik. Philip mengatakan, kondisi tersebut disebabkan karena Kepulauan Riau termasuk daerah non-musim. Tidak ada batasan yang jelas terkait pergantian musimnya. Kepulauan Riau termasuk memiliki tipe iklim kuatorial dimana terdapat dua puncak musim hujan dalam satu tahun. Umumnya puncak musim hujan terjadi pada bulan Desember hingga awal Januari dan pada Bulan Mei sampai Juni.

“Di Indonesia, daerah non-musim hanya dua, di Kepulauan Riau dan Nusa Tenggara Timur. Tapi di NTT kebalikan dari Kepri. Di sana kekeringannya yang dominan,” kata Philip.

Kemarau panjang di awal tahun itu meresahkan warga Kepri. Di Kabupaten Karimun warga kelimpungan mencari air bersih. Kemarau yang parah tersebut bahkan membuat waduk Sei Bati di Pulau Karimun Besar kering. Sementara di Kota Tanjungpinang, kewaspadaan meningkat. Pasalnya, volume waduk sumber air Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kepri menyusut.

Di Batam, kemarau panjang mengeringkan pepohonan dan semak. Terik menguapkan kandungan air di batang dan daun, menyebabkan dedaunan menguning dan rontok. Beberapa tempat, dahan-dahan saling bergesekan memicu nyala api yang menyebar dengan cepat membakar hutan-hutan di Batam. Tercatat selama dua bulan tanpa hujan, lebih dari 300 hektare hutan di Batam terbakar. Sebarannya pun merata di seluruh wilayah Pulau Batam hingga ke Rempang dan Galang.

Petugas pemadam kebakaran bekerja sangat keras memadamkan puluhan titik api. Satuan Manggala Agni milik Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau yang biasanya hanya memadamkan empat titik api dalam setahun, dalam dua bulan kemarau harus memadamkan 30 titik api. “Anggota kami bahkan harus tidur di lapangan selama beberapa hari karena kebakaran begitu sering terjadi,” kata Kepala Seksi Konservasi BBKSDA Riau Kantor Batam, Nur Patria.

Kemarau yang panjang memang meresahkan warga di Kepri, banyak wilayah waswas kehabisan persediaan air bersih. Namun, persoalan ketersediaan air minum rupanya tak menjadi masalah bagi Batam. Selama dua bulan tanpa hujan, masyarakat masih menikmati air bersih. Warga Batam bersyukur memiliki enam waduk dengan kapasitas total 3.850 liter per detik. Kondisi daerah tangkapan hujan dengan hutan yang masih asri di lima waduk membuat waduk dapat melayani 97 persen warga di Pulau Batam. Sementara satu waduk lain, Waduk Baloi kini tak lagi menjadi sumber air utama karena tak sanggup menahan tekanan limbah dari penduduk yang bermukim di sekeliling waduk tersebut.

Yang terbesar dari kelima waduk tersebut adalah waduk Duriangkang. Waduk yang mulai dibangun pada 1990 itu menyuplai 78 persen air bersih bagi warga Kota Batam. Kapasitasnya mencapai 3.000 liter per detik.

Air waduk Duriangkang mengalir sampai jauh. Ia menghilangkan rasa haus dan membersihkan tubuh. Air waduk itu juga menggerakkan perekonomian warga. Ia digunakan sebagai air baku usaha depot air minum isi ulang, pelaku usaha cuci kendaraan meraup untung dari berliter-liter air Duriangkang setiap harinya. Air Duriangkang juga mampir di kedai-kedai kopi, memastikan deyut warga Batam terjaga.

Waduk Duriangkang memang memegang peranan penting dalam pembangunan Kota Batam. Duriangkang bertanggung jawab terhadap lonjakan penduduk Batam dari sekitar 437 ribu jiwa di tahun 2000 menjadi 1,2 juta jiwa di tahun 2014. Pertumbuhan penduduk yang tinggi itu disebabkan berkembangnya Batam menjadi kawasan industri. Waduk Duriangkang sejak awal sudah disiapkan sebagai penyokong pertumbuhan industri yang diprediksi semakin meningkat memasuki milenium baru.

“Saat itu Pak Habibie (Kepala Otorita Batam,red) sudah berpikir, untuk mengembangkan daerah industri Batam harus menyiapkan infrastrukturnya lebih dulu. Itulah sebabnya BP Batam membangun infrastruktur waduk Duriangkang,” kata Hadjad Widagdo, Kepala Sub Bidang Pengelolaan Waduk Badan Pengusahaan Batam.

