Creative Common Pixabay
Creative Common Pixabay

Traveling atau melakukan perjalanan kini menjadi gaya hidup sebagian orang. Entah itu melakukan kunjungan ke tempat-tempat baru di dalam kota, refreshing ke kota atau desa tetangga, pulang kampung, atau mengunjungi negara-negara dan melihat keunikan budaya di sana.

Harga tiket yang semakin murah dan banyaknya tawaran akomodasi yang terjangkau bahkan gratis membuat tren melakukan perjalanan tak lagi dimonopoli mereka yang punya dana melimpah.

Karena itu, tak jarang kita bisa menemukan tulisan-tulisan perjalanan berterbaran di internet dan media cetak. Para musafir itu membuat blognya sendiri atau berpartisipasi dalam blog komunitas atau jurnalisme warga seperti Kompasiana atau Phinemo.

Dari sekedar berbagi pengalaman, ternyata tak sedikit catatan perjalanan itu menghasilkan uang. Mulai dari honorarium artikel yang dimuat di media, tawaran penyusunan buku, review produk, hingga jalan-jalan gratis dibiayai oleh sponsor. Nah, tidak sedikit para penulis artikel perjalanan terdoong mendapatkan keuntungan seperti yang saya sabutkan.

Masalahnya, bagaimana menulis artikel perjalanan yang segar dan tidak melulu soal bagaimana cara atau How To?

Salah satu penulis perjalanan dari Great Escape Publishing, Sophie Parmantier dalam blognya bercerita, artikel perjalanan yang baik adalah jika sang penulis mampu bertutur dan menggambarkan perjakanannya. Bukan secara umum, tapi momen-momen tertentu di dalam perjalanan.

“Jika anda mengontak sebuah majalah atau penerbitan dan mengatakan anda memiliki artikel perjalanan ke suatu tempat tapi tak memberikan angle tertentu, pasti anda akan mendapat jawaban, ‘Tidak, terima kasih’ atau bahkan diabaikan sama sekali. Penerbit mendapat ratusan tawaran seperti ini dan yang mereka inginkan adalah sesuatu yang original, asli,” kata Parmantier.

Angle atau sudut pandang dan keaslian. Untuk mendapatkan itu Parmantier menyarankan penulis untuk berpikir di luar kebiasaan, lain dari yang lain. Lebih berani dan tawarkan hal yang tak terpikirkan sebelumnya.

Parmentier mencontohkan saat bulan Oktober lalu ia melakukan perjalanan ke Kanada ia melakukan perjalanan selama dua bulan ke Kanada. Saat kembali ke rumah, ia berhasil menjual 10 halaman artikel untuk sebuah majalah.

“Artikel sederhana soal indahnya Montreal tidak akan menarik pembaca. Tapi cerita tiga hari bersama masyarakat asli di Utara Montreal akan lebih menjual,” kata Parmantier

Tulisan itu telah melunasi biaya penerbangan dan akomodasinya. Editor majalah itu kemudian memintanya untuk mencari komunitas-komunitas lokal di tempat lain dan bersedia membayar biayanya meski Parmantier sendiri sebenarnya akan membayar sendiri biaya perjalanannya.

Dalam sebuah perjalanannya ke komunitas Atikamekw di satu lembah di Quebec Parmantier memancing di danau, bermain kano, tidur di tenda indian dan mendengar cerita legenda di samping api unggun. Parmnantier tak mengeluarkan uang untuk semuanya itu berkat keberaniannya mengangkat kisah-kisah yang original.

Bercerita atau story telling merupakan trend tulisan perjalanan saat ini. Travel Writer paling terkenal se-Indonesia, Trinity, saat mengisi salah satu sesi du Makassar International Writer Festival 2015 menyarankan para musafir menulis hal-hal yang remeh, terutama para pemula. TIdak perlu membayangkan tulisan perjalanan seperti di National Geographic atau Reader’s Digest, namun hal-hal remeh sebenarnya menunjukkan keaslian dan bukti perjalanan sang penulis.

Iklan