Sejak dulu, Duriangkang memiliki peran penting bagi Batam. Area perkebunan itu diubah menjadi waduk untuk mengejar tingginya pertumbuhan kebutuhan air bersih.

YERMIA RIEZKY

TAK ada yang meragukan kejeniusan Baharuddin Jusuf Habibie. Sebelum menjadi presiden ketiga Republik Indonesia, Habibie menjadi andalan Presiden Soeharto dalam hal pengembangan teknologi. Selama 20 tahun sejak 1978, putra Gorontalo itu memimpin pembangunan teknologi nasional sejak dia ditunjuk menjadi menteri riset dan teknologi (Menristek) di Kabinet Pembangunan.

Di Batam, Habibie adalah tokoh legendaris. Bersamaan saat ia memegang jabatan Menristek, Habibie juga ditunjuk sebagai Ketua Otorita Batam (OB). Di daerah ini, orang bisa melupakan nama Ibnu Sutowo, Ketua OB pertama. Namun, tidak dengan Habibie. Dia sangat lekat di benak masyarakat Batam. Di tangan Habibie, pembangunan Batam berlangsung pesat.

Habibie punya visi yang hebat. Sebagai beranda Republik Indonesia, Habibie membangun Batam sebagai calon pesaing Singapura. Salah satunya adalah dengan mengembangkan kawasan industri di Batam. Nilai jual utama Batam adalah ketersediaan lahan dan tenaga kerja non skill dengan upah murah. Sumberdaya itu jelas tak bisa didapat lagi di Singapura, khususnya untuk perusahaan manufaktur yang padat karya.

Namun Habibie menyadari, sebelum mendorong para investor menanamkan modalnya di Batam, infrastruktur pendukung harus lengkap. Salah satunya adalah sumber air minum bagi pekerja yang ada di Batam. Batam tidak memiliki cadangan air tanah yang besar, kualitas air tanahnya pun buruk. Satu-satunya jalan adalah dengan menampung air hujan.

“Curah hujan di Batam rata -rata 2.500 milimeter per tahun. Itu termasuk tinggi,” kata Hadjad Widagdo, Kepala Sub Bidang Pengelolaan Waduk BP Batam (dulu Otorita). Melihat potensi curah hujan yang tinggi, sejak 1978, Otorita Batam mulai membangun waduk Seiharapan (1978), Seinongsa (1978), Seiladi (1985), Mukakuning (1989), dan Duriangkang (1990).

Pembangunan waduk semata-mata untuk menyediakan air minum untuk warga. “Kami merekomendasi industri yang masuk ke Batam adalah industri yang tidak menggunakan terlalu banyak air,” kata Tutu Witular, Kepala Sub Bidang Pengelolaan Air BP Batam. Hal seperti itu sudah dilakukan OB sejak lama. Alasannya, industri yang menggunakan banyak air akan menghasilkan air limbah yang banyak.

Sebelum waduk Duriangkang selesai dibangun, lima waduk di Batam mampu memiliki kapasitas 850 liter per detik. Jumlah itu diprediksi tidak akan dapat menutupi kebutuhan air di Batam mengingat tingkat pertumbuhan penduduk dan industri. Laporan Analisa Dampak Lingkungan Proyek Waduk Duriangkang tahun 1992 menunjukkan dasar prediksi itu. Dalam tahun 1983-1990, rata-rata pertumbuhan penduduk Batam per tahun mencapai 21 persen.

Tutu menambahkan, alasan lain yang mendorong pembangunan waduk Duriangkang adalah semangat kerjasama Singapura, Johor, dan Riau (Sijori) yang berkembang pada masa itu. Saat itu, Singapura menyadari pentingnya Batam bagi pengembangan industri negara tersebut sehingga mereka tertarik menanamkan modalnya di Batam.