Sejak beroperasi, Duriangkang menyediakan sumber air bersih yang melimpah demi kelangsungan industri di Batam. Air Duriangkang memberikan rasa aman pada pekerja dan masyarakat yang bergantung pada industri. Tak lagi pusing soal air, investor mulai menanamkan modalnya di Batam. Kini BP Batam mencatat ada 22 kawasan industri yang menampung 1.884 perusahaan. Karena kebanyakan industri merupakan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja, setiap tahun Batam dibanjiri kedatangan manusia yang ingin mengadu nasib sebagai buruh di sektor industri.

Dalam perkembangannya, Batam ternyata tidak hanya lezat untuk sektor industri. Sektor lain berkembang dan mau-tak mau turut berkontribusi menarik pekerja masuk ke Batam.

Banyaknya penduduk memiliki konsekuensi. Selain air minum, mereka butuh tempat tinggal. Pembangunan perumahan pun marak. Pembukaan lahan-lahan baru tak bisa dihindarkan. Bagi masyarakat yang tak punya cukup uang untuk membeli rumah yang disediakan pengembang, mereka membangun rumah liar di lahan yang bukan milik mereka. Di Batam, rumah-rumah liar dikenal sebagai ruli. Jumlahnya diperkirakan sekitar 40 ribu, meski tak ada data pasti karena jumlah itu sering keluar dari mulut pejabat BP Batam setiap kali ditanya soal permukiman liar.

Tekanan pertambahan penduduk ternyata menguras sumberdaya air Batam. Untuk mencegah warga tidak kehabisan air, BP Batam kembali membangun waduk Tembesi di arah barat laut waduk Duriangkang. Waduk Baru itu sedianya beroperasi pada 2015 atau 2016 dengan kapasitas 600 liter per detik. Hadjad mengungkapkan, dengan bertambahnya penduduk, lima waduk di Batam tak akan dapat memenuhi kebutuhan air.

Namun, persoalan Duriangkan tak hanya soal kemampuannya melayani kebutuhan air bersih penduduk. Ia menghadapi tekanan lingkungan akibat bertambahnya jumlah penduduk. Sebagian besar daerah tangkapan Duriangkang masih didominasi hutan. Namun di luar kawasan itu, Duriangkang dikelilingi kawasan perumahan dan industri yang siap merajam Duriangkang dengan aneka polutan yang mengalir masuk ke tubuh air waduk Duriangkang.

***

KEBERADAAN waduk sangat penting bagi warga Kepulauan Riau khususnya di Batam, Bintan, dan Karimun. Kondisi geologi sebagian besar wilayah di pulau-pulau itu tidak dapat menampung cadangan air tanah. Dua peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yudhi Soetrisno dan Ikhwanuddin Mawardi mengungkapkan tanah di Batam relatif sulit untuk meresapkan air. Air hujan yang turun tidak meresap ke tanah menjadi cadangan air tanah, tapi mengalir ke permukaan. Itulah mengapa di sebagian besar daerah di Batam sulit ditemukan air tanah.

Di lokasi-lokasi tertentu, warga dapat membuat sumur. Namun air yang tersimpan asam, dan jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dapat mengganggu kesehatan. Dalam penelitiannya, Yudhi mengatakan air tanah yang ditemukan di Batam sebagian besar payau dan tercemar air rawa.

Kondisi alam itu membuat peran waduk di Batam semakin vital sekaligus rentan. Waduk menjadi satu-satunya sumber air bersih di Batam. Jika sumber air satu-satunya itu tercemar, Batam akan kehilangan satu-satunya sumber air minumnya. Waduk Duriangkang termasuk yang paling dijaga. Wilayahnya yang luas membuat daerah tangkapan hujannya gampang dimasuki orang untuk beraktivitas di dalamnya.

Kenyataannya di sisi utara dan barat waduk, aktivitas manusia sudah semakin banyak. Citra satelit Google Earth menunjukkan sebagian besar sisi utara Duriangkang dan sedikit di sisi barat telah gundul. Hutan yang seharusnya menjadi penyangga lenyap, berganti dengan aktivitas pertanian. Status hutan lindung yang disematkan pada area tangkapan hujan tak mencegah sebagian orang menebang dan menjadikan wilayah itu tempat bercocok tanam.

