windows-reflection-on-coffee-yermia-riezky-santiago
© Yermia Riezky Santiago

Hubungan saya dengan kopi naik turun. Kadang saya suka menikmatinya terlalu banyak, tapi pernah saya jatuh sakit dibuatnya.

Barangkali karena hubungan saya yang naik turun itu saya hanya bisa mengaku sabagai peminum kopi bukan coffee lover, seperti halnya saya ini hanya seorang turis dan bukan traveller. Atau, saya tidak punya keberanian mengatakan diri saya sebagai fotografer karena nafkah saya dari berjualan daster dan fotoku yang laku paling banyak (tidak banyak-banyak amat sih) hanya foto brokoli dari Pasar Mustofa Batam.

Saat SMA, saya lebih banyak menikmati Nescafe Classic. Saya tergiur dengan hadiah cangkir merah kecilnya. Setiap pagi sebelum jalan ke SMA 5 Bandung, saya menyiram kopi saset itu dan melongok keluar jendela dari kamar saya di lantai dua. Berharap ada siswi SMA lain yang lewat, melirik dan tersenyum pada saya sehingga saya bisa menyapanya, “Halo Dona !” seperti di iklan lawas Nescafe.

Jaman itu juga ada Nescafe Ice. Ia dijual satu paket dengan shake nya. Sangat menarik, selain bisa untuk dibuat coffee atau milk shake, itu bisa dijadikan sebagai cangkir biasa, kalau saya malas ke dapur mengambil cangkir. Saya juga kenal dengan capucino saset merek Indocafe dan Torabika. Saya tertarik memperagakan minum capucino ala cafe dengan taburan choco granule Torabika yang lebih mirip susu bubuk Milo.

Saat pindah kuliah di Jogja, saya jarang bikin kopi sendiri. Seperti anak kos lainnya, saya ngopi di warung bubur kacang ijo a.k.a Burjo. Itu warung yang lengkap, kecuali pijat plus-plus. Maksud saya, seluruh jenis kopi ada dan saya lebih sering minum kopi hitam. Takarannya dua sendok kopi dan dua sendok gula. Kopi manis saya minum hampir enam gelas setiap hari.

Sampai pada akhirnya di bulan Maret 2006, usus saya meradang dan infeksi. Saya harus opname di RS Panti Rapih selama satu minggu.

Sejak itu, saya trauma minum kopi. Saat melihat, muncul bayangan kamar opname VIP Panti Rapih dengan suster-susternya yang sudah senior. (Berbeda sekali saat saya dirawat di VIP RS Boromeus Bandung yang suster-susternya muda lagi geulis).

Saya kembali mencicipi kopi saat teman se pondokan saya selama KKN di Kebumen, Latif, mempromosikan kopi Muntu khas Purworejo. Saya minum dengan takaran yang sama : dua sendok makan kopi dan dua sendok makan gula. Saya minum tiga sampai empat kali setiap hari saat KKN.

Kopi Muntu enak dan tidak asam. Saya baca di koran Kedaulatan Rakyat, kopi itu enak diminum saat hujan deras. Kopi Muntu selalu saya beli saat melewati Purworejo setiap kali saya pulang dari lapangan skripsi di Cilacap.

Selama itu, saya hanya minum kopi apa adanya. Ya ada kopi merek apa saya minum. Agak high class sedikit saat adik saya kerja di Starbucks. Saat tidak ada yang harus dikerjakan, saya ke Starbucks Ambarukmo Plaza untuk meminta jatah karyawan. Tiap karyawan starbucks punya jatah dua mug kecil minuman setiap hari, diminum di kedai.

Hanya, di sana saya lebih senang minum Capuccino, Macciato, Green tea, atau coklat panas. Bukan kopi hitam. Pada masa itu, saat minum kopi hitam di kos, saya sudah mulai mengurangi porsi gula jadi dua sendok makan kopi berbanding satu sendok makan gula.