Waduk Duriangkang yang dibangun pada 1990 tidak seperti kebanyakan waduk yang ada di Batam, bahkan di Indonesia. Dam Duriangkang tidak dibangun di aliran sungai, tapi di mulut muara. Karena menggunakan air payau, butuh tiga tahun untuk menghilangkan kadar garam dalam air Duriangkang.

Pembangunan waduk tidak berlangsung dengan lancar. Laporan Amdal mencatat, ada 795 rumah tangga yang akan terkena dampak penenggelaman akibat pembangunan waduk Duriangkang. Sebagian besar penduduk itu adalah keturunan Tionghoa yang mana nenek moyang mereka berlayar langsung dari Cina daratan dan sampai ke Batam melalui muara sungai Duriangkang. Edi Sutrisno dalam bukunya Tionghoa Batam: Dulu dan Kini, menulis rombongan orang-orang asal Cina daratan itu sampai ke Batam sekitar pertengahan abad ke-18. Duriangkang sendiri bermakna Sungai Durian. Durian berarti pohon durian, sementara kang dalam bahasa Tionghoa berarti sungai.

Reputasi masyarakat keturunan Tionghoa di Duriangkang terkenal di Singapura. Sejarawan asal Kepulauan Riau Aswandi Syahri pernah mengatakan, gambir dari Duriangkang memiliki kualitas yang unggul dan jadi salah satu komoditas perdagangan yang dicari di Singapura. Kejayaan gambir Duriangkang bertahan hingga awal 1930-an lantaran harganya anjlok di pasar Singapura.

Usai kejayaan gambir, penduduk Duriangkang mulai menanam pohon karet. Hingga akhirnya mereka meninggalkan Duriangkang, getah karet masih menjadi salah satu andalan perekonomian warga.

Sebelum Otorita Batam datang dan mendapat hak atas lahan Pulau Batam, perkampungan Duriangkang menjadi pusat kegiatan di Batam. Sebagian orang-orang Tionghoa saat itu sudah menyebar ke berbagai tempat di Batam, namun mereka kerap datang dan berkumpul di Duriangkang. Edi Sutrisno menulis, sekitar tahun 1965, suku-suku lain di Indonesia mulai berdatangan ke Batam dan berinteraksi dengan masyarakat Tionghoa di Duriangkang. Dalam perkembangannya, sebagian pendatang itu bekerja pada orang-orang Tionghoa di perkebunan karet. Warga pribumi kemudian mulai membangun permukiman di Duriangkang.

Laporan Amdal Pembangunan Waduk Duriangkang mencatat, dari 795 rumah tangga yang akan terkena imbas pembangunan waduk Duriangkang, sebanyak 40 persen adalah etnis Tionghoa, 40 persen etnis Melayu, sementara 20 persennya adalah etnis lain di antaranya Flores dan Bugis. Seluruh warga yang terkena imbas berada di desa Seibeduk, Kabil, dan Ngenang yang saat itu masuk dalam Kecamatan Batam Timur.

Selain rumah warga, pembangunan waduk Duriangkang juga menenggelamkan berbagai fasilitas umum seperti vihara, masjid, gereja, dan sekolah.

Meski banyak yang menolak pembangunan itu, namun warga tidak bisa melawan. Kekuasaan OB ketika itu sangat besar karena didukung oleh Pemerintah Pusat. Pada 1996, mereka kemudian direlokasi ke sejumlah lokasi di wilayah Seibeduk saat ini. Salah satu lokasi penempatan bekas warga Duriangkang adalah di Seipancur, Kecamatan Seibeduk. Di situ mereka memindahkan dua vihara yang dulu ada di Duriangkang.

Sisa-sisa peninggalan warga di Duriangkang kini tenggelam sedalam tujuh meter di dalam tubuh air waduk. Cekungan Duriangkang sanggup menampung hingga 78,18 juta meter kubik air dengan luas genangan 874 hektar. Semua ukuran itu menjadikan Duriangkang sebagai waduk pasang surut terbesar di Asia Tenggara.

Iklan