Sisi utara Duriangkang memang paling parah dan menipu. Sisi paling utara hutan lindung Duriangkang berbatasan dengan jalan poros penghubung Batu Besar di Nongsa dan Batam Centre. Orang yang melalui jalan itu akan melihat hutan lebat di sisi selatan. Namun hutan yang tersisa hanya di sepanjang sisi jalan. Di sepanjang jalan itu, ada beberapa jalan-jalan tanah yang mengarah masuk ke hutan. Setiap akhir pekan komunitas sepeda gunung di Batam menggunakan jalur itu sebagai tempat bermain dan melatih kemampuan mereka. Sebagai hutan lindung, kawasan itu sebenarnya dipagari dengan kawat setinggi hampir dua meter. Tapi pada jalan-jalan tanah itu, pagar-pagar pembatas itu dijebol.

Batam Pos mengambil salah satu jalan masuk ke arah waduk Duriangkang. Jalan tersebut berhadapan dengan jalan masuk kompleks Legenda Malaka, Batam Centre. Tidak seperti kebanyakan jalan masuk ilegal ke Duriangkang, jalan ini merupakan sebuah pintu masuk yang seharusnya dijaga. Sebuah gardu yang ada di dekat pintu masuk itu kosong. Dinding pos penjagaan berukuran empat meter persegi itu kusam dan di dalamnya penuh sampah. Tak jauh di samping pintu masuk itu ada papan peringatan bahwa kawasan itu adalah kawasan hutan lindung yang dilindungi oleh Undang-Undang Kehutanan.

Jalan tanah itu cukup lebar pada awalnya. Lebarnya seukuran satu mobil. Hanya beberapa meter memasuki kawasan itu tanda-tanda penebangan sudah tampak di kanan dan kiri. Jauh lebih dalam, lebar jalan itu semakin kecil. Rumah-rumah tidak permanen terlihat satu demi satu. Dinding rumah itu kebanyakan terbuat dari papan. Jika papan tidak cukup, pemilik rumah menutupnya dengan spanduk bekas. Beberapa pemilik rumah membangun fondasi dari semen untuk rumah-rumah mereka.

Setelah melewati beberapa rumah pertama, perkebunan pun mulai tampak. Penduduk menanam aneka tanaman pangan seperti jagung dan ubi kayu. Di lahan perkebunan lain tampak tanaman cabe. Ada juga pohon kapuk, dan pohon durian. Perkebunan menyebar di sepanjang lereng hingga tepat di garis pantai waduk. Di tubuh air waduk, warga membuat keramba jaring apung untuk memelihara ikan. Keramba jaring apung juga banyak dijumpai di sisi barat yang berbatasan dengan Jalan S Parman di Kecamatan Seibeduk. Di sekitar kolam-kolam ikan eceng gondok tumbuh dengan lebat. Kecuali di dalam jaring apung, tanaman eceng gondok telah memenuhi pinggiran danau di sisi utara dan barat.

Hadirnya pertanian selama bertahun-tahun di sana mengkhawatirkan. Aktivitas itu dapat menurunkan kualitas air baku dan daya tampung waduk. “Seharusnya tidak boleh ada pertanian semusim di sana,” kata Hadjad. “Pertanian semusim tidak mengikat air sehingga air menjadi aliran permukaan yang membawa sedimen.”

Sedimentasi menjadi ancaman nyata bagi waduk Duriangkang. Hadjad mengungkapkan, meski masih tergolong normal, sedimenatasi telah mengurangi daya tampung waduk Duriangkang 10-15 persen.

Hutan di area tangkapan air Duriangkang memiliki fungsi yang sangat penting. Tutupan daunnya menjadi tameng agar air hujan tak langsung jatuh ke tanah. Curah hujan rata-rata di Batam yang mencapai 2.500 milimeter cukup kuat mengangkut butiran-butiran tanah menuruni lereng yang terkupas tanpa tumbuhan berkayu. Tutupan kanopi hutan membuat air menetes perlahan. Sementara batang dan akarnya menyerap dan menyimpan air. Secara perahan, air mengalir menuruni lereng lalu masuk ke tubuh air waduk. Fungsi ini tidak dapat digantikan oleh tanaman perkebunan atau alang-alang yang tumbuh subur di lereng utara Duriangkang.

Selain mencegah sedimentasi, hutan di sekeliling waduk berfungsi menjaga pasokan air.