Kecintaan saya dengan kopi hitam merebak saat saya pindah ke Batam. Di tanah melayu, banyak sekali kedai kopi. Kebanyakan merupakan usaha dari warga keturunan Cina. Tak di Batam, di Tanjungpinang, atau di Natuna, warung kopi selalu terisi terutama sejak pagi hingga siang. Selain minum kopi dan makan roti bakar, pengunjung sibuk membicarakan nasib negara. Seakan nasib kota, Provinsi, atau Negara ada di tangan orang-orang yang duduk mengitari setiap meja kedai kopi.

Di sana saya mulai minum kopi tanpa gula. Warung kopi di Batam setahu saya banyak memakai kopi yang digiling di Batam atau Tanjungpinang, seperti Kapal Pesiat atau Kapal Tanker. Setiap kedai sering menawarkan kopi hitam yang kental dan pekat. Buat saya, kopinya asam.

Saat saya mewawancara pemilik kedai kopi Tiantian yang katanya tertua di Batam, kokoh pemilik kedai bilang, dia heran saya memesan kopi hitam tanpa gula. Dia bilang, setahu dia hanya orang Cina yang minum kopi tanpa gula.

Dalam hati saya berkata, “Oh, begitu ya. Pantas pelayan kedai kopi sering dua tiga kali bertanya pada saya kalau saya pesan kopi hitam tak pakai gula. Barangkali mereka pikir karena saya bukan orang Cina, maka seharusnya saya tauh banyak gula di dalam kopi.”

Sampai sekarang saya sangat jarang bikin kopi pakai gula. Saat pindah ke Makassar, saya beli biji kopi sendiri di Kopi Setia jalan Irian dan menggilingnya. Saya tidak punya mesin penggiling kopi, jadi saya pakai blender sambal yang kecil.

Sehubungan dengan kesehatan saya, saya punya beberapa keterbatasan dengan kopi. Saya tak bisa minum lebih dari dua gelas sehari dan minumnya harus sesudah makan. Kalau itu dilanggar, niscaya lambung saya akan perih. Saya juga tak pernah minum kopi setelah jam 3 sore. Karena itu, kalau teman saya mengajak ke warung kopi malam-malam, saya pesan teh tawar, coklat, atau sekarang lebih sering teh hijau.

Seperti saya bilang di atas, saya bukanlah coffee lover dan hanya peminum kopi biasa. Menurut saya, coffee lover mampu menikmati kopi dengan mencium aromanya, mengecapnya di lidah, mengumur-ngumur di dalam mulut dan mendeskripsi rasa dan kenikmatan asal kopi maupun proses pembuatannya. Ya, seperti peran Julie Estelle di film Filosofi Kopi itu.

Saya minum kopi sebenarnya bukan karena menikmatinya. Tapi saya meyakini ia punya dampak bagi tubuh saya. Saya termasuk orang yang pro dengan pendapat kopi, jika diminum dengan takaran yang pas, menfaatnya besar bagi tubuh. Alasan yang saya yakini mengapa saya minum kopi adalah seperti ini:

  1. Saya bersemangat dan tak merasa kantuk saat minum kopi sekitar jam 8-10 pagi.
  2. Saya yakin, kopi dalam jumlah yang tepat mengurangi risiko diabetes.
  3. Saya yakin, kopi dalam jumlah yang tepat mengurangi risiko stroke dan hipertensi.
  4. Setiap selesai minum kopi hitam pait, saya ingin buang air besar. Jadi saya yakin ia bisa membantu saya buang air besar dengan lancar.
  5. Kopi melatih fisik dan kesabaran setiap kali saya bergerak untuk menyiapkan biji kopi, menaruhnya ke blender, menunggu air mendidih, menyiramny di dalam kopi press murah hadiah paket lebaran Kapal Api, mengaduknya, dan menuangkan di cangkir. (Yang ini berlebihan, seakan saya bekerja di kebun kopi 😀 )

Tulisan ini sebenarnya sebuah tulisan yang tak penting. Inspirasinya tiba-tiba muncul saat saya buang air besar setelah minum dua cangkir kopi.

 

kopisidikalang-kopi-medan-250gr-bubuk-2621-970893-1-product

Iklan