Makassar, Indonesa. Kids play at a public space.
Asrama Haji Makassar (© Yermia Riezky / Alamy)
Saya malas ikut dalam perdebatan soal operasional warung makan di media sosial. Sebagai orang yang tidak berpuasa saya hanya ingat:
  • Orang tua saya sejak kecil selalu ingatkan, jangan makan di depan orang yang sedang berpuasa.
  • Saat sekolah di Bandung, saya selalu berterima kasih pada ibu haji pemilik warteg langganan saya di jalan banda. Jelang bulan puasa dia selalu bilang, ‘kalau puasa mau makan siang datang saja mas Eky, ibu buka kok. Tapi makannya sedikit, menu waktu sahur.’ Jadilah setiap siang saya makan di sana
  • Setiap puasa, warung tetap buka hanya diberi tirai atau memang hanya memberi tahu kepada langganannya yang non-muslim kalau warung tetap buka meski pintunya tertutup, di Jogja.
  • Kalau saya lupa dan makan di depan teman yang puasa, saya minta maaf dan berusaha menjauh sementara, kecuali teman itu bilang tidak apa dan mempersilahkan saya makan.
  • Sebagai seorang Kristen saya berupaya mengikuti anjuran (bukan kewajiban) untuk berpuasa / berpantang 40 hari dengan situasi yang lebih berat karena warung pasti buka dan selalu ada ajakan istirahat siang. Dari situ, saya tahu godaan berpuasa itu berat.
Iklan