“Ketika hutannya masih lestari, air di perakaran akan berhenti mengisi waduk yang telah mencapai kapasitas maksimalnya. Air akan tetap tinggal di perakaran. Saat kemarau dan volume air waduk mulai menyusut, air yang tersimpan di perakaran kembali mengisi waduk. Proses itu yang membuat volume waduk stabil meski dilanda kemarau,” kata Nur Patria.

Fungsi pemasok air itu tampak pada kasus waduk Seiharapan di Sekupang. Selama dua bulan kemarau pada pertengahan Januari hingga Maret, hampir seluruh waduk di Batam mengalami penyusutan. Kepala Bidang Pengelolaan Air BP Batam Tutu Witular menyebutkan, tinggi muka air Duriangkang turun 80 sentimeter akibat kemarau panjang. Sementara di waduk Sei Harapan, penurunan muka airnya hampir dua meter. Setelah hujan turun hampir tiga bulan terakhir, tinggi muka air di waduk-waduk perlahan naik.

Nur Patria menggambarkan, luas tubuh air waduk Seiladi, yang hutannya dalam pengawasan BBKSDA, bertambah sejak bulan Maret. Saat kemarau panjang, garis pantai waduk menjauh hingga 10 meter dari batas normal. Akhir April, saat volume waduk perlahan bertambah, garis pantai waduk saat itu menjadi tinggal tujuh meter dari batas normal.

Kondisi berbeda dialami waduk Seiharapan. Desember lalu, saat Manggala Agni menyeberangi waduk itu, mereka membutuhkan seorang anggota untuk berenang dan memasang tali untuk penyeberangan. “Kami menyeberang menggunakan tali, karena jalur penyeberangan kami dalam,” terang Nur Patria.

Pada akhir Maret lalu, saat Manggala Agni melakukan tugasnya, volume air menyusut. Kedalamannya hanya setinggi pinggang orang dewasa. Di akhir bulan April, ketinggian air waduk Seiharapan tak kunjung bertambah. Padahal hujan telah turun selama sebulan. Nur Patria menjelaskan, salah penyebab utama lambatnya pemulihan volume waduk Seiharapan karena area tangkapan hujannya kehilangan banyak pohon selama musim kemarau. “Di antara waduk-waduk lainnya, hutan lindung Seiharapan yang paling luas terbakar. Hilangnya hutan membuat volume air waduk tak kunjung bertambah,” kata dia.

Jika hutan Duriangkang lenyap, waduknya dapat bernasib sama seperti waduk Seiharapan. Mengingat vitalnya peran waduk Duriangkang bagi masyarakat Batam, pada Juli 2013 lalu Kementerian Kehutanan berniat melakukan rehabilitasi pada kawasan hutan lindung. Kemenhut melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kepulauan Riau membuka lelang terbuka senilai Rp 3,226 miliar untuk rehabilitasi pengkayaan hutan lindung Duriangkang seluas 625 hektar. Batam Pos menelusuri arsip pengadaan terkait rehabilitasi Duriangkang, namun hanya menemukan satu proyek penghijauan yang dilakukan Kemenhut tersebut.

***

MASALAH Duriangkang tak hanya soal sedimentasi. Praktek pertanian semusim yang dilakukan warga di area tangkapan hujan Duriangkang juga meninggalkan jejak pencemaran organik. Aktivitas manusia menghasilkan limbah yang antara lain berasal dari pupuk organik, kotoran hewan ternak dan manusia, serta pakan ikan.

Pencemaran organik itu meningkatkan kandungan jumlah oksigen terlarut atau Biological Oxigen Demand (BOD5). Peneliti BPPT Rosyid Hariyadi mengatakan, meningkatnya kadar BOD5 membuat kebutuhan oksigen untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang ada dalam limbah domestik.

Tingginya kadar BOD5 dapat terlihat dengan semakin suburnya eceng gondok di pinggir danau, khususnya di sisi utara dan sisi barat waduk. “Banyak orang bilang eceng gondok sebagai indikator pencemaran, namun kita harus mengambi sampel dan memeriksa apakah masih masuk dalam baku mutu air,” kata Tutu Witular.

Meski demikian, Tutu tidak menampik meluasnya tutupan eceng gondok di waduk yang luas genangannya mencapai 874 hektare itu. “Eceng gondok paling senang dengan organik,” kata dia.

Sebagai sumber utama air, BP Batam khawatir jika suatu saat kondisi waduk Duriangkang sama dengan waduk Baloi. Waduk Baloi kini tak lagi menjadi sumber air baku. Biaya produksi air bersih yang dikeluarkan perusahaan pemegang konsesi air minum Adhya Tirta Batam (ATB) membengkak, membuat air waduk Baloi tak lagi dilirik menjadi sumber air baku.

Waduk Baloi memang mengenaskan. Sekeliling waduk yang dibangun pada 1977 itu penuh dengan permukiman warga. Rumah-rumah warga pun dibangun permanen dari batako, beberapa pemilik rumah melengkapinya dengan fasilitas parabola. Masyarakat tak punya pilihan membuang limbah domestik selain ke waduk. Beban waduk bertambah karena warga juga membuat kolam jaring apung. Tutu mengatakan, dari sisi pengolahan air polutan-polutan organik bisa dihilangkan. “Tapi cost karena pencemaran tinggi.”

“Waduk Baloi adalah bukti rusaknya area tangkapan air,” kata Hadjad Widagdo.

***

SEJAUH ini, konservasi waduk Duriangkang difokuskan pada area hutan lindung yang ditetapkan sebagai daerah konservasi. Namun, sumber pencemar tidak cuma berasal dari aktivitas ilegal yang dilakukan warga di dalam hutan lindung Duriangkang. Bahan pencemar juga berasal dari rumah-rumah legal yang ada di luar wilayah konservasi.

Sejumlah saluran drainase yang berasal dari perumahan dan kawasan industri bermuara di waduk Duriangkang. Batam Pos mengelilingi waduk Duriangkang dan melihat sejumlah saluran yang berasal dari perumahan antara lain, Simpang Raya, Legenda, Kurnia Djaya Alam, Taman Duta Mas, Bukit Indah Sukajadi, dan perumahan di kawasan Kabil dan Sei Beduk hingga Kompleks Mahkota Niaga. Sebagian tergolong perumahan mewah. Ada juga saluran drainase yang berasal dari Kawasan Industri Batamindo.

Seluruh saluran yang mengalir masuk ke Duriangkang keruh. Di beberapa saluran banyak sampah yang mengapung. Ada juga bangkai hewan yang mengapung di saluran yang berasal dari perumahan Legenda, Duta Mas, dan Bida Asri.

Saluran-saluran yang keruh itu membawa sedimen yang berasal dari bukit-bukit yang dipotong dan proyek-proyek pembangunan.

Dalam penelitiannya di Waduk Duriangkang yang berlangsung pada 2003, Rosyid Hariyadi mengungkapkan peningkatan sedimen dan bahan organik pencemar meningkat seturut meningkatnya penggunaan lahan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Duriangkang. Rosyid melihat tren tersebut terjadi pada tahun 1992-2000. Dia memprediksi kecenderungan itu akan terus berlangsung selama pembukaan lahan tidak sesuai dengan kaidah konservasi tanah dan air, dan kesadaran untuk melakukan penghijauan di lahan industri serta domestik minim. Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan air seiring dengan meningkatnya luas penggunaan lahan. Polutan juga akan meningkat tanpa instalasi pengolahan limbah.

Selain nilai BOD5 dari limbah domestik, saat itu Rosyid juga mendapati tingkat COD (Chemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen kimia sudah tergolong tinggi. Parameter COD digunakan oleh para peneliti lingkungan untuk menentukan tingkat pencemaran dari sektor industri. Rosyid mengungkapkan tingginya tingkat COD itu berasal dari Kawasan Industri Batamindo.

Batam Pos sudah menghubungi Kawasan Industri Batamindo untuk menjelaskan perihal proses pengolahan limbahnya. Namun hingga tenggat tulisan ini, Batam Pos belum dihubungi. Sebelumnya, seorang pegawai perempuan meminta nomor untuk menghubungi jika penanggungjawab pengolahan limbah dapat memberikan penjelasan. Namun, dia mengungkapkan tidak dapat menjanjikan kesempatan tersebut.

Dalam situs resminya, Batamindo menunjukkan fasilitas pengolahan limbah milik mereka. Pengelolaan limbah dilakukan secara terpusat dan sesuai dengan peraturan lingkungan pemerintah daerah. Dalam sehari, fasilitas pengolahan limbah tersebut dapat mengelola hingga 10.000 meter kubik per hari.

Tutu Witular mengatakan limbah Batamindo dibuang di Tanjungpiayu. Saluran dari Batamindo yang mengarah ke Duriangkang hanya saluran drainase. Dia mengaku, pengukuran yang dilakukan BP Batam dan Sucofindo menunjukkan tingkat pencemaran di waduk Duriangkang masih di bawah ambang batas. “Masih memenuhi baku mutu air baku,” tegas Tutu.

Penelitian Rosyid pada saat itu mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/Menkes/Per/IX 1990. Hasil penelitiannya menunjukkan beban COD dan BOD5 pada waduk Duriangkang tercemar berat dan berpotensi mencemari air waduk Duriangkang.

Salah satu penyebab tingginya kadar BOD5 dari perumahan warga yang masuk ke Duriangkang adalah tidak adanya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) domestik. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estate Indonesia (REI) Khusus Batam Djaja Roeslim mengatakan Batam tidak memiliki IPAL domestik yang kompleks.

“Perumahan di Batam belum ada yang memiliki instalasi pengolahan air limbahnya sendiri. Batam juga belum memiliki instalasi yang menangani beberapa perumahan untuk satu kawasan,” kata Djaja.

Djaja menambahkan, pengolahan limbah perumahan di Batam masih sebatas tangki septik sebagai tempat penampungan tinja. Sementara air yang keluar dari tangki septik dan limbah rumah tangga lainnya langsung menuju ke saluran drainase yang terkoneksi dengan drainase utama.

Tutu membenarkan Batam belum memiliki IPAL domestik. BP Batam pernah sekali memiliki instalasi tersebut di Waduk Seiharapan. Beban pencemaran limbah domestik waduk tertua di Batam itu adalah yang terberat kedua setelah waduk Baloi. Untuk mengurangi beban pencemaran yang datang dari perumahan di kawasan Tiban, Otorita Batam (sebelum berubah menjadi BP Batam) membangun kolam dan pompa. Namun karena beban pompa yang berat, IPAL tersebut rusak.

Saat ini BP Batam sedang menjajaki pembuatan instalasi serupa untuk saluran-saluran yang masuk ke Duriangkang. Rencana itu sedang digodog bersama dengan Puslitbang Air Kementerian Pekerjaan Umum. Salah satunya dalam bentuk ecotech. Cara kerjanya, air limbah domestik sebelum masuk ke waduk Duriangkang harus ditampung di dalam sebuah kolam berukuran besar berisi tumbuhan.

“Akan ada yang menyerap organik seperti eceng gondok,” terang dia.

Sayangnya, rencana ini belum terlaksana karena kendala dana. Selain itu sistem kerjasama dengan Puslitbang Air belum jelas meski BP Batam sudah memiliki perjanjian kerjasama dengan Kementerian PU.

Hadjad Widagdo mengatakan, beban pencemaran belum menyulitkan pengolahan air baku Duriangkang menjadi air bersih. Menurut dia, waduk memiliki kemampuan alami untuk menetralkan beban pencemaran. “Kita harus melihat metode pengukuran air limbah, apakah dekat dengan sumber atau berada di tengah waduk. Karena hasil keduanya akan berbeda,” kata Hadjad.

Perusahaan pengelola air di Batam, PT ATB belum memberikan jawaban atas surat elektronik Batam Pos yang menanyakan dampak pencemaran air limbah pada biaya produksi air di waduk Duriangkang.

Tutu menyampaikan, sampai sekarang beban pencemaran air limbah tak terlalu memengaruhi kualitas air baku Duriangkang. Dengan tenang ia mengungkapkan kuncinya, “Karena waduknya besar selama ini pencemaran itu tidak tampak.”

Meski demikian, warga Batam tak boleh terlena dengan kemampuan waduk Duriangkang. Di tahun-tahun yang akan datang, penduduk Batam terus bertambah, baik karena kelahiran maupun migrasi. Pendatang akan memadati Batam karena cerita keberhasilan kolega di Batam mendorong mereka mendapatkan kesuksesan yang sama.

Seiring dengan itu, pembukaan lahan perumahan dan industri semakin mengoyak lahan kosong dan ruang-ruang hijau di Batam. Konsumsi air semakin meningkat, berdampak pada meningkatnya volume air buangan. Tanpa instalasi pengolahan air limbah yang memadai, sulit berharap waduk Duriangkan tetap perkasa menahan beban pencemaran. ”Kita tidak bisa optimis akan terus seperti itu,” ungkap Tutu. ***

 

Terbit di Majalah Batam Pos 11 Juni 2014

Iklan